
"Pak, ini berkas yang sudah saya teliti dan sudah direvisi. Tolong ditanda tangani!"
Gue mengulurkan sebuah map berisi dokumen yang harus ditanda tangani oleh big baby boy. Tapi ia tidak segera menanda tangani dokumen tersebut, melainkan justru menatap gue.
Waduh gue jadi merasa tidak enak, Sob. Jangan - jangan bedak di wajah gue tidak rata? Atau mungkin lipstik di bibir gue belepotan. Yah maklum saja, gue kan tidak pernah memakai lipstik.
Jangan - jangan memang belepotan atau menempel di gigi? Atau tebal tipis karena tadi saat minum, sebagian lipstik di bibir gue menempel di gelas. Aduh.... malu banget gue. Cermin mana cermin!
Gue jadi jengah ditatap oleh big baby boy dengan tatapan seperti itu. Hiiii... merinding gue. Gue pura - pura mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan bos gue yang udah gue hafal betul.
Ruang kantornya dia itu ya, pintunya dipelitur dengan warna cokelat muda. Jadi tampak glowing. Pintunya juga terdapat ornamen ukiran khas dari kota Jepara. Untuk dindingnya dilapisi walpaper motif batik supaya kedap suara, gitu. Terus luasnya... gue baru akan mengabsen isi ruangan Pak Bos, tapi dianya keburu menegur gue.
"Lo dandan, ya?"
Hah? Gue terpana. Kok big baby boy tahu kalau gue berdandan? Padahal gue memakai bedakmya tipis - tipis, lho. Lipstiknya juga sengaja pilih sewarna dengan bibir gue yang berwarna peach.
"Kok Bapak tahu? Gimana pak? Saya pantas nggak kalau berdandan?"
Kepalang tanggung, Sob. Sekalian saja gue ganjenin si big baby boy.
"Nggak pantes! saya jadi seperti melihat ondel - ondel!" jawabnya dengan sarkas.
Idih... julidnya si big baby boy. Dengan seenaknya menyamakan gue dengan ondel - ondel.
"Nggak pantes ya, Oak? Yah derita cewek yang nggak punya bentuk bibir lumatable sih!"
Gue cengengesan di depan big baby boy untuk menghilangkan kekecewaan gue yang sudah berusaha untuk berdandan, tapi masih dibilang mirip ondel - ondel. Tahu begitu uang yang gue gunakan untuk membeli make up kemarin lebih baik gue tabung saja. Ya nggak, Sob?
Bos gue segera menandatangani dokumen di depannya tanpa mengoreksi kembali. Gue jadi mempunyai ide jahat, nih! Bagaimana kalau dokumen itu gue ganti yang isinya membuat perusahaannya rugi? Tapi tidak jadi, deh. Gue merasa kasihan dengan budhe Harsono, tidak tega gue.
__ADS_1
"Ada dokumen baru lagi?" tanyanya tiba - tiba. Membuat lamunan gue lenyap.
"Ada, Pak. Tapi belum sempat saya koreksi karena belum detlen. Yang ini dulu saja!"
Setelah dokumen itu ditanda tangani, gue segera memanggil manajer bagian keuangan untuk mengambil dokumen tersebut.
Agenda selanjutnya, mengoreksi berkas dari departemen lain yang sudah menumpuk di meja gue.
Gue baru hendak duduk ketika big baby boy memanggil gue.
"Ran, sini!"
"Ya, Pak. Ada apa?"
Akhirnya gue terbiasa mendengar panggilan bos gue yang seenak jidat itu. Anggap saja itu nama kesayangan dari calon suami batal gue. Ah elah...
"Bacakan berkas itu di depanku!" pintanya.
"Saya sendiri saja yang mengoreksi, Pak? Kan lumayan lho, Bapak jadi punya waktu untuk ketemuan dengan calon nyonya?" sindir gue. Iya, lah. Dia sendiri yang meminta gue untuk membereskan berkas demi bisa menemui Arneta. Mengapa sekarang gue harus menjadi juru dongengnya lagi?
"Kamu ingin menjadi artis kan? Anggap aja kamu sedang melakukan konser. Tapi bukan menyanyi, melainkan membaca berkas laporan. Nggak beda kan? Toh sama - sama dibayar untuk didengarkan."
Gue menelan ludah. Huuu... gondok gue! Tapi akhirnya gue turuti juga kemauannya. Siap - siap keriting lagi geh lidah gue.
Gue pun membacakan berkas yang akan kami koreksi. Sesekali gue melirik big baby boy. Tumben...? Gue melihat dia duduk dengan kedua tangan bersedekap di meja, dan mendengarkan gue dengan seksama. Padahal biasanya dia duduk bersandar di kursi putarnya sambil memejamkan mata.
Gue lirik lagi big baby boy. Kali ini tanpa sengaja tatapan mata kami bersirobok.
Ugh.... salting gue. Soalnya gue terbiasa diabaikan. Kok tiba - tiba saja gue diperhatikan. Awawawawa.... hati akoh ingin joget choki - choki, Sob.
__ADS_1
"Pak, sepertinya yang ini perlu dikoreksi kan ya?"
Gue menegur big baby boy, yang meskipun memperhatikan gue, tapi tidak konsentrasi dengan materi yang gue bacakan. pasti dia sedang membayangkan melakukan hal - hal yang cabul bersama Arneta. Salah sendiri memaksa memeriksa berkas bersama gue.
"Hallo, Pak!" Gue menggerakkan telapak tangan di depan matanya. Ternyata aksi gue berhasil membuat bos gue tergagap. Xixixixi....
"Bapak terpesona pada saya, ya?" gue usili dia. Biar saja gue dibilang kepedean atau sindiran sarkas lainnya. Yang penting tidak ada orang lain yang mendengar selain Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang.
Wajah big baby boy langsung memerah. Maklum kulitnya itu putih, Sob. Warisan genetik dari budhe Harsono.
"Apa'an? Kamu itu nggak ada menarik - menariknya. Tapi tunggu, mungkin ini bisa dipakai!"
Bos gue mengambil sesuatu dari dalam laci meja kerjanya dan mengeluarkan squishi hadiah dari gue yang ternyata masih ia simpan.
"Coba kamu sumpelin ini di dadamu, supaya kamu lebih menarik. Siapa tahu aku jadi suka sama kamu!"
Blush.... wajah gue langsung panas. Ya marah, ya malu, ya merasa direndahkan. Apa yang salah dengan body gue coba? Biar trepes, siapa tahu saat mempunyai anak nanti, asi gue mengalirnya lancar?
Gue yang gondok langsung balik badan dan duduk kembali ke meja gue.
"Saya koreksi sendiri saja, Pak!"
Gue benar - benar marah, apalagi big baby boy justru tertawa terbahak - bahak melihat reaksi gue. Menyebalkan! Gue kena senjata makan tuan, Sob. Gue menyesal memberikan hadiah squishi ke big baby boy.
Gue membaca berkas laporan dengan tidak konsentrasi. Masih terbayang di wajah gue wajah big baby boy yang tertawa lepas di depan gue tadi. Padahal biasanya wajahnya selalu ditekuk atau mengomeli gue.
Terus gue jadi teringat sewaktu big baby boy menggandeng tangan gue ketika kami menonton konser malam minggu kemarin.
Sebenarnya gue senang sekali, Sob. Akhirnya bos gue tidak meunjukkan taringnya terus. Tapi gue kok malah menjadi was - was ya? Gue takut terlena dengan segala keramahannya. Karena big baby boy bukan milik gue, tapi milik Arneta.
__ADS_1
Seandainya saja gue tidak dijodohkan dengan Aksa, pasti gue masih bisa bersikap santai. Tapi karena gue dijodohkan dengannya, gue tidak salah kan kalau mulai berharap Aksa memberi perhatian lebih ke gue?
Tbc