
Pagi ini gue masih merasa kesal dengan Fiza. Sudah sepasaran bapak mertua gue meninggal, tapi dia selalu menyinggung masa idah melulu kalau gue meminta hak sebagai suami. Gue jadi semakin penasaran, Sob. Dia itu beneran cewek tulen atau abal - abal. Makanya gue ingin segera membuktikannya.
Tapi entah mengapa Fiza selalu menolak gue dengan berbagai alasan. Lha terus kapan dong si dudung berlebaran? Keburu tumpul dan karatan nih? Dengan hebatnya, istri gue berhasil menahan diri dari bujuk rayu suaminya yang ganteng ini. Martabat gue sebagai Arjuna penebar pesona, sanggup di bungkam oleh seorang Fiza Arbani Malik. Kesal kan gue?
Ketika gue bangun pagi, Fiza sudah tidak ada di samping gue. Sewaktu gue menegakkan tubuh, barulah terihat sosoknya sedang khusu berdoa dalam salatnya.
Gue amati istri gue yang sudah menyelesaikan bacaan doanya. Pemandangan yang membuat hati ini seketika merasa adem. Gue masih fokus menatap punggungnya, lalu ia menoleh ke arah gue.
"Sudah bangun ya, Mas? Buruan salat Subuh, gih!"
Gue masih terdiam. Mengumpulkan nyawa dulu, Sob. Tapi Fiza mulai jengah melihat gue tidak segera mengambil air wudlu.
"Buruan sholat, Mas. Jangan seperti anak kecil ah! Minta dipukul, ya?"
"Aku bukan anak kecil, aku juga nggak mau dipukul. Kalau minta cium boleh?" Gue berlagak manja sama istri. Boleh lah ya? kalau gue manja sama istrinya tetangga baru tidak diperbolehkan.
Fiza berdiri dari duduknya, dengan masih memakai mukena ia menghampiri gue dan....
Cuup... Fiza mencium pipi gue.
"Udah sana buruan salat! Aku mau kepasar dulu untuk membeli daging ayam. Mamas ingin dimasakin rica - rica kan?"
Ucapan lembutnya membuat gue ngarep mendapat lebih dari sekedar ciuman di pipi. Tapi ya sudah, lah. Ini merupakan kemajuan, karena istri gue mau mencium pipi gue. Sebaiknya gue segera menjalankan salat dan berdoa, semoga istri gue mau memberi gue lebih dari ini.
Gue sudah mandi dan sudah salat Subuh. Kemudian segera menuju ke ruang makan. Gue melihat Fiza sedang sibuk di dapur bersama asisten rumah tangga kami. Sedangkan kanjeng mami dan kanjeng papi sedang menikmati secangkir teh hangat di pagi hari.
Fiza menghampiri gue dengan membawakan secangkir kopi pahit. Yep, sejak gue dikerjai di hari pertama dia bekerja, lidah gue menjadi kebal minum kopi pahit.
"Le, mbok kowe menawa nggagahi bojomu ki ojo kasar - kasar to. Fiza mau bengi mesti nganti kelaran to? Kok le mbengok banter banget!"
(Nak, kamu kalau sedang menggagahi istrimu itu jangan kasar - kasar to? Fiza tadi malam pasti sampai kesakitan kan? Kok berteriaknya keras sekali!)
Kopi yang sedang gue teguk sampai menyembur gara - gara ucapan mami. Bokap gue pun menenangkan dengan menepuk - nepuk bahu gue.
"Yo ra popo to, Mi. awak'e dewe biyen lak yo ngono to?"
(Ya nggak apa - apa kan mi, kita dulu juga seperti itu kan?)
"Uhuk... uhuk... uhuk....."
Gue langsung tersedak. Sedangkan istri gue yang sedang di dapur tiba - tiba ngumpet entah dimana.
"Mbak Fiza kok malah duduk di lantai to? Kan kotor, Mbak!"
Asisten rumah tangga keluarga kami tampak membungkuk sambil menegur istri gue. Rupanya ia juga mendengar ucapan kanjeng mami dan merasa malu. Reaksinya juga tidak kalah salting dari gue.
Gue berharap, semoga renovasi rumahnya cepat selesai. Males ah gue, kalau setiap malam mami melakukan ronda di depan pintu kamar gue mulu.
__ADS_1
"Sugeng enjang, Papi, Mami, Kangmas Aksa!"
Adek gue yang sudah berseragam rapi langsung ikut nimbrung di ruang makan.
Lalu Yuna melangkah menuju dapur dan menyapa Fiza beserta ART keluarga kami.
"Masak apa? Mbak. Kok sepertinya enak banget?"
"Masak rica - rica untuk sarapan dan bekal, kamu mau dibuatkan bekal juga, Dek?"
"Aku mauuuu...!"
Rengek adek gue dengan suara manja. Dasar adik tidak ada akhlak, membuat iri saja. Soalnya kalau Yuna yang manja, Fiza selalu menuruti. Lah, kalau gue yang manja? Gue selalu dicuekin.
കകകകക
Semenjak menikah, gue berangkat kerja dengan menyetir mobil sendiri. Gue sudah terbebas dari diantar jemput pak Warno.
"Itu bekal milikku, kan?" gue menunjuk kotak bekal yang diletakkan di kursi belakang mobil yang kami tumpangi.
"Iya, katanya ingin makan rica - rica?"
Setelah memastikan kotak bekal itu diletakkan dengan aman, gue pun menjalankan mobil.
"Memangnya kamu mau membuatkan bekal untukku aku setiap hari?"
Deuh.... manis banget ya istri gue. Sayangnya yang diperhatikan hanya isi perut gue, bukan bagian bawah perut gue. Hiks...
Sepanjang hari ini, gue sibuk menatap Fiza yang sedang berkutat dengan berkas laporan. Tidak menyangka sekali ya, Sob. 3 bulan yang lalu gue masih menganggap dia itu saingan, yang getol gue kerjai dan gue omelin, sekarang dia sudah naik jabatan menjadi istri.
Dulu, setiap gue mengerjai Fiza, dia akan membalas dengan balik mengisengi, tapi semenjak Fiza menjadi istri gue, dia menjadi lebih kalem. Hanya matanya saja yang lebih ekspresif. Jadi kita memakai kode mata nih ceritanya.
Nah kalau semisal Fiza gue beri kode untuk diajak ber nininananina lewat tatapan mata, dia paham tidak ya? Gue coba ah.
Gue tatap Fiza sambil mengirimkan telepati, berharap dia sadar kalau gue tatap. Dan Fiza menghentikan membaca berkasnya. Ia mendongak menatap gue. Inikah yang namanya ikatan batin antara suami dan istri? Ah elah.., so sweet banget, ya,?
Gue dan Fiza saling menatap. Gue coba mengirim sinyal untuk mengajak ena - ena dengan sebuah kedipan mata.
Dip kedip.
Lalu gue menunggu reaksinya. Awalnya Fiza hanya menatap dengan heran, lalu gue beri kedipan sekali lagi. Kalau dia gagal paham berarti gue sangsi dengan yang namanya ikatan batin antara pasangan suami istri, soalnya kalau di club malam, begitu gue ngedipin cewek, dia pasti akan menghampiri gue dan mau untuk di ajak ena- ena.
"Bapak kenapa? Matanya sakit ya?"
Pertanyaan lugu istri gue membuat gue sakit hati. Ya ampun.... istriku.... istriku.
"Bapak nggak apa - apa kan?"
__ADS_1
"Enggak tadi aku hanya kelilipan!"
Gue jengkel, Sob. Seharusnya istri gue kan memahami kode gaul ini.
Istri gue berdiri kemudian berjalan mendekat. Gue terkejut saat tangannya merengkuh wajah gue.
"Sini biar saya bantu membersihkan matanya Bapak!"
Lalu Fiza meniup - niup mata gue. Reaksi yang tidak terduga ini menimbulkan sensasi aneh di hati gue. Ada rasa nyaman yang gue rasakan bersama tiupan nafasnya ke mata gue. Perhatian kecilnya itu membuat gue seketika merasa jatuh cinta padanya.
"Sudah enakan?" Pertanyaan Fiza menyadarkan gue dari pesonanya. Gwela.. Padahal hanya sebuah respon sederhana doang, loh. Tapi mampu melelehkan hati Abang.
"Eh... i... iya"
Kok malah gue yang jadi salting ya, Sob. Fiza tersenyum manis ke arah gue sebelum ia beranjak kembali ke tempat duduknya.
Duh.... seharusnya tadi gue tahan dulu tangannya dan gue curi satu ciuman di bibirnya. O'on banget sih gue, karena sudah menyia - nyiakan momen berharga ini.
Gue sedang menyesali kebodohan gue, dan ponsel milik Fiza berdering. Ia meraih ponselnya. Alis matanya bertaut, kemudian menatap gue.
"Pak, saya boleh kan menjawab telponnya?"
"Telpon dari siapa?"
"Mas Lanang."
Jawaban Fiza membuat gue merasa kesal. Ini teman gue ternyata masih usil juga ya.
"Sini biar aku yang menjawab!" Gue meminta ponsel Fiza, dan lagi - lagi istri gue patuh dengan menyerahkan ponselnya ke gue.
"Assaalamualaikum....!"
"____________"
Gue terkekeh mendengar Lanang panik karena ketahuan sudah mengganggu istri orang.
"Ada di depan gue. Kan sekarang kita ketemu 24 jam nonstop!"
"__________"
"Ah Lo mau tahu aja, Bro?"
Gue merasa keqi ketika Lanang menanyakan gue kuat tempur berapa ronde. Boro - boro satu ronde, lha belah duren saja belum. Tapi gue gengsi lah mengaku ke saingan.
Setelah basa - basa tidak penting, Lanang pun menutup telponnya dan gue segera memblokir nomornya dari kontak ponsel milik Fiza
Gue cemburu, Sob!
__ADS_1
Tbc