Jodoh Si Tomboy

Jodoh Si Tomboy
Fiza : Kenalin, Ini Suami Gue!


__ADS_3

"Lho Za, ini bukannya temannya mas Lanang yang julid sama Lo." Bobby langsung menunjuk Aksa. Gue hanya nyengir. Bagaimana gue menjelaskannya, ya?


Setahu Bobby dan sahabat - sahabat gue, temannya mas Lanang yang sekarang sudah menjadi suami gue ini dulu sangat memusuhi gue. Ember...


Gue bahkan membutuh waktu lama untuk menjinakkan dia. Ups! belum, ding. Hubungan kami masih kacau, meskipun gue dan Aksa sudah sah menjadi pasangan suami istri, tapi itu hanya status hitam di atas putih. Namanya juga nikah paksa eeh.... terpaksa nikah demi memenuhi keinginan terakhir almarhum bapak Arbani Malik alias bokap gue.


Mas Aksa, ihirrrr... gue harus membiasakan lidah gue untuk menyebut suami gue dengan tambahan gelar 'mas'. Yaela... ehem.... Mas Aksa menatap Bobby and the gank dengan tatapan yang tidak bisa gue pahami.


Gue mendekati mas Aksa dan menyentuh pelan lengannya.


"Teman - teman, kenalkan ini Mas Aksa. Suami gue."


Gue melihat empat pria dihadapan gue langsung melongo. Mereka seperti sedang berakting di film horor, dimana tokohnya sedang bertemu hantu. Hiperbolis banget ya reaksi mereka.


"Kapan Lo nikah? Kok nggak ngabarin kita - kita!"


Kembali Bobby sewot berat, lagi - lagi gue egois tidak memberitahukan berita bahagia gue. Mana sempat lah gue mengabari mereka, lha rencana pernikahannya saja sangat mendadak. Gue juga belum memantapkan hati menerima Aksa menjadi suami. Gue juga tidak sempat mengurus segala sesuatu untuk memenuhi syarat pernikahan, tahu - tahu kami sudah 'sah'. Itu karena bapak mertua gue tajir melintir, jadi dalam sehari daja urusan surat menyurat di KUA langsung beres. The power of money, Sob.


"Ceritanya panjang, Bob." Gue beralasan. Soalnya gue malas mengulangi cerita dari awal hingga akhir. Tapi karena Bobby memaksa, akhirnya gue pun menceritakan semuanya. Minus bagian gue mau dilamar mas Lanang untuk dikontrak album solo. Gue takut Bobby marah karena merasa dikhianati. Lha iya lah, kita berjuang bersama tapi hanya gue yang dikontrak rekaman, kan tidak adil. Dan gue juga tidak bercerita mengenai perjanjian membatalkan pertunangan dengan mencari gebetan lain. Intinya, gue ternyata dijodohkan sejak belum lahir, dan saat bertemu di Black Cat waktu itu, kita belum tahu kalau ternyata kita sudah dijodohkan.


"Alhamdulillah..." Bobby and the gank berseru kompak.


"Untung Lo laku juga, Bray. Setidaknya Lo nggak sendirian." Bobby berkedip - kedip ke gue.


"Pak penghulu nggak protes kan Za? nggak ada satpol PP yang menghalangi pernikahan Lo kan."


Jiahahahahaha..., gaol juga ya teman gue? Tahu saja berita pengrebekan pernikahan sejenis atau LGBT. Untunglah pak Imam dan pak RT selaku saksi pernikahan gue, tahu kalau gue ini perempuan tulen. Karena sewaktu masih kecil, gue masih ada bau - bau anak cewek, belum kelihatan cowok banget. Beliau juga sering melihat gue memakai mukena saat tarawih dan mengaji di TPA. Jadi tidak mungkin sekali ada oknum yang akan menggagalkan pernikahan gue.

__ADS_1


Ups.... ternyata ada. Gue teringat mas Lanang, Lelaki yang datang tanpa diundang. Jauh - jauh dari Palembang pula. Kasihan sekali pria itu. Padahal orangnya baik. Tapi gue justru membuat hatinya terluka. Gue bahkan belum sempat meminta maaf karena keburu pingsan, dan ketika tersadar, mas Lanang sudah balik lagi ke Palembang.


"Terus cewek yang naksir Lo tahu nggak, kalau lo merid? Bakalan patah hati dia." Bobby mengingatkan gue tentang Yuna, seorang gadis SMU yang kepincut dengan pesona gue.


"Ternyata dia adiknya suami gue."


Penjelasan gue membuat Bobby and the gank saling berpandangan, kemudian mereka kembali tertawa.


"Menurut gue, Lo lebih pantas jadian sama adiknya ketimbang sama kakaknya." Bobby menyindir gue. Semprul ini anak!


"Mas, malam pertamanya gimana? Mantap nggak." Pertanyaan ngaco itu terlontar dari Gilang. Rupanya mereka penasaran dengan malam pertama gue. Di benak mereka pasti mempunyai pikiran yang sama seperti suami gue, yaitu gue dan suami menghabiskan malam pertama dengan bermain pedang - pedangan.


Andi, Bobby, dan Sam langsung tertawa ngakak. Tidak sopan sekali ya?. Katanya mereka mengunjungi gue dalam rangka bertakziah, mengapa sekarang mereka malahan menertawakan gue?


"Belum sempat lah, tadi malam aja kita sibuk mengadakan acara tahlilan. Ini gue mau siap belah duren, Lo - Lo malah pada datang kesini." Aksa mewakili gue untuk menjawab pertanyaan Gilang.


Jawaban mas Aksa membuat gue menjadi bulan - bulanan Bobby and the gank. Gue tatap mas Aksa yang ikut nyengir.


"Eheeem.... kalau begitu kami pamitan dulu Za, kami tidak mau mengganggu honey moon kalian. Tapi kami tetep tunggu pajak nikahan Lo berdua." Bobby mewakili sohib - sohib gue untuk pamitan.


"Kalian nggak makan dulu?" Gue mencoba mencegah kepergian Bobby and the gank. Soalnya gue membutuhkan mereka untuk menemani gue yang mendadak grogi harus berduaan dengan Aksa dengan status baru kami. Nanti kalau gue kenapa - kenapa gimana coba?


"Nggak, deh! kita takut berdosa karena mengganggu orang honey moon." Keempat sohib gue kompak nyengir lebar. Jawaban itu membuat gue merasa seperti hewan kurban yang hendak disembelih.


"Selamat ya, Za! Semoga pernikahan kalian samara. Mas Aksa, kami nitip Fiza ya. Biar tampangnya ajib, tapi dia sahabat kami yang paling istimewa." Lagi - lagi gue dibuat terharu dengan teman - teman ngeband gue.


"Terimakasih, Sob. Gue doain juga kalian cepet lulus kuliah. Amin." Ucapan Aksa diamini oleh Bobby and the gank dengan penuh semangat.

__ADS_1


Kemudian mereka berempat pamit pulang dan gue mengantarkan Bobby and the gank sampai ke depan pagar. Gue baru kembali masuk ke dalam ketika mereka telah hilang dari pandangan.


Ketika gue masuk ke dalam rumah, mas Aksa menatap gue sambil tersenyum lebar.


"Aku serius ingin honey moon sama kamu. Bagaimana kalau kita honey moon sekarang aja!"


Gue menatap mas Aksa. Hah serius? Sob.... gue ingin pingsan lagi aja deh, boleh kan? Lagipula ini orang tidak berperikemanusiaan sekali. Bisa - bisanya mengajak icikiwir saat istrinya masih dalam suasana berduka cita.


"Sabar ya, Mas! Nunggu 40 hari. Istrinya Mas masih masa idah nih." Gue mencoba beralasan, dan mas Aksa mengerutkan kening.


"Emang kamu nunggu masa idahnya siapa? Yang meninggal kan bapak kamu, bukan suami kamu."


Gue menatap suami gue. Sumpah ganteng banget, Sob. Andai masalah antara dia dengan Arneta sudah diselesaikan, gue bakalan hayuk aja diajak nininananina sama dia. Selain karena sudah menjadi haknya dia, itu juga sudah menjadi kewajiban gue.


"Aku maunya, Mas Aksa selesaikan dulu masalah Mas dengan Arneta." jawab gue dengan nada tegas.


Gue egois sekali ya, Sob? Karena mengingkari perasaan gue sendiri. Padahal gue juga ingin dihibur suami. Katanya bercinta itu obat paling mujarab untuk menghilangkan kesedihan. Tapi gue tidak mau bercinta dengan suami, kalau dia sendiri masih terikat dengan perempuan lain.


Mas Aksa menatap gue. Tapi gue tidak bisa mengartikan tatapan matanya. Gue sadar, gue berbanding terbalik dengan Arneta. Gue tidak cantik, gue jauh dari kata seksi, gue takut mengecewakan suami. Dan yang paling parah, gue takut dia membayangkan merasa bermain pedang - pedangan sama gue....


"Maaf, Mas. Kalau boleh, beri aku waktu. Aku harap, Mas Aksa mau menungguku," ucap gue sambil menunduk dalam.


Mas Aksa mengacak kepala gue dengan lembut. Belaian yang membuat kesedihan kembali datang merasuki hati gue. Gue tidak ingin terbawa euforia pernikahan. Karena gue masih menganggap semua ini fatamorgana.


"Aku akan selesaikan semua urusanku dengan Arneta."


Ucapan mas Aksa membuat mata gue mengerjap. Ini bukan mimpi kan, Sob?

__ADS_1


Tolong jangan bangunkan gue jika semua ini hanya mimpi!


Tbc


__ADS_2