Jodoh Si Tomboy

Jodoh Si Tomboy
Yuna : Pasangan Nggak Jelas


__ADS_3

Malam ini sebenarnya gue merasa senang sekali, karena gue diajak abang dan calon mbak ipar untuk menonton live konser Annoying.


Tapi, karena ke o'on- an abang gue, rusak sudah acara senang - senang barengnya. Abang gue lebih mementingkan pacar ganjennya dan meninggalkan kami. Tunggu ya mas Aksa, gue laporin kanjeng mami biar tahu rasa, lo!


Duh gue jadi berpikir, seandainya saja mbak Fiza itu cowok, atau gue aja deh yang cowok. Gue mau kok menggantikan abang gue untuk meneruskan perjodohan ini. Suer!


Sekarang gue ngintilin mbak Fiza ke backstage untuk menemui mas Lanang. Sebel gue sama temannya abang gue yang satu ini, sudah tahu mbak Fiza itu calon istrinya abang gue, masih mau main embat saja.


Alhasil, gue jadi jutek selama sesi foto - foto bersama personil Annoying. Free pass yang gue dapat, jadi tidak terasa istimewa sama sekali.


"Mau ikut party after live konser nggak?" Mas Lanang menawari mbak Fiza untuk ikut bergabung merayakan kesuksesan penyelenggaraan event di kampung halaman.


"Memang acaranya di mana, Mas?"


"Di sebuah bar dekat - dekat sini sih. Sekalian reunian sama Ersa. Lo ngefans sama Ersa, kan?"


Gue dibuat ketar - ketir dengan jawaban yang akan dipilih oleh mbak Fiza. Gue kan belum cukup umur untuk diijinkan masuk ke tempat khusus orang dewasa itu.


"Nggak deh, Mas. Gue udah janji menemani Yuna. Anterin kami pulang kerumah gue aja, Mas!"


Jawaban mbak Fiza membuat gue mendesah lega, ternyata mbak Fiza cukup bijak dengan mengesampingkan egonya. Dia memilih untuk tidak ikut party afternya Annoying.


"Serius Lo nggak ikut. Ada Ersa lho!" pancing mas Lanang untuk mempengaruhi calon mbak ipar gue.


"Nggak, Mas, gue nitip salam aja untuk beliaunya!"


Gue melihat wajah mas Lanang berubah keruh. Terlihat jika ia kecewa dengan penolakan mbak Fiza. Meskipun abang gue sikapnya menyebalkan, tapi mbak Fiza tetap bertanggung jawab terhadap gue. Salut deh gue. Abang gue aja melempar tanggung jawab demi kencan dengan si ganjen, malah mbak Fiza yang menjaga gue. Hiks... terharu gue.


Mbak, suer! gue mau kok gantiin mas Aksa dijodohin sama mbak!


Mas Lanang hanya mengantar kami sampai depan portal jalan menuju rumah mbak Fiza. Alasannya supaya om Bani tidak kaget karena mbak Fiza diantar dan di jemput oleh dua orang lelaki yang berbeda. Alasan yang lain adalah mbak Fiza lapar, jadi rencananya kita mau mencari makanan dulu.


Mbak Fiza mengajak gue menunggu mas Aksa di warung tenda yang biasa mangkal di dekat portal. Kebetulan sekali, gue juga laper. Tapi gue belum pernah tuh makan nasi kucingan. Memangnya enak ya, Sob? Maklum lidah gue terbiasa makan makanan cafe. Ya minimal bakso atau mie ayam gitu lah. Masa makan nasi kucing?


"Oke, Dek! Pilih aja yang ingin kamu makan!" Mbak Fiza menunjuk deretan tampah plastik berisi aneka makanan.


Gue masih merasa ragu. Apakah rasanya enak?


"Tenang, ini halal dan nggak beracun, kok!"


"Iya, Mbak aman kok!"


Si mamang penjual nasi kucing ikut menyuporteri gue.

__ADS_1


"Biasa makan makanan 'sultan' dia, Pak. Jadi nggak bisa makan makanan rakyat jelata"


Mbak Fiza berkelakar dengan si mamang penjual nasi kucingan. Dan si mamang terkekeh tanpa merasa tersinggung sama sekali.


Untuk membuktikan jika gue bukanlah wanita sombong yang nongkrongnya di mall, tangan gue terulur untuk mengambil bungkusan nasi.


Gue mencoba menikmati nasi oseng tempe. Jujur saja ya, makanan seperti ini tidak laku di rumah gue. Tapi gue heran melihat mbak Fiza makan dengan lahap, bahkan makan habis 2 bungkus, loh.


"Oh ya, cowok gebetanmu orangnya cuek amat ya, mirip Aksa!" Mbak Fiza yang sudah menghabiskan makanannya mulai membuka percakapan.


"Masa Mbak ngajakin japri, dia nggak mau. Pakai bilang takut gue ajak berubah haluan segala."


Gue ikutan tertawa. Ya iya kali, mbak. Dilihat dari penampilannya mbak Fiza, orang yang tidak kenal dan belum pernah bertemu juga langsung menebak kalau mbak Fiza itu cowok. Seperti gue dulu.


"Oh iya, kamu telpon mamas dulu, gih! Bilangin kita udah balik dan nungguin di warung tenda dekat portal!"


Gue menurut. Apalagi sekarang sudah pukul duabelas malam. Gue tidak rela abang gue keenakan kencan dengan si ganjen.


"Mas.... jemput Yuna sekarang!"


Gue langsung berteriak kenceng saat sambungan telpon diterima oleh Abang gue.


"_________"


"___________"


"Pokoknya buruan jemput. Kalau nggak, gue laporin kanjeng mami!"


Lalu gue putuskan sambungan telpon tanpa menunggu jawaban abang gue. Peduli amat dia bakalan di protes pacarnya yang ganjen itu.


കകകകക


Om Bani menunggu kepulangan mbak Fiza hingga ketiduran di teras. Meskipun begitu, beliau masih menyempatkan diri untuk beramah tamah dengan gue dan abang gue. Tapi berhubung hari sudah larut malam, kami pun segera berpamitan.


Setelah mobil yang dikemudikan abang gue melaju, gue pun melayangkan protes gue ke abang gue.


"Mas Aksa itu benar - benar terlalu!"


Gue menirukan bapak Raden Haji Oma Irama alias yang lebih terkenal dipanggil Rhoma Irama.


"Terlalu apaan?"


"Mas tega membohongi om Bani. Padahal reaksi om Bani sewaktu menyambut kakak kelihatan bahagia banget."

__ADS_1


"Lo bawel ish! Anak kecil nggak usah ikutan!"


"Mas Aksa, dengerin ya. Asal mas tahu aja, yang bakalan sedih melihat mas Aksa dan mbak Fiza nggak mau dijodohkan bukan cuma om Bani lho. Kanjeng mami, kanjeng papi, dan gue juga sedih!" protes gue.


Gue teringat kembali wajah sedih mami saat keluar dari restoran setelah memata - matai abang gue beberapa waktu yang lalu.


Abang gue tidak berkomentar. Akhirnya sepanjang sisa perjalan, gue jadi lebih banyak diam. Pasangan tidak jelas antara abang gue dengan mbak Fiza itu membuat gue ikut merasa gemas.


കകകകക


Gue awali hari ini dengan stalking Ig. Dan gue menemukan sebuah foto di Ig mbak Fiza.


Manis gue atau kucing gue sob?


#sicoreng#kucing#catlovers


Ya ampun sob, gue tidak menyangka. Ternyata mbak Fiza kalau sedang cewek mode on itu wajahnya menggemaskan sekali. Gue dibuat salfok dengan wajah manisnya.


Gue segera save foto itu dan gue kirim ke ponsel abang gue lewat chat.


Gue : mas, melek dikit coba, ada cewek cantik di depan mas Aksa, malah di cuekin!


Gue : direbut mas Lanang tahu rasa lo!


Gue : eh tahu bulat aja deh, digoreng, di mobil, rasanya enak, halaaal!


Gue : mas Aksa....


Gue : woi mas, balas chat gue kenapa?


Gue : katanya mau menuruti permintaan gue?


Gue : ya udah gue laporin kanjeng mami aja!


Gue perlu menunggu cukup lama hingga akhirnya chat yang gue kirim itu dibalas oleh Abang syaitonirojim gue.


Mas Aksa : Iya bawel. Ini udah gue balas, puasssss?


Gue : mas nggak komen sama foto yg gue kirim?


Ah dasar abang gue itu ya. Mungkin besok gue harus sholat Tahajjud lagi. Doanya, minta supaya mata dan hati abang gue dibuka. Sebel gue dengan sikap mas Aksa yang menyebalkan itu.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2