
Sebagai seorang lelaki, wajar dong gue berusaha menyenangkan pacar. Termasuk rela meninggalkan Ranma dan adek gue di venue live konser Annoying, demi memenuhi permintaan Arneta yang ingin ditemani clubing.
Tapi dasar adek gue tak ada akhlak, sukanya merecoki abangnya saja. Sepertinya dia tidak senang melihat abangnya senang. Dengan seenaknya dia main panggil saja. Memangnya gue sopir taxi onlen apa?
Padahal gue dan Arneta sedang turn on efek cumbuan maut. Hampir saja kami ber nininananina di hotel dekat club, tapi teriakan adek gue yang minta dijemput, membuat gairah gue dan Arneta langsung lenyap. Duh kasihan bener si dudung, kemarin sudah batal berlebaran, sekarang batal berlebaran ketupat pula. Bener - bener apes deh gue, dan semua keapesan gue bermula dari kedatangan si Ranma.
Arneta sempat mengomeli gue, saat dia gue antar pulang. Ternyata seorang perempuan bisa tegangan tinggi juga ya kalau belum dipuaskan lelaki? Kirain cuma lelaki doang yang uring - uringan kalau tidak bisa menyalurkan hasrat terpendam.
"Besok kita lanjutkan, beib!" Gue berusaha menghibur Arneta. Gue berjanji besok akan menyempatkan waktu untuk kembali menemuinya. Mau main berapa ronde pun bakalan gue turuti sampai puas.
Setelah mengantar Arneta pulang, gue meluncur ke rumah Ranma untuk menjemput adek gue. Tapi acara menjemput adek gue harus melalui prosesi dulu, Sob! Jemputnya di warung kucingan, terus mampir rumah Ranma, basa - basi sebentar sama om Bani, baru gue bisa membawa adek gue pulang. Uluh... uluh... ribet banget ya, Sob? Ribetnya mengalahkan prosesi pernikahan saja.
Dalam perjalanan pulang, gantian adek gue mengomeli gue.
"Mas Aksa benar - benar terlalu!" ucap adek gue dengan menirukan cengkoknya Raden Haji Oma Irama. Sebenarnya lucu sih, tapi karena gue sedang kesal, bagi gue ya jadi terdengar menyebalkan.
"Terlalu apa'an?"
"Mas tega membohongi om Bani. Padahal reaksi om Bani waktu menyambut Nas Aksa kelihatan bahagia banget."
"Lo bawel ish! Anak kecil nggak usah ikutan!"
Namun tak urung, gue terbayang wajah om Bani. Iya om Bani nampak bahagia dengan kedatangan gue, meskipun hanya menjemput dan mengantar putrinya yang ajib itu.
Kelihatan sekali om Bani juga berharap, gue serius menikahi Ranma. Andai om Bani tahu kalau gue dan Ranma berusaha membatalkan perjodohan ini, bagaimana reaksi beliau ya?
"Mas Aksa, dengerin ya? Asal mas tahu aja, yang bakalan sedih melihat mas Aksa dan mbak Fiza nggak mau dijodohkan bukan cuma om Bani lho. Kanjeng mami, kanjeng papi, dan gue juga sedih."
Ucapan adek gue membuat gue membayangkan hal konyol, sob. Bayangan pernikahan gue dengan Arneta melintas di otak. Tapi terbayang juga wajah keluarga gue yang cemberut semua di foto - foto pernikahan gue. Duh... mau senang aja kok susah amat ya?
Gue memilih untuk diam. Bukannya gue tidak mau menanggapi omongan adek gue, tapi gue sedang berpikir, bagaimana caranya supaya keluarga gue merestui Arneta, dan penolakan gue tidak membuat om Bani kecewa. Ada yang bisa membantu gue memberi saran tidak?
Gue sampai di rumah pukul satu pagi. Kemudian gue melakukan ritual sebelum tidur, plus melakukan pertolongan pertama pada si dudung yang memprotes karena tidak mendapat jatah.
"Sorry dung. Mungkin lain kali ya. Malam ini lo harus puas hanya pakai sabun!" Gue mencoba menenangkan si dudung.
Setelah menuntaskan hasrat gue dengan membayangkan tubuh seksi Arneta, gue pun merasa lega. Luar biasa...!
Gue rebahkan tubuh gue di ranjang. Tarik selimut untuk menutupi tubuh telanjang gue, lalu gue meraih ponsel untuk bermain game sebentar.
Ternyata gue mendapat pesan WA dari adek gue. Ia mengirimkan fotonya Ranma.
Yuna : mas, melek dikit coba. Ada cewek cantik di depan mas Aksa, malah dicuekin!
Yuna : direbut mas Lanang baru tahu rasa lo!
__ADS_1
Yuna : eh tahu bulat aja deh, di goreng, di mobil, rasanya enak, halaaal!
Yuna : mas Aksa!
Yuna : woi mas, bales chat gue kenapa?
Yuna : katanya mau nuruti permintaan gue?
Yuna : ya udah gue laporin kanjeng mami aja !
Ternyata selama gue sibuk menenangkan si dudung, adek gue mengirimi gue pesan. Yuna sampai sewot, karena pesannya gue abaikan. Mana pakai ancaman akan melaporkannya pada kanjeng mami pula.
Gue : Iya bawel. Ini udah gue balas. Puasss?
Yuna : mas nggak komen sama foto yang gue kirim?
Haduh... ngelunjak banget tuh anak. Pesan sudah dibalas, tapi masih saja komplain.
Gue naikan scrool ke foto yang dikirim oleh Yuna. Foto si Ranma. Tidak tahu kenapa di foto itu Ranma terlihat cute dan tidak kelihatan seperti cowok. Jangan - jangan adek gue bener ya? Gue terlalu cuek sehingga tidak sadar setiap hari gue dilayani dan ditemani oleh seorang perempuan yang istimewa.
Aduh, Sob! kok gue jadi galau begini ya?
കകകകക
Arneta menyambut gue dengan wajah yang masih mengantuk karena baru saja bangun tidur. Kalau Kanjeng mami tahu calon menantunya suka ngebo, beliau pasti auto nyap - nyap. Tapi bagi gue tetap terlihat cantik dan seksi. Gue membayangkan, seandainya dia menjadi istri gue. Pasti gue bakalan sering telat ngantor karena keasyikan bernininananina di ranjang.
"Kamu mau ajak aku ke mana?"
Arnet bertanya dengan suara serak khas bangun tidur, dan terdengar sangat seksi.
"Kemana aja kamu mau, honey!"
"Ngajakin gue melanjutkan pertempuran kita tadi malam juga boleh," kata suara hati gue. Karena dibawah sana, dudung sudah kembali memberontak akibat efek penampilan bangun tidur dan suara serak Arneta.
"Oke, aku mandi dulu!"
Gue duduk di sofa ruang tengah sambil menonton televisi. Rumah Arnet sepi. Hanya ada Arnet dan asisten rumah tangga. Sedangkan ayah dan ibu Arnet sedang ke luar kota untuk mengurus cabang bisnis mereka. Oh iya, Arnet itu anak pertama, adiknya sudah kuliah, tapi di luar kota. Jadi tidak ada keluarga Arnet di rumah. Duh suasananya kok mendukung gue dan Arnet banget ya? Otak gue mulai berpikiran mesum.
Suara ponsel gue berdering. Ternyata itu panggilan dari Arnet. Ngapain juga mesti menelpon segala? padahal tinggal berteriak saja.
"Iya, Honey. Ada apa?
"Tolong bantu gue pasang sleting baju dong, beib!"
"Oke!"
__ADS_1
Gue segera bangkit dari leyeh - leyeh di sofa dan berjalan menuju ke kamarnya Arneta.
"Surprise....."
Arneta yang hanya berbalut handuk langsung memeluk gue. Tak lupa bibirnya menciumi dada gue yang masih memakai kemeja. Belum habis rasa terkejut gue, tangannya sudah memberikan bonus tambahan. Tanpa merasa malu Arneta menggerayangi si dudung yang langsung siaga karena remasan lembut jemarinya.
"Hari ini aku mau kamu, beib!" desah Arneta dengan seksi. Wajahnya tengadah menatap gue tak lupa memberikan kerlingan manja.
Gue segera membopong tubuh Arneta dan mejatuhkannya dengan lembut di ranjang. Segera saja bibir gue mencium bibir Arnet yang lumatable dan tangan gue memainkan bukit kembarnya yang remasable.
Tanpa banyak kesulitan, gue menelanjangi Arneta yang memang hanya berbalut handuk. Hanya dengan sekali sentakan saja, si handuk sudah terlepas dari tubuh Arneta. Kini tubuh Arnet terekspose tanpa penutup selembar benang pun.
"Puaskan aku, beib. Please......!"
Suara Arneta terdengar serak karena dilanda gairah. Mungkin karena efek ciuman gue. Tanpa harus diperintah dua kali, gue segera memanjakan Arneta dengan cumbuan dan sentuhan gue.
Bibir gue menciumi semua bagian tubuh Arneta, hingga akhirnya lidah gue sampai di lubang surgawi miliknya.
Gue memainkan lidah gue disana. Suara desahan dan pekikan Arnet memenuhi ruangan kamar. Ia tampak menikmati permainan lidah gue.
"Aksa.... oh.... please... aku mau keluar... aaahhhh.....!"
Rambut gue diremas oleh Arnet bersama dengan pelepasannya. Tubuhnya menggelinjang dengan hebat, diikuti suara teriakkannnya yang tidak bisa menyembunyikan kenikmatan yang gue berikan.
"Thankiu, beb!"
Arnet tersenyum puas, kemudian membanting tubuh gue, sehingga tubuh gue berada dibawahnya. Bibir Arnet mulai mencium bibir gue, dan tangan Arnet berusaha membuka kancing kemeja gue.
Gue pejamkan mata gue sambil menikmati tarian lidah Arnet di dada gue. Tapi tiba - tiba selintas foto Ranma yang dikirim oleh adek gue berkelebat di otak gue. Sialan, kenapa di saat sedang tegangan tinggi mesti diselingi iklan?
"Beib, aku capek!"
Arneta mengeluh, karena sejak 30 menit yang lalu, usaha nya membangunkan si dudung tidak berhasil. Gara - gara iklan yang barusan lewat, si dudung jadi kehilangan semangat.
"Ya udah, nggak apa - apa, yang penting kamu puas kan, Honey!"
Arneta mengangguk, dan menghampiri gue untuk berbaring di ranjang.
"Padahal, tadi bangun. Kok jadi lemes gitu?" Arnet membelai wajah gue.
"Mungkin karena siang hari, jadi dia puasa. Coba kalau malam. Dia pasti semangat."
Arneta tertawa geli. Hanya gue yang merasa bingung. Kenapa si dudung jadi ngambek saat gue hendak bernininananina dengan Arnet ya? Heran, deh gue.
Tbc
__ADS_1