Jodoh Si Tomboy

Jodoh Si Tomboy
Fiza : Double Job


__ADS_3

Semenjak mempunyai ponsel, pekerjaan gue sedikit lebih enteng. Gue tidak harus mampir dulu di rumah budhe Harsono. Mungkin beliau merasa bersalah karena malam Minggu kemarin, gue sampai harus pulang kelewat malam.


Lagian budhe itu aneh. Kenapa juga gue disuruh mengawal si big baby boy sampai malam. Budhe kan bisa video call untuk mengecek anaknya itu sedang apa, dengan siapa, dan ada dimana. Iya nggak?


Tapi sebagai ganti datang ke rumah Harsono family, gue jadi sering di video call pagi, siang, malam oleh budhe. Sudah seperti minum obat aja ya, Sob? Alasan budhe sih kangen sama calon mantu. Wehehehehe... tersandung gue.


Seperti biasa, tugas gue di kantornya Aksa itu kalau pagi adalah membuatkan kopi. Setelah itu gue bakalan ditindas oleh pria itu baik perkataan maupun perbuatan. Tapi sekali lagi, rasa sayang dan rasa cinta gue kepada bokap mampu membuat gue tetap tabah menghadapi big baby boy bernama Aksa.


Gue anggap Aksa itu dosen killer gue yang sedang memberi materi kuliah sekaligus praktek. Ilmu yang tidak didapatkan di sekolah formal. Benar tidak, Sob?


Gue mencoba enjoy saja, apalagi setiap istirahat di kantin, banyak teman cewek di kantor yang mengerubungi gue. Berasa jadi gula aja gue.


Kalau siang disibukkan oleh si kakak. Malamnya, gue direpotkan oleh si adik. Yuna meminta tolong gue untuk stalking Ig gebetannya yang bernama Sean.


Kisah cinta di masa remaja itu memang sangat seru. Tapi gue melewatkan masa itu. Karena sewaktu SMA, gue selalu menjadi idaman siswi wanita, baik dari lingkungan sekolah sendiri maupun dari sekolah lain. Padahal gue jelas - jelas ke sekolah memakai rok seragam lho ya.


Bahkan di tempat kerja, gue juga menjadi idola para wanita, Sob! Big baby boy jadi semakin sirik saja melihat gue dikerubungi wanita - wanita cantik baik yang masih single ataupun yang sudah dobel.


Lha mau bagaimana lagi. Gue itu orangnya kelewat ramah. Benar - benar sifat orang Jawa tulen yang senantiasa menebar senyum dan sapa pada sesama, apalagi teman dan tetangga. Tidak heran, cewek - cewek di kantor pada nempel ke gue.


Tapi tujuan mereka itu macam - macam, Sob! Ada yang berniat mendekati gue, dan ada juga yang mendekati gue untuk bertanya - tanya info seputar bapak Laksana Bima Harsono yang tampan dan mapan itu. Ternyata big baby boy tidak perlu merasa iri ke gue, karena fans nya masih banyak. Tetapi ya itu, derita para bos yang harus terlihat jumawa dan cool, membuat para semut segan mengerubung.


Saat sedang makan siang, telepon gue berbunyi. Pasti budhe Harsono yang menelpon.


Gue melihat layar gue dan jidat gue berkerut. Nomor tak dikenal, Sob! Terpaksa gue abaikan, lah. Soalnya jaman sekarang sering banget kan ada telpon dari nomor tak dikenal yang suka tipu - tipu?


Ketika gue balik ke ruangan big baby boy, budhe Harsono menelpon. Biasa cek sound, Sob! apakah kami sudah makan siang? Sudah sembahyang dan lain - lain. Uh, senangnya hati gue. Karena diperhatikan oleh budhe Harsono itu terasa seperti mendapat perhatian dari seorang ibu. Gue yang piatu ini langsung baper. Sayangnya big baby boy itu sangat menyebalkan.


Setelah selesai menerima telpon dari budhe, gue melanjutkan pekerjaan, apalagi kalau bukan membacakan tumpukan berkas yang harus ditanda tangani oleh big baby boy. Tapi bos gue yang satu ini hebat, Sob! Meskipun matanya terpejam seolah - olah tidur, tapi dia tahu mana berkas yang salah dan harus direvisi, dikurangi, atau ditambah. Kemudian gue menandai berkas tersebut, macam dosen bimbingan skripsi mencoret - coret skripsi mahasiswa saat bimbingan. Lalu gue kembali ke sekretaris big bos untuk memberitahu jika berkas tersebut harus di revisi. Lalu kembali lagi membacakan berkas yang sudah direvisi. Makin curly aja lidah gue, Sob! Sepertinya gue harus treatment pijat lidah untuk meluruskannya kembali.


Pukul empat sore, sekretaris big baby boy datang dan memberitahu kalau ada tamu. Siapa juga yang bertamu sore - sore? Mau jamnya bubaran kantor pula.


Sesosok pria dengan pakaian semi formal pun masuk ke dalam kantor big baby boy.

__ADS_1


"Hai Aksa, hai Fiza!" Mas Lanang menyapa sambil tersenyum lebar.


"Waalaikumsalam!" Gue membalas sapaan mas lanang. Mas Lanang tertawa.


"Assalamualaikum!" ucapnya sambil menjabat tangan gue.


"Kok tadi telpon gue nggak diangkat?" Mas Lanang langsung menginterogasi gue. Oh.... jadi tadi itu yang menelpon adalah mas Lanang toh?


"Maaf, Mas. Saya tidak tahu. Saya kira tadi telpon dari tukang tipu - tipu yang mengabari saya dapat undian berhadiah."


Gue senyumin mas Lanang, supaya beliaunya tidak merasa kecewa karena telponnya tadi gue abaikan.


"Emang kok, tadi gue nelpon mau ngasih tahu Lo mendapat kontrak rekaman."


Mas Lanang duduk di sofa ruang kerjanya big baby boy, sedangkan si big baby boy tampak sedang asyik memainkan hapenya tanpa mempedulikan mas Lanang. Lah, padahal mereka kan bersahabat? Sepertinya big baby boy sengaja membuat gue menemui tamunya ini.


"Mas Lanang kalau bercanda tidak lucu. Bobby sendiri yang memberitahu kalau kita batal dilamar major label karena tidak bisa membuat lagu sendiri." Gue ngeles, Sob! Dan gue jadi teringat wajah kecewa Bobby sahabat yang baik hati, ramah, dan tidak sombong.


"Sini duduk di sebelah gue!" Mas Lanang menepuk sofa di sebelahnya yang masih kosong. Gue pun menurut. Tidak sopan kalau menemui tamu dengan posisi berdiri.


Kalau di film atau novel, gue sekarang sudah jejingkrakan karena senang, Sob! Menjadi artis gitu? Tapi di sudut hati gue yang paling dalam malah merasa sedih.


Selama ini gue berjuang bersama Bobby and the gank. Kalau tiba - tiba hanya gue sendiri yang bisa debut tapi sahabat - sahabat gue tidak, untuk apa?


Gue benar - benar mengalami dilema, Sob! Ya Allah.... jawaban apa yang bisa saya berikan kepada Bobby and the gank jika mereka tahu saya mengkhianati mereka karena menggapai kesuksesan sendirian?


"Saya tidak berminat menjadi artis, Mas."


Akhirnya hanya itu jawaban yang bisa menyelamatkan gue dari bujukan mas Lanang dan omelan Bobby and the gank.


Mas Lanang tersenyum. "Lo menolak untuk gue jadikan artis, tapi Lo nggak menolak kan untuk menjadi pacar gue?"


Pertanyaan mas Lanang membuat gue terkejut. Meskipun tadi malam baik Yuna maupun big baby boy sudah memberi kode keras jikalau mas Lanang itu ada rasa ke gue, tapi kalau tiba - tiba dia menembak seperti ini, gue jelas tidak siap lah.

__ADS_1


Gila banget ini orang! Nekat dan tidak tahu tempat. Bisa - bisanya dia meminta gue untuk menjadi kekasihnya di depan big baby boy.


Gue melihat ke arah big baby boy. Ia tampak tak peduli dengan kami dan masih asyik dengan hapenya.


Lidah gue yang sudah keriting jadi kesulitan berbicara. Spechlees gue. Mas Lanang gila!


Melihat kebingungan gue, big baby boy berjalan mendekati gue.


"Udah terima aja, Za! Lo berhak memilih jodoh Lo sendiri, dan gue juga berhak memilih jodoh gue sendiri."


Ya iya sih, gue sependapat pakai banget. Yang menjadi masalah adalah, bagaimana reaksinya budhe Harsono jika mengetahui kalau gue dan Aksa memutuskan sepihak perjodohan ini tanpa diketahui oleh beliau.


Baru juga memikirkan budhe Harsono, ponsel gue sudah berdering. Video call dari budhe Harsono, Sob!


"Assalamuaikum!"


"Waalaikumsalam. Awakmu wes mulih, Nduk?"


(Waalaikumsalam. Kamu sudah pulang, Nak?)


"Dereng, Budhe. Mbok menawi sekedap malih. Taksih wonten dhayoh."


(Belum, Budhe. Mungkin sebentar lagi. Masih ada tamu)


"Sopo tamune, Nduk? Kok tekane sore nemen?"


(Siapa tamunya, Nak? Kok datangnya sore amat?)


Gue agak ragu menjawab. Kira - kira bagaimana ya reaksinya budhe Harsono jika tahu tamu kami adalah mas Lanang?


Saat gue sedang kebingungan dengan jawaban pertanyaan budhe, mas Lanang menghampiri dan meraih ponsel gue. Lalu....


"Assalamualaikum tante Fitria. Tante sehat kan?"

__ADS_1


Tbc


__ADS_2