
Selepas makan malam bersama keluarga, Fiza malahan ikut masuk ke kamar adek gue. Sepertinya dia sengaja ingin mengungsi dan membiarkan gue tidur sendiri setelah dia mengalami peristiwa horor semalam.
Ah elah... Cuma melihat gue ngelindur saja istri gue merasa horor, Sob. Dia tidak tahu betapa tersiksanya si dudung yang sudah berpuasa 3 bulan lamanya. Padahal puasa Ramadhan aja cuma sebulan. Jangan salahkan gue dong kalau alam bawah sadar gue sampai menyerukan keinginan yang terdalam.
Ini benar - benar puasa terlama yang pernah gue alami. Gue jadi ingin uring - uringan saja, Sob. Udah macam motor yang rewel karena tidak pernah di tap olinya, gue juga sama.
Gue berniat menjemput Fiza dari kamar adek gue. Kalau perlu gue paksa untuk balik ke kamar dengan cara apapun. Tapi syukurlah yang gue tunggu akhirnya muncul juga. Berarti tidak perlu terjadi adegan KDRT kan ya?
"Mamas belum tidur?" tanyanya dengan suara yang entah mengapa terdengar merdu di telinga gue. Niat untuk memarahi istri pun lenyap entah kemana.
"Emmmm... aku nungguin kamu!" gue berusaha kalem. Gue tidak boleh membuat istri sendiri merasa seperti masuk ke dalam kandang singa?
"Tunggu ya! Mas. Aku mau menggosok gigi dan cuci muka dulu!"
Kemudian Fiza melenggang dengan santai menuju ke kamar mandi.
Gue menunggu istri sambil berbaring di ranjang. Dan otak gue berusaha mencari cara untuk membangun keromantisan bersama.
__ADS_1
Seumur hidup gue, baru kali ini gue kesulitan untuk menaklukkan hati seorang perempuan. Padahal biasanya gue dengan mudah dapat merayu mereka.
Bunyi pintu kamar mandi yang terbuka, menyadarkan gue dari lamunan. Gue langsung melihat ke arah pintu dan mendapati istri gue hanya memakai tanktop ketat dan celana hotpants.
Meskipun dada dan bokongnya rata, tapi istri gue nampak seksi sekali. Gue merasakan dudung menggeliat gelisah di balik bokser yang gue kenakan.
"Hey, Dung! tumben lo suka lihat yang model beginian?"
Dan gue mendengar dudung menjawab.
"Yang penting ori bukan abal - abal kakak!"
Penampilan Fiza membuat gue semakin tidak mampu menahan gejolak. Apalagi ketika Fiza berbaring di sebelah gue. Air liur gue nyaris menetes saat Fiza berbaring miring menghadap gue. Posisi itu membuat belahan dadanya terlihat membusung meskipun samar.
Duh..... gue jadi gemes, Sob. Katanya sentuhan dan jilatan laki - laki dapat membantu memperbesar ukuran buah dada wanita. Gue mau kok membatu pijat, plus menghisap supaya si bukit kembar berubah menjadi gunung secara alami. Hohoho....
Gue ikut berbaring miring, dan mata kami berdua pun saling menatap. Baiklah, gue akan mulai membangun keintiman melalui kontak mata. Seandainya hari ini gue belum berhasil ena - ena juga tidak mengapa. Yang penting sebagai suami, gue sudah berusaha.
__ADS_1
Gue menatap mata istri gue dengan intens, dan istri gue nampak salah tingkah. Ia sudah akan membalikkan badannya, tapi tangan gue segera terulur untuk mencegahnya.
"Aku ingin melihat wajahmu yang manis itu sayang!" mulut gue yang memang sudah jago melancarkan gombal - gambul mukiyo segera melancarkan jurus rayuan maut.
Untuk sesaat istri gue terdiam, kemudian ia kembali berbaring menghadap gue dan tersenyum. Duh Gusti... Senyummu benar - benar mengalihkan duniaku, Za!
"Mamas juga tampan!" ucap istri gue dengan nada yang lembut. Gue jadi merasa senang saat dipuji istri. Bahkan di bawah sana, si dudung sudah semakin gelisah.
"Apakah malam ini aku boleh...?" Gue mencoba mengajukan sebuah permintaan pada perempuan yang telah berhasil mengambil hati gue. Padahal awal - awal kami berjumpa, gue setengah ****** membencinya. Ternyata benar ungkapan 'gething nyanding'. Gue sengaja menambahkan kontak mata ke arah Fiza.
"Semoga Fiza bersedia." doa gue dalam hati sambil berharap - harap cemas. Gue udah tidak kuat harus berpuasa lebih lama lagi.
Dengan wajah malu - malu dan bibir bawah yang digigit, Fiza pun mengangguk.
Alhamdulillah.... si dudung akhirnya berlebaran juga.
Tbc
__ADS_1
Lebarannya si dudung silakan mengkhayal sendiri ya. 🤣🤣🤣🤣