
Pagi ini budhe Harsono menjemput gue untuk diajak ke kantor milik suaminya. Kata beliau, gue akan didapuk menjadi personal asisten putra kesayangannya.
Budhe Harsono baik banget, Sob! Sebelum gue dibawa ke kantor, budhe membawa gue untuk mampir dulu ke butik beliau. Ceritanya gue mau di make over, nih. Tapi jangan ketawa ya waktu membayangkan gue mengepas baju - baju manis yang membuat penampilan para cewek jadi semakin geulis.
Budhe Harsono tertawa hingga berkali - kali pamit ke kamar kecil karena kebelet pipis. Sedangkan karyawati yang lain mati - matian menahan tawanya demi menghargai pelanggan ajib seperti gue. Ya nasib!
"Budhe... saya menyerah saja, deh! Mungkin saya lebih pantas menjadi OB daripada asisten pribadi," ucap gue pasrah. Tapi budhe menggeleng.
Dasar budhe ini jenius, beliau menawari bagaimana kalau gue berhijab. Tapi gue menolak. Alasan yang pertama, gue tidak paham memakai hijab yang beribet itu. Kalau hijab instan sih, gue bisa. Meskipun ada tutorial cara memasang hijab trendy, tetap saja gue tidak bisa membuka tutorial karena tidak memiliki ponsel kekinian. Alasan kedua, gue belum siap mental. Gue sadar diri, lah. Gue tidak ingin hijab yang gue pakai hanya untuk menutupi penampilan gue yang ajib ini.
Akhirnya budhe Harsono mengajak gue ke butik langganan suaminya. Gue disodori kemeja dan celana bahan untuk gue coba.
Budhe tertawa ngikik. "Owalah, Nduk! kok malah pantes nganggo klambine wong lanang. Tapi yo wes rapopo!"
(Owalah, Nak! kok malah pantas memakai pakaian laki - laki. Tapi ya sudah tidak apa - apa!)
Perasaan gue terasa menghangat dengan sikap budhe yang tulus menerima gue. Gue terharu, Sob! Sampai mata gue mulai berair. Seperti ini kah mempunyai ibu?
Budhe Harsono membelikan gue beberapa potong kemeja beraneka warna dan beberapa potong celana bahan untuk bekerja. Tak lupa juga, gue dibelikan sepatu baru. Gue menjadi tidak enak hati, Sob! Belum juga gue bekerja, tapi gue sudah morotin budhe. Dalam hati gue berjanji akan bekerja dengan sebaik - baiknya, meskipun mungkin gue tidak bisa menjadi menantunya budhe. Gue sadar diri lah, gue ini siapa. Jadi gue tidak berani berharap si Aksa yang notabene anaknya budhe Harsono ini mau menerima gue menjadi istrinya.
Selesai berbelanja baju kerja untuk gue, budhe mengantar gue untuk menemui Aksa. Tentunya dengan memakai celana dan kemeja baru plus sepatu baru.
Saat masuk ke kantor, gue langsung mendapat tatapan genit dari karyawan wanita di kantornya pak Harsono. Namun ada juga tatapan benci dari para karyawan laki - laki. Tapi gue berusaha untuk tidak peduli.
Budhe melapor pada sekretarisnya Aksa. Si sekretaris segera memberitahu Aksa. Beberapa menit kemudian, sekretaris Aksa mempersilakan budhe dan gue untuk masuk.
Budhe melenggang dengan anggun menghampiri calon bos gue yang tampak menunduk menekuni berkas laporan atau entahlah!
"Le, ini lo personal asisten yang mami maksud!"
Budhe menoleh ke arah gue hendak memperkenalkan kami. Gue melihat Aksa berdiri dan menatap gue dari bawah. Ketika tatapannya bersirobok dengan mata gue, Aksa nampak terkejut. Begitu juga gue.
"Lo kan?"
Kami memekik hampir bersamaan. Tiba - tiba wajah Aksa jadi terlihat jutek dan tidak ramah. Budhe yang melihat reaksi kami tentu saja menjadi heran.
"Kalian sudah saling kenal?" Selidik budhe Harsono.
"Kenal juga nggak sih, Mi. Aksa cuma tahu dia itu makhluk abal - abal yang tidak jelas jenis kelaminnya." Aksa kembali nyinyirin gue.
Klotak..
Suara sepatu berhak 5 cm milik budhe Harsono terbang dan mengenai wajah Aksa. Gue memekik antara kaget dan takjub.
Hidup budhe Harsono....!
Hati gue memekik kesenangan. Mulai hari ini gue menjadi fans beratnya budhe Harsono ah...
"Mami nggak pernah mengajari kamu menghina orang lain. Jaga mulutmu itu Laksana Bima Harsono!"
Gue melihat wajah Aksa pias, dan pelipisnya yang tergores sepatu milik budhe Harsono meninggalkan jejak garis merah.
__ADS_1
Gue buru - buru keluar dari ruangan untuk menanyakan ke sekretaris Aksa dimana mereka menyimpan kotak P3K. Beberapa menit kemudian gue kembali ke ruangan Aksa yang masih diomeli panjang kali lebar oleh budhe Harsono. Untung nih ya, ruangan Aksa dibuat kedap suara. Sekali ini gue mendapat tontonan yahud. Bukan bos yang memarahi anak buah, tapi bos dimarahi ibu bos, hahahahaha... gue senang, Sob!
"Sebentar, Budhe! Saya mau mengobati kening mas Aksa dulu!" gue mencoba menyela budhe.
Budhe masih ingin mengomel.
"Budhe, keburu hansemnya mas Aksa luntur!" Teguran gue membuat budhe Harsono tertawa. Gue segera mendekati Aksa.
Awal mulanya Aksa menolak kebaikan gue untuk mengobali pelipisnya, tapi gue menenangkan Aksa.
"Saya kan asisten pribadi anda, Pak!"
Dengan tetap memandang sinis ke gue, Aksa pun menurut.
കകകകക
"Sepurane yo, Nduk, Aksa wes kurang ajar mbi awakmu!"
(Maaf ya, Nak! Aksa sudah kurang ajar sama kamu!)
Budhe menatap gue yang duduk disebelahnya. Saat ini gue akan diantar pulang karena gue bekerjanya mulai besok.
"Ngih, Budhe. Mboten menopo - menopo kok!"
(Ya, Budhe. Tidak apa - apa kok)
"Awakmu kenal mbi Aksa mulai kapan?"
Gue pun menceritakan semua tentang pengalaman gue saat bertemu Aksa, tapi gue tidak menceritakan soal Aksa yang sedang bercumbu dengan wanita genit di club malam.
Budhe tertawa terbahak sewaktu mendengar cerita gue.
"Jebule Aksa nesu amarga kalah hansem mbi awakmu to, Nduk."
(Ternyata Aksa marah karena kalah hensem sama kamu to, Nak)
"Aku dadi nduwe ide, Nduk!"
(Aku jadi punya ide nak)
"Jan- jane, Budhe ki khawatir, Aksa hobine mlebu kelab malam. Mulihe mabuk, terus ngejaki wong wedok ra bener. Mulane, menawa Aksa lunga wengi, tolong dikancani yo, Nduk!"
(Sebenarnya budhe itu khawatir, Aksa hobinya masuk club malam. Pulangnya mabuk, lalu mengajak perempuan nggak benar. Makanya, kalau Aksa pergi malam hari, tolong ditemani ya nak)
Waduh, kalau begini sih gue bukan asisten pribadi tapi big baby sitter dong budhe....
Tapi karena budhe sudah terlalu baik ke gue, gue pun mengangguk mengiyakan.
"Ojo lali! Sesuk jam pitu esuk wes nang omahe Budhe ya!"
(Jangan lupa! Besok jam tujuh pagi sudah di rumah budhe ya!)
__ADS_1
"Nggih, Budhe. Kulo wangsul rumiyin. Matur nuwun sanget njih, Budhe!"
(Iya, Budhe. Saya pulang dulu. Terima kasih banyak ya, Budhe)
"Salam kanggo pak Bani yo, Nduk! Budhe ora iso mampir."
(Salam untuk pak Bani ya, Nak! Budhe tidak bisa mampir.)
"Nggih, Budhe. Assalamualaikum! Monggo Pak Warno. Suwun!"
(Ya, Budhe Assalamualaikum! Mari Pak Warno. Terima kasih)
Gue turun dari mobil sambil mengucapkan salam, tidak lupa mengucapkan terima kasih pada budhe Harsono.
"Waalaikumsalam"
Gue memandang kepergian mobil budhe Harsono hingga tidak terlihat lagi. Setelah itu gue baru masuk ke dalam rumah.
കകകകക
Setelah memasak makan malam dan makan bersama bokap, gue pun berpamitan untuk keluar sebentar. Maksud gue sih akan menemui Bobby. Gue ingin memberitahukan jika sekarang gue tidak bisa menemani mereka mengamen lagi. Haduuu... ternyata di jaman sekarang susah banget ya kalau tidak memiliki ponsel. Dan gue berjanji, nanti jika gue sudah gajian, gue akan membeli ponsel, Sob!
Ketika bertemu Bobby, dia tampak manyun.
"Tadi gue ke rumah Lo, tapi Lo nggak ada. Lo kemana, Za?"
"Sorry guys, gue ada keperluan. Makanya gue menemui kalian."
"Emang Lo ada perlu apaan?"
Gue pun bercerita kalau ada keluarga baik hati menerima gue menjadi karyawannya. Tapi gue tidak cerita, kalau gue menjadi anak buahnya si Aksa, cowok nyebelin temannya mas Lanang.
"Yah....trrus setiap malam minggu dan malam senin yang jadi vokalis kita di Black Cat siapa Za?"
Bobby terlihat marah sekaligus bingung, karena gue memutuskan untuk cabut dari band. Padahal mereka sangat mengandalkan pemasukan dari Black Cat yang lumayan itu.
"Kalau yang jadwal manggung di Black Cat, entar gue nego sama bos gue deh!"
Bobby tampak berpikir - pikir. "Baiklah,! Itu kan demi masa depan Lo juga. Tapi yang mengamen di Black Cat itu usahain datang ya. Minimal sampai gue menemukan pengganti lo!"
Bobby meminta pengertian gue. Dan gue setuju. Bagaimanapun juga gue berhutang budi dengan Bobby and the gank.
Tbc
'
'
'
'
__ADS_1
'