
Hari ini gue pulang mengamen ketika hari menjelang malam. Gue melihat bokap duduk terpaku menyaksikan tayangan televisi. Kebiasaan bokap gue kan mengisi waktu dengan menonton televisi.
"Nyuwun pangapunten nggih, Pak. Kula wangsul telat!"
(Maaf ya pak, saya pulang terlambat)
Bokap gue hanya menoleh sambil mengangguk. Gue segera beranjak ke dapur untuk mempersiapkan makan malam.
Makan malam kami sama seperti kemarin. Sangat khidmat dan hanya ada kebisuan. Kalau semisal gue mendapat undangan acara makan malam di lingkungan keluarga bangsawan. Gue sudah tidaak canggung, Sob!
Gue ingat Yuna. Setelah mengantar pulang dan sempat mengobrol bareng dengan anak itu, sudut hati gue yang paling dalam langsung merindu. seandainya saja gue mempunyai saudara kandung, pasti gue tidak akan kesepian dan bisa berbagi suka duka dengannya. Bokap gue pasti juga lebih bersemangat, karena rumahnya ramai. Haiyah... gue kok jadi mengkhayal begini sih?
Selesai makan malam dan membereskan dapur, gue pun mandi. Tidak lupa menggosok gigi. Ritual wajib sebelum gue bergelung di ranjang gue yang nyaman.
Gue teringat obrolan gue dengan Bobby saat kami mengamen tadi siang. Band kami gagal dilamar oleh mas Lanang karena kami tidak mempunyai lagu original milik kami sendiri. Iya sih, selama ini kami kelewat nyaman dengan mengcover lagu - lagu penyanyi lain. Bobby mungkin bisa membuat nada, tapi tidak bisa membuat liriknya, sedangkan gue tidak bisa kedua - duanya. Gue cuma bisa menyanyi doang. Itu juga karena kepepet. Lah, gue kan memang tidak berminat menjadi artis, Sob! Di benak gue itu tersimpan cita - cita mulia yaitu bekerja di lingkungan keraton atau di musium cagar budaya, begitchu. Sayangnya cita - cita gue harus kandas sehingga berubah haluan menjadi pengamen. Ngomong - ngomong soal ngamen, tadi gue lupa membagi hasil mengamen ke teman - teman. Semoga mereka tidak mengomeli gue.
കകകകക
Keesokan harinya, setelah gue selesai memasak sarapan. Bobby tiba - tiba aja datang.
"Sialan, Lo Za! Duit hasil ngamen Lo kekep sendiri. Tahu nggak? Semalaman gue kelaperan!"
Bobby mengajukan protesnya. Gue cuma ngakak.
"Kenapa Lo nggak ke rumah gue aja?"
"Sungkan gue sama kanjeng papi lo. Malam - malam datang untuk menagih duit. Ra ilok! Lo juga! Beli ponsel napa? Biar kalau mau hubungi Lo gampang!"
Gue hanya mengangkat bahu, kemudian beranjak ke kamar untuk mengambil tas selempang gue yang berisi recehan.
"Belum sempat gue hitung Bob!"
Gue serahin tas selempang gue ke Bobby supaya ia sendiri yang menghitung hasilnya.
"Sing teko sopo nduk?"
(Yang datang siapa, nak?)
"Rencang kulo, Pak. Naminipun Bobby."
(Teman saya, pak. Namanya Bobby)
Bobby meringis ke arah bokap gue lalu meringis ke arah gue. Kemudian menyalami bokap gue.
"Bokap Lo kok inget aja punya anak perempuan?" Bobby menyindir sambil terkekeh.
"Sialan, Lo!" umpat gue hanya dalam bentuk gerakkan bibir.
"Kowe pacare Fiza?"
(Kamu pacarnya Fiza?)
Cengiran di bibir Bobby langsung lenyap. Ia memandang gue dengan tatapan horornya. Giliran gue yang terbahak. Sukurin lo Bob, siap - siap di interview bokap gue.
Pertanyaan bokap gue hanya ditanggapi dengan bingung oleh Bobby. Alasannya adalah, Bobby tidak bisa berbahasa krama. Padahal gue berbicara ke bokap memakai bahasa krama. Itu karena bokap gue membudayakan sopan santun dalam berbicara. Meskipun bokap gue bukanlah keturunan ningrat.
Gue melihat keringat Bobby mulai menetes. Sebesar biji jagung pula. Gue jadi berniat ingin menggoda Bobby.
"Gue bersedi menjadi penerjemah, Lo. Tapi beri gue honor ya! Seribu rupiah per satu jawaban." Gue mengajak Bobby bernegosiasi.
Ya iyalah, seandainya gue lulus menjadi sarjana, honor gue untuk menerjemahkan manuskrip di perpustakaan Radya Pustaka jauh lebih besar, you know!
"Terserah, Lo deh!" Bobby menyerah. Good job.
"Bobby namung rencang kula kok, Pak!"
__ADS_1
(Bobby hanya teman saya kok, Pak)
"Oooooo...." Bokap gue hanya manggut - manggut.
"Kowe cah ngendi?"
(Kamu anak mana?)
Kali ini Bobby sendiri yang menjawab dengan menyebutkan nama salah satu kota di Jawa Tengah. Heran banget gue. Padahal sesama orang Jawa Tengah, tapi kok tidak bisa bahasa Jawa Krama.
Fix! akhirnya gue mendapat honor sepuluh ribu rupiah dari Bobby untuk menjadi penerjemah. Rejeki anak sholehah ini.
"Sering - sering main ya, Bob!"
Gue menerima uang dari Bobby sambil terkikik geli.
"Gue main setelah gue lulus kursus pelatihan bahasa Jawa krama dulu deh!"
Gue ngakak. Balasan kemarin sore gue ditertawakan habis - habisan oleh Bobby and the gank karena gue ditaksir seorang anak perempuan yang masih abege.
Karena gue baik hati, ramah, solehah, dan tidak sombong. Gue ajak Bobby sekalian untuk sarapan.
Bobby malu - malu kucing gitu, Sob! Mungkin dia masih merasa ngeri karena dikira pacar gue.
"Udah nggak apa - apa, anggap aja Lo tadi bayar sepuluh rebu!"
"Sialan, Lo Za!" ucap Bobby dalam bentuk gerak bibir.
Bobby nampak semakin kikuk ketika melihat tradisi makan gue dan bokap yang begitu tenang dan santun. Cowok pecicilan macam Bobby jadi agak kesulitan beradaptasi.
"Gila, Lo Za. Bisa buka kursus kepribadian nih!"
"Hu'um. Sekalian kursus bahasa Jawa krama. Lo mau jadi murid pertama gue apa?"
"Kagak deh, entar aja kalau gue dapat gebetan putri keraton. Gue langsung daftar kursus ke Lo! Yuk ah, gue pulang."
Gue ingin mengerjai Bobby sekali lagi. Penasaran gue, bisa tidak anak itu mengucapkan kata pamitan dalam bahasa Jawa Krama.
Bobby mengangsurkan uang receh seribu rupiah ke arah gue.
"Tolong, Lo aja yang pamitin!"
കകകകക
"Kancamu iku ra sopan, duwe konco kok bocah begajulan ra duwe tata krama!"
(Temanmu itu tidak sopan, punya teman kok anak begajulan nggak punya tata krama)
Gue cuma tersenyum. Ampun pak, biarpun begajulan tapi Bobby itu penyelamat hidup kita lho pak. Kalau gue tidak diajak Bobby mengamen, mana mungkin kita dapat duit untuk makan.
Meskipun Bobby urakan dan tidak bisa berbahasa krama, tapi dia mau mengulurkan tangan ke gue. Tidak seperti pria sok kaya yang telah menghina gue. Hais.... jadi teringat sama temannya mas Lanang yang sok banget itu kan.
Selesai membereskan dapur, gue segera membersihkan rumah dengan menyapu dan mengepel. Ketika gue hendak mencuci baju, ada seseorang yang mengetuk pintu rumah gue.
Gue segera kedepan, dan melihat pasangan suami istri elegan seumuran bokap gue berdiri di depan pintu.
"Niki leres daleme pak Arbani Malik, Mas? Eh... Pak, sak retiku putrane pak Bani ki wedok to?"
(Ini benar rumahnya pak Arbani Malik, Mas? eh... Pak, setahuku putranya pak Bani itu perempuan kan?)
Si ibu meminta pendapat dari suaminya. Gue tersenyum maklum.
"Inggih, Bu. Leres. Monggo pinarak rumiyin!"
(Iya bu, benar. Mari silakan duduk dulu!)
__ADS_1
Gue persilakan tamu bokap untuk masuk ke dalam. Untung saja tadi sudah gue sapu dan pel.
"Sekedap nggih, Pak, Bu!"
(Sebentar ya pak, bu!)
Gue segera menemui pak Bani alias bokap gue untuk memberi tahu tentang kedatangan tamunya. Lalu gue menuju ke dapur untuk menyiapkan teh hangat. Setelah menghidangkan minuman dan camilan ala kadarnya, gue segera ngacir ke belakang untuk melanjutkan kegiatan mencuci baju gue.
Gue berjengit kaget ketika ada yang menepuk bahu gue dari belakang.
"Sregep temen, Nduk!"
(Rajin amat, Nak!)
"Kok mboten pinarak ruang tamu kemawon to, Budhe. Panggenan nipun semrawut lho!"
(Kok tidak duduk di ruang tamu saja to budhe, tempat ini berantakan lho)
Gue merasa kikuk dengan si ibu perlente yang tiba - tiba nyamperin gue di sumur belakang rumah.
"Ra popo, Nduk. Aku pingin nyawang rupamu. Aku kangen mbi ibumu. Rupamu mirip, Nduk. Wes ayu, sregep pisan. Kowe wes duwe pacar durung nduk?"
(Tidak apa - apa, Nak. Aku ingin melihat wajahmu. Aku rindu dengan ibumu. Wajahmu mirip, Nak. Sudah cantik, rajin pula. Kamu sudah punya pacar belum, Nak?)
"Pertanyaan si ibu perlente membuat gue salting. Pacar dari thailand kali bu, tapi dapat cewek batangan." Gue membatin dalam hati. Iya lah, gue lebih sukses menggaet cewek ketimbang cowok, bu.
"Dereng, Budhe. Kulo mboten sempat pacaran."
(Belum budhe, saya tidak sempat pacaran)
Lalu gue kembali sibuk mengucek cucian. tidak sopan sekali, ya? Tapi apa boleh buat, pertanyaan si ibu perlente itu menyentil perasaan gue, sehingga membuat gue ingin nangis. Makanya gue berusaha menahan kesedihan ini dengan sibuk mengucek. Barangkali saja perasaan sedih dan kesal yang gue rasakan ini membuat lebih semangat mengucek. Hilang sedihnya, bersih cuciannya. Ya nggak?
"Dadi mantuku gelem ora, Nduk?"
(Menjadi menantuku mau tidak, Nak?)
Seketika kucekan gue langsung terhenti. Gue menatap si ibu perlente dengan tatapan sangsi.
Are you kidding mom?
Nggak mungkin sekali, lah seorang nyonya kaya macam si ibu perlente tertarik dapat menantu seperti gue. Impossible. I cant believe. Kulo mboten percados.
Gue tidak seperti para gadis di luaran sana bu, yang 'i have a dream' menjadi cinderela dengan menjadi menantu orang yang kaya raya. Gue realistis, beginilah adanya. Makanya gue tidak berani bermimpi setinggi langit alias muluk - muluk.
"Anak jaman saiki mesti podo ra gelem dijodohke yo? Pie nek kerjo nang kantore bapak dhisik? Karo saling mengenal mbi mas Aksa?"
(Anak jaman sekarang pasti pada tidak mau dijodohkan ya? Bagaimana kalau kerja di kantornya bapak dulu? Sambil saling mengenal dengan mas Aksa?)
"Mas Aksa menika sinten njih, Budhe?"
(Mas Aksa itu siapa ya, Budhe?)
"Lha yo kuwi anakku sing arep tak jodohke mbi awakmu, Nduk!"
(Lha ya itu anakku yang akan kujodohkan denganmu, nak!)
Tawaran menggiurkan dari si ibu perlente membuat gue ngiler. Bukan karena mau dijodohkan, Sob! Tapi karena ditawari pekerjaan. Jujur saja gue membutuhkan pekerjaan yang layak demi hidup gue dan kebahagiaan bokap gue. Tanpa sadar gue mengangguk.
Tbc
'
'
'
__ADS_1
'
'