Jodoh Si Tomboy

Jodoh Si Tomboy
Aksa : Mendapat Tiket Konser


__ADS_3

Beberapa hari ini, Ranma sudah tidak pernah lagi menjahili gue. Bahkan cenderung menuruti perintah gue. Semua pekerjaannya selalu beres dan rapi.


Ia juga sudah hafal cara menyortir berkas. Jadi gue tinggal teken. Intinya gue jadi memiliki banyak waktu luang untuk berinteraksi dengan Arneta.


Seperti saat ini. Saat jam makan siang, gue langsung cuzz untuk menemui Arneta. Dan selepas kencan singkat saat waktu istirahat siang berakhir, gue baru balik ke kantor.


Ruangan gue masih sepi. Biasanya Ranma sudah stand by di dalam kantor menunggu kedatangan gue, tapi kali ini dia tidak terlihat batang hidungnya.


"Fiza ke mana?" tanya gue ke sekretaris yang sudah duduk manis di meja kerjanya.


"Mungkin masih di kantin, Pak. Tadi temannya Bapak datang berkunjung."


"Teman yang mana?" gue mengerutkan kening. Setahu gue, teman - teman gue jarang mengunjungi gue di kantor. Dan kebanyakan dari mereka tidak mengenal Fiza.


"Yang gayanya mirip artis, Oak. Sebentar..!"


Sekreraris gue membaca daftar buku tamu.


"Namanya mas Lanang, Pak!"


Nah kan, tebakan gue tepat. Siapa lagi yang memiliki tujuan terselubung untuk datang ke kantor kalau bukan Lanang.


"Oh ya sudah." Gue pun segera masuk ke kantor. Sendirian di dalam itu ternyata sepi, Sob. Biasanya ada Ranma yang gue ajak berantem, berdebat, ataupun saling usil. Ternyata saat tidak ada Ranma itu, terasa menjemukan.


Gue jadi berpikir, apakah Ranma juga merasakan kesepian, saat gue tinggal pergi berkencan dengan Arneta?


Jangan - jangan pertemuan antara Ranma dengan Lanang kali serius, Sob? Sepertinya Ranma benar - benar serius ingin menjadi artis.


Tiba - tiba saja gue jadi merasa kepo. Gue akhirnya balik keluar lagi dari dalam ruangan gue. Kali ini gue menuju ke kantin.


Di kantin yang sudah mulai sepi, gue melihat Ranma dan Lanang sedang bercanda tawa. Wajah Ranma dan Lanang sama - sama sumringah. Ingin rasanya gue mendekat untuk ikut bergabung bersama mereka, sekaligus kepoin apa yang sedang mereka bicarakan.


Tapi sifat gengsi gue berhasil menghentikan langkah. Dengan tanpa semangat, gue balik menuju ke kantor.


Gue duduk di kursi singgasana sambil menatap kaca jendela. Sebentar lagi gue dan Ranma akan mendapatkan kebebasan kami.


Kalau benar Ranma memilih ikut Lanang, ia pasti akan resign dari tempat ini. Dan ruangan ini akan kembali sepi.


Haiyah, kenapa gue melow gini ya? Gue kan memang terbiasa di kantor sendirian, kelez. Kenapa gue jadi cengeng karena mau ditinggal aspri yang menyebalkan itu? Seperti bukan Laksana Bima Harsono saja!

__ADS_1


Suara pintu ruangan gue terbuka, dan muncul sosok Ranma yang nampak cerah ceria. Rambutnya sudah mulai gondrong, jadi kesan tomboynya sedikit berkurang. Dan yang tidak gue sadari, sejak kapan ya si Ranma berdandan?


Bukan dandanan yang mencolok sih. Kesannya juga tidak girly - girly amat. Tetap terlihat natural, dan membuat wajahnya jadi nampak manis.


Hah? Apa yang terjadi pada gue? Mengapa gue jadi memperhatikan Ramma? Menurut gue Arneta tetap lebih oke.


"Maaf, Pak. Saya terlambat!" sapa Ramma.


"Cie yang baru saja diapeli Lanang...!" gue langsung julid yang dibalas tawa Ranma. Gue terpana saat melihat tawa lepasnya. Dilihat dari suasana hatinya, sepertinya Aspri gue ini sedang berbahagia. Dan yang membuatnya seperti itu adalah Lanang.


"Bapak juga kan, yang baru pulang ngapelin Arneta. Sempat nininananina nggak pak?"


Ranma meledek gue. Sialan tu cewek.


"Nggak usah menyindir aku. Kamu juga boleh kok nininananina sama Lanang kalau kamu mau!" Gue balas ucapannya dengan sengak.


"Saya bukan Arneta kali, Pak. Yang mau ditularin penyakit kelamin sama Bapak. Saya safe s*x. Hanya akan berindehoy dengan suami saya setelah sah di KUA."


Tuh kan, Ranma pinter banget membalas kejulidan gue. Bahkan ceramahnya sudah mirip ustadzah saja.


"Gayamu aja menolak, kalau kamu kuajak indehoy paling juga nggak nolak!" ucapan gue membuat Ranma terperangah.


Kena  kamu sekarang. Sudah tidak bisa membalas ledekan gue kan?


Gantian gue terperangah. Fix, gue kalah telak. Aspri gue ini memang hebat. Gue yakin, seandainya pak Bani mempunyai perusahaan besar seperti bokap gue, pasti perusahaan milik beliau lebih maju ketimbang perusahaan bokap gue.


Dan hari ini gue jadi sadar, sepertinya gue tidak bisa melepaskan aspri gue ini begitu saja.


"Oh ya, Arneta suka melihat konser tidak? Tadi mas Lanang memberi kita tiket gratis Annoying tour keliling Jawa - Bali. Kebetulan nanti malam giliran konser di Solo."


Ranma mengulurkan 3 lembar tiket konser ke gue.


"Ajak Yuna sekalian aja pak, supaya dia bisa mengenal calon kakak iparnya!"


"Lo sendiri nggak mau nonton?"


Ranma menggeleng. "Dulu saya suka sih dengan band Annoying. Tapi semenjak Ersa hengkang dari group, saya sudah tidak mengikuti lagi."


"Lalu yang membuat kamu ceria karena apa?" Rasa kepo gue tercetus begitu saja. Membuat cengiran di wajah Ranma semakin lebar.

__ADS_1


"Ya saya senang saja, Pak. Mas Lanang mengatakan, jika saya bersedia diajak untuk debut solo. Mas Lanang akan mengontak mas Ersa untuk membuatkan saya lagu."


Melihat wajah bahagianya Ranma, gue jadi tidak senang, Sob. Mengapa dia justru nyaman dengan orang lain? Dan tanpa gue sadari, gue langsung melarang Ranma untuk resign.


"Kamu nggak boleh jadi artis, karena kamu nggak akan kuijinkan resign sebagai aspri ku!"


Tidak hanya Ranma yang melongo, tapi gue juga. Seorang Laksana Bima Harsono tidak rela kehilangan asisten pribadi? Hallo Aksa, lo tadi bilang apa, heh? Gue mengevaluasi perkataan gue sendiri.


Seulas senyum menghiasi bibir Ranma. "Bapak egois sekali, deh. Ingin mendapatkan Arneta, tapi tidak mau melepaskan saya!"


Lagi - lagi gue kalah debat. Ranma melenggang menuju meja kerjanya sambil bersenandung lagu - lagu milik annoying.  Gue jadi menyadari satu hal lagi dari si Ranma. Suaranya saat menyanyi ternyata sangat merdu.


Tiba - tiba gue sadar, kenapa kanjeng mami menempatkan Ranma menjadi asisten gue. Itu supaya gue bisa mengenalnya dengan lebih baik dan melihat seorang Ranma melalui hati, bukan hanya dari mata.


കകകകക


"Beib, aku nggak suka annoying kelez. Aku sukanya melihat band dari luar negeri."


Arneta menolak ajakan gue untuk menonton konser. Lha kalau Arneta tidak mau pergi, terus ketiga tiket gratis ini mau diapakan?


"Ya sudah, yank. Entar aku berikan tiketnya ke anak buahku saja."


Setelah memutuskan sambungan telepon, gue jadi berpikir. Sebuah ide bagus tiba - tiba melintas di benak gue. Gue pun mengirim pesan ke Yuna.


Gue : mau nonton live annoying nggak? Mas punya tiket gratis.


Yuna : Nonton sama siapa aja?


Hum.... tiketnya kan ada tiga. Mengajak Yuna berarti masih tersisa satu tiket lagi. Gue tersenyum saat teringat pada si pemberi tiket. Kenapa tidak mengajak Ranma sekalian saja.


Gue : sama Fiza


Yuna : Aku mau ikut. 🙋


Gue berjalan mendekati Ranma yang sedang mengecek berkas laporan.


"Entar jam 7 harus sudah siap ya! Aku jemput kamu untuk menonton konser."


"Bapak tidak mengajak Arneta saja?"

__ADS_1


Gue menjawab pertanyaan Ranma dengan sebuah gelengan. Ranma kembali tersenyum lebar. Entah mengapa gue suka melihat senyumannya hari ini.


Tbc


__ADS_2