
Pagi ini gue sengaja bangun pagi - pagi, supaya bisa mencuci baju dulu sebelum berangkat kerja. Mumpung bokap gue belum bangun. Karena kalau bokap sudah bangun, beliau pasti melarang untuk mencuci dan menyuruh gue bersiap untuk berangkat kerja. Masa iya, sih gue ngandelin bokap terus untuk mencuci?
Gue berpikir untuk berlangganan mbak laundry aja, atau sekalian memiliki asisten rumah tangga. Jadi bokap gue tidak perlu capek mengurus rumah. Soalnya beliau sudah sepuh, Sob.
Ketika gue sedang asyik mencuci di samping rumah, tiba - tiba terdengar suara pintu yang membentur sesuatu dengan keras.
Tanpa sempat mencuci tangan, gue masuk ke dalam rumah untuk mencari sumber suara tersebut. Pandangan gue tertuju pada pintu kamar mandi yang terbuka lebar, memperlihatkan pemandangan bokap gue yang sudah jatuh terkapar.
"Innalillahi... Bapak." Gue segera berlari mendekati tubuh bokap. Hati gue terasa ingin melompat dari tempatnya saat melihat bokap gue tampak kepayahan.
"Ya Allah... ya Allah...."
Dengan panik, Gue segera berlari ke rumah tetangga sebelah untuk meminta bantuan. Pak Imam tetangga gue yang seorang mantri segera bergegas mendatangi rumah untuk membantu.
"Bantu saya mendudukkan bapak." Pak Imam memberi instruksi.
"Nggak lansung digotong ke kamar saja, Pak," pinta gue.
"Jangan! Kita cek dulu apakah Pak Bani jatuh akibat stroke atau hanya terpeleset! Oh ya sebelum itu tolong siapkan jarum, kalau bisa disterilkan dulu!"
Pak Iman memberikan instruksi singkat untuk melakukan pengecekan terhadap kondisi bokap. Untunglah gue punya stok peniti yang masih baru.
"Tolong sangga bapak supaya bersandar di pundakmu ya!" Pak Imam, mendudukkan tubuh bokap gue, dan segera gue tahan dengan lengan gue. Kemudian pak Imam menyalakan korek untuk mensterilkan peniti, sebelum peniti itu digunakan untuk mengecek jari tangan bokap gue.
Gue tidak bisa lagi melihat apa yang dilakukan pak Imam, karena mata gue sudah kabur tertutup air mata. Mulut gue beristighfar dan besalawat memohon perlindungan untuk bokap gue.
Tak berapa lama bu Imam dan pak Rt datang ke rumah.
"Alhamdulillah, bukan stroke, tapi sebaiknya kita bawa ke rumah sakit supaya bisa ditangani ahlinya."
Pak Imam dan pak RT membantu menggotong tubuh bokap gue, sedangkan tubuh gue yang lemas segera dipapah oleh bu Imam.
"Yang sabar, Nduk. Berdoa saja semoga ayahmu baik - baik saja!" hibur Bu Imam yang bagi gue tidak menghibur sama sekali. Kekalutan gue benar - benar tidak bisa gue kendalikan lagi. Bagaimana gue tidak panik? Bokap adalah satu - satunya keluarga yang gue miliki.
Gue ikut mengantarkan bokap gue ke rumah sakit menggunakan mobil milik pak RT. Dalam perjalanan ke rumah sakit, gue sudah seperti orang yang linglung.
__ADS_1
Gue jadi teringat obrolan gue dengan bokap beberapa minggu yang lalu. Kecemasan kembali merajai hati gue. Kalau bokap gue beneran dijemput emak. Terus gue harus hidup dengan siapa?
"Ya Allah, tolong sembuhkan ayahku, aku belum siap menjadi seorang anak yatim piatu! Aku juga belum sempat membahagiakan beliau, aku belum menikah dan memberikannya cucu. Jika engkau berkenan, beri aku perpanjangan waktu untuk mewujudkan semuanya sebelum engkau memanggil ayahku."
Dengan bantuan pak Imam, bokap gue segera mendapatkan penanganan. Gue berjalan mondar - mandir di depan ruang IGD. Bibir gue pun komat - kamit membaca doa. Berkali - kali gue menatap pintu ruangan itu dengan harap - harap cemas.
Waktu terus berlalu, dan gue teringat. Gue kan harus kerja. Ini jam berapa? Gue melirik jam digital di ruang resepsionis. Sudah pukul sembilan lebih. Gue telat berangkat kerja.
Gue mengambil ponsel yang tadi sempat gue non aktifkan. Katanya di tempat - tempat penting di rumah sakit, kita tidak boleh mengaktifkan ponsel.
Gue pun berjalan keluar dari rumah sakit. Gue aktifkan ponsel. Benar saja, ada beberapa mailbox dan pesan melalui WA dari big baby boy yang marah karena gue belum datang.
Gue segera menghubungi bos gue. Tanpa menunggu lama, sambungan telpon gue segera diangkat.
"Assalamualaikum, Ranma kamu tahu ini jam berapa? Kenapa kamu belum datang." Belum sempat gue balas salam aja, gue sudah desembur big baby boy.
"Waalaikum salam..."
Suara gue masih terdengar bergetar, padahal gue sudah berusaha untuk tenang.
"Maaf, Pak. Hari ini saya ijin. Saya sedang di rumah sakit. Tadi pagi bapak saya terpeleset di kamar man..." Belum sempat gue menyelesaikan ucapan gue, big baby boy langsung bereaksi panik.
"Om Bani kenapa? Bagaimana keadaannya sekarang? Beliau di bawa ke rumah sakit mana." Reaksi panik bos tampan gue membuat hati ini berdebar. Gue jadi ngarep, Sob. Jujur saja, saat ini gue membutuhkan bahu kekar untuk bersandar dan seseorang yang bersedia membantu gue mengurangi beban. Seandainya mas bos gue bisa mendengar jeritan hati gue, ya?
"Sekarang masih di IGD. Bapak dibawa ke rumah sakit dr Oen."
Selanjutnya big baby boy mengucapkan sesuatu yang sudah tidak gue perhatikan. Gue sedang kalut, yang penting gue sudah meminta ijin tidak masuk kerja. Saat ini pikiran gue hanya tertuju pada bokap.
Bokap gue dibawa keluar dari ruang IGD untuk dipindahkan ke ruang perawatan, bersamaan dengan budhe dan pakdhe Harsono datang. Beberapa menit kemudian Aksa menyusul.
"Le, tolong urus administrasinya ya." Pakdhe Harsono menyuruh bos gue untuk ke loket administrasi dan langsung di angguki oleh Aksa.
"Awakmu rapopo to, Nduk."
(Kamu tidak apa - apa kan, Nak)
__ADS_1
Gue hanya bisa menggeleng dengan tubuh yang masih bergetar. Rasa panik gue belum juga hilang. Bahkan perasaan takut itu semakin merasuk ke setiap sendi dan tulang.
Budhe Harsono memeluk gue. Sedangkan pak Harsono membantu mewakili keluarga untuk mengucapkan terima kasih pada pak Imam dan pak RT yang sudah membantu menolong bokap. Gue hanya bisa menyalami dan mencium punggung tangan mereka. Lidah gue terasa kelu. Rasanya sulit untuk berucap untuk sekedar mengatakan terima kasih.
Seharian ini Gue hanya duduk di samping ranjang dan menatap bokap dengan tatapan nanar. Gue akhirnya tersadar ketika tangan budhe Harsono menyentuh lembut punggung gue.
"Saiki awakmu mulih sek yo, Nduk! Njupuk'o barang - barang sek mbok butuhke nang kene. Ben Mas Aksa sing ngeterke."
(Sekarang kamu pulang dulu ya, Nak! Ambil barang - barang yang kamu butuhkan di sini. Biar mas Aksa yang mengantarkan.)
"Lha ingkang ngentosi bapak kula sinten, Budhe."
(Lalu yang menunggui bapak saya siapa, Budhe?)
Gue mencoba beralasan. Rasanya gue enggan meninggalkan bokap gue walau hanya satu detik.
"Aku karo pakdhe sing nunggokke! Ojo khawatir yo, Nduk."
(Aku dan pakdhe yang akan menjaganya! Jangan khawatir ya, Nak!)
Gue jadi ingat, sejak tadi pagi belum mandi. Bahkan cucian gue juga belum selesai. Dengan berat hati, gue menuruti ucapan budhe Harsono.
"Kula nitip bapak nggih, Budhe."
(Saya titip bapak ya, Budhe )
Kemudian gue salim dan mencium tangan pakde dan budhe Harsono.
Gue berjalan pelan melewati koridor rumah sakit. Tubuh gue masih terasa limbung. Bahkan sekarang kepala gue terasa pusing efek menangis dan lapar.
Tiba - tiba gue merasakan tangan kokoh Aksa menggenggam jemari tangan gue. Tangannya yang besar dan hangat itu seolah - olah mengalirkan kekuatan untuk gue.
"Tenang Za! Om Bani pasti akan segera sembuh."
Ucapan Aksa membuat gue sedikit terhibur, apalagi ia memanggil gue dengan nama asli gue. Seandainya gue sedang tidak dilanda kekalutan, gue pasti sudah jejingkrakan. Setelah sekian purnama, akhirnya mas bos gue berhasil mengucapkan nama gue dengan benar. Sayangnya gue sedang kalut, jadi gue abaikan ucapannya barusan. Lagipula gue tidak boleh ge-er. Siapa tahu, ucapan Aksa barusan memang hanya untuk menghibur, dan tidak ada maksud lebih.
__ADS_1
Tbc