
Gue sedang duduk bersandar sambil mendengarkan suara Ranma membacakan berkas laporan dari salah satu departemen di perusahaan yang gue kelola.
Perhatian gue agak tidak konsen karena selalu terbayang pesona Arneta. Yup, si cantik putri direktur PT Nininananina itu sudah berhasil gue gaet. Tidak membutuhkan waktu lama, kami sudah langsung dekat. Mungkin jodoh gue memang si Arneta ini kali ya? Baru sebentar kenal sudah cocok. Beda sekali dengan si Ranma karena dari awal berjumpa kita selalu cekcok. Biarpun sudah sebulan kenal, tapi kami tidak bisa akur sama sekali.
"Pak, apakah Anda mendengarkan saya?"
Ranma menginterupsi gue.
"Iya, aku dengar. Lanjutkan!"
"Bapak itu hobbynya menjadi plagiat!"
Ranma menyindir. Tapi gue tidak peduli dengan sindirannya. Tuh kan? wanita yang satu ini memang bawaannya suka mengajak ribut. Bagaimana gue bisa tahan menjadi suaminya, coba?
"Pak! ada hadiah untuk Anda!"
Ranma berjalan ke arah sofa dan mengambil sesuatu dari paper bag yang tergeletak di atasnya.
"Ini, Pak!" Ranma kembali dan menyerahkan sebuah benda kenyal ke gue.
"Apaan ini?" tanya gue sambil menatap dengan bingung si gumpalan kenyal itu.
"Itu namanya squishi, Pak. Mainan anak - anak sih. Tapi bisa juga buat mainan orang dewasa." Ranma menjelaskan fungsi benda tersebut.
"Benda kayak gini gimana maininnya?" Gue memprotes, karena menurut gue tidak ada menariknya sama sekali.
"Cara mainnya cukup diremas saja, tapi Bapak sambil membayangkan meremas pabrik susunya nya nona Arneta!" jawab Ramma tanpa merasa berdosa.
Refleks gue mengikuti instruksi Fiza, tapi detik berikutnya gue sadar kalau saat ini sedang dikerjai olehnya.
"Sialan, Lo!" Gue mengumpat sambil melempar benda kenyal itu ke arah Fiza yang kini sedang terbahak karena berhasil mengerjai gue.
"Salah sendiri Bapak malah keasyikan melamun. Lidah saya sampai keriting ini lo!"
Gantian Fiza yang memprotes gue.
"Ya emang kamu dibayar untuk melakukan pekerjaan itu, jadi nggak usah protes!"
Gue menegur dengan nada keras, membuat Ranma langsung terdiam.
Gue melihat Ranma menghela napas, kemudian ia meletakkan berkas di atas meja gue.
"Apa sebaiknya saya terima tawaran mas Lanang untuk menjadi artis saja, ya?"
Gue menatap Ranma tak percaya. Lha kalau tidak ada Ranma, siapa yang akan membantu gue bernegosiasi dengan para relasi - relasi arogan itu. Siapa yang akan membantu gue menjelaskan plus merayu para petinggi perusahaan rekanan supaya mau teken kontrak kerjasama dengan perusahaan gue? Soalnya jujur saja, keberadaan Ranma ternyata sangat membantu gue dalam mendapatkan kontrak kerjasama yang nilainya milyaran rupiah.
__ADS_1
Belum sempat gue menjawab, seseorang masuk ke ruangan gue.
"Arnet?"
"Hallo, beib! kebetulan aku lewat depan kantor kamu. Jadi aku sekalian mampir."
Dengan langkah anggun, Arneta langsung menghampiri gue dan tanpa merasa malu langsung menjatuhkan tubuhnya yang sintal ke pangkuan gue.
Aduh ini cewek pinter banget memancing si dudung bangun dari tidur.
Gue melirik Ranma yang memandang gue dengan tatapan yang sulit gue artikan. Lalu tangan gue memberi isyarat agar ia keluar dari ruangan kantor gue.
Setelah membungkukkan badan, Ranma pun keluar dari ruangan gue. Gue segera asyik bercumbu rayu dengan Arneta.
Gue gerayangi pabrik susunya yang remasable itu.
"Beib, masih siang ah! Arneta merajuk manja.
"Tapi aku udah menginginkan kamu sayang!"
Gue ciumi leher Arnet yang memancarkan wangi parfum mahal. Membuat tegangan gue semakin tinggi dan tak terkendali.
Arnet terkikik geli. Suara centilnya membuat gue mabuk kepayang. Duh gue jadi ingat si dudung yang sudah berpuasa sebulan lamanya, Sob! Dia pasti ingin berlebaran bersama Arneta.
Gue mencondongkan badan untuk meraih ponsel. Ternyata yang melakukan panggilan adalah Kanjeng mami.
"Tolong kamu berdiri dulu, Sayang! Kanjeng mamiku mau mengajak video call ini lho!" gue tegur Arneta karena keadaan mendadak jadi emergency.
Dengan wajah cemberut, Arnet berdiri dari pangkuan gue. Gue melirik ponsel yang masih berdering ribut minta diangkat. Dasar kanjeng mami, bisa - bisanya mengganggu anaknya yang sedang asyik berpacaran.
"Assalamualaikum Kanjeng Mami Sayang!"
"Waalaikumsalam. Kowe suwe banget le ngangkat telpon iku mergane lagi opo?"
(Waalaikumsalam. Kamu lama sekali yang mengangkat telpon itu karena sedang apa)
Busyet, deh! Radarnya mami gue benar - benar top markotop. Gue jadi curiga si Ranma yang telah melapor ke kanjeng mami.
"Sedang ada tamu, Mi." dusta gue untuk menenangkan hati kanjeng mami.
"Sopo tamune?"
(Siapa tamunya?)
"Arneta, Mami!"
__ADS_1
Jawaban gue membuat wajah mami menjadi was - was. Soalnya gue belum memberitahu tentang gebetan baru gue yang cantik semlohay ini.
"Fiza nang endi?"
(Fiza dimana?)
"Tadi Aksa memintanya untuk keluar dari ruangan, Mi. Mungkin sekarang ada di kantin."
"Sesuk neh, menawa Arnet teko. Fiza kon ngancani!"
(Besok lagi, kalau Arnet datang. Fiza suruh menemani!)
"Inggih Mami. Sendiko dhawuh!"
(Iya mami, siap laksanakan)
Gue iya kan saja permintaan kanjeng mami, supaya aman, Sob. Gue tidak mau pulang kantor disambut lemparan koleksi sandal dan sepatunya kanjeng mami yang jumlahnya puluhan itu.
"Yo wes, Fiza ndang diundang kon mlebuyo, Yo! Assalamualaikum!"
(Ya sudah, Fiza buruan dipanggil untuk masuk, ya. Assalamualaikum!)
"Waalaikumsalam."
Video call dari kanjeng mami membuat dudung batal berlebaran, Sob. Kanjeng mami gue ternyata senang ya anaknya menjadi imp*t*n.
Karena gue tidak mau menjadi anak durhaka, gue turuti permintaan kanjeng mami. Gue panggil si Ranma untuk masuk kembali ke ruangan gue.
Ranma masuk sambil membawa baki yang berisi dua gelas es lemon tea. Itu adalah minuman kesukaan Arneta. Deu, pinter banget yak asisten gue ini. Kalau dia tidak ada bisa kacau ini.
Ah... gue jadi ingat ucapan Ranma tadi. Dia ingin menerima pinangan Lanang menjadi artis? Kayaknya kok gue tidak rela ya? Tapi bukankah itu yang gue mau? Mengakhiri perjodohan antara gue dan Ranma adalah sebuah misi yang sedang gue jalani. Gue toh sudah ada Arneta, jadi Ranma juga berhak menemukan kebahagiaannya. Betul kan, Sob?
Gue pandangi Arnet dan Ranma yang sedang berbincang di sofa. Dua perempuan yang sangat bertolak belakang.
"Mbak Arneta, ajarin aku supaya bisa dandan secantik Mbak, dong?"
Pertanyaan yang diutarakan Ranma kepada Arneta membuat gue tertawa.
"Mimpi kali kamu bisa cantik karena berdandan, entar malah mirip ondel - ondel!"
"Biar saja mirip ondel - ondel, tapi ada manager artis yang berminat menjadikan saya selebritis lho, Pak!"
Gue langsung diam. "Lo makin lama makin pinter aja sih membalas sindiran gue?"Gue menatap Ranma dengan gemas. Tidak ada yang namanya kedamaian antara kami berdua, yang ada saling jahil menjahili, seperti Tom dan Jerry.
Tbc
__ADS_1