
Julia Marsha, panggil saja aku Julia. Kata orang aku berparas cantik. Haha,, bagaimana tidak, kecantikan ini adalah turunan dari ibuku tentunya. Namun, ibuku sudah tiada dua puluh tahun yang lalu. Saat usiaku baru berumur lima tahun beliau dipanggil sang pencipta. Sejak saat itu aku tinggal bersama ayahku.
Aku tidak mempunyai adik ataupun kakak. Hari-hari kujalani dengan kesepian. Hingga akhirnya aku mengenal mereka. Raya dan Fira. Mereka adalah sahabat terbaikku selama ini. Kami dekat dari semenjak duduk dibangku SMA. Kuliah pun kami memilih universitas yang sama.
Setelah mendapatkan gelar sarjana, barulah kami menempuh jalan hidup masing-masing. Raya mengurus kafe cabang milik keluarganya sedangkan Fira bekerja di perusahaan milik orang tuanya. Aku, baru saja mengundurkan diri dari tempatku bekerja. Tepatnya sudah satu bulan ini aku bergelar pengangguran.
Walaupun ayah selalu memintaku bekerja di perusahaannya aku tetap ingin bekerja di perusahaan lain. Karena aku tidak ingin terus bergantung kepadanya. Aku ingin belajar dan memulai dari bawah.
“Julia, bantulah Ayah mengelola perusahaan. Tidak usah mencari pekerjaan diperusahaan lain,” pinta ayah.
“Kalau aku bekerja di perusahaan ayah, nanti apa kata orang. Orang orang akan bilang kalau aku anak manja yang selalu berlindung dibalik ketiak ayah. Aku tidak mau. Lagi pula kan aku mau mulai dari bawah bagaimana menjadi karyawan biasa, dan bagaimana bersikap pada atasanku. Supaya kalau suatu saat nanti aku menjadi pemilik perusahaan seperti Ayah sekarang aku menjadi atasan yang tidak hanya cantik tapi bekarisma dan baik hati, dan cerdas juga tentunya,” tolakku panjang lebar.
“Kau ini, bisa saja membuat Ayah tidak bisa berkata-kata,” pasrahnya dan kami pun tertawa bersama.
Hari ini adalah hari dimana aku akan bertemu dengan kedua sahabatku. Kami sudah berjanji akan bertemu di kafe Raya dan memang sudah menjadi tempat kami berkumpul. Suasana kafe sangat ramai semua meja hampir terisi penuh.
Raya memang sangat kompeten dalam mengelola kafe miliknya.
Aku berjalan masuk ke dalam kafe, pelayan mengucapkan selamat datang dengan senyum yang ramah. Raya melambaikan tangannya ke arahku. Akupun bergerak mendekat.
“Ayok, kita ke atas! Fira juga baru datang,” jelas Raya. Aku mengekorinya menuju tempat VVIP yang disediakan Raya setiap kali kami berkumpul di kafenya.
“Juliaaaaaa!!!” teriak Fira Ketika melihatku masuk ke dalam, ia langsung memelukku disusul Raya sehingga kami bertiga berpelukan. Kami baru saja bertemu setelah tiga bulan tidak bertemu.
“Sudah pelukannya, aku sudah lapar nih!!” seruku sembari melepaskan pelukan mereka.
“Haha. Sudah lama tidak bertemu dengan sahabatku yang cantik ini jadi kangen,” seru Fira.
“Aku sudah meminta pelayan untuk menyiapkan makanan favorit kalian. Paling sebentar lagi. Sabar dulu yaa buibu!” Raya memang sangat tau menu favorit kami.
Aku dan Fira mengacungkan jempol ke arah Raya, “Kamu memang terbaik, Raya,” seru aku dan Fira berbarengan.
Kami larut dalam kebersamaan sore ini. Bercerita tentang hari-hari yang kami lewati selama tiga bulan terakhir. Bercerita tentang pekerjaan, pacar, dan hal-hal kewanitaan lainnya.
Aku bersyukur berada ditengah-tengah mereka. Karena merekalah hidupku menjadi lebih berwarna dan tidak kesepian. Tempat mencurahkan suka dan duka.
Raya sudah lama berpacaran dengan Bagas yang sedang menempuh pendidikan di Australia. Fira masih tetap gonta-ganti pacar dan teman dekat prianya.
Aku, sampai sekarang ini masih setia dengan kesendirian.
__ADS_1
Aku masih normal. Hanya saja aku kurang bisa mengungkapkan perasaanku pada orang yang aku suka. Aku pernah menaruh hati pada seorang pria. Devan, Dia adalah asisten pribadi ayah.
Namun karena aku tidak bisa mengutarakan isi hatiku akhirnya aku kecewa. Devan datang mengantarkan undangan pernikahannya. Aku sakit hati, sakit sendiri, menyesal tidak mengutarakan isi hatiku. Setelah saat itu aku belum pernah lagi merasakan getaran cinta dalam hati ini.
Waktu sudah berganti malam. Kini langit senja sudah berubah menjadi hitam malam. Tetapi, kami masih asyik bersenda gurau. Makanan yang dihidangkan sudah habis kami lahap.
“Julia, sekarang apa rencanamu?” tanya Fira.
“Aku akan mencari pekerjaan lagi,” jawabku.
“Kerja di kantorku saja. Aku akan merekomendasikanmu untuk bekerja di perusahaan papah,” tambahnya.
“Iya tuh. Siapa tau aja ketemu jodoh di kantornya Fira,” tambah Raya sambil menggodaku.
Aku menggelengkan kepala. Bukannya tidak mau, aku hanya ingin sukses dengan usahaku sendiri. Setidaknya aku mencoba untuk tidak bergantung dengan orang lain. Walaupun itu orang tua dan temanku.
“Aku sudah mengirimkan lamaran ke beberapa perusahaan. Minggu ini aku akan wawancara di tempat kerjaku yang baru. Semoga saja aku diterima disana,” tolakku halus.
“Oke, deh. Kalau kamu butuh bantuan calling aku ya!” ucap Fira.
“Kamu masih tidak ingin bekerja di perusahaan ayahmu? Kan bisa langsung jadi Direktur. Tidak perlu cari kerjaan lagi,” sela Raya.
“Apapun keputusanmu, kita pasti dukung. Kamu lebih tau apa yang terbaik untuk hidupmu. SEMANGAT!!!”
Jam dinding sudah menunjuk angka sembilan dan jarum panjangnya sudah menunjuk ke angka satu. Sudah waktunya untuk segera pulang. Kafe berangsur sepi, para karyawan pun sudah mulai membereskan tempat mereka bekerja karena sudah memasuki jam tutup.
Aku dan Fira berpamitan untuk pulang. Fira pulang dijemput pacarnya.
Pacar? Aku juga ingin seperti kedua sahabatku yang mempunyai seseorang yang dicintai dan mencintaiku. Terkadang aku takut kecewa dengan perasaanku sendiri.
Cinta bertepuk sebelah tangan yang pernah kualami membuatku takut untuk membuka hati lagi. Bertepuk sebelah tangan karena Devan tidak pernah tau tentang perasaanku. Selucu ini kisah cintaku.
“Julia, usiamu sudah dua puluh lima tahun. Mau kuliah S2 atau mau menikah?” tanya ayah dua bulan lalu dihari ulang tahunku.
“Aku belum memikirkannya, Yah. Aku ingin mencari pengalaman bekerja dulu baru meneruskan kuliah. Kalau menikah, aku belum punya pacar atau teman dekat saat ini, jadi sepertinya masih jauh tuh,” jawabku.
“Bagaimana kalau Ayah kenalkan dengan anaknya Om Gerald. Katanya dia baru pulang dari Belanda. Siapa tau kamu tertarik. Cobalah pikirkan! Usia ayah semakin bertambah tua. Ayah ingin melihatmu bahagia. Dan ingin meramaikan rumah ini dengan suara anak-anak yang lucu,” pinta Ayah Panjang kali lebar kalau membicarakan menjodohkanku dengan anak temannya itu.
Hmm.. doakan saja anakmu ini Ayah!!
__ADS_1
Angin malam menerpa, membuat kaki ini semakin cepat melangkah dan memasuki mobil yang kuparkir tidak jauh dari pintu masuk kafe. Kutancap gas dan langsung meninggalkan kafe.
Entah kenapa malam ini begitu dingin. Sangat terasa karena aku mengenakan dress tanpa lengan. Biasanya aku selalu menyimpan sweater di mobil, tapi sepertinya sekarang tidak ada. Mungkin aku lupa menyimpannya lagi bekas kemarin aku pakai.
Sesampainya di rumah, sepertinya Ayah sedang menerima tamu. Aku tidak begitu peduli dengan itu. Kulangkahkan kaki masuk melalui pintu lain supaya tidak mengganggu Ayah dan tamunya. Saat akan menaiki tangga aku berpapasan dengan Devan.
Devan.
Jantungku berdetak tak karuan saat sepersekian detik bersitatap dengannya.
Dia tersenyum, “Selamat malam, Nona. Tuan menunggu Anda di ruang tamu,” ucapnya.
Aku masih tertegun melihat senyumannya yang mebuatku selalu terpesona.
Sadar Julia, senyuman itu bukan milikmu.
“Aku Lelah. Bilang saja aku sudah tidur,” pintaku saat tersadar bahwa dia sudah tidak bisa lagi aku miliki.
“Tapi Tuan akan memperkenalkan Nona dengan seseorang yang akan dijodohkan dengan Nona,” jelasnya.
"Sudah aku bilang, aku Lelah. Lagi pula aku belum siap bertemu dengan pria yang dijodohkan denganku. Kamu cari alasan saja agar Ayah tidak memarahiku. Bye,” kulambaikan tangan padanya dan berlalu.
Devan terlihat kebingungan mencari alasan untuk menjelaskan pada Ayah kenapa aku tidak menemui pria yang dijodohkan itu.
Kuteruskan perjalanan ke kamar. Hari esok menantiku.
Wawancara di tempat baru membuatku sedikit gugup. Setelah membersihkan diri kututup mata untuk mengistirahatkan raga ini.
Epilog :
Di rumah Keluarga Gerald.
Semua anggota keluarga tengah menikmati sarapan mereka.
"Ed, nanti malam kita ke rumah Om Beny, untuk membicarakan perjodohanmu dengan putrinya," titah Gerald pada anaknya Edward.
Edward hanya mendengarkan tanpa menjawab sepatah kata pun.
"Kamu harus ingat tujuan kita atas perjodohan itu," tambah Gerald lagi.
__ADS_1
Namun, ketika malamnya Edward berkunjung ke rumah Beny, ia melihat sesosok wanita yang membuatnya terpesona dan jatuh cinta pada pandangan pertama. Wanita itu adalah Julia.