
"Aku minta maaf sudah merepotkan kalian. Tak seharusnya aku berada disini," ucapku saat sedang sarapan bersama Devan dan Marinda.
Kedua suami istri itu saling pandang. Mungkin kalau aku menikah aku juga akan sebahagia mereka? Aku tersenyum kecut dalam hati.
"Tidak apa-apa, Nona. Ini sudah tugasku," jawab Devan.
"Aku senang bisa bertemu denganmu secara langsung. Biasanya hanya mendengar cerit...ta..", Devan membekap mulut Marinda secara tiba-tiba. Aku yang melihatnya menautkan kedua alisku.
"Silahkan dimakan sarapannya, Nona. Nanti keburu dingin," sela Devan setelah adegan tutup mulut barusan.
"Kalian pasangan yang unik," pujiku pada mereka.
Devan dan Marinda melanjutkan sarapannya, begitu juga aku.
Setelah sarapan aku sudah bersiap untuk pulang. Aku tak mau berlama-lama tinggal di rumah Devan. Di saat seperti ini aku jadi merindukan kedua sahabatku. Aku ingin bertemu dengan mereka. Ponselku masih tertinggak di kantor Tuan Edward. Hufff...
"Jika kau tidak sibuk. Tolong belikan aku ponsel dan nomor baru. Ponselku tertinggal di kantor Tuan Edward. Aku tak mungkin kembali kesana," pintaku pada Devan ketika dalam perjalanan ke rumah.
"Baik, Nona," jawabnya.
"Nanti dirumah aku akan pinjam uang Ayah," ucapku lagi.
Devan tertawa mendengar pernyataanku barusan.
"Kenapa kau tertawa?"
"Nona, Anda lucu sekali. Mana mungkin Ayah dan anak ada istilah pinjam uang. Apalagi Ayah Anda seorang yang kaya raya. Tuan Beny pasti akan memberikan apa saja yang Nona minta," terangnya sambil terus tertawa kecil.
"Aku tidak mau merepotkan Ayah. Tapi sekarang aku lagi membutuhkan ponsel," balasku sedikit kesal.
" Iya, Baik, Nona. Maaf saya tertawa. Karena Anda sangat lucu,"
Aku memicingkan mataku padanya tanda kesal.
Mobil Devan terus melaju membelah jalanan. Hingga sampailah di depan gerbang rumahku. Sebuah mobik sedan hitam terparkir tak jauh di depan gerbang. Mobil yang tak asing bagiku. Mobil Tuan Edward. Siempunyapun terlihat sedang sangat frustasi di depan gerbang.
"JULIA... JULIAAAA..." Tuan Edward memanggil-manggil namaku sembari memegang erat besi gerbang bercat putih itu.
Sepertinya Ayah sudah tau kejadian kemarin. Tapi dari siapa? Devan? Bukankah Devan bilang aku ke rumah Raya?
"Nona, ada Tuan Edward. Apa Anda akan menemuinya?" tanya Devan.
"Tidak. Aku belum mau menemuinya," jawabku.
__ADS_1
"Kalau begitu menunduklah. Supaya dia tidak bisa melihatmu!" saran Devan. Akupun mengangguk tanda setuju.
Devan memajukan mobil perlahan sampai di depan gerbang dimana Tuan Edward berada. Untung saja kaca mobil Devan berkaca gelap jadi tidak begitu terlihat dari luar.
Devan keluar dari mobil dan menghampiri Tuan Edward. Aku tidak begitu mendengar percakapan mereka dari dalam mobil.
Namun, yang kulihat Devan memukul Tuan Edward di pipi kiri sampai terhuyung dan terjatuh. Tak ada perlawanan dari Tuan Edward. Devan mengangkat Tuan Edward lagi dan memukulnya lagi.
Aku tak tega melihatnya kesakitan. Walau dia sudah menorehkan luka. Aku keluar dari mobil dan langsung memeluknya menghalangi Devan memukulnya lagi.
"Stop, Devan! Jangan pukul dia lagi!" cegahku sambil memeluk tubuh bagian atas Tuan Edward.
"Nona?" Nafas Devan tidak beraturan emosinya masih memuncak.
"Juliaaaa," suara serak Tuan Edward membuatku tak berdaya membiarkannya kesakitan.
Tangan Tuan Edward terluka dan berdarah aku segera menutupinya dengan sweater yang aku pakai supaya darahnya tak terlihat olehnya.
"Buka gerbangnya!" seruku.
Devan kesal melihatku menolong Tuan Edward. Ia langsung menuju pos keamanan meminta sekuriti rumah membukakan gerbang.
"Julia, maafkan aku. Beri aku waktu untuk menjelaskannya padamu. Aku tidak mau kehilanganmu," ucapnya sambil menahan sakit.
Suaranya pelan sekali badannya panas dan tidak bertenaga. Luka di wajahnya seperti bukan hanya pukulan Devan. Apa Om Gerald juga memukulnya?
Tuan Edward mengangguk mengatur nafasnya lalu mengumpulkan sisa tenaga untuk berdiri dengan bantuanku. Aku membantunya berjalan menuju mobil dan membantu masuk ke dalamnya.
"Kau harus ke rumah sakit,"
"Tidak. Aku akan menjelaskan padamu. Aku dan Tessa sudah berakhir. Percayalah!" jelasnya memohon.
'Aku percaya hubungan kalian sudah berakhir. Tapi Tessa mengandung anakmu' batinku.
"Julia," suara ayah lantang memanggilku.
Ayah juga terlihat marah pada Tuan Edward. Ya, aku tau Ayah sangat menyayangiku. Ia tak akan mau melihat anaknya tersakiti.
Tadinya aku akan mengobatinya dulu di dalam. Tapi melihat Ayah sangat marah itu tidak mungkin.
"Pergilah! Kau bisa jelaskan nanti. Sekarang bukan waktu yang tepat," pintaku lalu melepaskan genggaman tangannya.
"Tidak, Julia. Aku tidak mau berpisah denganmu," Tuan Edward tak melepaskan genggamannya.
__ADS_1
Ayah sudah semakin dekat dengan Devan. Sudah tak ada waktu lagi. Aku takut Ayah dan Devan akan memukul Tua Edward.
"Aku tidak ada waktu lagi. Aku harus masuk. Nanti aku akan menemuimu," aku melepaskan tangannya lalu menutup pintu mobil dan dengan cepat berlari ke arah Ayah dan Devan yang sudah sangat dekat.
"Ayok kita masuk, Yah!" ajakku menarik Ayah untuk masuk.
Aku tak memperhatikan lagi Tuan Edward. Sejujurnya aku sangat cemas melihat kondisinya. Tapi aku tak ada pilihan. Aku takut sesuatu yang buruk terjadi jika Tuan Edwars tidak pergi dari rumahku.
Aku baru melihat Ayah sangat marah ketika melihat Tuan Edward. Aku belum pernah melihat Ayah semarah ini. Bahkan aku tak pernah melihatnya marah padaku.
Devan berjalan mengikutiku di belakang. Aku menggandeng tangan Ayah sampai masuk ke dalam rumah.
"Maafkan Ayah, Nak. Ayah sudah memintamu untuk menikah dengan Edward. Ayah tidak tau kalau pergaulannya di Belanda seperti itu. Sekali lagi maafkan Ayah," Ayah memelukku. Ia sangat sedih mengetahui Tuan Edward menyakitiku.
"Siapa yang memberi tau Ayah tentang masalah ini?" tanyaku penasaran.
"Gadis itu menemui Ayah. Ia meminta Ayah untuk membatalkan berjodohanmu dengan Edward karena gadis itu sedang mengandung anak Edward," jelas Ayah.
"Ayah tidak akan memaksakan kamu untuk menikah lagi. Siapapun pilihanmu Ayah akan menerimanya. Mau kapanpun kau menikah Ayah tidak akan memaksamu lagi," lanjutnya.
Aku menarik nafas berat.
"Aku ke kamar dulu, Yah," pamitku.
"Sayang, Julia. Jangan terlalu bersedih ya! Masih banyak pria yang lebih baik dari Edward," ujarnya.
"Aku butuh waktu, Yah," aku berjalan meninggalkan Ayah dan Devan diruang tengah.
Kejadian dua hari ini cukup melelahkan jiwa dan raga. Aku ingin berendam di bathub untuk menenangkan pikiranku suapaya lebih segar.
"Aku hamil. Aku hamil," kata-kata itu terus terngiang di kepalaku.
Kenangan ciuman pertamaku di apartemen Tuan Edward pun juga terus berputar-putar. Kebersamaan dari semenjak pertama bertemu sampai terakhir kali dia mengecupku di kantor masih jelas teringat.
Puas berendam aku tertidur pulas di kamarku. Semalaman menangis membuatku tak punya banyak tenaga untuk beraktifitas. Makanpun mendadak terasa hambar dilidah.
Hingga ketukan pintu membangunkan tidur pulasku. Aku berjalan malas membuka pintu. Cuaca diluar sangat panas dan menyilaukan mata di kaca jendela.
"Non, Devan menitipkan ini," Mbok Siti menyerahkan dua paper bag padaku.
"Makasih ya, Mbok," ucapku lalu Mbok Siti berlalu.
Aku buka paper bag pertama berisi sebuah ponsel keluaran terbaru beserta nomor ponsel baru juga. Devan tau sekali seleraku. Dia membelikanku ponsel berwarna merah muda. Asisten yang sangat berbakat.
__ADS_1
Lalu aku buka paper bag kedua berisi satu paket macaroon warna warni isinya ada 10 buah macaroon. Ternyata dia rau semua yang aku suka. Di luar kotaknya ada kartu yang bertuliskan,,,,
'Semoga Nona bisa tersenyum lagi semanis macaroon ini'