
POV EDWARD
Pagi sekali aku sampai di kantor menunggu Julia yang akan wawancara. Aku sudah memberikan intruksi pada manager HRD untuk menerima Julia sebagai asistenku.
Dia cantik sekali. Sejenak aku melupakan balas dendamku.
Semakin hari aku semakin dekat dengannya. Aku selalu semangat bekerja karena adanya Julia. Pekerjaan apapun aku kerjakan dengan baik. Bukan hanya untuk kemajuan perusahaan tapi untuk membuat Julia kagum padaku.
Hingga akhirnya ia tau kelemahanku. Dia tau aku mengidap hemophobia. Ketakutan melihat darah ini aku idap setelah melihat mama meninggal bersimbah darah karena ditusuk oleh penjambret. Sampai sekarang aku tak bisa melupakan kejadian itu.
Dia membuatku tertegun saat kelamahanku ia sebut bukan kelemahan. Aku semakin dibuat jatuh hati olehnya.
Haruskah aku membalas dendam padanya yang tak tau apa-apa? Dia begitu tulus di setiap perkataannya.
Fakta yang mengejutkan lagi adalah bahwa Julia belum pernah berpacaran. Informasi itu kudapat dari Wiliam. Jika aku berhasil mendapatkannya, akulah orang pertama yang ada dalam hatinya. Akulah cinta pertamanya. Membuatku bangga dijodohkan dengannya.
Makan malam yang kunantikan kesampaian juga. Kini Julia sudah mengetahui bahwa aku adalah pria yang dijodohkan dengannya.
Aku sangat yakin Julia juga memiliki perasaan yang sama denganku. Pipinya merona saat aku mendekatinya. Aku sungguh jatuh cinta setiap manatap manik matanya yang meneduhkan.
Lubuk hatiku berkata aku tak ingin melanjutkan balas dendam. Aku tak ingin menyakiti Julia.
Karena aku begitu terang-terangan menyukainya membuat Papa marah.
"Aku tak bisa membedakan kau sungguhan atau hanya pura-pura menyukainya. Tapi aku ingatkan kalau ini hanya untuk balas dendam. Jadi jangan sampai kau jatuh cinta padanya," geramnya.
Untung saja Julia tadi langsung berpamitan ketika Papa memergoki kami sedang bermesraan. Jadi dia tak mendengar yang dikatakan papa.
"Aku tak ingin meneruskan balas dendam itu. Julia tak tau apa-apa. Dia hanya gadis polos anak dari Om Beny," tegasku.
Aku berusaha menentang Papa. Balas dendam ini justru membuatku semakin terkekang olehnya.
"Jangan jangan kau sudah jatuh hati pada gadis itu?" tanyanya dengan amarah.
"Iya. Aku sudah jatuh cinta pada Julia," dengan yakin aku menjawabnya.
"Aaargghhh..." papa memukul pipiku berkali-kali.
"Anak tak tau diuntung. Lebih baik kau susul mamamu ke akhirat," kata-katanya sungguh menyakitkan hati.
Ingin membalas tapi aku lebih dulu melihat darah dilenganku dari sudut bibir yang tadi kena pukul papa. Dia pergi mebiarkanku terkapar dibalik meja.
"Julia, Julia," kupanggil nama itu yang selalu meneduhkan saat menatapnya.
"Juliaaa," aku sudah tak tahan lagi.
Untung saja Julia segera datang dan menemukanku di balik meja lalu membantuku merebahkan diri di sofa. Kulihat kekhawatiran di wajahnya saat melihatku dalam keadaan lemah.
Tak ada yang aku pikirkan lagi saat ini. Jiwaku tenang dan nyaman saat bersamanya. Cukup lama aku tak sadarkan diri. Julia dengan setia menemaniku di kantor.
Kilas balik peristiwa yang merenggut mamaku kembali menghantui dalam bawah sadarku.
Mama, sungguh aku merindukanmu.
"Edward, bangun sayang," Mama masih terlihat cantik, suaranya yang lembut membangunkanku.
__ADS_1
Seketika aku membuka mata. Kulihat ke atas dan melihat sekeliling ternyata aku masih di kantor.
Kukerjapkan mata melihat sosok yang berada di sampingku sekilas aku melihat Mama. Tetapi kemudian sosok itu berubah menjadi Julia. Aku tersenyum melihatnya masih setia menungguiku.
"Julia," panggilku dengan suara masih serak dan berat.
Ia membawakanku segelas air dan membantuku duduk
Oh Tuhan, aku tak mungkin membalaskan dendamku padanya. Aku benar-benar mencintainya.
Aku sengaja memintanya untuk mengantarku ke apartemen. Saat ini aku hanya ingin bersamanya.
Julia memasakkanku makan malam. Aku bahagia. Kami seperti sepasang suami istri. Tak sabar ingin segera menikahinya.
Malam itu. Aku mencium bibirnya. Dapat kurasakan bahwa itu adalah ciuman pertamanya. Ia hanya diam tak membalas ciumanku. Mungkin ia tak tau mesti melakukan apa saat kucium. Sangat menggemaskan ketika wajahnya bersemu merah saat ciumanku berakhir. Julia langsung menyembunyikan wajahnya.
"Aku harus pulang," ucapnya sedikit bergetar.
Ia masih memalingkan wajahnya dariku. Aku tersenyum melihat tingkahnya gemas. Kulepaskan genggaman tanganku di tangannya. Lalu menariknya menghadapku.
"Aku antar kau pulang sekarang," balasku sambil menyeka bibirnya dengan ibu jari bekas yang tadi kucium.
Sepanjang perjalanan Julia tak banyak bicara. Sering kali Julia memegangi bibirnya yang setiap ku melihatnya aku tak tahan untuk menciumnya.
Kuraih jemarinya dan menelusupkan jemariku ke dalamnya.
"Kau cemas Ayahmu akan marah karena pulang terlambat?" aku mencoba memecahkan suasana.
Walau sebenarnya aku tau perasaannya sedang tak karuan karena aku sudah merenggut ciuman pertamanya.
"Aku akan bertanggung jawab pada Ayahmu. Aku akan bilang kau menemaniku yang tak sadarkan diri tadi," terangku menenangkannya.
"Ya, kau memang yang lebih bertanggung jawab kenapa aku pulang terlambat," kesalnya.
"Kau tau? Aku sangat senang hari ini,"
"Senang? Pingsan kok senang,"
Julia semakin menggemaskan ketika sedang kesal.
"Aku senang kamu tidak berbicara formal lagi denganku. Biasanya kamu panggil aku Tuan, Tuan, dan Tuan. Memang kamu tidak ada panggilan sayang buatku, seperti pasangan lainnya?"
Julia terlihat berpikir.
"Kau mau dipanggil apa?"
"Cinta,"
"Kayak sinetron saja. Terus aku dipanggil Rangga. Kok kebalik ya? Hahaa,"
"Sebut saja aku mawar,"
"Haha.. Aku dahlia, anggrek, melati, de es be,"
"Haha..."
__ADS_1
"Kenapa sih? Penting sekali ya nama panggilan? Kau terus saja minta panggilan sayang?"
"Iya juga. Aku ingin tak terlihat membosankan saja di matamu. Aku ingin merasa disayangi karena kamu memanggilku nama yang berbeda dengan nada kasih sayang setiap kamu memanggilku,"
"Uluhhh... gombal ya kamu,"
"Bukan gombal, sayang. Kenapa tidak kita coba saja? Kan lebih enak didengar,"
"Aku akan memberikan panggilan sayang nanti setelah kita menikah jadi tunggu saja,"
"Yah masih lama,"
"Sabar saja. Dua bulan lagi,"
Mobil sudah memasuki pekarangan rumahnya. Aku mengecup keningnya penuh cinta.
"Aku akan mengantarmu ke dalam," pintaku.
"Tidak perlu. Ayah pasti sudah tidur. Besok aku akan jelaskan pada Ayah kenapa aku pulang terlambat. Kamu pulanglah! Istirahat!," ucapnya penuh perhatian.
"Baiklah. Kau juga istirahat!" Aku lanjut melajukan mobil kembali ke apartemen.
Sampai di apartemen aku buka ponsel dan laptop. Banyak sekali pesan yang masuk. Kebanyakan tentang masalah di lapangan.
Sebenarnya Papa sengaja merekayasa drama di lapangan ini untuk menarik simpati Om Beny. Papa ingin Om Beny investasikan banyak uangnya untuk perusahaan. Padahal perusahaan saat ini sedang dalam kondisi baik.
Aku harus mengurusnya, sebelum Julia mencari tau lebih banyak tentang kasus ini. Aku tak ingin Julia jadi salah paham.
Kuutus orang kepercayaanku untuk melaporkan situasi di lapangan.
Esoknya orang kepercayaanku sudah melaporkan apa yang sebenarnya terjadi di lapangan. Benar dugaanku masalah itu hanya rekayasa Papa saja.
Bagaimana caraku untuk menggagalkan rencana Papa?
Itu akan aku pikirkan nanti.
Aku akan menjemput Julia dulu untuk pergi bersama ke kantor setelah itu aku akan langsung ke lapangan.
Namun, ditengah perjalanan menuju rumah Julia, sebuah mobil menghadang jalanku. Seorang pria berkacamata keluar dan ternyata ia adalah Devan, Asisten Om Beny.
Untuk kesekian kalinya Devan mengancamku untuk tidak menyakiti Juli. Sepertinya dia juga menyukai Julia. Dia mencoba melindungi Julia setiap kali keluargaku melancarkan rencananya. Aku harus berhati-hati dengan dia.
"Keluar!" serunya.
"Sudah aku katakan berkali-kali jangan usik keluarga Tuan Beny terutama Julia. Kalau tidak semua rahasiamu akan aku bongkar dihadapan Tuan Beny dan Julia, " ancamnya lagi.
"Atas dasar apa kau mengancamku? Kau hanya seorang asisten Om Beny," sergahku.
"Kau tak perlu tau aku siapa. Aku pastikan kau tak akan membuka matamu jika sampai kau menyakiti Julia," ancamnya lagi.
"Kenapa? Kau suka dengan Julia?" tanyaku nyalang sekaaligus penasaran dengan Asisten Om Beny itu.
Devan langsung masuk ke dalam mobilnya dan menancapkan gas ke arah yang sama denganku.
Ternyata aku punya saingan.
__ADS_1