Jodohku, Suami Idaman (Julia & Edward)

Jodohku, Suami Idaman (Julia & Edward)
Kejutan Makan Malam


__ADS_3

Suara gemericik air mengganggu pulasnya tidurku. Kuregangkan badan untuk sekaligus mengumpulkan segenap kesadaranku. Aku tersipu mengingat bahwa Tuan Edward memelukku sampai tertidur dalam pelukannya.


Apakah ini yang namanya pacaran? Eh tapi aku belum memutuskan pacaran atau tidak dengannya.


Bantal guling yang berada disamping kusambar lalu kupeluk lagi. Kubayangkan itu adalah Tuan Edward. Ah gemas. Wangi tubuhnya, hangat dekapannya masih kurasa.


Sentuhan dikeningku yang hangat dan lembut. Ini nyata. Tuan Edward mencium keningku. Kueratkan lagi memeluk bantal guling sambil menggoyangkannya menghayalkan Tuan Edward. Kututup wajahku menggunakan kedua telapak tangan.


Indahnya jatuh cinta.


“Kau baik baik saja?” suara barito Tuan Edward yang baru saja keluar dari kamar mandi membuyarkan khayalanku.


Selimut yang masih menutupi sebagian tubuhku langsung kusambar untuk menutupi semuanya. Supaya tidak terlihat mukaku yang memerah karena mengkhayalkan kejadian tadi. Ah malu sekali rasanya.


Perlahan selimut itupun turun karena ditarik Tuan Edward. Sampai terbuka dan memunculkan pipiku yang masih memerah terkena blushon asmara.


“Apa kau sakit?” tangannya menyentuh keningku.


Aku menggeleng. Karena memang tidak merasa sakit.


“Kalau kau sakit kita tidak perlu makan malam ke hotel. Kita makan malam disini saja,” ucapnya khawatir.


“Aku baik baik saja. Aku akan mandi,” aku beranjak dari tempat tidur meninggalkannya sambil berlari kecil. Aku lihat ia tersenyum melihat tingkahku. Ah aku malu sekali.


Kukunci pintu kamar mandi dan menyalakan shower. Segarnya, berada dibawah guyuran air. Selesai mandi aku mencari handuk yang tidak ada di tempatnya. Sepertinya tadi aku lupa membawanya.


Aish.. karena Tuan Edward aku jadi pelupa. Apa aku haru meminta tolong padanya membawakan handuk untukku? Ah tidak. Itu memalukan. Aku pakai baju yang tadi saja. Tapi bajunya akan menerawang karena tubuhku basah. Serba salah.


Ditengah kesengsaraanku memikirkan cara keluar dari kamar mandi. Ketukan pintu terdengar dari luar. Itu pasti Tuan Edward. Mesum sekali Dia mau mengetuk pintu saat aku sedang di kamar mandi. Kubuka sedikit pintu kamar mandi dengan memakai kemeja yang tadi aku pakai dan memunculkan hanya bagian kepala.


“Bisa tunggu sebentar! Saya sedang menikmati guyuran air,” sahutku asal.


“Euhmmm.. Ini handukmu,” ucapnya terdengar gugup sembari menyodorkan handuk dengan memalingkan wajahnya


Kuraih dan menutup kembali pintu kamar mandi. Ternyata dia juga sadar kalau aku tidak membawa handuk. Biarlah masalah malu jadi urusan nanti. Daripada aku tak bisa keluar dari kamar mandi.


Aku keluar kamar mandi dengan menggunakan handuk dan di balut lagi dengan handuk kimono yang tadi diberikan Tuan Edward. Aku mencari Tuan Edward di kamar tapi tidak kutemukan. Baguslah, aku jadi tidak malu keluar dari kamar mandi.


Kuambil paper bag tadi dari Mami Amara ke dalam ruang ganti. Rupanya selera Mami Amara tidak bisa dispelekan. Ia memberikan gaun yang sangat cantik untukku dan aku menyukainya. Ternyata keluarga Tuan Edward sangat baik padaku.


Selesai bersiap aku keluar dari kamar mencari Tuan Edward atau siapapun itu yang akan pergi makan malam. Sebenarnya dimana mereka semua kenapa aku serasa ditinggal sendiri?


“Nona, Tuan Edward menunggu Anda di depan,” ucap kepala pelayan.


Ah untunglah. Aku kira aku ditinggalkan begitu saja. Kepala pelayan berjalan didepan mengarahkanku pada tuannya.


“Tuan, Nona Julia sudah siap,” ujar kepala pelayan pada Tuan Edward yang berdiri membelakanginya.

__ADS_1


Tuan Edward berbalik, sejenak kami bersitatap. Ia tersenyum padaku dan meraih tanganku lalu berjalan memasuki mobil yang sudah berada di depan. Setelah ia membukakan pintu untukku ia pun menyusul masuk ke dalam mobil.


“Kau cantik sekali malam ini,” pujinya lalu menggenggam tanganku yang aku rasa dingin karena gugup.


“Terimakasih,”


“Tanganmu dingin sekali,” ia mengangkat tanganku ke depan bibirnya dan meniupnya supaya hangat.


Jantungku semakin tidak karuan saja dibuatnya. Kutarik tanganku dari genggamannya.


“Aku tidak apa apa. Kita berangkat sekarang?” jika tidak begitu kapan mobilnya akan maju kalau dia terus melakukan adegan romantis.


Lagi, dia menyetir sendiri mobilnya tanpa supir. Ia melajukan mobil meninggalkan vila.


“Aku menebak kalau hari ini sudah Anda rencanakan,” ucapku mengutarakan apa yang ada dipikiranku.


“Maaf, aku tidak memberitaumu bahwa orang tuakupun akan datang,” balasnya. “Bisakah kau berbicara santai denganku? Bukankah kita sudah sangat dekat?” sambungnya.


“Dekat?”


“Ya. Kita tadi tidur berpelukan, apa kamu tidak ingat?”


Aaaaaahhhh.. dia membahasnya. Bukan tidak ingat tapi malah terbayang bayang.


“Kau yang memelukku,” bantahku.


“Tapi kamu sukakan aku peluk. Sampai membayangkan memelukku,”


“Itu…” ah sudahlah aku tak bisa mengelak.


“Aku suka kamu memikirkan aku,” ucapnya ringan.


Andai anda tau kalau akhir akhir ini memang begitu adanya. Aku selalu memikirkan anda Tuan Edward.


“Disaat aku memikirkan keinginan semua orang, ada kamu yang memikirkan aku. Itu membuatku sangat senang,” tambahnya.


“Mungkin itu hanya perasaan Tuan saja,”


“Hilangkan kata Tuan itu saat kau sedang bersamaku,” decaknya sedikit kesal.


“Yaya baiklah. Kakak Edward,”


“itu terdengar seperti kamu adalah adikku,”


“Jadi maunya apa?”


“Panggil nama atau sayang itu lebih enak didengar,”

__ADS_1


SAYANG? Itu sih maunya dia. Tadi mau dipanggil Kaka sekarang panggil sayang. Tidak punya pendirian.


“Sayang? Apa kita sudah sejauh itu untuk memanggil SAYANG?”


“Setelah kejadian tadi panggilan sayang sangat pantas untuk kita sekarang dan selanjutnya,”


“Aku belum bilang apa apa. Tadi kan hanya pernyataan anda saja,”


“Aku tak butuh pernyataan darimu. Karena sikapmu sudah cukup jelas menjelaskan perasaanmu padaku,”


“Huh so’ tau!” Memang anda cenayang yang bisa membaca isi hati orang.


Akhirnya kami sampai di hotel tempat acara makan malam berlangsung. Tuan Edward menghentikan mobilnya di pintu masuk utama. Kamipun keluar dari mobil lalu berjalan masuk menuju restoran hotel.


Tuan Edward meraih tanganku untuk menggandeng lengannya. Ah ya baiklah. Serasa akan ada acara penting malam ini. Sikap Tuan Edward padaku juga begitu hangat.


Senang dan bahagia yang aku rasakan sekarang. Makan malam bersama pria yang aku sukai dan diapun menyukaiku. Sempurna bukan?


“Kenapa tanganmu selalu dingin?” tanyanya sambil *******-***** tanganku saat kami memasuki lift.


“Tenangkan pikiranmu dulu baru kita menuju tempat makan!” sarannya sembari terus meremas jemariku.


“Tidak apa. Kasihan keluargamu sudah menunggu,” balasku sambil mencoba menenangkan diri.


“Jangan pikirkan mereka. Yang terpenting kamu harus nyaman selama makan malam nanti,” ucapnya lagi.


Tuan Edward memegang bahuku dan meyakinkanku agar aku merasa nyaman dengannya.


“Tenang saja, aku akan selalu disampingmu. Oke!” Aku mengangguk lalu kami keluar dari lift.


Pelayan membukakan pintu dan mempersilakan masuk. Tak kusangka Ayah juga hadir di acara makan malam bersama keluarga Tuan Edward.


“Ayah!” Seruku memanggil Ayah yang tengah asik mengobrol dengan Papa Tuan Edward.


“Sayang, kau sudah datang,” Sahut Ayah seolah ia sudah tau acara makan malam ini


Apakah Tuan Edward adalah anak dari Om Gerald teman Ayah yang akan dijodohkan denganku?


Kenapa aku tidak kepikiran sama sekali bahwa direktur diperusahaanku adalah teman Ayah?


“Sebenarnya sudah lama kami ingin mengadakan acara makan malam, tapi kamu selalu menolaknya. Setelah kami mengetahui kedekatanmu dengan Edward kami sangat senang dan langsung merencanakan makan malam ini,” jelas Om Gerald setelah aku dan Tuan Edward bergabung duduk dengan mereka.


Ternyata pria yang dijodohkan denganku itu Tuan Edward. Terkejut, iya. Begitu sempurna sekali kebahagiaanku malam ini.


“Maaf, Om. Julia tidak tau kalau dijodohkan dengan Tuan Edward,” ucapku minta maaf. Betapa bodohnya aku tidak memikirkan hal itu.


“Kalau sudah tau dijodohkan tidak perlu panggil Tuan dong. Panggil saja Edaward,” goda Mami Amara dan semua orang tertawa senang menggodaku.

__ADS_1


Aku semakin malu saja dan hanya bisa menunduk. Aku tak tau juga apa ekspresi Tuan Edward saat ini senang atau malah dia juga sama sepertiku.


Tapi dapat kurasakan tangan hangatnya meremas jemariku di bawah meja. Kubalas dengan menatapnya dan ia tersenyum penuh arti padaku.


__ADS_2