Jodohku, Suami Idaman (Julia & Edward)

Jodohku, Suami Idaman (Julia & Edward)
Darah?


__ADS_3

“Perkenalkan sekretaris baru Anda,,,”


“Julia Marsha,” potong pria yang bernama Edward Anggara itu dan Pak Ardian pun mengangguk.


“Baik, Anda boleh pergi Pak Ardian. Biar saya yang akan menjelaskan apa saja yang harus Nona Julia kerjakan,” perintahnya lalu Pak Ardian meninggalkan aku dan Tuan Edward diruangan.


Tuan Edward berdiri sembari membawa sebuah map dan berjalan kearahku. Aku masih berdiri tidak jauh dari mejanya.


“Ini adalah tugas-tugas yang harus kamu kerjakan. Saya harap kamu bisa mempelajarinya dengan cepat!” tegasnya menyodorkan map yang Dia bawa padaku.


“Baik, Pak,” aku menerima map itu dari tangannya.


“Kamu bisa mempelajarinya di meja sebelah sana,” perintahnya menunjuk meja yang tadi kulihat pertama kali.


Kubuka map yang baru saja aku terima dari Tuan Edward. Ternyata banyak sekali tugas yang harus aku kerjakan dan sebagian besar adalah mengurus hal-hal pribadi Tuan Edward.


Ya, wajar kalau tugasku mengurus keperluan Dia, karena sekarang aku adalah asistennya.


Oke.


Semangat Julia!


Tak terasa sudah mendekati waktu makan siang. Jarum jam dinding sudah menunjukkan jam sebelas lima puluh menit. Perutku juga sudah minta diisi.


Kulihat Tuan Edward masih fokus dengan layar monitor dihadapannya.


Kalau dilihat-lihat bos baruku tampan juga. Kulitnya putih bersih, pasti dia perawatan mahal. Hidungnya mancung. Manik matanya yang berwarna kecoklatan menambah daya pikatnya. Rambutnya yang hitam dan bergaya undercut terlihat semakin menambahkan ketampananya. Badannya tinggi dan atletis.


Oh, tampan sekali.


Devan, sepertinya sekarang aku menemukan penggantimu. Huss, jangan berpikir yang tidak-tidak Julia! Dia bos kamu sekarang.


“Julia, Julia, JULIA!!” Aku terhenyak dari lamunanku. Tuan Edward melambaikan tangannya di depan mukaku.


“Ah, iya, Tuan,”


“Saya tidak suka kalau asisten saya suka melamun,” tegurnya.


“Maaf, Tuan. Saya tidak akan mengulanginya,” jelasku meminta maaf atas keteledoranku.


“Kamu sudah periksa jadwalku hari ini?”


Astaga aku tidak tahu jadwalnya hari ini. Bagaimana ini?


“Maaf, Tuan. Aku belum memeriksanya,” lagi aku meminta maaf.


“Buka laci mejamu!” Aku langsung membuka laci. “Ambil tablet itu dan buka. Disana ada jadwalku hari ini! Cepat siap-siap, kita pergi sekarang!” belum juga aku membukanya sudah disuruh pergi.


Jujur saja aku masih belum nyaman dengan bos baruku ini. Sekarang saja aku hanya berdua dengannya di mobil. Apa Dia tidak punya sopir untuk mengantar kemana-mana? Harusnya aku yang menyetir karena Dia bosku. Tapi dia tadi menolak saat aku menawarkan diri untuk menyetir.

__ADS_1


Jadwal hari ini adalah makan siang bersama Mr. George di Grand Savana, hotel bintang lima terbesar di kota ini. Tiba di depan hotel, kami langsung diarahkan ke meeting room VVIP hotel.


Makan siang bersama Mr. George tidak berlangsung lama. Setelah beberapa topik pembicaraan tentang proyek pekerjaan dengan kami selesai, Mr. George pamit karena akan segera berangkat ke Singapura.


Di perjalanan ke kantor.


“Bagaimana menurutmu tentang proyek Bersama Mr. George?” tanyanya memecah keheningan.


“Kalau menurut saya ini adalah proyek yang sangat menguntungkan perusahaan kita. Rupanya Tuan punya strategi khusus untuk memenangkan hati klien Tuan,” jawabku sekaligus memujinya.


Bukan ingin menjadi penjilat. Tapi itulah kenyataannya. Tuan Edward sangat piaway dalam melobi kliennya sampai Mr. George yang notabene sangat susah diajak kerjasama oleh beberapa perusahaan bisa dengan senang hati bekerja sama dengan perusahaannya.


“Mr. George itu sepupu mama saya. Tidak mungkin dia menolak bekerja sama dengan perusahaan. Tapi kamu pandai juga bermuka dua. Jangan – jangan kamu tipe karyawan yang suka memuji bosnya di depan dan menjelekkanya dibelakang,” ucapnya dengan enteng.


Hah. Tau begitu aku ogah muji-muji dia.


“Saya tidak seperti itu, Tuan. Berprasangka buruk kepada orang lain itu tidak baik bagi kesehatan,” ucapku kesal.


“Hahaha..”


Eh dia malah tertawa. Sangat menyebalkan.


Sesampainya di kantor aku membaca lagi peraturan dan tugas-tugas menjadi asisten wakil direktur yang tampan tapi menyebalkan ini. Dan mempelajari berkas-berkas yang berada di mejaku.


Pekerjaannya memang tidak terlalu sulit buat ku. Aku bisa dengan mudah memahami apa saja yang menjadi tugasku.


Hari berganti hari, aku sudah dua bulan bekerja menjadi asisten Tuan Edward. Walau dia terkadang menyebalkan, tapi banyak sisi baik dalam dirinya. Dalam dua bulan ini aku sering memperhatikannya.


Seperti hari ini, kami baru saja pulang meeting dengan klien di Kawasan pinggiran kota. Ditengah perjalanan pulang ke kantor ia memesan puluhan kotak makan bento di sebuah restoran cepat saji. Aku pikir dia akan membagikannya pada karyawannya dikantor karena kerjasamanya dengan klien berjalan dengan lancar.


Tetapi, semua makanan itu ia antarkan sendiri ke sebuah panti asuhan yang berada di pinggiran kota.


Tuan Edward sangat dihormati oleh para pengurus panti. Ia juga tak segan untuk bermain Bersama anak – anak panti. Mengajari mereka baca tulis. Membacakan mereka buku cerita.


Tampan, pekerja keras, sukses, baik hati, dan penyayang anak-anak. Sungguh pria idaman.


“Julia,” panggilnya, padahal aku sedang mengaguminya dan memandanginya tanpa sadar.


“Julia,” panggilnya lagi karena tidak mendapatkan sahutan dariku. Tanganya melambai di depan mukaku.


“Ah, iya, Tuan,” jawabku tersadar dalam lamunan.


“Ada sesuatu di wajahku?”


“Iya, ada,” aish aku masih saja belum sadar.


“Apa?”


“Aku.”

__ADS_1


“Hah, apa?”


Bruuukkk. Sesuatu mengenai kepalaku. Tuan Edward dengan sigap menangkap tubuhku yang oleng karena tertimpa bola yang dimainkan anak-anak. Kemudian aku tak sadarkan diri. Kenapa juga aku harus pingsan.


Aku lupa kalau tadi belum makan siang. Hari ini aku sibuk mempersiapkan berkas untuk meeting dengan klien.


“Julia, bangunlah. Ayok kita pulang!” suara Tuan Edward terdengar di telingaku.


Ia tersenyum lembut. Matanya berbinar saat menatapku. Tubuhku merasakan ada getaran yang aneh saat tangannya membelai pipi kananku. Senyuman itu sangat meneduhkan, menentramkan hati. Tangannya yang tanggap saat menangkapku. Dadanya yang bidang saat menyandarkanku. Bahunya yang kekar kurasakan saat ia mengangkatku.


Seketika aku terbangun disebuah ruangan. Kupindai sekeliling ruangan, sepertinya aku masih berada di panti asuhan. Ternyata aku bermimpi. Kepalaku msih sangat pusing dan perutku sakit sekali.


Sepertinya aku baru saja keluar datang bulan. Cairan dibawah sana sudah mulai banyak, aku tidak memakai pembalut. Bagaimana ini?


Tetapi baru saja aku akan meminta tolong karena perutku sudah tak bisa ditahan, terdengar obrolan Tuan Edwar dengan pengurus panti.


“Apa dia seseorang yang spesial? Karena baru kali ini kau membawa seorang wanita kesini?” tanya pengurus panti. Sepertinya hubungan mereka sudah sangat dekat.


“Dia asistenku,” ya, itu suara Tuan Edward.


“Benarkah hanya asisten?”


“Aku akan memeriksannya,”


Ada rasa kecewa saat mendengar jawabannya jika aku adalah asistennya. Padahal memang itulah yang sebenarnya. Kenapa juga aku harus kecewa.


Tuan Edward masuk ke dalam ruangan dimana aku berada. Pintu terbuka dan kemudian ia masuk di susul seorang Wanita paruh baya yang tadi berbincang dengannya.


“Kau sudah sadar? Kalau begitu ayok kita pulang,” ucapnya memerintahku begitu saja.


Wanita paruh baya itu duduk di sisi tempat tidur disebelahku.


“Apakah sudah baikan, Nak? Wajahmu terlihat sangat pucat sekali. Ada yang sakit?” tanyanya dan aku mengangguk.


“Kepalaku pusing sekali dan perutku sangat sakit,”jawabku sembari merintih kesakitan dengan memegangi perutku yang teramat sakit.


Pengurus panti yang tadi diperkenalkan bernama Madam Lusi itu meraba kening dan leherku.


“Kita ke rumah sakit sekrang,” ucapnya dengan wajah cemas.


“Apa benturan tadi sangat parah?” Tuan Edward sama cemasnya mendekatiku lalu menempelkan tangannya di keningku yang tadi terkena bola.


Aku menggelengkan kepala, ”Tidak. Aku hanya…”


“Tidak, tidak.. kita ke rumah sakit sekarang,” Tuan Edward langsung mengangkatku tetapi aku langsung di hempaskan lagi ke Kasur.


Oh sungguh sakit sekali. Kepala, perut sekarang ditambah pinggang dan bokongku karena dihempaskan ke Kasur.


“Darah?” Wajah Tuan Edward berubah pucat saat melihat darah di kedua tangannya.

__ADS_1


Tuhkan darah menstruasiku sudah tembus kemana-mana.


__ADS_2