Jodohku, Suami Idaman (Julia & Edward)

Jodohku, Suami Idaman (Julia & Edward)
Menemui Tuan Edward


__ADS_3

Dengan ponsel dan nomor baru aku menghubungi Raya dan Fira. Aku ingin sekali bertemu dengan mereka. Pertama aku menghubungi Raya.


"Halo, Ra,"


"Juliaaaaa.." suaranya memekakan telingaku. Raya terdengar sangat khawatir. "Kau baik-baik saja kan? Aku tau dari Kak Wiliam kau sedang ada masalah dengan Kak Edward. Kau dimana? Kita harus bertemu," Raya bersemangat mengajakku bertemu.


"Iya, Ra. Aku juga ingin bertemu denganmu dan Fira. Tapi tolong rahasiakan ini dari Kak Wiliam. Karena pasti Edward akan menanyakan keberadaanku pada Kak Wiliam," pintaku.


"Beres. Aku tak akan bilang sama Kak Wiliam,"


"Bagaimana kalau kita bertemu di hotel Plaza. Kita menginap disana." Hotel Plaza adalah hotel bintang lima milik keluargaku. Ayah pasti mengizinkanku jika kesana.


"Okey. Aku akan siap-siap terus meluncur kesana,"


Panggilan terputus. Lalu aku menghubungi Fira untuk bertemu di Hotel Plaza juga. Tak perlu banyak drama Fira langsung menyetujuinya.


Di Hotel Plaza.


Kami bertiga berpelukan seperti teletubies. Setelah meminta izin Ayah, akhirnya aku diizinkan untuk menginap di hotel. Tapi tetap saja ada Devan yang diperintahkan untuk mengawasiku.


"Jadi ceritanya bagaimana kamu dan Kak Edward bisa pacaran terus dijodohkan dan sekarang malah ada masalah seperti ini?" tanya Raya bertubi-tubi.


"Iya. Kamu berhutang banyak penjelasan sama kita," tambah Fira.


"Iya, iya. Aku akan menceritakan dari A sampai Z sama kalian," balasku.


Mereka tampak serius menanggapiku. Akhirnya aku menceritakan semuanya. Dari semenjak aku bertemu dengan Tuan Edward sampai terakhir Tessa menemui Tuan Edward karena hamil.


"Jadi dari awal kamu memang dijodohkan sama Kak Edward, Jul? Tapi kamu gak tau? Hah dasar si kurang peka," cerca Fira.


"Sekarang aku harus bagaimana? Aku sudah terlanjur suka sama Tuan Edward," kuusap pipiku yang basah karena menangis mengenang dan menceritakan kisah cintaku pada kedua sahabatku.


Fira dan Raya mengusap punggungku berusaha menenangkan aku yang sangat sedih. Aku sungguh dilema untuk melepaskan Tuan Edward atau bertahan dengannya.


"Sudah jangan nangis terus! Nanti cantiknya hilang," Raya membenarkan rambutku ke belakang lalu memakaikannya jepitan rambut supaya terlihat rapi.


"Iya, gak usah nangis. Kamu mau apa? Belanja? Makan? Jalan-jalan? Aku akan turuti mau kamu. Asal temanku gak nangis lagi. Laki mah banyak, gak cuma Kak Edward," Fira menimpali. " Kayak aku donk, gak pernah namanya patah hati," tambahnya lagi.


"Iya. Tapi suka bikin laki patah hati. Hati-hati kena karma lho!" Raya mengacak-acak rambut Fira lalu mencebik dagunya.


"Huh, siapa suruh mau jadi pacarku," Fira membenarkan rambutnya menyisir dengan jari.


"Kita makan aja yuk! Julia, kamu juga kan belum makan dari tadi,"

__ADS_1


"Mau makan apa? Seafood? Pizza? Steak? atau apa?" Fira mengusap-usap layar ponselnya mencari menu makanan online.


"Sebentar,, sebentar,,, Kak Wiliam telepon nih!" seru Raya menunjukkan layar ponselnya.


Serentak aku dan Fira diam dan mendengarkan pembicaraan kakak beradik itu.


"Halo, Kak,"


"Kamu lagi sama Julia, Dek?" tanya Kak Wiliam dari ujung telepon karena Raya mengeraskan speakernya.


Aku spontan melambaikan tangan menandakan jangan bilang kalau Raya bersamaku.


"E... enggak, Kak,"


"Terus kamu lagi dimana?" tanya Kak Wiliam lagi.


"A.. Akuu..." Raya menoleh ke arahku dan Fira.


"Ke mall," ucapku tanpa suara hanya menggerakkan mulutku saja supaya tak terdengar oleh Kak Wiliam.


"Raya," Kak Wiliam memanggilnya karena belum juga mendapat jawaban.


"Keeee mall, Kak," memang dasarnya Raya tak pandai berbohong ia tampak kaku menjawab pertanyaan Kak Wiliam.


"Ra, kamu bisa menghubungi Julia? Edward maksa Kakak untuk memintamu menghubungi Julia. Kakak gak bisa lagi melihat Edward menyedihkan seperti ini mencari Julia. Dia juga terlihat kurang sehat. Dari tadi Memanggik Julia terus. Kalau kamu bisa menghubungi Julia. Tolong beri tau dia untuk menemui Edward," terang Kak Wiliam di telepon.


Aku hanya bisa menunduk. Kuakui rasa cintaku masih begitu besar untuk Tuan Edward. Mendengar cerita Kak Wiliam membuatku sangat khawatir dengan keadaannya. Apalagi kemarin aku lihat memang kondisinya sedang tidak baik-baik saja.


"Oke, Kak. Nanti aku sampaikan kalau aku bisa menghubungi Julia," dan panggilanpun ditutup oleh Raya.


"Kamu sungguh mencintainya, Jul?" Fira mendekapku dan mengahapus air mataku yang menetes lagi tanpa permisi.


Aku mengangguk, mengiyakan pertanyaannya. Aku rasakan tangan lembut Raya mengusap punggungku. Kedua sahabatku itu mencoba menenangkanku.


"Kalau begitu kamu harus menemui Kak Edward," saran Fira.


"Bagaimana caranya? Diluar ada Devan yang mengawasi kita," ucapku sambil terisak.


"Aku tau caranya, supaya kamu keluar dari sini," sambung Raya.


Raya memberitaukan apa yang harus aku dan Fira lakukan. Rencananya adalah aku akan meminta Devan membeli makanan. Ketika Devan membeli makanan aku dan Raya akan pergi menemui Kak Wilian dan Tuan Edward. Sedangkan Fira tetap di hotel untuk menerima makanan dari Devan supaya tidak mencurigakan.


Rencanapun dimulai. Devan sudah pergi membeli makanan yang aku pinta. Aku berganti pakaian dengan Raya mengenakan pakaian serba hitam memakai topi dan masker menyerupai tampilan pria.

__ADS_1


Setelah situasi aman aku dan Raya bergegas ke parkiran dan pergi meninggalkan hotel. Aku sangat beruntung mempunyai sahabat seperti Raya dan Fira. Mereka selalu ada di saat suka dan duka.


Tuhan. Bahagiakan selalu Raya dan Fira sahabat terbaikku!


"Kak, aku dalam perjalanan bersama Julia. Kak Wiliam dimana?" Raya menelepon Kak Wiliam sesaat mobil keluar dari parkiran hotel.


"Kakak di apartemen Edward. Cepatlah Edward terus saja memanggil Julia terus. Badannya sangat panas. Kakak Tak tau harus bagaimana," jelas Kak Wiliam di telepon.


"Oke. Kita kesana sekarang," balas Raya lalu menutup teleponnya. " Kamu tau apartemen Kak Edward gak, Jul?"


"Aku tau," langsung aku tancap gas dan meluncur menuju apartemen Tuan Edward.


Hari sudah menjelang malam. Walau terhambat oleh kendaraan yang berlalu lalang. Akhirnya aku sampai di apartemen Tuan Edward.


Setelah keluar dari lift, aku dan Raya berjalan menuju pintu apartemen. Langkahku terhenti. Aku memikirkan kembali keputusanku untuk menemuinya.


Apakah langkah yang kuambil ini sudah benar?


Bagaimana aku harus bersikap? Haruskah aku merelakannya atau memperjuangkan cintaku?


"Jul, kamu kenapa?" Raya sadar akan kegundahanku.


"Aku tidak apa-apa," jawabku sembari menggelengkan kepala dan lanjut berjalan.


Bel sudah berbunyi. Tak butuh waktu lama Kak Wiliam sudah membukakan pintu. Aku langsung masuk dan berhambur mencari kekasihku.


Tuan Edward berada di kamarnya, terbaring tak berdaya. Wajahnya penuh luka lebam yang sudah berubah warna menjadi keunguan. Tangannya masih menggenggam sweater yang aku berikan untuk menutupi luka di tangannya.


Aku langsung berhambur memeluknya. Tak terasa air matapun menetes melihatnya sangat menyedihkan. Suhu tubuhnya begitu panas. Bibirnya pucat dan kering.


"Juliaaaa,,," suaranya yang berat terus memanggil namaku di alam bawah sadarnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sebenernya di aplikasi sebelah udah 30 bab..


aku lihat disini kurang begitu banyak peminatnya untuk cerita ini...


aku jadi ragu untuk melanjutkannya....


walaupun begitu...


aku ucapkan terimakasih banyak untuk teman2 yang sudah membaca cerita Julia & Edward ini...

__ADS_1


salam penuh cinta dari author...


🥰🥰🥰🥰🥰


__ADS_2