Jodohku, Suami Idaman (Julia & Edward)

Jodohku, Suami Idaman (Julia & Edward)
Tenanglah Aku Disini


__ADS_3

"Aku menunggumu," ucapnya lagi lalu mengeratkan pelukannya.


Lega rasanya Tuan Edward mengatakan bahwa wanita dalam foto itu adalah mantan kekasihnya. Emosi yang sempat memuncak kini perlahan meredup.


"Kenapa kau diam saja? Kau masih marah padaku karena foto itu?" tanyanya karena aku masih saja terdiam.


Selama ini aku hanya mendengar cerita dari Raya dan Fira kalau dipeluk dari belakang itu yang paling nyaman. Sekarang aku merasakannya dan itu adalah benar, aku merasa nyaman berada dalam pelukannya.


"Kau buang saja foto itu. Aku lupa belum membuangnya. Lagi pula foto itu sudah menjadi masa laluku," ungkapnya lalu melepaskan pelukan dan membalikkan badanku menjadi saling berhadapan.


"Maafkan aku sudah membuatmu marah," ucapnya lagi dan aku masih diam. "Bicaralah, aku tidak bisa kau diamkan," rengeknya.


Sejenak keempat mata saling beradu. Jarak yang semakin terkikis tak dapat aku hindari.


"Ehemmmm,,,"


Sontak aku menjauhkan diri mendengar seseorang berdehem. Ternyata Om Gerald yang datang.


"Siang, Om," sapaku saat melihatnya telah masuk ke ruangan entah kapan.


"Siang, Julia. Maafkan aku mengganggu kalian," ucapnya.


"Tidak, tidak. Saya mau ke departemen umum untuk memeriksa sesuatu," pamitku dan langsung ke luar ruangan.


Nafasku tersengal-sengal keluar dari ruangan itu. Malu juga kepergok sedang berduaan dengan Tuan Edward oleh Om Gerald tadi.


Setidaknya aku memberikan ruang untuk papa dan anak itu bercengkrama.


Setibanya di department umum aku menemui Pak Zaki untuk meminta laporan bulan ini.


"Selamat siang, Pak Zaki. Saya akan mengambil laporan bulan ini karena Tuan Edward memintanya," pintaku pada Pak Zaki yang tengah sibuk dengan keyboardnya.


"Baik, akan saya siapkan," jawabnya.


Pak Zaki mulai mencetak laporan yang kuminta. Tak lama kemudian ia menyerahkannya padaku.


"Terimakasih, Pak," ucapku setelah menerima berkas laporan yang diserahkan Pak Zaki.


"Sama-sama. Nona Julia, apakah Tuan Gerald dan Tuan Edward sedang meeting saat ini?" tanyanya seperti sangat khawatir dengan pertemuan kedua bosnya itu.


"Iya mereka sedang berada di ruanga wakil direktur. Apa ada masalah?" tanyaku penasaran dengan ekspresinya.

__ADS_1


"Keadaan di lapangan sedang kacau saat ini. Para buruh mogok bekerja karena sudah enam bulan tunjangan mereka tidak dibayarkan," jelasnya.


"Benarkah itu?" aku tak percaya.


Setauku perusahaan ini tidak kekurangan dana apalagi untuk mensejahterakan pegawainya. Setiap aku mengikuti Tuan Edward bertemu dan bekerja sama dengan klien kebanyakan berjalan dengan lancar. Para investor juga tidak ada yang bermasalah. Tidak mungkin sampai tidak bisa membayar pegawai.


"Bahkan ada yang gajinya hanya dibayar setengahnya saja," lanjut Pak Zaki.


Aku tidak pernah pergi ke lapangan semenjak bekerja di perusahaan ini. Daripada terus penasaran biar aku tanyakan ke bagian keuangan saja.


"Semoga kondisi perusahaan kita cepat membaik sehingga bisa secepatnya membayar para pegawainya. Saya pergi dulu Pak Zaki," pamitku dan Pak Zaki hanya mengangguk.


Ada apa dengan perusahaan Om Gerald? Separah itukah kondisi keungannya sampai tak bisa membayar pegawai sebagaimana mestinya?


Sesampainya di departemen keuangan aku langsung menemui Bu Elena manager keuangan perusahaan.


"Siang, Bu Elena. Saya mau memeriksa laporan keuangan yang terbaru," pintaku.


"Bukankah laporan keuangan selalu saya berikan setiap bulannya? Kenapa meminta lagi?" ucapnya balik bertanya dengan nada judes.


"Saya sudah memeriksanya. Tapi Tuan Edward minta laporan per hari ini. Mohon disiapkan!" biarlah aku memakai nama Tian Edward toh untuk kebaikan perusahaannya juga.


Konon katanya Bu Elena menyukai Tuan Edward. Hanya saja Tuan Edward tidak pernah meliriknya. Setiap ada pertemuan dengan para manager dia selalu tampil berbeda untuk menarik perhatian Tuan Edward. Sayang sekali cintanya tak terbalas. Hiiihii...


Maaf ya Bu Elena, Tuan Edward hanya milikku.


Tak lama Bu Elena menyerahkan laporan yang kuminta. Aku langsung membacanya di saat itu juga. Menurut laporan dari Bu Elena kondisi keuangan perusahaan tidak menunjukan kerugian ataupun kekurangan. Malah laba yang didapat selalu bertambah.


Sepertinya ada yang tidak beres di bagian lapangan atau dari laporan keuangan ini. Aku harus mencari tau. Sebaiknya aku kembali keruangan untuk membicarakan ini dengan Tuan Edward. Semoga saja Om Gerald sudah kembali ke ruangannya.


Kubuka pintu ternyata Om Gerald sudah tidak ada di ruangan. Syukurlah.


"Juulliaaa,,," kudengar suara Tuan Edward lemah memanggilku.


Setelah kucari disemua penjuru ruangan ternyata ada dibelakang mejanya terkulai lemas. Darah di sudut bibir mengenai tangannya. Sepertinya ia menyusut luka di bibirnya dengan tangan.


Dengan cepat aku menghampirinya yang terkulai lemas dan membawanya ke atas pangkuanku.


"Aku akan panggilkan dokter," ucapku khawatir melihat kondisinya.


Ia akan terkulai lemah jika melihat darah. Sebenarnya apa yang terjadi antara dia dan papanya? Tadi sewaktu aku pergi semuanya baik-baik saja.

__ADS_1


"Jaangaann," suaranya parau mencegahku. "Aku tak mau ada yang melihat kelemahanku," lanjutnya.


"Aku bantu kau berdiri dan berbaring di sofa," dengan sekuat tenaga aku membantunya berdiri dan memapahnya sampai ke sofa.


Ia terbaring lemah, aku tak tega melihatnya. Tuan Edward terus memegang tanganku seolah tak ingin aku pergi. Aku memindai wajahnya yang pucat dan tak berdaya itu.


Suara telepon terus berdering, aku beranjak bermaksud akan mengangkat telepon.


"Jangan pergi!" cegahnya.


"Aku akan mengangkat telepon dulu. Kalau tidak mereka akan kesini untuk mencarimu," perlahan ia melepaskan tanganku dan aku segera mengangkat telepon.


"Bilang saja Tuan Edward sedang meeting dan tak bisa diganggu," titahku pada resepsionis yang menelepon memberitaukan bahwa ada yang ingin betemu dengan Tua Edward.


Aku kembali ke sofa tempat Tuan Edward berbaring. Ku bersihkan darah yang ada ditangannya dengan tisu basah yang selalu ada ditas. Lalu mengobati luka di sudut bibir dan menutupnya dengan plester.


Mungkinkah Om Gerald menyalahkan Tuan Edward atas mogoknya pegawai di lapangan?


Banyak pertanyaan yang aku ingin tanyakan. Eh yang akan menjawabnya malah terbaring lemas.


"Jangann bunuh mamaku... Mama bangun maa..." Tuan Edward mengigau suaranya pelan tapi masih bisa kudengar.


"Mamaaaaa..." air matanya menetes. Dapat aku rasakan kesedihan yang mendalam dalam tangisannya.


Mendengar Tuan Edward memanggil mamanya yang telah tiada aku juga jadi merindukan Ibuku.


Ibu, aku merindukanmu. Semoga kau tenang disana.


Kita harus saling menguatkan. Bangunlah!


Kupeluk tubuh kekar yang sedang lemah itu. Aku berusaha untuk menenangkannya karena Tuan Edward terus saja memanggil mamanya.


"Tenanglah, aku disini," ucapku pelan sembari mengeratkan pelukan dan ikut menangis melihatnya sangat bersedih dan tak sadarkan diri.


Kebahagiaan seorang anak adalah mendapatkan kasih sayang lengkap dari orang tuanya. Sedangkan aku dan Tuan Edward sedari kecil tidak mendapatkan kasih sayang lengkap dari ayah dan ibu, mama dan papa, kita.


Seandainya ibuku masih ada, mungkin aku tak akan merasa kesepian jika ditinggal ayah ke kantor.


Seandainya mamanya Tuan Edward masih ada, mungkin ia tak akan mempunyai luka dan trauma seberat ini.


Tetapi, semuanya sudah takdir yang digariskan oleh Tuhan. Tinggal kita harus kuat menerimanya dengan ikhlas. Untuk mendapatkan hikmah dari setiap rencana Nya.

__ADS_1


__ADS_2