
Jam enam pagi aku sudah bangun. Sepatu sudah melekat dikakiku. Aku akan lari pagi disekitar komplek. Aku biasa lari pagi disekitaran komplek jika sedang libur bekerja. Rupanya Ayah juga siap dengan sepedanya akan bersepeda dengan para tetangga yang seusia dengannya.
“Ayah duluan, sayang. Jangan tunggu Ayah pulang. Karena rencananya kita akan mengadakan kemah di alam terbuka,” ucapnya sembari membawa tas dipunggungnya.
“Oke!” seruku sambil melambaikan tangan.
Ayah memang hobi bersepeda dan juga berkemah. Bahkan dulu Ayah bertemu dengan Ibu ketika ada acara kemah antar kampus. Aku selalu tertarik dengan cerita cinta Ayah dan Ibuku.
Aku ingin seperti mereka. Aku terkesan dengan prinsip mereka yaitu cinta pertama adalah cinta terakhir. Itu jugalah alasan Ayah tidak menikah lagi setelah Ibu meninggal.
Udara pagi masih sangat segar, membuatku lebih bersemangat untuk lari pagi. Kakiku bergerak pelan lalu semakin lama semakin cepat mengitari jalanan komplek. Sudah tiga puluh menit berlalu, aku juga sudah mulai lelah. Aku memutuskan untuk pulang karena haus dan lupa tidak membawa minum.
Mbok Siti sedang memasakkan sarapanku di dapur. Aromanya sangat menggoda, apalqgi perutku yang memang sudah minta diisi.
“Mbok masak apa?” tanyaku sambil menyandarkan didepan pintu dapur.
“Omelet sama kentang panggang keju buat Non Julia,” jawabnya.
“Wangi sekali, aku jadi lapar. Mbok, mau aku bantu?” tawarku.
“Tidak usah. Non Julia mandi saja dulu. Ini biar Mbok saja,”
Ah iya benar juga, aku harus mandi. Aku ada janji dengan Tuan Edward. Jam berapa ya Dia menjemputku? Sebenarnya Dia mau mengajakku kemana? Dari pada bertanya-tanya sendiri lebih baik aku hubungi Dia saja.
“Oke deh Mbok. Tolong buatkan dua porsi ya!” pintaku.
Setelah melihat anggukan Mbok Siti aku langsung melangkah ke kamar.
Kuraih ponsel yang masih di atas tempat tidur untuk menghubungi Tuan Edward. Tapi kuurungkan kembali. Masa aku yang menghubungi Dia duluan. Lebih baik aku siapkan baju saja. Baru saja aku akan menaruh ponsel, pesan masuk dari Tuan Edward masuk.
[ Aku dalam perjalanan ke rumahmu ]
Hah. Aku belum mandi. Belum siap-siap. Belum semuanya. Huhu..
[ Siap, Pak Bos ] Terkirim.
Aku langsung lari ke kamar mandi dan langsung mengguyur badanku dengan air. Cepat-cepat disabun langsung dibasuh lagi sampai bersih. Tidak usah keramas. Oh ya obat kumur, biar nanti nafasku harum haha.
Mandi kilat telah selesai.
Baju. Celana jeans, tanktop putih dan kemeja putih. Sneakers putih. Tas juga putih. Sudah itu saja. Sesimple itu. Biar saja yang penting cepat.
Pesan masuk dari Tuan Edward
[ Aku sudah di depan rumahmu ]
Aish, aku belum berias. Dengan cepat aku memoleskan alat makeup di wajahku. Untung saja aku sudah terbiasa dengan makeup secepat kilat. Ya, karena aku suka kesiangan.
[ Tunggu! Aku kebawah sekarang ] Terkirim.
__ADS_1
Rambutku masih terurai. Ah biarkan saja. Nanti aku suruh Dia menunggu di taman belakang saja dulu. Suruh siapa Dia tidak mengabariku jam berapa akan menjemput.
Dengan cepat aku menuruni anak tangga. Setengah berlari menuju depan rumah. Benar saja mobilnya sudah terparkir disana.
Kuketuk kaca mobilnya supaya ia segera keluar. Beberapa kali aku ketuk tapi pemiliknya tidak keluar juga. Aku ketuk kaca sampingnya lagi tidak keluar juga. Akhirnya aku ketuk semua kaca mobilnya.
Apa Dia tertidur didalam karena lama menungguku?
“Tuan! Oh tidak. Edward!” panggilku sambil mengetuk kaca mobilnya.
“Haha,,” ada orang tertawa dibelakangku.
Orang yang aku cari sedang menertawakanku. Malunya!!! Pipiku pasti kayak kepiting yang direbus dengan suhu delapan puluh derajat.
Tunggu! Kenapa Tuan Edward tampan sekali kalau lagi tertawa. Rahangnya yang tegas memang membuatnya semakin tampan. Rambutnya ia sisir kesamping tapi masih terlihat sedikit berantakan. Jakunnya yang naik turun karena tertawa. Mimik mukanya terlihat sangat bahagia tiada kebohongan.
Apa? Celana jeans, kaos putih dibalut lagi dengan kemeja putih, sepatu putih juga. Kok sama?
Sejenak kami saling memandang. Lalu kami tertawa bersama melihat apa yang kami pakai ternyata sama.
“Kamu pasti meniru pakaianku,” tuduhnya.
“Saya tidak kepikiran Anda akan memakai itu juga,” belaku.
“Mungkin kita sehati,”
“Terserahlah. Ayok kita masuk. Apa Anda sudah sarapan?”Dia menggelengkan kepala. “Kita sarapan dulu,” ajakku.
Ia menatapku dengan senyuman yang tak dapat ku artikan. Lalu tangannya bergerak ke atas kepalaku. Pasti dia mangacak rambutku. Aku malah lupa belum sisir rambut.
Tapi, oh tidak. Dia melepaskan rolan rambut yang masih terpasang dirambutku.
“Kau mau pergi dengan ini?” ucapnya menunjukan rolan rambut yang baru saja dilepasnya dari atas rambutku.
“Hee. Semuanya serba mendadak jadi aku sangat terburu-buru. Bisakah Anda menungguku sebentar lagi. Aku akan mengambil tas dan sedikit merapikan rambutku,” pintaku sembari mengambil rolan rambut yang masih dipegang Tuan Edward.
“Ya, aku bisa menunggumu selama yang kau mau,”
“Baiklah, aku tak akan lama,” aku langsung berjalan cepat menuju kamar.
Kusisir rapi rambutku dan membiarkannya tergerai. Kuambil tas dan langsung meninggalkan kamar takut Tuan Edward menunggu terlalu lama.
Kulihat jam sudah hampir jam Sembilan pagi. Tuan Edward fokus menyetir disebelahku. Pertanyaan Dia akan membawaku kemana belum terjawab. Tapi sepertinya Dia akan membawaku keluar kota karena sekarang sudah masuk ke jalan tol.
Kalau sampai menginap aku tidak membawa baju ganti. Ah kenapa Dia tidak bilang kalau mau sejauh ini. Aku kira mau jalan-jalan ke mall dan nonton bioskop.
“Apa kita akan ke luar kota?” tanyaku lagi memastikan.
“Hmm, sepertinya iya,” jawabnya masih dengan rahasia mau membawaku kemana.
__ADS_1
“Kemana?”
“Nanti kau akan tau,”
“Tapi saya tidak menyiapkan bepergian sejauh itu,”
“Tidak usah terlalu formal jika kita sedang berdua. Bilang saja aku atau kamu atau apapun itu yang biasa kamu bicara dengan teman-temanmu,” pintanya sambil memandang lurus kedepan.
“Baik,”
“Kamu tidak usah khawatir. Aku sudah menyiapkan semuanya,”
“Maksudnya, menyiapkan apa?”
“Menyiapkan bepergian jauh,”
Ah semakin membuatku pusing. Lebih baik aku tidak bertanya lagi. Kalau Dia berani macam-macam denganku awas saja. Aku sudah meminta Raya untuk melacak GPS ku.
Lagu Afgan yang berjudul Terima Kasih Cinta membuatku perlahan memejamkan mata. Perjalanan jauh membuatku sangat mengantuk.
Tuan Edward menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah besar. Rumah bergaya klasik ketimuran. Ada dua pilar di pintu masuk utama.
Berjejer empat mobil mewah di parkiran sebelah kanan rumah. Sedangkan sebelah kiri ada taman dengan sebuah ayunan dari besi bercat putih yang masih terawat, di dekatnya ada satu set kursi dan meja bundar.
Rumah siapa ini? Alamat rumah Tuan Edward setauku tidak sejauh ini.
“Apa kau sudah siap?” tanyanya.
“Siap untuk apa?”
“Siap menjadi istriku,”
“ISTRI??”
Epilog :
Jam lima pagi Edward sudah bangun. Ia sangat senang karena rencananya membawa Julia ke vila keluarga berjalan dengan mudah. Dia sudah tidak sabar untuk menjemput Julia.
Edward bercermin meneliti wajahnya yang sudah mulai tumbuh bulu halus di sekitar rahang dan bibir atasnya.
Segera ia ke kamar mandi untuk bercukur dan membersihkan diri. Setelahnya ia langsung membuka lemarinya.
Beberapa baju sudah ia pakai dan selalu saja tidak cocok. Hingga yang terakhir ia kenakan kaos oblong putih, kemeja dan celana jeans. Hanya itu yang tersisa dan ia pasrah menggunakan baju yang tersisa.
Setelah berkutat dengan penampilannya selama dua jam ia sudah siap menjemput pujaan hatinya. Namun baru saja ia keluar dari kamarnya Gerald menahannya.
"Jangan sampai hatimu luluh oleh wanita itu," ujar Gerald mengingatkan anaknya.
"Kita akan menyusulmu nanti," tambah ibu tirinya.
__ADS_1
Edward menghela napas mendengar perintah papa dan ibu tirinya.