Jodohku, Suami Idaman (Julia & Edward)

Jodohku, Suami Idaman (Julia & Edward)
Bertemu Devan


__ADS_3

POV JULIA lagi yaaaa.....


Ciuman yang semalam saja belum hilang rasanya sudah dapat kecupan lagi. Semakin jantungku berdegup tak karuan. Kuraba lagi bibir ini sambil mengulas senyum bahagia.


"Hai, sepertinya kau sekretaris baru," suara seseorang membuyarkan lamunan ciuman pertamaku.


Siapa wanita ini? Sepertinya aku pernah melihatnya.


"Iya, Bu. Ada yang bisa saya bantu?" jawabku ramah.


Wanita memakai sepatu berhak tinggi, memakai kemeja oversize dan celana pendek seperti tak memakai bawahan lagi karena kemejanya panjang sepaha itu berdiri tegap dihadapanku.


Rambutnya pendek sebahu. Kacamatanya ia jadikan bando di atas kepala. Makeupnya on point dari alis, bulu mata, eye shadow, maskara, dan blushon lengkap. Wanita yang cantik menurutku. Tapi masih cantikan aku tentunya.


Ia melihat sekeliling seperti mencari sesuatu. Pertanyaanku tak ia indahkan, lebih tepatnya ia mengabaikanku.


"Bu, Ada yang bisa saya bantu?" tanyaku lagi karena belum menerima jawaban darinya.


Seingatku Tuan Edward tak ada janji temu dengan klien wanita hari ini. Lalu siapa Dia?


"Bu? Atas dasar apa kau memanggilku Ibu?" sarkasnya jutek padaku.


"Maaf," ucapku merasa bersalah.


"Panggil aku, Nona. Aku belum ibu-ibu," ucapnya sambil membenarkan poni kesamping telinga.


Hadeuh.... Sabar Julia sabar...


"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" ucapku lagi dengan lembut.


"Bosmu kemana?" tanyanya jutek.


"Tuan Edward, sedang berada di ruangan direktur. Ada kep..."


"Buatkan aku teh hijau tanpa gula," perintahnya memotong pembicaraanku lalu berjalan ke sofa dan duduk disana. "Sekarang ya! Aku haus sekali," perintahnya lagi.


Huh. Kasar sekali dia. Siapa sih? Kalau sampai Tuan Edward sampai tau kau sekasar itu padaku Dia tak akan ingin bekerja sama denganmu. Akan kupastikan itu.


"Kok malah bengong. Cepattt!!" teriaknya tak sabaran.


"Baik, Nona," aku langsung pergi ke pantry.

__ADS_1


Uuhhh menyebalkan sekali wanita itu. Aku menghentakkan kakiku kesal dengan perlakuannya. Sampai di pantry ternyata teh hijaunya habis terpaksa aku turun ke bawah untuk mengambilnya di pantry lantai satu.


Aku membuatkannya minuman dengan perasaan kesal. Bagaimana tidak, sikapnya sangat kasar.


Tunggu! Bukankah wanita itu. Wanita yang ada di foto bersama Tuan Edward. Dia mantan kekasihnya calon suamiku. Buat apa dia datang kesini? Minta balikan? Oh tidak semudah itu nona.


Aku harus cepat. Aku tak akan membiarkan wanita itu merebit calon suamiku.


Dengan membawa secangkir teh hijau dengan sangat tergesa aku berjalan kembali. Namun, kuhentikan langkah saat ku mendengar suara Tuan Edward. Rupanya dia sudah kembali.


"Pergi dan jangan kembali lagi! Aku akan segera menikah dengan gadis pilihanku," ada rasa bahagia mendengar Tuan Edward mengusirnya dan mengatakan akan menikah.


Aku senang mendengarnya berkata demikian. Seketika membuatku terbang tinggi melayang di awan.


Tetapi sesaat kemudian aku mendengar pernyataan yang membuatku hancur seketika. Gelas yang aku bawa jatuh begitu saja dari tanganku.


"Aku hamil. Aku mengandung anakmu, Edward," gelegar, bagai petir menyambar di siang hari.


Pernyataan wanita itu seperti menusuk relung hati. Kini rasa sakit tak berdarah yang sering orang katakan terjadi padaku. Tubuhku bergetar ada rasa nyeri di dada menjalar menyekat kerongkonganku sampai tak mampu berbicara. Berlanjut perlahan membuat embun di sekitar mata dan mencair menjadi bulir-bulir air mata.


Gelas yang terjatuh pecah begitu saja seperti hatiku yang kini hancur. Aku tak tau harus bagaimana.


Pun dengan wanita itu sama terkejutnya melihatku dengan tatapan yang tak dapat kuartikan.


"Maaf. Silakan diteruskan," Aku tak kuasa menahan.


Aku lari ke lantai paling atas. Aku menangis sejadi-jadinya di rooftop gedung ini. Setidaknya tak akan ada yang mendengarku disini.


Tuhan, kenapa kisah cintaku tak seindah dalam drama korea. Aku tidak minta leeminho, leejongsuk ataupun leejoongi. Aku hanya ingin cinta manusia biasa yang nyata.


Cinta pertamaku pada Devan berakhir tragis karena aku tak berani menyatakan cintaku padanya. Akhirnya Devan menikah dengan orang lain.


Sekarang apakah aku harus mengalah untuk cintaku pada Tuan Edward? Aku sudah terlanjur mencintainya. Bahkan aku sangat bahagia akan menikah dengannya. Tapi kenapa wanita itu harus muncul dengan janin dalam perutnya?


Aku tak akan mungkin egois memisahkan mereka yang akan mempunyai buah hati. Aku tak akan tega wanita itu melahirkan tanpa suami. Dan bayi itu lahir tanpa ayah.


Tapi aku mencintai Tuan Edward. Walau aku belum mengatakan bahwa aku mencintainya.


Aku terus menangis meluapkan kesakitan dan kesedihanku. Sampai aku merasa aku harus pergi dari gedung ini. Aku harus pergi dari sini sebelum Tuan Edward menemukanku.


Lebih baik aku tak bertemu dulu dengannya. Aku ingin menenangkan diri setelah itu aku akan meminta penjelasannya dan mendengar keputusannya. Aku akan terima apapun itu walau menyakitkan.

__ADS_1


Aku turun melewati lantai demi lantai menggunakan lift. Sampai di lobi aku teringat tas dan ponselku masih di ruangan. Beberapa menit aku sempat dilema harus kembali ke ruangan atau tidak. Karena aku belum mau bertemu dengan Tuan Edward dan aku malas bertemu dengan wanita itu.


Namun, saat aku berbalik Tuan Edward menggendong wanita itu dengan wajah cemas. Beberapa orang membantunya memasukkan wanita itu ke dalam mobil. Lalu pergi danperlahan menghilang memasuki jalan raya.


Sejenak aku hanya terpaku melihat pemandangan yang tak terduga. Hatiku semakin teriris. Aku sudah tak perduli lagi dengan tas dan ponsel yang tertinggal.


Aku pergi keluar, berjalan menyusuri jalan karena tak ada uang ataupun tujuan. Hidupku rasanya sudah tak berarti lagi. Kecewa, marah, sedih semua menjadi satu.


Air mata terus mengalir menganak sungai. Kakiku terus berjalan menyusuri jalan dan entah akan kemana. Tubuhku sudah mulai lemas karena sudah lelah berjalan.


Tanganku seperti ada yang menarik membuatku berbalik berhadapan dengan yang menarik lenganku.


"Devan," gumamku.


"Nona Julia," panggilnya terkejut melihat keadaanku yang seperti orang linglung ditengah jalan. "Ayok, Nona, kita masuk mobil!" Devan merangkulku lalu membantuku masuk ke dalam mobilnya.


Devan pun masuk ke dalam mobil kemudian melajukan mobilnya. Aku melihat kekhawatiran diwajahnya. Pastinya dia mengkhawatirkan aku karena aku anak majikannya.


Devan mengambil ponsel yang berada di balik saku jas yang dikenakannya.


"Tidak, Devan. Jangan beritau Ayah!" cegahku.


"Kenapa, Nona? Tuan harus tau Nona sedang tidak baik-baik saja seperti ini," bujuknya.


"Tidak. Aku tidak mau membuatnya khawatir," balasku.


Devan menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku. "Baiklah, jika itu yang Nona inginkan," ucapnya patuh.


"Devan, aku tak mau pulang. Aku ingin menenangkan diri di tempat yang orang lain tidak tau keberadaanku," pintaku.


"Anda mau saya antarkan ke Vila keluarga?"


Aku menggeleng karena akupun bingung mau kemana tujuanku.


"Ke hotel?"


Aku menggeleng lagi.


Devan memelankan laju mobilnya kemudian berhenti di depan sebuah mini market.


Devan menghela nafas. Ia memperhatikanku dengan seksama. Tangannya mengusap sisa-sisa air mata di pipiku. Ia tampak bersedih melihat keadaanku.

__ADS_1


__ADS_2