
Esoknya.
Kuregangkan tangan untuk mengumpulkan segenap kesadaran dari alam mimpi. Hoaammm... Aku masih mengantuk. Alarm masih terus berbunyi. Akhirnya aku matikan setelah rabaanku mendapatkan ponsel yang kucari.
Entah jam berapa aku bisa tidur semalam. Sentuhan itu. Masih terus berputar dalam kepalaku. Hangat bibirnya menyentuh bibirku masih terasa.
Bagaimana aku harus bertemu dengannya hari ini?
Bibir ini sudah tak virgin lagi.
Menikahnya masih dua bulan lagi. Rasanya sudah tak sabar ingin terus bersamanya.
Wajahnya mendekat terus mendekat dan oohhh segumpal daging lembut itu kurasakan penuh cinta tak hanya menyentuh bibirku tapi menyentuh kalbu.
Seluruh badanku bergetar. Debaran dalam dada tak dapat ku tahan. Tubuhku seakan terkena sengatan listrik yang membawaku melayang.
Aahhh aku ingin lagi.
Tidak. Tidak. Sadar Julia kau belum menikah dan harus bekerja hari ini.
Aku beranjak dari kasur dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Lagi, saat aku bercermin bayangan semalam Tuan Edward menciumku berputar terus menerus.
Aku menepuk-nepuk pipi agar segera sadar. Sikat gigi kusambar dan oh tidak aku salah mengambil pasta gigi tapi malah pembersih wajah yang kuambil. Hasilnya aku muntahkan busa pembersih wajah yang sudah masuk kedalam mulutku.
Ciuman pertama semalam membuatku tidak fokus. Terus berputar dengan jelas di kepalaku. Bahkan rasanya saja masih menempel di bibirku.
Tak hanya pasta gigi yang salah aku gunakan. Sekarang aku menggunakan sabun mandi untuk keramas dan sampo untuk mandi.
"Aaahhhhh aku salah lagi....." jadi kesal sendiri.
Sudah satu jam lebih aku bersiap dan aku masih di depan lemari bungung mau pakai baju yang mana. Dari satu, dua, tiga dan beberapa lemari kecil tak ada baju yang cocok untuk hari ini. Pasti aku kesiangan. Untung saja aku sudah dadan dulu tadi.
Dering ponsel berbunyi nyaring. Kulihat layar ponsel Tuan Edward memanggil. Senyumku mengembang melihat siapa yang menelepon pagi ini.
"Ya, halo!" jawabku
"Sebentar lagi aku sampai rumahmu,"
Aduh aku belum dibaju.
"hati-hati," lalu kututup telepon.
Dengan kecepatan cahaya aku langsung menyambar baju yang ada di depanku. Tak penting baju warna apa atau model apa yang pasti cocok untuk pergi ke kantor. Kemudian aku sisir rambuy ekstra cepat dan segera keluar dari kamar.
"Pagi, Ayah," seperti biasa Ayah sudah duduk di meja makan saat aku turun dari kamar.
"Pagi, Sayang," balasnya. "Lain kali Ayah tidak akan mengijinkanmu untuk pulang lebih dari jam sembilan malam. Ayah akan kasi tau Edward untuk mengantarmu pulang kurang dari jam sembilan," omelnya.
"Maaf, Yah. Kemarin Edward sakit jadi aku menemaninya dulu sampai dia lebih baik. Edward sempat tak sadarkan diri di kantor kemarin siang," jelasku.
__ADS_1
"Apapun alasannya, usahakan pulang kurang dari jam sembilan malam. Kecuali kau sudah menikah," omelnya lagi seperti belum puas menceramahi anaknya.
"Baik, Ayah," ya memang kemarin salahku juga tidak mengabari Ayah.
Kenapa Tuan Edward belum datang juga ya? Tadi katanya sebentar lagi sampai. Aku lanjutkan sarapan saja.
Ketika aku dan Ayah sedang menikmati sarapan Devan baru saja datang.
"Pagi, Tuan dan Nona!" sapanya. "Tuan Edward baru saja datang," lanjutnya.
"Ajak Edward sarapan bersama!" titah Ayah.
"Iya, Yah. Aku menemuinya dulu," sarapan yang belum aku habiskan aku tinggalkan untuk menemui calon suamiku yang baru datang itu.
"Devan, selesaikan berkas-berkas untuk meeting siang ini di meja kerjaku," terdengar Ayah memberikan perintah pada Devan.
"Baik, Tuan," jawab Devan lalu disusul langkah kaki mengikutiku dibelakang kemudian belok ke arah lain.
Tuan Edward baru saja keluar dari mobil lalu melambaikan tangannya saat melihatku.
"Kita sarapan dulu. Ayah menunggumu di meja makan," ajakku.
"Pasti karena semalam," tebaknya.
Aku tersenyum mengiyakan tebakannya.
"Pagi, Om!" sapa Tuan Edward pada Ayah.
"Iya, Om,"
Aku mengambilkan roti isi selai kacang dan menuangkan susu untuknya.
"Terimakasih," ucapnya sambil tersenyum.
"Bagaimana persiapan pernikahan kalian?" tanya Ayah dengan santai.
Terhitung dua bulan lagi aku akan menikah. Karena persiapan pernikahan dibantu oleh Wedding Organizer dan konsep pernikahan sudah diserahkan. Tinggal menunggu hari pernikahan.
"Sudah delapan puluh persen, Om," jawab Tuan Edward.
"Berikan aku waktu lebih banyak bersama Julia sebelum kau membawanya," pinta Ayah.
Kudengar ada nada kesedihan di dalam setiap kata yang ia ucapkan.
Ayah, aku tak bermaksud akan meninggalkanmu.
"Setelah menikahpun aku akan sering membawa Julia untuk bertemu dengan Om, Ayahnya. Om Beny tak perlu khawatir," jelas Tuan Edward seperti memberi harapan dan menenangkan Ayah yang terlihat sedih.
"Om harap kamu bisa menjaga Julia dengan baik. Perlakukan dia dengan baik juga. Jika kamu sudah tak mencintainya kembalikan dia padaku. Jangan menyakitinya atau sampai mengasarinya. Kalau itu terjadi aku tak akan membuat kalian bertemu lagi," nasihat tapi terdengar seperti ancaman di telingaku.
__ADS_1
Mungkin itu sebagai perasaan cinta Ayah untukku. Ia ingin aku bahagia dan tak ingin tersakiti. Ayah ingin aku seperti Ibu yang Ayah sayangi dan cintai sampai sekarang.
Aku langsung memeluk Ayah. Tak ada jaga image, tak ada rasa malu dilihat Tuan Edward. Aku hanya ingin memeluk Ayah yang begitu menyayangiku.
"Terimakasih, Ayah. Karena telah membesarkanku dan menyayangiki selama ini," Ayah menepuk-nepuk lenganku dan mengusap kepalaku.
"Kau lihat? Dia masih tetap manja padaku padahal sebentar lagi akan menikah denganmu. Kuharap kau menerima segala kekuarangannya," ucap Ayah lagi membuatku semakin terharu.
"Itu sudah pasti, Om," balas Tuan Edward.
Setelah acara keharuan selesai. Aku dan Tuan Edward pamit. Hari sudah siang. Kami sampai di kantor sekitar jam sembilan. Suasana kantor sepertinya sudah mulai sibuk dengan berbagai macam kegiatan pegawainya.
"Julia, aku harus ke lapangan. Kau bisa mengurus pekerjaanku di kantor saja. Jika ada masalah langsung hubungi aku!" titahnya.
Aku mengerti Tuan Edward tak akan mengajakku ke lapangan karena situasi di sana sedang tidak kondusif. Tapi itulah yang aku khawatirkan.
"Kenapa?" tanyanya melihat ekspresi kecemasan di wajahku.
"Tidak apa apa. Masih ada waktu untuk mengganti plester itu kan?" kutunjuk plester yang masih menempel di sudut bibirnya.
Hah. Aku jadi teringat semalam ketika aku menanyakan itu dia langsung menciumku.
"Ah tidak usah diganti. Itu masih bagus kok,"
Ia memajukan wajahnya ke arahku.
"Aku ingin ganti plester dulu," pintanya manja.
Aku tertawa kecil melihat tingkahnya. Kuambil plester baru dari dalam saku kemudian membuka plester yang lama dan menggantinya. Selesai.
Tuan Edward mengecup keningku kemudian.
"Terimakasih, Sayang. Tak usah khawatir, aku akan baik-baik saja,"
Tak puas mengecup keningku ia lalu mengecup bibirku dan pergi menghilang dibalik pintu.
Yang semalam saja belum bisa aku lupakan sekarang ditambah lagi.... Huhuhu....
Epilog :
BM grup (perusahaan keluarga Julia)
"Tuan, tampaknya sedang ada masalah di G&G grup," lapor Deavan.
"Masalah seperti apa?" tanya Beny.
"Ada demo besar dari karyawannya yang tidak mendapatkan upah," lapor Devan lagi.
"Apakah separah itu? Selidiki masalahnya dan seberapa besar kerugiannya," titah Beny.
__ADS_1
"Apa Tuan tidak mencurigai sesuatu? Kejadian ini seperti disengajakan. Karena selama ini saya lihat G&G grup tidak pernah ada masalah keuangan," jelas Devan.
"Maksudmu?"