
Matahari bersinar begitu indahnya. Memancarkan cahaya kehidupan bagi setiap umat di muka bumi. Pagi ini aku sudah mengenakan pakaian khas orang yang akan wawancara yaitu kemeja putih dan rok hitam selutut. Tak lupa kupakai heels lima senti untuk menambah percaya diriku.
Ayah sudah menungguku di meja makan. Sebagai sebuah tradisi bahwa sarapan kami harus selalu bersama. Mbok Siti sudah memasakkan nasi goreng dan telor ceplok kesukaanku. Tak lupa sudah tersedia teh manis di sana.
Terimakasih Mbok Siti untuk hidangan sederhana namun selalu menjadi favoritku ini.
“Julia, malam Om Gerald dan anaknya kesini untuk menemuimu. Kenapa kamu tidak mau menemui mereka?” Baru saja aku duduk Ayah sudah membahas tentang perjodohan dengan anak temannya.
“Ayah, aku belum siap untuk betemu dengannya. Setidaknya aku harus mempunyai pekerjaan biar nanti tidak disangka numpang hidup sama Ayah,” timpalku.
“Bertemu dan berkenalanlah saja dulu. Cocok atau tidak cocok itu urusan nanti. Sepenuhnya kalau kamu tidak cocok dengan Dia Ayah tidak akan memaksa,” ucapnya lagi.
“Iya, nanti kalau aku sudah siap bertemu dengannya, aku akan memberitahu Ayah,” jawabku.
Disela-sela perbincangan ayah dan anak gadisnya, tiba-tiba Devan datang. Karena memang Dia selalu datang pagi sekali untuk menyiapkan segala keperluan Ayah. Dia tersenyum ramah seperti biasanya dan menyapa kami.
“Selamat pagi Tuan dan Nona!” sapanya sembari tersenyum menggambarkan bibir yang melengkung dan lesung pipit di kedua pipinya.
“Pagi,” balasku singkat.
Jangan tersenyum begitu padaku. Aku takut jadi pelakor. Ah sudahlah lupakan Dia yang sudah jadi milik orang lain.
“Van, ayok sarapan bersama!” ajak Ayah lalu menarik Devan duduk disebelahnya.
“Silahkan dinikmati sarapannya, Tuan. Maaf saya sudah sarapan,” tolaknya halus.
Yaiyalah ya Dia pasti sudah sarapan kan sudah punya istri yang menyediakan sarapan untuknya. Aku jadi sensitif kalau sudah membicarakan Dia.
“Bagus kalau begitu. Sudah menikah memang seharusnya selalu makan di rumah. Jangan kecewakan istrimu yang sudah memasakan makanan untukmu,”
Ah Ayah membuatku semakin ingin cepat pergi dari sini.
“Iya, Tuan,” Devan tetap berada dibelakang sebelah kanan Ayah.
Ku teguk teh manis yang ada didepanku sampai tak bersisa. Dan beranjak membawa piring kotor menyimpannya ke wastafel.
“Aku pergi dulu, Yah,” pamitku sembari mencium tangan Ayah.
“Semoga berhasil, Nak,”
“Aamiin,”
__ADS_1
“Hati-hati di jalan, Nona,” kulirik pemilik suara itu dan mengangguk.
Yang kumau hatimu Devan, hiks.
Jalanan sudah mulai padat dengan kendaraan. Hingar bingar suara deru mesin berlomba mengisi perjalanan. Semoga saja aku tidak terlambat.
Semua berpacu dengan waktu menuju tujuan. Sekolah, bekerja, ke pasar, mereka nampak bersemangat.
G&G Group. Gedung tinggi sepuluh lantai ini tempat yang baru untukku bekerja. Aku sangat yakin akan diterima di perusahaan ini.
Kuparkir mobil di basement dan segera menuju lift. Receptionist cantik berpakaian nuansa abu dan hitam dengan rambut yang ditata rapi dan riasan yang agak sedikit tebal menyambutku ramah saat sampai di lobi.
“Selamat pagi, ada yang bisa kami bantu?” ucapnya ramah.
“Saya Julia Marsha. Akan wawancara kerja dengan Bapak Ardian,” jelasku.
“Baik, silahkan menunggu di ruang tunggu sebelah kanan. Nanti akan kami panggil jika sudah waktunya,” jelasnya sembari menunjukkan ruang tunggu yang disebutkan.
“Terimakasih.” Kulihat jam tangan sudah jam tujuh lewat lima puluh menit. Aku tinggal menunggu sepuluh menit lagi.
Tak berapa lama seseorang baru saja datang. Semua orang yang berpapasan dengannya membungkuk dan memberi salam padanya. Pria itu membalas semua orang itu dengan sopan dan ramah.
Aku tertegun melihat semua orang sangat menghormatinya. Dia tetap ramah kepada bawahannya dan itu menjadikannya lebih berwibawa.
Aku menoleh kearah suara itu. Seorang pria berpenampilan rapi tengah duduk menatap ke jendela kaca yang berada disampingnya. Sepertinya Dia akan wawancara juga sama sepertiku.
Setelah puas menatap keluar melalui jendela kaca dia mengalihkan pandangannya padaku.
“Apa Anda akan wawancara kerja?” tanyanya.
“Iya. Apa Anda juga sama?” jawabku tanya balik.
“Aaku?” Dia menunjuk ujung hidungnya dengan jari telunjuk.
Aku mengangguk mengiyakan. “Tidak. Aku ada sedikit urusan disini,” jawabnya.
“Nona Julia Marsha!” Panggil receptionis yang tadi memintaku menunggu.
“Iya.”
“Mari ikut saya!” perintahnya lagi.
__ADS_1
Aku segera berdiri dan hanya menganggukkan kepala dan tersenyum singkat pada pria yang baru saja berbicara denganku. Dia membalas dengan tindakan yang sama.
Aku diantarkan ke sebuah ruangan seperti ruang rapat kecil dan diperintahkan untuk mengisi beberapa psikotes untuk persyaratan wawancara. Ternyata hari ini hanya ada aku saja yang akan wawancara di perusahaan ini. Baguslah, setidaknya aku tidak punya saingan untuk bekerja disini.
Setelah selesai mengisi soal psikotes dan menunggu sekitar sepuluh menit, seorang pria datang dan memperkenalkan dirinya sebagai Manager HRD di perusahaan ini yaitu Pak Ardian. Ia langsung menanyakan beberapa pertanyaan dasar yang biasa dipertanyakan di sesi wawancara.
Aku dapat menjawabnya tanpa ragu dan aku sangat yakin bisa diterima bekerja di perusahaan ini.
“Baiklah, Nona Julia. Selamat Anda diterima bekerja dan bisa langsung bekerja di perusahaan kami hari ini juga,” terangnya yang membuatku bersorak dalam hati.
Ternyata secepat ini aku bisa bekerja disini.
“Anda akan bekerja sebagai Sekretaris sekaligus asisten pribadi wakil direktur. Mari saya antar ke tempat kerja Anda sekalian saya akan memperkenalkan Anda kepada wakil direktur atasan Anda,” sambungnya lagi.
Aku mengikuti Pak Ardian memasuki lift menuju lantai teratas gedung ini yaitu ke ruangan wakil direktur yang dimaksud. Apakah aku bisa menjadi seorang asisten wakil direktur?
Dari pengalaman kerjaku sebelumnya, aku menjabat sebagai manager pemasaran. Sungguh sangat jauh sekali dengan pekerjaanku kali ini.
Semoga saja bosku kali ini orang yang baik, tidak sombong, rajin menabung, yang pasti tetap berwibawa seperti pria yang tadi aku lihat di lobi si empunya perusahaan ini.
Pintu lift terbuka dengan jantung yang berdebar kencang aku harus siap bertemu dengan bosku yang baru. Tanganku terasa dingin dan berkeringat jika sedang grogi. Pak Ardian membukakan sebuah pintu yang diatasnya bertuliskan ruangan wakil direktur. Berarti ini ruangannya.
Sebuah meja membentuk huruf L dengan sebuah layar monitor diatasnya yang pertama kulihat saat pintu terbuka. Ah sepertinya itu akan menjadi mejaku nanti. Beberapa langkah ke depan sebuah meja yang lumayan besar beserta satu set sofa didepannya dan seseorang tengah duduk membelakangi kami disana.
Edward Anggara. Sebuah nama tertulis dengan ukiran klasik diatas meja kebesaran wakil direktur. Dari Namanya saja sudah pasti Dia adalah anak dari pemilik perusahaan ini.
“Tuan, saya akan memperkenalkan sekretaris baru Anda,” suara Pak Ardian memecah kesunyian.
Kursi itu memutar perlahan menghadap kearah suara yang baru saja terdengar. Mataku membulat refleks menutup mulutku yang akan menganga melihat siapa yang ada dibalik kursi iru.
Bukankah Dia pria yang tadi pagi berbicara denganku di ruang tunggu?
Epilog :
Edward memanggil manager HRD-nya ke ruangan. Ia menyerahkan sebuah map pada bawahannya itu.
"Wawancara dia sesuai prosedur. Setelah itu terima dia sebagai asistenku," titahnya dan si manager pun mengangguk patuh lalu keluar dari ruangan Edward.
Edward tersenyum sambil membayangkan wanita yanh ditemuinya dilobi. Namun, senyuman itu tergoyahkan dengan suara ponsel yang berdering.
"Lakukan sesuai rencana kita!" suara dari seseorang di sebrang telepon yang tak lain adalah Gerald papanya.
__ADS_1
Edward menarik nafas panjang setelah menutup panggilan papanya.