Jodohku, Suami Idaman (Julia & Edward)

Jodohku, Suami Idaman (Julia & Edward)
Ciuman Pertama


__ADS_3

"Julia,"


Suara serak Tuan Edward terdengar. Rupanya ia sudah sadar. Aku membantunya untuk duduk.


Aku menyodorkan segelas air putih untuknya.


"Aargh," rintihnya kesakitan membuka mulutnya.


"Pelan-pelan," ucapku.


Aku belum berani menanyakan penyebab kenapa ia bisa seperti itu. Nanti saja kutunggu ia menceritakannya saja.


"Apa kau sudah lebih baik?" dijawab anggukan olehnya.


"Kamu belum makan dari siang. Aku pesankan makanan,"


"Tidak usah, kita pulang saja," tolaknya.


"Baiklah. Aku bantu kau berdiri," Aku membantunya berdiri dan syukurlah Tuan Edward sudah kuat berdiri.


Aku berjalan menggandengnya tak lupa aku membawa tasku di meja. Suasana kantor sudah sepi karena hari sudah sore menjelang malam. Jarum jam sudah menunjukkan jam enam sore lebih.


Cukup lama juga Tuan Edward tak sadarkan diri. Melihatnya terkulai lemah membuatku merasa kasihan dengan keadaannya.


Kami sudah sampai di parkiran. Kali ini aku yang memaksa menyetir dan akan mengantarkannya pulang. Namun, saat di tengah perjalanan ia menolak untuk pulang ke rumahnya.


"Aku sedang tak ingin pulang ke rumah. Antarkan aku ke Apartemen City saja," pintanya.


"Oke!"


Kubelokkan mobil ke arah Apartemen City. Aku mengerti. Mungkin karena perselisihan dengan papanya ia jadi tak ingin pulang ke rumah untuk menenangkan diri.


Sesampainya di apartemen.


"Aku langsung pulang ya," pamitku.


"Kau tidak akan mengantarkan aku sampai ke dalam? Aku masih lemas untuk berjalan jauh," rengeknya.


"Tadi kau sudah bisa berjalan dari ruangan ke parkiran kantor," balasku.


Ia malah memegang erat tanganku seperti seorang anak yang tak ingin ditinggal ibunya. Yaa, baiklah aku mengalah saja. Lagi pula ia masih terlihat sangat pucat.

__ADS_1


"Baik, Tuan. Aku akan mengantarmu sampai ke dalam,"


"Tuan lagi," rutuknya sambil manyun dua senti. Haa lucunya.


"Lepaskan tanganku! Kita tak bisa keluar dari mobil kalau terus begini," spontan dia melepaskan genggamannya lalu aku keluar dari mobil dan disusulnya.


Setelah masuk lift ia menekan tombol bertuliskan angka dua puluh. Tak lama lift pun mengantarkan kami ke lantai yang dituju.


Jujur, ada rasa takut mengantarnya sampai ke dalam. Saat ini kami belum resmi menikah. Bagaimana kalau terjadi hal yang tak diinginkan?


Jantungku berdebar saat pintu apartemennya dibuka. Tanganku sudah dingin dan mulai berkeringat.


Setelah masuk aku memilih duduk di sofa yang berhadapan dengan televisi besar di tengah ruangan.


"Sayang, mau minum apa?"


"Air putih saja,"


Ia berjalan ke ruangan samping yang sepertinya dapur dan tempat makan lalu terdengar suara air yang dituangkan. Ia pun kembali lagi ke tempatku duduk.


"Terimakasih," ku raih gelas yang ia bawa.


Aku jadi ingat kalau Tuan Edward belum makan siang.


"Apa kau punya bahan makanan di lemari pendingin?"


"Ada beberapa,"


"Kalau begitu aku akan siapkan makanan untukmu. Sementara itu kamu mandi karena kamu sudah bau keringat,"


Ia mendekatkan diri padaku. Dada bidangnya terus maju sampai menyentuh wajahku yang sudah kusam ini.


"Bukankah kau suka dengan bau tubuhku? Kau malah tidur nyenyak bukan?" ucapnya menggodaku sambil terus memajukan dadanya ke arahku.


"Iiihhh. Sana mandi!" aku mendorongnya menjauh.


"Haha. Oke, Sayang!" ia mengecup keningku lalu pergi ke kamarnya.


Aku langsung membuka kulkas dan ternyata ada beberapa bahan makanan yang bisa aku masak. Sepertinya ia sering berada di apartemen dilihat dari bahan makanan yang lumayan banyak.


Aku keluarkan bahan makanan yang akan aku masak dari kulkas lalu satu persatu aku cuci dan memasaknya.

__ADS_1


Walau di rumah aku selalu di masakkan oleh Mbok Siti tapi dari kecil aku selalu melihat Mbok Siti masak. Aku jadi belajar masak sama Mbok Siti. Ia mengajarkanku berbagai jenis olahan makanan. Kadang aku juga membantunya menyiapkan makanan untuk Ayah.


Semenjak ditinggal Ibu aku diasuh oleh Mbok Siti. Bagiku ia adalah sosok seorang ibu. Walaupun aku bukan anaknya tapi ia menyayangiku seperti anaknya sendiri. Ia mengajariku banyak hal.


Tiga puluh menit berkutat di dapur hanya dua menu yang aku masak. Sop ayam dan sosis goreng, nasinya tinggal menunggu matang. Aku siapkan dua piring di atas meja makan lengkap dengan sendok dan garpunya.


"Kelihatannya enak, aromanya membuatku tak sabar untuk memakannya," Tuan Edward datang sudah berganti pakaian dan terlihat lebih segar dari sebelumnya. "Aku sangat beruntung mempunyai calon istri sepertimu," lanjutnya memuji.


"Apa kau lebih sering tinggal disini? Aku lihat banyak bahan makanan di kulkas. Sepertinya kau juga suka memasak," ia melingkarkan tangannya dipinggangku aku berontak tapi dia sudah berhasil mengunciku. "Aku baru saja memasak dan belum mandi. Pasti aku bau dapur. Aku tidak nyaman di peluk,"


"Kau tetap wangi bagiku," aish gombal sekali dia.


"Lepaskan! Nasinya sudah matang. Ayok makan! Nanti cacing di perutmu demo karena di kasih makan,"


"Baik, Tuan Putri," ia melepaskan pelukannya lalu membantuku memindahkan nasi ke mangkuk nasi untuk makan malam.


Kamipun duduk di meja makan. Tuan Edward tak pernah lepas dari senyumannya aura bahagia sangat jelas terpancar di wajahnya. Aku bersyukur melihatnya tersenyum. Daripada melihatnya lemah terkulai seperti tadi siang.


"Bagaimana?" tanyaku setelah ia menyuapkan suapan pertamanya.


"Emmmmm.... Luar biasa.... Ini makanan terenak yang aku makan seumur hidupku," serunya lalu dengan lahap menyantap makan malamnya.


Sudah jam sembilan malam. Tak terasa waktu yang kami lewati hari ini begitu cepat. Tapi aku senang sekali bisa bersamanya hari ini.


Sambil menikmati pemandangan kota dari lantai dua puluh. Aku duduk di kursi di balkon apartemennya. Memandang lampu kelap kelip yang memanjakan mata.


Tuan Edward datang membawa dua cangkir teh hangat dan menaruhnya di meja samping kursi.


"Terimakasih untuk hari ini," ucapnya lembut sembari mencium punggung tanganku. "Kau sudah tau kelemahanku. Apa kau masih mau dijodohkan denganku?" tanyanya menatapku lekat seakan meminta jawaban secepatnya.


"Dibalik kelemahanmu, tersimpan banyak kekuatan dan kelebihan yang membuatku tak bisa menolak. Aku menerima semua baik buruk yang ada dalam dirimu. Begitupun dengan kamu, aku harap kamu bisa menerima aku apa adanya. Karena akupun punya banyak kekurangan,"


"Aku sangat beruntung dijodohkan denganmu,"


Kami berpelukan sangat erat seakan tak ingin terpisahkan. Beberapa saat kemudian aku melepaskan pelukannya karena merasa begitu sesak tak bisa bernapas.


Tangannya membelai lembut pipiku, Aku melakukan hal yang sama padanya. Luka di sudut bibirnya masih dibalut plester yang tadi aku pasangkan.


"Apa ini masih sakit?"


Ia mengangguk. Perlahan wajahnya semakin mendekat dan sudah tak ada lagi jarak. Bibirnya menyentuh bibirku. Terasa hangat. Debaran jantungku semakin tak terkendali. Aku tak tau harus berbuat apa, karena ini kali pertama buatku.

__ADS_1


__ADS_2