
“Aku menyukaimu, Julia Marsha,”
Seperti kembang api berterbangan di kepalaku. Seluruh jiwaku bersorak. Tubuhku tambah bersemangat. Apalah ini rasanya. Gejolak dalam dada semakin memburu. Apa yang aku risaukan akhirnya menemukan kejelasan.
Tunggu! Aku tetap harus jual mahal. Anggap saja ini sebagai balasan karena dia meninggalkan aku tadi.
“Haha. Jangan bercanda Tuan. Aku tau tipe wanita seperti apa yang Anda idamkan,”
Aku ingat jelas foto-foto wanita yang ada di laci meja kerjanya. Mereka berpose seksi dan sangat sensual juga terkesan mengundang gairah pria. Ada satu foto wanita yang terselip disalah satu buku yang selalu ada di tas kerjanya. Foto wanita berambut Panjang yang sedang tersenyum sedang memakai bikini di sebuah pantai yang sedang merangkul manja pada Tuan Edward.
Hah…. Aku kesal mengingatnya. Benar juga. Kalau dia punya pacar buat apa dia menyukaiku.
“Wanita seperti apa yang kau maksud?” tanyanya menantangku.
“Berambut Panjang, seksi, bergaya sensual mungkin. Ah entahlah. Maaf aku tak seperti itu,” jelasku.
“Kamu berambut panjang,” rambutku disentuhnya. “Kamu juga seksi,” sambil memilin rambutku ia menatapku. “Suara mu begitu sangat sensual jika terdengar ditelingaku. Itu jika kamu sedang kesal karena cemburu mengingat foto wanita yang ada dilaci meja kerjaku,” aku tersentak Tuan Edward tau aku membuka lacinya.
“Siapa yang cemburu. Buat apa aku cemburu,” kusingkirkan tangannya dari rambutku. Aku menjauhkan diri darinya.
“Sikapmu menjelaskan bagaimana perasaanmu,” ucapnya lagi.
“Perasaan yang seperti apa? Perasaanku sekarang adalah aku ingin…..”
“Memelukku?” Ia berjalan semakin mendekat ke arahku.
“menciumku? Atau …. Lebih dari itu?” Tuan Edward berjalan mendekat dan semakin dekat.
“Aku ingin …..,” seolah kehabisan kata aku mencari sesuatu dan ku temukan bantal yang ternyata ada disebelahku.
“ Melemparmu dengan bantal,” kulemparkan bantal ke arahnya dengan sekuat tenaga supaya Dia menjauh dan lari menjauh darinya.
Satu bantal lagi aku lemparkan, guling juga aku lemparkan padanya. Dia tidak menyerah malah mengejarku dengan langkah cepat. Beberapa menit kami saling melempar bantal dan saling mengejar. Tepatnya dia yang mengejarku karena aku selalu menghindar darinya.
Tanpa disadari kita jadi perang bantal. Seperti anak kecil yang sedang main kejar-kejaran. Tawa ceria memenuhi seluruh ruangan. Hingga akhirnya aku dan Tuan Edward kelelahan dan saling menjatuhkan diri ke atas tempat tidur.
“Aku capek,” keluhku.
“Aku juga,” balasnya.
Posisi yang berlawanan mempertemukan dua kepala yang berada ditengah kasur dan ketika berbalik menjadi saling berhadapan. Ia tersenyum, aku melihat ketulusan disorot matanya. Senyuman itu meneduhkan jiwa dan membuatku melayang ke angkasa. Inikah Rasanya jatuh cinta?
__ADS_1
Tangannya membimbing tanganku yang tak terduga sedang berada diatas dadanya lalu diletakan di pipi kirinya kemudian ia membelai lembut pipiku juga. Saat ini kami saling bertatapan dan saling membelai. Jangan tanya kondisi jantungku saat ini, sudah tak bisa aku ungkapkan lagi.
Berharap Tuan Edward tak mendengar detak jantungku yang aku sendiri bisa mendengarnya berdetak tak karuan.
“Aku tak dapat melupakan wajah ini barang sedetikpun,” ucapnya dengan suara berat mungkin karena lelah dan dalam posisi tidur.
Aku sudah tersihir dengan senyumannya hanya diam dan mendengarkan apa yang ia katakan. Jemariku menyusuri setiap inci wajahnya. Dagunya yang polos tanpa bulu halus. Bibirnya yang berwarna pink kemerahan karena tak pernah tersentuh nikotin.
Pipinya halus, aku tau sekali sabun muka yang ia pakai. Matanya yang sedang memandangku penuh cinta. Alisnya yang tebal dan tegas. Keningnya yang membuatku ingin menciumnya. Rambutnya yang selalu wangi.
Oh Tuhan, apakah ini mimpi?
Kupejamkan mata karena aku tak ingin mimpi ini cepat berakhir. Menikmati sentuhan lembut jarinya di wajahku. Sentuhan hangat dikening dan sedikit basah terasa kenyal tapi nyaman. Benda itu mengerucut menyentuh keningku beberapa saat lalu terlepas.
Apa Dia mencium keningku? Ya Tuhan, tolong amankan jantung ini..
Kubuka mata, Tuan Edward tersenyum seperti tadi jemarinya masih setia dengan pipiku begitu juga dengan lenganku yang masih bertengger diatas pipinya. Kuhentikan aktifitasku membelai pipinya. Kali ini aku cubit keras pipinya untuk memastikan bahwa aku tidak bermimpi.
“Aaawwww… sakiiiittt…” rintihnya sambil memegangi pipinya yang aku cubit.
Aku terperanjat bangun mengumpulkan segenap kesadaranku setelah tadi tersihir oleh benih cinta yang ia taburkan.
“Jadi ini nyata ya, bukan mimpi?” sentakku.
“Maaf, maaf… Tidak sengaja. Aku hanya memastikan saja,” ucapku merasa bersalah.
Kuhampiri Tuan Edward yang masih memegangi pipinya yang kucubit. Sesakit itu ya cubitanku sampai pipinya yang putih mulus itu merah dan terlihat ada bekas kuku disana. Tapi walau begitu Dia masih terlihat tampan.
“Sakit ya. Sini aku tiupin biar tidak terlalu sakit,” dengan nada penyesalan aku berjinjit untuk menyeimbangkan posisi dengannya.
“Ini sakit?” aww itu pasti sakit sekali bekas kuku yang menancap disana rupanya cukup dalam tapi untungnya tidak berdarah.
“Lebih tinggi lagi!” pintanya.
Aku langsung berjinjit lebih tinggi untuk meniupi pipinya yang sakit.
“Lebih tinggi lagi, masih sakit!” pintanya lagi dengan manja.
Aku meloncat-loncat untuk meniupi pipinya karena tinggi Tuan Edward kurang lebih seratus delapan puluh lima senti.
Karena terus meloncat aku kehilangan keseimbang lalu menabrak dan menimpa Tuan Edward. Dia langsung menangkap tubuhku tapi Dia pun kemudian kehilangan keseimbangan juga dan berakhir kami terjatuh ke atas Kasur. Untung saja ke atas kasur yang empuk.
__ADS_1
“Aaarrghh,” erangnya.
“Aduuhhh,” aku terjatuh menimpa Tuan Edward dengan posisi kepalaku tepat diatas dada bidangnya. Bibirku menyentuh dadanya hingga tertinggal noda lipstik yang kupakai.
Beberapa saat aku terdiam mendengarkan irama detak jantung yang tak beraturan. Aku memegang tempat aku bertumpu getarannya sangat keras. Suaranya sangat jelas terdengar. Sadar Tuan Edward berada dibawahku, kudongakan kepala memastikan ia baik – baik saja. Sepertinya ia terdiam pasrah.
Aku beringsut, mulai bergerak. Untuk menjauh dari Tuan Edward. Namun karena aku tergesa lututku menekan perutnya hingga ia mengerang menahan sakit.
“Arrrggghh,” dan lagi aku menginjak tangannya yang tengah membentang.
“Arrggghhh,” terdengar erangan lagi darinya.
Aahh.. kenapa aku ceroboh sekali.
“Maaf.. Maafkan aku,” lalu aku membantunya untuk bangun.
Tuan Edward membenarkan posisinya ke atas kasur dan meluruskan badannya.
“Kau,” kata kesal keluar dari mulutnya.
Aku memejamkan mata dengan alis bertaut bersiap menerima kekesalannya. Tapi tak kudengar kelanjutan kata-katanya. Tuan Edward menarikku masuk ke dalam pelukannya. Aku berusaha meronta tapi tenaganya lebih kuat mengunciku.
“Jangan bergerak. Nanti kau terjatuh lagi,” ujarnya sembari mengeratkan pelukannya.
Ya, aku terjatuh ke pelukanmu Tuan Edward.
Epilog :
“Bagaimana perkembangan anak – anak kita?” tanya Beny pada Gerald di balkon belakang vila sambil menikmati kopi dan beberapa camilan.
“Berkembang pesat. Aku tak menyangka mereka akan sedekat itu dalam waktu singkat,” jelas Gerald.
“Iya untunglah mereka sudah dekat dan sepetinya mereka sudah saling menyukai,” tambah Amara. “Terlalu lama jika harus menunggu minggu depan,” tambahnya lagi.
“Aku sudah menyiapkan hotel tempat makan malam kita nanti. Aku pastikan mereka akan sangat menyukainya,” timpal Axel yang juga ikut merencanakan perjodohan Sasa dan Edward.
"Bagaimana dengan proyek kerja sama perusahaan kita, Ben? Sudah tidak ada waktu lagi. Kalau tidak secepatnya perusahaan asing akan mengambil alih lahan itu," jelas Gerald.
"Masih aku pertimbangkan. Secepatnya aku akan memberimu kabar baik," balas Beny.
Gerald tersenyum penuh arti pada Amara, istrinya.
__ADS_1
Devan memperhatikan gerak gerik Gerald dan Amara tanpa ekspresi. Seakan ia tau apa yang direncanakan suami istri itu.
Sedangkan dua insan yang sedang berada di dalam kamar sekarang tengah tidur saling berpelukan.