Jodohku, Suami Idaman (Julia & Edward)

Jodohku, Suami Idaman (Julia & Edward)
Wanita Di Dalam Foto


__ADS_3

Makan malam yang mengejutkan sudah berakhir. Akhirnya aku tau siapa pria yang dijodohkan denganku, dan dia adalah Tuan Edward. Ayah sangat bahagia aku menerima Tuan Edward.


Seperti biasa aku sudah bangun pagi, setelah berolahraga aku langsung mandi dan siap siap berangkat kerja. Bekerja dengan calon suamiku di perusahaan calon mertuaku. Sangat membuatku tidak nyaman. Apalagi harus satu kantor bahkan satu ruangan dengan calon suami. Aku tidak terbiasa seperti itu.


“Pagi, Ayah,” kupeluk dan cium ayahku saat sampai dimeja makan.


“Pagi, Sayang,” balas Ayah melakukan hal yang sama. “Anak Ayah semakin bertambah cantik setiap harinya. Mengingatkan Ayah pada Ibumu. Dia juga berparas sama denganmu,” kenangnya.


“Ayah bisa saja,” sahutku. “Itu bukan pujian karena aku menerima perjodohan itu kan?” ucapku curiga.


“Haha.. Ayah tidak bisa berbohong dihadapanmu. Tapi ingat, apapun keputusanmu Ayah akan mendukungmu, sayang,” ujarnya.


“Oke, Siap Laksanakan Komandan,” Ayah tertawa melihat tingkahku yang memberi hormat padanya.


“Mau diteruskan atau tidak Ayah akan selalu mendukungmu. Ayah hanya ingin anak Ayah satu-satunya bahagia,” ucapnya lagi


“Iya, Yah,”


Mbok Siti sudah menghidangkan menu sarapan yang selalu menggugah selera. Ayah menikmati sarapannya dengan lahap begitu juga denganku. Selesai sarapan aku langsung bergegas untuk berangkat kerja.


Kuambil kunci mobil lalu melangkah keluar menuju garasi. Aku berpapasan dengan Devan yang baru saja sampai. Kali ini melihatnya aku merasa biasa saja. Mungkin karena aku sudah menemukan penggantinya.


“Pagi, Nona,” sapanya. Seperti biasa Dia menampakan senyumannya yang khas.


“Pagi,”


“Hati-hati dijalan, Nona,”


“Hmmm..” aku berlalu menuju mobil.


Namun suara klakson dari mobil yang baru saja datang mengejutkanku. Rupanya Tuan Edward yang datang. Dia sudah mulai berperan sebagai calon suami yang baik. Menjemputku sebelum pergi bekerja. Tapikan kita satu kantor. Huh.


Ia keluar dari mobil dengan stelan jas warna senada. Ditambah pancaran dari sinar matahari pagi yang menerpanya membuat silau siapa saja yang melihat.


“Pagi, Sayang,” serunya saat melihatku.


Devan langsung masuk ke dalam setelah melihat siapa yang datang.


“Selamat pagi juga, Tuan Edward,” balasku. Ia langsung cemberut mendengarnya.


Haha.. Sangat menggemaskan.


“Aku akan marah kalau kamu panggil aku Tuan lagi,” rutuknya setelah berada disebelahku.


“Maaf Tuan, ada urusan apa pagi sekali sudah kerumahku?” godaku.


Sesampainya diparkiran kantor.


"Aku ingin kita tidak memberitahukan dulu tentang hubungan kita. Akan sangat tidak nyaman untukku," pintaku setelah manahannya keluar dari mobil.


Tuan Edward menghela nafas pelan.


"Kamu malu punya hubungan denganku?" tanyanya.


"Tidak. Tidak sama sekali. Hanya saja nanti teman-teman kerjaku akan memperlakukanku tidak seperti biasanya dan itu akan membuatku tidak nyaman bekerja," jelasku.

__ADS_1


"Baik, kalau itu maumu. Aku akan mengabulkannya. Tapi dengan syarat,"


Hitungan sekali sih, pake syarat segala...


"Apa syaratnya?"


"Jangan panggil aku Tuan diluar jam kerja," pintanya untuk kesekian kali.


Itu lagi. Itu lagi. Tapi baiklah...


"Oke. Tidak masalah," jawabku enteng.


"Coba panggil aku sekarang!" pintanya sembari menampilkan deretan gigi putihnya.


"Tuan Edward," seruku dan lagi dia terlihat kesal.


"Ya sudah aku umumkan saja bahwa kau calon istriku," kesalnya.


"Mohon maaf, Tuan. Sekarang sudah masuk jam kerja karena waktu sudah menunjukkan pukul delapan lewat sepuluh menit pagi. Jam kerja kita adalah dari jam delapan pagi sampai jam lima sore nanti," terangku lalu aku bergegas keluar dari mobil menuju lift.


Haha. Biarkan saja dia kesal sendiri.


Aku bekerja seperti biasa. Untunglah dia mau menurutiku untuk tidak memberitahukan teman-teman. Aku tertawa dalam hati setiap kali ia tidak jadi mendekatiku tetapi ada pegawainya yang datang ke ruangan.


Waktu istirahat aku sengaja makan bersama pegawai yang lain di kantin. Bercengkrama dengan teman saat jam makan siang sangat mengasyikan. Aku cukup akrab dengan mereka.


"Sudah lama tidak makan di kantin, Jul?" sapa Sindi salah satu teman kerjaku.


"Kebetulan tidak ada meeting keluar kantor. Jadi bisa makan di kantin bersama kalian," jawabku karena selain Sindi ada Tina dan Haikal.


"Sekretarisnya sebelum kamu belum seminggu sudah mengundurkan diri," tambah Haikal.


"Kok bisa begitu? Menurutku Tuan Edward itu baik, ia sangat pengertian sama pegawainya," jelasku.


"Baik dari mana? Dia itu jarang sekali terlihat senyum sama pegawainya. Dia selalu ingin sempurna. Terakhir kali manager pemasaran dipecat gara-gara salah buat laporan," terang Haikal lagi.


"Wajahnya selalu masam kayak cuka," tambah Sindi.


"Dan tunangannya sombong sekali," ucapan Tina seolah mencambuk hatiku.


Tunangan? Dia sudah punya tunangan? Lalu untuk apa dia dijodohkan denganku?


Aku berusaha mengusai diri untuk mendapatkan lebih banyak informasi dari mereka. Walau mata ini sudah mulai panas ingin meluapkan kesedihan.


"Tuan Edward sudah punya tunangan?" tanyaku dengan sedikit bergetar.


"Semenjak kepulangannya dari Belanda sering sekali ada wanita cantik kebule-bulean datang ke kantor dan wanita itu bilang kalau dia tunangannya Tuan Edward," jelas Sindi.


Hatiku semakin panas mendengarnya. Bagaimana bisa? Mungkinkah wanita di foto yang sedang merangkulnya mesra?


"Aku belum pernah bertemu dengan tunangannya," ucapku.


"Ya, sudah lama juga aku tidak pernah melihatnya. Sepertinya semenjak kau bekerja disini tunangannya tidak pernah datang lagi," tambah Sindi lagi.


"Mungkin mereka sudah putus," seru Haikal sambil tertawa kecil.

__ADS_1


"Syukurlah kalau putus ceweknya sombong begitu," sahut Tina.


Semoga saja benar kalau mereka sudah putus. Tapi kalau penyebab putusnya mereka karena perjodohannya denganku berarti akulah penyebab perpisahan mereka.


Mendengar cerita tunangan Tuan Edward membuatku jadi tidak nafsu makan. Ceritanya membuatku kenyang lebih cepat. Spagheti yang kupesan awalnya enak menjadi hambar dilidah.


"Aku duluan ya. Masih ada kerjaan yang belum aku selesaikan," pamitku.


"Kemana? Jam istirahat belum kelar. Kerjaan mah gak pernah selesai, Jul," cegah Tina.


"Iya bener," Haikal membenarkan.


"Aku harus segera menyelesaikannya. Kalau tidak Tuan Edward akan marah. Daaahhh," aku segera pergi dari kantin.


Sampai di ruangan aku tak melihat Edward di kursinya. Tidak perlu pakai Tuan, aku sedang kesal. Kemana dia? Terserah juga dia mau kemana.


Aku duduk dengan perasaan tidak tenang. Aku harus melihat foto dibuku itu lagi. Walaupun sakit tapi aku harus memastikan sebelum aku resmi menjadi istrinya. Aku harus meminta penjelasan siapa wanita di foto itu.


Dengan langkah pelan aku berjalan menuju mejanya dan membuka laci dimana aku menemukan foto itu. Ternyata masih ada buku dan fotonya pun masih terselip di dalamnya.


Tanganku gemetaran menarik foto itu dari buku sambil menutup mata.


"Dia Tessa mantan kekasihku," suara yang amat kukenal membuatku seketika membuka mata. Ia menarik dan memelukku dari belakang.


"Kau kemana saja aku sudah kelaparan," ucapnya manja sambil menempelkan dagu dipundakku.


Epilog :


"Aku tidak mau putus denganmu," ucap Tessa sembari menahan air mata.


"Kau sudah menghianatiku. Aku pulang untuk meneruskan perusahaan keluargaku dan tak akan kembali lagi ke Belanda," jelas Edward mengutarakan alasan lain untuk mengakhiri hubungannya dengan Tessa.


Sebenarnya Edward sudah tau bahwa Tessa tidak bisa hidup dengan satu pria. Berkat informasi dari temannya di Belanda yang melihat Tessa berciuman mesra di sebuah klub, ia sangat kecewa dan berusaha melupakan Tessa.


Temannya mengirimkan foto-foto Tessa bersama pria di klub malam dan keluar masuk hotel dengan pria yang berbeda.


Namun, Tessa tidak ingin kehilangan Edward. Maka dari itu Tessa menyusulnya ke tanah air.


"Kita sudah berakhir. Pergilah sebelum aku bertindak kasar!" sentak Edward.


"Aku tidak terima kau memutuskan aku begitu saja. Semua itu bohong. Aku tidak pernah menghianatimu," bela Tessa.


" Aku sudah dijodohkan orang tuaku. Aku tak bisa denganmu lagi,"


"Dijodohkan? Dengan siapa? Palingan dengan gadis polos dari desa,"


"Aku tak peduli dengan siapa aku dijodohkan. Sekarang kamu pergi dan jangan kembali lagi. Lanjutkanlah gaya hidupmu bersama pria-pria itu," Edward geram.


"Mereka hanya teman tidak lebih. Aku tidak pernah menghianatimu," lagi Tessa membela diri.


Edward mengangkat gagang telepon dan menelpon sekuriti.


"Sekuriti tolong usir tamu wanita di ruanganku sekarang," titahnya.


"Keterlaluan," geram Tessa lalu pergi meninggalkan ruangan Edward dengan perasaan marah.

__ADS_1


__ADS_2