Jodohku, Suami Idaman (Julia & Edward)

Jodohku, Suami Idaman (Julia & Edward)
Pacar?


__ADS_3

Kak Wiliam berdiri dan menyambut Tuan Edward. Aku bingung harus sembunyi dimana.


Sembunyi pun sudah tak berguna karena Tuan Edward berada tepat disampingku sekarang. Sesekali ia melirik ke arahku.


“Ed, ayok aku kenalkan pada adikku dan teman-temannya,” ajak Kak Wiliam bergabung.


“Ini adikku Raya. Yang ini Fira, dan yang disebelahmu Sasa. Mereka adalah teman Raya,” ucap Kak Wiliam memperkenalkan kami satu per satu. “Dia Edward temanku sewaktu studi di Belanda,” terang Kak Wiliam.


“Halo Kak Edward,” sahut Fira menyodorkan tangannya untuk bersalaman kemudian dibalas Tuan Edward dengan melakukan gerakan yang sama. “Fira,” Tuan Edward mengangguk.


“Raya,” beralih ia bersalaman dengan Raya.


Aku tak dapat menahan detak jantungku yang semakin cepat memompa. Hatiku berdesir. Tubuhku kembali membatu. Mataku hanya bisa menatapnya lekat.


Ia mengulurkan tangannya. Tanganku bergerak pelan dan gemetar membalas uluran tangannya. Canggung. Kuakui aku masih canggung jika bertemu dengannya setelah kejadian malam itu.


“Kau disini?” tangannya masih menjabat tanganku. Dia pasti merasakan tanganku sedingin es di kutub utara.


“Tu…”


“Edward,” potongnya.


“Kak Edward,” aku berusaha menguasai diri.


Semua orang yang berada di meja itu sepertinya merasakan ke canggungan antara kami. Semuanya sudah duduk di tempatnya masing-masing tersisa aku dan Tuan Edward yang masih berjabatan.


“Ed,” Kak Wiliam memanggilnya kami pun saling melepaskan diri dari berjabatan dan duduk bersebelahan.


“Kalian sudah saling mengenal?” tanya Kak Wiliam.


“Dia,” ucap kami berbarengan membuat semua orang di meja menatap kami.


“Dia pacarku,” ucapnya membuatku terkejut dan membulatkan kedua mata.


PACAR??? Apa yang Anda rencanakan di depan teman-temanku, Tuan? Pake ngaku-ngaku pacaran sama aku.


“PACAR??” seru Raya dan Fira berbarengan.


“Tidak, bukan,” bantahku. Tetapi Tuan Edward dengan cepat meremas jemariku.


“Tidak salah lagi,” ucapnya meremas dan memperkuat genggamannya.


“Tapi tadi Julia bilang…” Raya berujar pelan tetapi tak diteruskan.


“Sayang, kamu sudah makan?” Tuan Edward mencondongkan wajahnya kedepan wajahku.


Sayang? Apa-apaan nih? Jadi Tuan Edward mau aku bersandiwara juga? Oke, mari kita bersandiwara.


Ketiga orang yang mendengarnya spontan menoleh kearah aku dan Tuan Edward. Memastikan lagi pendengaran mereka.

__ADS_1


Tuan Edward membenarkan rambut poniku ke samping. Raya, Fira, dan Kak Wiliam mengartikan sendiri apa yang mereka lihat.


Ah sudahlah aku tak peduli. Nanti aku jelaskan lain waktu pada kedua sahabatku.


Kutatap balik Tuan Edward dan memasang senyum termanis,


“Belum,” jawabku.


“Wil,,,” Tuan Edward berbalik menyahut Kak Wiliam yang sedang terbengong melihat kami.


“Ah iya. Sebentar lagi pelayan mengantarkan makanan kita kesini. Raya sudah menyiapkan menu spesial untuk kita,” jawab Kak Wiliam setelah menguasai diri dari keterkejutannya.


“Jul, bisa antar aku ke belakang? Aku ingin memastikan makanan kita sudah siap atau belum?” Ajak Raya dengan nada memaksa.


Aku tau ia ingin mendengar penjelasan dariku.


Aku berdiri dari tempat dudukku, tapi Tuan Edward menahanku dengan menggenggam tanganku sangat erat.


“Tidak, kau tetap disini,” pintanya.


Aku kembali mendudukan diriku di kursi. Sedangkan Raya terlihat kecewa tidak dapat berbicara denganku untuk meminta penjelasan dengan apa yang dilihatnya.


Tidak berselang lama makanan pun datang. Pelayan menyajikan makanan yang dibawanya di meja. Selama acara makan berlangsung Tuan Edward tak hentinya memberikan perhatiannya padaku.


Membuatku sedikit risih. Semuanya sangat mendadak. Walau tak ada pembicaraan sebelumnya ia ingin berpura-pura menjadi pacarku. Akan aku tanyakan padanya nanti. Sekarang ikuti saja permainannya.


“Kita seperti menonton drama romantis melihat kalian berdua,” ujar Kak Wiliam.


“Tidak lama dari semenjak aku pulang dari Belanda,” jawab Tuan Edward santai dan sangat alami.


“Benarkah? Kenapa kamu tidak pernah cerita, Jul? Kalau kamu sudah punya pacar?” tanya Raya.


“Aku,,,,” bingung mau jawab apa. “Aku belum sempat cerita sama kalian. Yah begitu,” jawabku gugup karena memang aku bukan pacarnya.


Tiba saatnya pulang karena malam sudah mulai larut.


“Kalau begitu aku pulang duluan ya,” pamit Fira. “Sasa pulang bareng Kak Edward kan?” sambungnya sambil memelukku, “Kamu berhutang penjelasan padaku, Jul,” bisiknya lalu melepaskan pelukannya dan mengerlingkan mata sebelah.


“Aku antar kamu pulang,” seru Kak Wiliam menawarkan diri mengantar Fira.


“Tidak usah, Kak. Aku bawa mobil kok,” tolak Fira. Lalu melangkah meninggalkan kafe. Tampak kekecewaan diwajah Kak Wiliam.


“Apakah kakak mau mengantarkan adikmu yang pulang sendiri ini?” goda Raya pada kakaknya sengaja untuk menghibur kakanya yang sedang kecewa.


Kak Wiliam merangkul Raya dan mencubit hidung adiknya itu.


“Iya bawel.” Raya mengaduh karena cubitan kakaknya.


“Kita juga pamit. Sudah malam aku harus mengantar Julia pulang,” pamit Tuan Edward.

__ADS_1


Aku harus mengamankan jantungku supaya tidak terus berdetak kencang saat bersama denganya. Mau tak mau aku satu mobil lagi dengan Tuan Edward.


Tapi syukurlah sandiwara tadi membuatku tidak canggung lagi saat bersama dengannya. Yang penting nanti akan kutanyakan maksud Dia mengaku jadi pacar aku di depan Kak Wiliam.


“Cie yang baru pacaran. Pengennya berduaan terus,” goda Kak Wiliam.


“Iya, nih. Aku jadi iri karena pacarku jauh beda benua, hiks,” tambah Raya.


“Haduhh.. Kalian bisa aja,” sahutku.


“Ayok, sayang, nanti kita kemalaman,” ajak Tuan Edward.


Raya langsung memelukku dan berbisik, “aku tunggu penjelasanmu, Jul,”


Kulepaskan pelukan Raya sembari mengangguk anggukan kepala dan tersenyum penuh arti padanya.


Tuan Edward meraih tanganku dan kami berjalan keluar meninggalkan kedua kakak beradik, Raya dan Kak Wiliam. Mobil Tuan Edward maju pelan meninggalkan pelataran parkir kafe.


“Sekarang tolong jelaskan kenapa Anda mengaku menjadi pacar saya tadi?” tanyaku meminta penjelasan.


“Karena aku ingin,” jawabnya enteng tanpa ekspresi dan fokus melihat kedepan sambil menyetir.


Orang ini sungguh sudah GILA.


Epilog :


Diperjalanan menuju kafe ponsel Edward terus berdering. Dilihat siapa yang menelponnya. Tulisan dilayar ponsel tertera dari papanya. Ia langsung menekan tombol hijau untuk menjawab.


“Iya, Pah,”


“Minggu depan Om Beni mengundang kita ke rumahnya. Putrinya sudah menyetujui perjodohan itu,” jelas Gerald pada anaknya ditelepon.


“Oke, Pah,” jawab Edward.


“Persiapkan dirimu!” lalu telepon berakhir.


Edward mengepalkan tangannya lalu menariknya kesamping, “Yess,” soraknya girang mendengar kabar baik dari papanya.


Sesampainya di kafe ia melihat Julia keluar dari mobil Fira.


“Ternyata kau juga ada di sini,” gumamnya.


Edward menunggu sampai Julia masuk ke dalam kafe bersama Fira. Sama dengan Julia, Edward pun terbayang kejadian malam itu.


Wajah Julia terus membayanginya. Selain ia jatuh cinta pada pandangan pertama pada Julia, ia sangat bersyukur bahwa Julia adalah Wanita yang dijodohkan dengannya.


Edward masuk ke dalam kafe. Sejenak ia terpesona melihat Julia yang tampil cantik dengan dress warna merah muda dipadukan dengan blezer putih, rambutnya tergerai bebas. Edward cepat menguasai diri dan berjalan mendekati meja Julia yang juga ada temannya di sana. Wiliam.


“Ini saatnya aku beritau dunia bahwa kau milikku,” gumamnya dalam hati sembari berjalan mendekati pujaan hatinya.

__ADS_1


"Kau harus menjadi milikku, Julia."


Edward melupakan kalau perjodohannya hanya untuk memenuhi perintah papanya.


__ADS_2