
“ISTRI?”
“Iya, jadi istriku. Kamu mau kan jadi istriku?”
“Jangan bercanda,”
“Aku tidak bercanda,”
“Aku tidak percaya,”
“Kalau kamu tidak percaya, kamu harus bangun dulu biar percaya,”
Seketika aku membuka mata. Ternyata hanya mimpi. Untung saja hanya mimpi, dilamar seperti itu sungguh bukan lamaran yang aku impikan.
“Julia, apa kamu masih ingin tidur? Kita sudah sampai,” suara barito itu semakin membuatku sadar bahwa yang dikatakannya tadi itu benar-benar hanya mimpi.
Aku mengerjapkan mata mengumpulkan serpihan kesadaran yang tadi melayang-layang di alam mimpi.
“Oh sudah sampai,” lalu aku keluar dari mobil disusul Tuan Edward.
Tak dapat dipercaya suasana rumah yang baru saja aku lihat ini yang tadi ada di mimpiku. Jadi tadi itu mimpi atau kenyataan? Sepertinya aku harus ke psikiater untuk memeriksakan kesehatanku. Aku sudah tidak bisa membedakan mimpi dan kenyataan.
“Rumah siapa ini, Kak?” kalau aku panggil tuan pasti dia protes lagi. Sudahlah aku panggil kakak saja.
Ia tersenyum dan mencubit pipiku yang tidak tembem. Maaf, tapi pipiku tirus, jadi tidak enak untuk dicubit. Seenaknya
main cubit pipi orang.
“Tidak buruk juga dipanggil ‘Kakak’ daripada ‘Tuan’. Ini vila keluargaku. Ayok kita masuk!” ajaknya.
Pelayan membukakan pintu rumah lalu mempersilakan kami masuk.
“Selamat siang, Tuan dan Nona,” sapanya ramah lalu membawa kami menuju ruang makan.
Di atas meja makan sudah terhidang berbagai menu makanan. Banyak sekali, entah siapa saja yang akan memakannya. Mungkin saja keluarganya yang lain akan datang juga. Apa aku sedekat itu dengannya sampai diajak ke acara keluarga?
Pelayan menarikkan kursi untuk kami. Tuan Edward duduk di kursi utama yang berada ditengah sedangkan aku duduk disamping kirinya.
__ADS_1
“Apa ada acara keluarga?” tanyaku heran banyak sekali makanan yang ada di atas meja.
“Tidak. Ini untuk kita makan siang kita,” jawabnya sembari membuka piring yang masih terbalik.
“Ini tidak akan habis untuk kita berdua. Pemborosan sekali,” decakku.
“Dari pada terus nyerocos lebih baik kamu makan,” balasnya sembari menyendokkan nasi ke dalam piring.
Sendok, garpu dan piring saling beradu. Aku sangat menikmati makan siang ini karena jujur sudah begitu lapar.
Perutku memang tidak bisa sekali saja dikasih telat makan, haha.
Entah perasaanku atau memang yang sebenarnya. Tuan Edward saat ini sedang memperhatikan aku. Gede rasa alias Ge’er yang pasti iya, Itu yang aku rasakan sekarang. Aku pura-pura tak melihat saja menikmati makanan enak dihadapanku dengan lahap. Ia tersenyum simpul melihatku menikmati makan siang dengan semangat dan lahap tentunya.
Makanan dipiringku sudah habis tak tersisa. Ku teguk air putih yang sudah tersedia di meja. Tuan Edward memandangku dengan intens. Jantungku, ah sudahlah sudah tak bisa dikondisikan lagi seperti mau loncat dari tempatnya.
Rasanya badanku pun membatu karena tatapannya.
Tidak, jangan, jangan sampai kejadian waktu itu terulang lagi. Aku bisa canggung lagi nanti setelahnya. Tangannya bergerak menyentuh bibirku. Tatapannya tak lepas dari manik mataku.
“Ada saus dibibirmu,” ungkapnya.
“Dimana Dia?” tanyanya pada pelayan.
“Diruang makan, Nyonya,” jawab pelayan itu.
Suara Langkah kaki yang menggunakan heels terdengar mendekat. Tak lama terlihat seorang Wanita cantik dan seorang pria seumuran Ayah, wajahnya seperti aku pernah melihatnya, dan disusul pria muda menghampiri meja makan.
“Ya Tuhan. Cantik sekali kamu sayang,” ujar Wanita itu lalu memelukku. Aku sedikit kikuk tak tau apa yang tengah terjadi.
Apa Tuan Edward akan berpura-pura kita berpacaran lagi? Apakah Wanita ini ibunya? Bukankah ibunya sudah meninggal?
Aku mengangkat alisku dan Tuan Edward menangkap kode yang aku tunjukan.
“Emmm… Julia, perkenalkan beliau adalah Ibuku, dan ini adalah Papaku, dan ini adikku,” sembari menunjukkan keluarganya Tuan Edward memperkenalkannya satu per satu.
“Selamat datang Julia. Kami semua sangat menantikanmu. Anak nakal ini susah sekali mengajakmu kesini,” Wanita yang disebutnya ibu memukul pelan Tuan Edward.
__ADS_1
Kenapa keluarganya seakan sudah mengenalku? Apa Tuan Edward suka menceritakan tentang diriku pada keluarganya? Aku seperti bodoh sendiri disini.
“Hai, Kak Julia perkenalkan aku Romeo,” Tuan Edward menyikut pria muda yang disebut adiknya itu, “Haha, bukan, aku Axel,” sambungnya memperkenalkan diri.
“Sudah, sudah, biarkan Julia beristirahat,” ujar pria yang disebut papa oleh Tuan Edward.
Beribu pertanyaan ada dalam pikiranku. Sepertinya Tuan Edward juga sudah tau apa yang ada dipikiranku sekarang. Nanti akan aku tanyakan apa maksud dari semua ini.
“Kamu istirahat dulu ya sayang. Sekalian persiapkan dirimu untuk makan malam nanti,” wanita yang masih terlihat cantik walau sudah terlihat usianya diatas lima puluhan itu merangkul sembari membelai lembut rambutku. “Ed, antar Julia ke kamar untuk istirahat,” titahnya.
Makan malam? Seperti main pacaran sungguhan.
Tuan Edward mengantarku menyusuri ruang keluarga lalu menaiki tangga. Tiba di tengah ruangan ada empat pintu lalu ia membuka pintu ke dua dari kanan.
“Ayo masuk!” setelah pintu dengan dua daun pintu itu terbuka lebar.
Kamar yang terbilang mewah. Tempat tidur berukuran king size, dengan ranjang kayu jati berukiran klasik yang khas. Ada empat jendela kaca yang terbuka lebar membuat kamar ini sangat terang dan terasa segar karena sirkulasi udara dari jendela-jendela itu.
Di sebelah kiri ada dua pintu yang aku tebak pintu satunya adalah kamar mandi dan satunya lagi adalah ruang ganti dan lemari.
Aku masuk dan segera duduk di sofa yang berada dikamar.
“Tuan, saya harap Anda menjelaskan apa yang terjadi. Karena saya jadi merasa paling bodoh sendiri tadi,” tanyaku. Sebenarnya ada banyak pertanyaan tapi untuk saat ini itu saja dulu. Semoga saja Dia mau menjelaskan semuanya tanpa aku tanya lebih lanjut.
“Tuan lagi,” keluhnya. “Tadi udah bener panggil Kakak,” tambahnya.
“Itu tidak penting sekarang. Sebenarnya apa yang Anda rencanakan?” aku menyilangkan tangan di dada. Kesal dia tidak menjawab pertanyaanku malah membahas yang lain.
Tuan Edward menghela nafas kemudian duduk di sofa tak jauh dari aku duduk.
“Sebenarnya aku sudah lama ingin mengajakmu kesini. Tapi waktunya selalu tidak pas,” jelasnya.
Tapi itu bukan jawaban yang aku mau. Aku bergerak mendekat untuk meminta penjelasan yang pasti.
“Apa Anda mengajakku kesini untuk berpura-pura pacaran lagi?” tebakku sambil berbisik takut ada yang menguping dari luar.
Tuan Edward menatapku tajam. Aku mencoba mengartikan tatapannya, namun tak bisa kuartikan. Tatapan itu seperti tatapan harimau yang akan menerkam mangsanya.
__ADS_1
Lagi lagi aku tidak bisa mengendalikan jantungku yang terus berdetak cepat. Seolah ia mengunciku dengan tatapannya itu aku tak dapat berpaling.
“Aku ingin sungguhan. Bukan pura-pura,” pernyataannya membuat bola mataku membulat tanganku menutup mulut yang otomatis menganga tak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar.