Jodohku, Suami Idaman (Julia & Edward)

Jodohku, Suami Idaman (Julia & Edward)
Pesan Ancaman


__ADS_3

POV EDWARD


Papa memintaku untuk menikahi seorang gadis. Padahal aku baru saja patah hati.


"Kenapa harus aku? Masih ada Axel," itu yang pertama kali aku tanyakan saat perintah itu keluar dari mulutnya.


"Karena gadis itu adalah putri dari orang yang menyebabkan mamamu meninggal, Ed," sentaknya.


"Karena Si Beny itu papa telat menjemput kalian dan akhirnya Mama tiada," sambungnya lagi membuatku semakin geram dan sedih mendengarnya.


"Nikahi gadis itu, rebut semua harta Beny perlahan, lalu kau campakkan dia setelah tujuan kita tercapai," aku bisa melihat ambisi di mata Papa.


Luka lama yang telah lama kukubur kini terbuka lagi. Aku pikir tak ada salahnya menuntut balas atas kematian Mama.


Kehilangan Mama membuatku sangat terpukul. Ditambah ketika aku harus hidup di panti asuhan dan papa menikahi tante Amara adik dari mamaku.


Beruntung Papa mengirimku ke Belanda untuk melanjutkan studi S2. Karena suasana yang berbeda aku perlahan bisa sedikit melupakan hari dimana aku melihat Mama meninggal mengenaskan.


Seiring berjalannya waktu aku bertemu Tessa gadis lugu teman kuliahku di Belanda. Hubunganku dengan Tessa berjalan sesuai keinginanku. Tessa sangat perhatian dan menyayangiku.


Tapi di balik perhatian dan kasih sayangnya tersimpan niat buruk yang tak kuduga. Aku tak menyangka gadis yang kuanggap lugu itu bermain api dengan pria lain.


Penghianatan Tessa, kekasihku, menambah luka baru dalam hidupku. Gadis yang kupercaya hanya mencintaiku ternyata hanya menginginkan hartaku dan menjadikanku tambang emasnya. Lebih parah lagi dia bermain dengan banyak pria dibelakangku. Sangat menyedihkan sekali.


"Ed, nanti malam kita ke rumah Om Beny, untuk membicarakan perjodohanmu dengan putrinya," ajak Papa.


Aku tak menjawab ajakannya. Karena itu sebuah perintah yang harus dituruti bukan sebuah ajakan yang aku bisa menolaknya.


"Kamu harus ingat tujuan kita atas perjodohan itu," lanjutnya.


Aku hanya menghela napas mendengarnya dan langsung masuk kamar. Berada di bawah guyuran air menjadi favoritku akhir-akhir ini. Walau tidak bisa membasuh luka tapi bisa mendinginkan kepalaku yang panas semua keinginan Papa.


Keinginan Papa hanya satu menikahi gadis yang namanya saja aku tak tau. Tapi persyaratannya banyak sekali.


Pertama, aku harus mengambil hati gadis itu.


Kedua, aku tak boleh jatuh cinta pada gadis itu.


Ketiga, aku harus mencampakkannya ketika tujuan balas dendamku tercapai.


Sungguh rencana yang jahat.


Bisakah aku sejahat itu?

__ADS_1


Mengingat kematian Mama aku yakin bisa melakukannya. Namun, hati nurani mengatakan jangan lakukan.


Malam ini aku akan menjalankan rencana Papa menemui Om Beny. Setengah hati aku mengikuti perintahnya.


"Kak, mau kemana sudah rapi? Main PS yuk!" Axel, adik sambungku, baru pulang kuliah dan menyapaku saatku keluar dari kamar.


"Kakakmu ada acara malam ini," sahut Papa pada Axel yang spontan langsung manyun dan masuk ke kamarnya.


Aku ataupun Axel tak ada yang bisa membantah perintah papa. Karena jika membantah akan berakhir dengan pukulan atau tamparan.


Di rumah Om Beny pembiacaraan seputar bisnis mendominasi perbincangan dengan Papa. Membuatku bosan.


Sosok Om Beny sangat jauh sekali dengan Papa. Jika tidak mengingat bahwa dialah penyebab kematian Mama, aku sangat mengaguminya. Tutur katanya mencerminkan dia orang yang bijaksana. Tidak seperti Papa yang hanya terlihat bijaksana di hadapan orang lain tapi pada anak sendiri ia begitu kasar.


"Kau sudah besar, Ed," Om Beny menepuk pundakku kagum. "Dulu aku bertemu denganmu sewaktu kau berusia lima tahun. Aku tak menyangka kau sudah sebesar ini sekarang," lanjutnya.


Ya, diusia lima tahun itu kau datang melayat dan melihatku. Tak sadarkah kau membuat luka dalam hidupku, Om Beny?


"Julia juga ditinggalkan ibunya diusia yang sama sepertimu. Semoga kamu dan Julia bisa saling mengerti dan memahami," ia mengenang putrinya garis kesedihan itu sama sepertiku saat kehilangan Mama.


Namanya Julia. Yang aku tau dari data dirinya yang diberikan Papa tadi sebelum berangkat ke rumah ini, gadis itu melamar pekerjaan ke kantorku.


Perusahaan ayahnya cukup ternama. Om Beny tak akan mungkin pelit pada anaknya sendiri. Untuk apa dia bekerja di perusahaan lain? Gadis yang menarik.


Papa dan Om Beny mengangguk dan tersenyum senang mendengar jawabanku.


"Tuan, Nona Julia baru saja pulang," lapor asisten Om Beny yang terlihat tak suka padaku dari semenjak aku menginjakkan kaki di rumah ini.


Mungkin dia tak suka putri tuannya dijodohkan. Terserahlah, aku tak peduli.


"Beritau Julia, aku disini bersama keluarga Gerald," titahnya pada asistennya.


"Baik, Tuan," dia langsung pergi melaksanakan tugasnya.


"Om, boleh aku numpang ke kamar mandi?" ijinku beralasan karena sudah mulai bosan dengan dua bapak berbeda kepribadian ini.


"Boleh. Kamu lurus saja lalu belok kanan," tunjuk Om Beny.


"Baik, terimakasih, Om,"


Pandanganku tertuju pada seorang gadis yang baru saja keluar dari mobilnya. Julia, itukah dia? Aslinya lebih cantik dari pada yang kulihat di foto.


Julia. Gadis yang baru saja aku melihatnya sudah membuat jantungku berdebar.

__ADS_1


Kulihat asisten Om Beny menyapanya dan mengobrol dengannya. Tapi entah kenapa dia pergi begitu saja. Asisten itu terlihat tampak senang saat ia berjalan kembali ke ruang tamu.


Ia melewatiku begitu saja dengan tatapan tak suka. Tak sopan sekali. Aku mengikutinya kembali ke ruang tamu.


"Tuan, Nona Julia nampak kelelahan. Sepertinya ia butuh istirahat untuk mulai bekerja besok di kantor baru," lapornya pada Om Beny.


"Maaf sekali putriku belum bisa bertemu dengan kalian. Bukankah kita sudah mengaturnya bahwa besok ia akan bekerja di perusahaanmu? Kau bisa lebih sering bertemu denganmu, Ed," ucap Om Beny meminta maaf dan memberikan harapan.


"Bagaimana untuk sementara biarkan Julia tidak tau siapa aku? Aku ingin semuanya tampak alami. Jika Julia memang tak suka denganku, aku akan mundur untuk berjodoh dengannya," pintaku.


Kulihat Papa tak suka aku berbicara demikian. Biarlah, konsekuensinya akan aku terima di rumah karena Papa tidak akan berani jika dihadapan orang lain.


"Itu bagus untuk pendekatan kalian. Om sangat setuju," sahut Om Beny menyetujui.


Aku dan Papa pamit karena sudah malam.


Gadis secantik itu akan aku jadikan alat untuk membalas dendam. Benarkah ini?


Wajahnya masih terlihat polos dan lugu. Dapat kulihat kecantikan alami dalam dirinya. Malam ini aku tak dapat melupakan wajah itu. Wajah yang sangat meneduhkan dan sudah membuat jantungku berdebar.


Aku tak dapat memejamkan mata. Hatiku tak sabar untuk bertemu dengannya besok.


Paginya.


"Ed, hari ini pastikan gadis itu bekerja diperusahaan kita menjadi asistenmu," tegas Papa.


"Pa, Edward baru saja menyuapkan suapan pertama sarapannya. Urusan itu nanti saja kalian bicarakan di kantor. Ini meja makan tempat untuk makan," bela Tante Amara.


Papa tampak kesal. Axel dan aku pura-pura tak mendengar pembicaraan mereka.


Bagiku Tante Amara sering membelaku, aku tak pernah terharu olehnya. Ia sudah menghianati Mama dengan menikahi Papa. Bagaimana bisa seorang adik menghianati kakaknya?


"Kak, aku ikut ke kantor ya?" pinta Axel.


"Tak perlu," cegah Papa. "Kau fokus saja kuliah," tambahnya lagi.


Axel tak berkata lagi. Ia menghabiskan sarapannya dan pergi ke kampus setelahnya.


Ponselku bergetar tanda pesan masuk dari nomor yang tak dikenal.


[Jangan sakiti Julia!]


Siapa yang mengirimiku pesan ini?

__ADS_1


__ADS_2