
Ayah sudah menungguku di ruang kerjanya. Karena kemarin aku tidak pulang, aku harus memberikan laporan padanya kenapa aku sampai tidak pulang.
Kuketuk pintu ruang kerja ayah yang masih tertutup. Aku yakin di dalam masih ada Devan yang sedang bekerja dengan ayah. Kubuka pintu, dan benar saja Devan sedang berada disamping ayah.
“Selamat malam ayahku tercinta,” seruku dan berlari kecil mendekati ayah lalu memeluknya.
“Ada cerita apa dari anak gadis ayah sampai kemarin tidak pulang?” tanya ayah langsung pada topik utama.
“Jadi kemarin itu sepulang dari meeting bersama klien, aku singgah di panti asuhan milik bos aku, Yah,” jelasku lalu duduk di kursi depan meja.
“Kami berbagi makanan, bermain, bercerita dengan anak panti di sana sampai lupa waktu kalau sudah malam. Akhirnya Madam Lusi pengurus panti itu meminta kami untuk menginap di sana karena sudah larut malam,” jelasku lagi.
“Benarkah? Bosmu sangat dermawan rupanya,” puji ayah.
“Iya, dia sangat dermawan dan juga tampan,” kulirik Devan saat menegaskan kata tampan.
“Kau menyukai bosmu?” aku menggaruk kepala yang tidak gatal.
“Tidak juga. Dia memang seperti itu,” jawabku.
“Jadi bagaimana tentang perjodohan dengan anaknya Om Gerald? Apa kamu sudah memikirkannya? Setidaknya bertemu saja dulu,” Lagi-lagi tentang perjodohan.
“Aku belum siap. Usiaku saja masih dua puluh lima tahun. Aku masih belum kepikiran untuk menikah, Aku ingin menjadi wanita sukses dulu, Yah. Supaya akupun bisa mengimbangi Dia yang menjadi suamiku. Agar aku bisa mendukungnya dan memberikan kontribusi pada setiap usahanya,” ucapku panjang kali lebar.
“Sekali saja turuti permintaan Ayah. Bertemu dengan anaknya Om Gerald. Setelah bertemu jika kamu tidak menyukainya, Ayah tidak akan memaksamu lagi untuk lebih jauh lagi dengannya, bagaimana?” pinta Ayah.
“Hmmm…. Akan aku pikirkan, Yah.” Malas sekali rasanya bertemu dengan orang yang tidak kita kenal.
Apalagi aku belum tau wajahnya. Om Gerald saja aku tidak tau yang mana.
“Sekali ini saja. Ayah menuruti permintaanmu untuk tidak bekerja diperusahaan Ayah. Sekarang giliranmu untuk menuruti permintaan Ayah,” sepertinya Ayah sudah mulai kesal padaku.
“Baiklah. Asal Ayah tidak memarahiku,” ucapku sambil memajukan bibirku, mungkin ada tiga senti tidak sampai lima senti seperti biasanya. Haa
Senyum Ayah mengembang dari wajahnya, “Devan, buatkan janji dengan keluarga Gerald minggu depan.”
“Baik, Tuan,”
Apa salahnya dicoba. Kalau aku tidak suka Ayah tidak akan memaksaku lagi dengan perjodohan ini.
Karena sudah lama tidak bertemu dengan kedua sahabatku. Aku memutuskan utuk bertemu dengan mereka di tempat biasa yaitu kafe Raya.
Ponselku bergetar saat akan memasuki mobil. Layar ponsel bertuliskan Fira memanggil. Kutekan tombol hijau untuk mengangkat panggilan itu.
“Iya, Fir?”
“Aku sedang di dekat rumahmu. Kita pergi bareng. Aku jemput kamu sekarang ya!”
“Okey. Aku tunggu. Aku sudah di depan rumah,”
“Sebentar lagi aku sampai,”
__ADS_1
Tidak berapa lama mobil sport keluaran terbaru memasuki gerbang. Suara klakson yang khas memanggilku untuk segera mendekat.
“Hay, gadis, butuh tumpangan?” seru Fira
“Butuh sandaran bukan cuma tumpangan, bisa?” sahutku setelah masuk ke dalam mobilnya.
Fira langsung menancap gas meninggalkan rumah.
“Bagaimana dengan pekerjaan barumu?” tanya Fira.
“Apapun pekerjaannya aku selalu bisa mengerjakannya,” kataku dengan bangga.
“Iya, iya aku sudah tau itu, Nona Julia yang cantik. Maksudku bagaimana dengan bosmu? Apakah dia tampan. Kalau tampan, kenalkanlah dengan temanmu ini,” kilahnya.
“Nona Fira yang cantik jelita tiada tara bukankah Anda sedang berpacaran dengan Martin CEO Pelangi Production? Kenapa masih ingin dikenalkan dengan bos baruku?” candaku.
“Aku baru putus sama Martin. Aku kurang cocok sama Dia.” Fira kerap memutuskan pacarnya hanya karena tidak cocok.
Semudah itu dia bisa menyukai dan melepaskannya begitu saja.
“Jadi sekarang kamu tidak punya pacar? Aku tidak percaya, haha,”
“Jangan sebut namaku Fira jika aku tidak punya teman dekat pria lainnya, haha,”
“Dasar, anak nakal,”
Kilas balik kejadian malam itu terus berputar di kepalaku. Saat Tuan Edward dan aku hanya berjarak kurang dari satu senti.
Apa dia akan menciumku? Tidak. Aku ingin ciuman pertamaku bersama orang yang aku cintai dan mencintaiku.
Sedih sekali mendengar ceritanya dari Madam Lusi. Aku dan Tuan Edward sama-sama sudah tidak mempunyai ibu. Kesamaan ini membuatku merasakan kesedihan yang sama dengannya. Bagaimana rasanya kesepian tanpa seorang ibu yang menemani dimasa kecil.
Ibu, aku merindukanmu. Setetes air mata jatuh tanpa permisi.
Tanpa terasa mobil Fira sudah berada di parkiran kafe Raya. Fira menghentikan mobilnya tidak jauh dari pintu masuk kafe.
“Julia, kamu nangis?” Fira membuyarkan lamunanku.
“Aku hanya ingat Ibu,” kuseka air mata yang terlanjur jatuh.
“Uh kasian temanku ini. Sini peluk!” Fira memelukku dan menepuk punggungku.
“Sudah jangan nangis, ya. Ayok kita makan banyak malam ini,” sahabatku ini memang paling bisa menghibur aku yang sedang sedih.
Kami keluar dari mobil dan berjalan ke dalam kafe.
“FIra, Julia,” panggil seseorang dari kejauhan. Rupanya ada kakaknya Raya di kafe, Kak Wiliam.
Aku dan Fira melambaikan tangan padanya.
“Hai, Kak Wil. Apakabar?” sapa Fira.
__ADS_1
“Baik. Bagaimana kabar kalian?”
“Kita juga baik,”
“Duduk sini!”
Kami duduk di meja yang sama dengan Kak Wiliam.
“Raya mana, Kak?” tanyaku karena belum melihat Raya sedari tadi.
“Raya masih bekerja di dalam,” jawabnya.
Karena Fira sudah memberikan sinyal bahwa Dia ingin berdua dengan Kak Wiliam aku pamit untuk ke toilet.
Daripada aku jadi obat nyamuk. Kak Wiliam sudah lama menyukai Fira tapi karena Fira selalu saja mempunyai pacar Dia jadi minder untuk menyatakan perasaannya.
Kupoleskan sedikit bedak untuk memperbaiki makeup yang sempat terhapus tadi. Tidak lupa ku poles lagi lip balm supaya tidak terlihat pucat.
Kubasahi tangan dengan air lalu menyisir rambut dengan tangan.
Lagi lagi bayangan itu muncul saat aku bercermin. Hangat nafas Tuan Edward menyentuh kulitku. Jarak bibir kami yang semakin dekat semakin membuat dadaku bergemuruh saat itu. Hanya dekat saja sudah membuatku tak karuan. Apalagi kalau sampai terjadi ciuman.
Bagaimanakah rasa ciuman itu?
“Woy, ngelamunin apa, Non?” Raya mengagetkanku.
“Astaga. Bikin kaget saja,”
“Di toilet tidak boleh melamun, nanti kesambet hantu toilet,”
“Ra, bagaimana rasanya ciuman?”
“Apa? Tunggu. Kamu punya pacar?”
“Eh. Tidak. Pacar darimana. Aku sudah dijodohkan,”
“Memang kamu sudah memutuskan untuk bertemu dengan anaknya teman Ayahmu?”
“Minggu depan acara pertemuannya. Aku belum siap untuk menikah. Ayah bilang kalau setelah pertemuan itu aku tidak suka dengan pria itu. Ayah tidak akan memaksaku lagi untuk perjodohan itu.”
“Kalau kamu jadi suka?”
Suka? Mungkinkah? Kita lihat saja nanti.
“Suka, gak ya?”
“Uhh dasar Nona Plinplan,”
Aku dan Raya keluar dari toilet dan duduk bergabung bersama Kak Wiliam dan Fira.
Ditengah perbincangan kami, Kak Wiliam melambaikan tangan pada seseorang yang baru masuk ke dalam kafe. Seorang Pria membalas lambaian Kak Wiliam. Seseorang yang tak asing bagiku. Seseorang yang seharian ini memenuhi alam pikiranku.
__ADS_1
Dia berjalan mendekat dengan menggambar senyum di latar wajahnya.
OMG!!! Tuan Edward.