
"Tunggu sebentar ya, Nona!" Devan membuka sabuk pengaman lalu keluar dari mobil.
Satu kantong plastik ia bawa keluar dari mini market dan masuk lagi ke dalam mobil. Devan membuka yang sudah ia beli lalu memberikannya padaku.
"Ini, minumlah!" ia menyerahkan sebotol air mineral.
Aku meraihnya. Tapi ia tarik kembali dan membukakan tutup botolnya lalu diberikan lagi padaku.
"Terimakasih," ucapku.
Selesai aku menenggak setengah botol air mineral, ia menyerahkan kantong plastik berisi cemilan kesukaanku.
"Makanlah beberapa cemilan ini. Lalu pikirkan akan kemana," ujarnya.
Sepertinya dia tau banyak tentangku. Buktinya dia tau apa saja cemilan kesukaanku. Namanya juga asisten Ayahku pasti tau banyak tentang keluargaku termasuk aku, anak majikannya.
"Terimakasih," ucapku lagi. "Tapi aku juga tidak tau mesti kemana Devan. Saat ini aku benar-benar tak ingin pulang. Pasti dia akan mencariku ke rumah. Aku sedang tak ingin menemuinya," jelasku. Air matakupun jatuh lagi teringat kejadian tadi siang.
"Maksud Nona, Tuan Edward?" aku mengangguk lalu menangis sesenggukan dihadapan Devan.
Aku tak bisa menahan air mataku yang terus saja keluar. Hatiku sungguh sakit dan aku hanya ingin menangis. Devan diam tak bersuara. Ia terus melajukan mobilnya walau aku tak bilang mau kemana.
Karena lelah menangis, akhirnya aku terlelap. Devan masih fokus menyetir mobilnya. Aku percaya saja dengannya entah ia akan kemana membawaku.
Hingga sampailah disebuah rumah dua lantai minimalis yang berada di pinggiran kota. Rumahnya tampak sederhana tapi rumah ini paling besar diantar rumah lainnya.
Aku membuka mata melihat sekeliling tak mengenal daerah ini. Devan juga tertidur di sebelahku di kursi kemudinya.
"Van, Devan," pelan-pelan aku menggoyangkan tangannya supaya bangun. Karena hari sudah malam dan aku tak tau sedang berada di depan rumah siapa.
"Nona, sudah bangun?" akhirnya Devan bangun.
__ADS_1
"Ini rumah siapa?" tanyaku penasaran.
"Rumah saya, Nona," jawabnya. "Ayok kita masuk!" ajaknya lalu keluar dari mobil.
Aku menyusul keluar dari mobil dan melangkah mengekorinya berjalan ke dekat pintu. Devan memutar kunci yang ia keluarkan dari tas miliknya.
"Mari masuk, Nona. Aku akan antarkan ke kamar untuk beristirahat,"
Devan mengantarkanku ke depan sebuah kamar yang berukuran tak begitu luas. Ada satu tempat tidur dan sat lemari di dalamnya.
"Silakan beristirahat, Nona. Maaf hanya kamar sederhana yang bisa saya siapkan," ucapnya.
"Tidak apa-apa. Terimakasih, Devan. Kamu sudah menolongku," walau bagaimanapun Devan adalah penolongku saat ini.
"Saya sudah menghubungi Tuan. Saya mengatakan Nona berada di rumah Nona Raya supaya beliau tidak khawatir," jelasnya.
Kenapa aku malah tidak kepikiran untuk ke rumah Raya saja ya tadi? Tadi aku tidak dapat berpikir jernih.
"Mana istrimu? Aku takut dia salah paham karena kau membawaku ke rumahmu," tanyaku karena aku tak melihat istrinya dirumah ini.
Aku masuk ke dalam kamar. Suasana sepi dan dingin mengingatkanku kejadian tadi siang.
"Aku hamil. Aku hamil. Aku hamil." suara wanita itu terus terngiang di kepalaku.
Aku menangis lagi. Meringkuk di dalam kamar seorang diri. Kupeluk kedua lututku. Air mata terus berderai membasahi pipi.
Bayangan kenangan manis bersama Tuan Edward pun terus berputar. Semakin membuatku merasakan sesak dan sakit luar biasa. Dua bulan lagi aku dengannya akan dipersatukan dalam ikatan pernikahan. Tinggal satu langkah lagi. Kenapa harus ada masalah serumit ini.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu terdengar beberapa kali. Aku mengusap pipiku yang basah karena menangis. Kutarik nafas dalam lalu membuka pintu. Seorang wanita muda berdiri di depan pintu dengan senyum ramah. Mungkin saja dia istrinya Devan.
__ADS_1
"Selamat malam, Nona. Aku membawakan baju ganti untuk anda. Jika anda ingin ke kamar mandi ada di sebelah sana," tunjuknya dan memberikanku baju dan handuk yang ia bawa.
"Terimakasih. Maaf aku merepotkanmu dan Devan. Aku mohon jangan salah paham dengannya!" aku meminta maaf karena tak enak sudah menganggu pasangan suami istri itu malam ini.
"Tidak apa-apa, Nona. Saya mengerti. Nona tidak perlu sungkan. Kalau Nona butuh sesuatu, saya ada di kamar sebelah," ujarnya masih tetap ramah padaku.
"Baik. Sekali lagi terimakasih," ucapku lalu wanita itu berlalu tanpa memberitahukan siapa namanya.
Kulangkahkan kaki menuju kamar mandi yang ditunjukkan istrinya Devan. Kubasuh muka beberapa kali. Tapi mata sembabku tak juga menghilang. Entah sudah berapa banyak air mata yang sudah aku keluarkan.
Setelah membersihkan diri dan berganti baju aku keluar dari kamar mandi dan segera masuk lagi ke kamar.
Tenggorokanku tercekat terasa kering. Terus menangis membuat tubuhku kekurangan cairan dan paginini aku merasakan sangat kehausan. Aku membuka mata tersadar aku sedang berada di rumah Devan. Kulihat jarum jam dinding sudah berada di angka enam lebih sepuluh menit pagi.
Karena haus aku keluar kamar bermaksud ingin mengambil air minum. Ketika aku membuka pintu kulihat Devan maaih tertidur di kursi panjang ruang tengah. Karena kamar ini langsung terhubung ke ruang tengah rumahnya.
Kenapa dia tidur di luar? Apakah istrinya marah padanya karena membawaku? Tapi tadi malam istrinya baik-baik saja. Pemandangan ini mengusik pikiranku sebagai tamu yang tak diundang ke rumah ini.
Epilog :
Sampai di depan rumahnya Devan tidak terus masuk ke dalam. Julia masih tertidur pulas di mobilnya. Ia menatap gadis yang sudah empat tahun terakhir ini mengisi relung hatinya. Tepatnya semenjak ia bekerja sebagai asisten Beny, Ayah Julia.
Devan menyimpan perasaannya dan tak berani menyatakannya. Bertahun-tahun Devan mengagumi Julia dalam diam. Devan sadar diri dia siapa, hanya seorang asisten dari ayah gadis yang ia puja.
Jemarinya mengusap lembut pipi Julia yang basah karena terus menangis. Ingin sekali Devan menyodorkan bahunya untuk Julia bersandar sekarang. Tapi lagi lagi statusnya menjadi penghalang. Devan hanya bisa menjaga Julia dari kejauhan.
"Semoga kamu selalu bahagia. Jangan bersedih lagi seperti sekarang," batinnya merasakan sakit yang sama dengan gadis yang sedang ia pandangi.
Devan sangat khawatir dengan keadaan Julia. Ia tak bisa tidur dengan nyenyak. Julia sedang sangat bersedih tapi Devan tak bisa berbuat sesuatu untuk menghiburnya.
Berkali-kali Devan ingin mengetuk kamar Julia tapi tak jadi ia lakukan. Ia masih ragu dan takut walau hanya sekedar ingin mendengar ceritanya saja agar Julia bisa menceritakan kesedihan padanya.
__ADS_1
Suara tangisannya yang sesenggukan di dalam kamar jelas terdengar. Devan tak berani masuk ke dalam dan menenangkan Julia. Ia hanya bisa menunggu dan menjaga Julia di luar kamar.
"Apakah dia tau kau menyukainya?" tanya Marinda tiba-tiba.