
Wajah pucat, keringat dingin keluar, tubuhnya lemas terkulai ke lantai. Ada apa dengan Tuan Edward.
“Dion!!” teriak madam Lusi memanggil seseorang.
Dion datang dan sepertinya ia sudah mengerti dengan situasi di ruangan ini. Dion mengangkat Tuan Edward yang sudah tak sadarkan diri karena melihat darah menstruasiku tadi ke atas sofa.
Dengan susah payah Dion memindahkannya karena ukuran tubuh Tuan Edward lebih tinggi dan berisi darinya.
“Tuan Edward, kenapa Madam?” tanyaku setelah mencoba bangkit dan juga terkejut melihat Tuan Edward yang tiba-tiba pingsan.
“Seperti yang kamu lihat dia sangat takut dengan darah sampai pingsan. Sebelum dia sadar sebaiknya kamu cepat ganti bajumu dan aku akan membereskan sprei dan selimut yang terkena darahmu,” jelasnya.
“Tapi aku tidak membawa baju ganti, Madam.”
“Nanti aku bawakan baju ganti untukmu. Kamu bisa mengganti baju dan membersihkan dirimu sendiri atau perlu aku bantu?”
“Aku bisa sendiri,” rasanya semua badanku terasa nyeri belum lagi perutku yang sakit karena hari pertama menstruasi aku berusaha untuk tidak lebih banyak merepotkan.
Madam Lusi memberikan dress berwarna hitam untukku. Aku langsung berjalan perlahan ke kamar mandi dengan menahan sakit.
Keluar dari kamar mandi Tuan Edward masih belum sadar. Ruangan sudah berubah menjadi lebih rapi, rupanya sprei yang terkena darah tadi sudah diganti. Madam Lusi datang membawakan teh hangat.
“Ini, minumlah!” Madam Lusi menyerahkan cangkir teh yang ia bawa padaku.
“Terimakasih,” kuterima cangkir teh itu dan meminumnya.
Sebenarnya aku masih cemas dengan kondisi Tuan Edward yang masih belum juga sadarkan diri. Dia tampak begitu lemah.
Maafkan aku ya Tuan Edward. Aku tidak tau kalau Tuan punya hemophobia.
Langit sudah berubah menjadi gelap, tapi Tuan Edward belum juga siuman. Walau sedang terbaring lemah pun dia masih terlihat tampan.
Oh tidak, mataku lagi-lagi memandanginya.
“Dia tampan bukan?”
“Ah, i iya. Eh.. Iya dia memang terlihat tampan karena perawatan wajah tentunya,” kikuk juga kalau ditanya seperti itu. Madam Lusi tersenyum penuh arti mendengar jawabanku.
“Edward melihat mamanya berlumuran darah dan meninggal saat itu juga. Hari itu menjadi hari yang tidak pernah Edward lupakan seumur hidupnya. Mamanya dibunuh oleh pejambret di taman kota,” terang Madam Lusi.
“Sejak saat itu Edward dititipkan di panti asuhan ini oleh papanya. Aku mengurusnya dari sejak ia berusia tujuh tahun sampai papanya mengambil Edward untuk disekolahkan ke luar negri. Dia anak yang cerdas dan periang. Tetapi sebenarnya ia kesepian karena luka yang belum bisa ia sembuhkan. Kehilangan mamanya membuat Dia sangat kehilangan sosok orang tua karena papanya sangat sibuk dengan bisnisnya,” sambungnya lagi.
“Apa Tuan Edward tidak mempunyai sanak keluarga yang lain? Kenapa ia dititipkan di panti asuhan?” tanyaku penasaran.
Terkahir kali Tuan Edward mengatakan kalau Mr. George adalah sepupu mamanya. Kenapa Dia tidak tinggal saja bersama pamannya jika papanya sibuk bekerja.
Madam Lusi menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaanku. “Aku tidak pernah tau keluarganya. Karena semenjak Edward dititipkan di panti asuhan ini, hanya papanya yang selalu datang sebulan sekali untuk menemuinya,” jelasnya lagi.
__ADS_1
Tuan Edward menggerakkan tangannya dan memegangi kepalanya, wajahnya masih tampak sedikit pucat tapi sudah lebih baik. Ia melihatku dan Madam Lusi sedang duduk tidak jauh darinya.
“Kau sudah baikan. Ayok kita pulang!” ucapnya lalu berdiri tapi terjatuh lagi karena masih belum bisa menopang tubuhnya yang masih lemas.
Madam Lusi memeganginya.
“Kalian menginap saja disini. Kondisi kalian tidak memungkinkan untuk pulang. Istirahatlah, besok pagi baru pulang,” saran Madam Lusi.
“Aku masih banyak kerjaan dan Dia harus pulang supaya orang tuanya tidak khawatir,” tolaknya.
“Aku bisa menghubungi ayahku kalau aku tidak pulang, Tuan.” Aku pikir tidak mungkin aku ataupun Tuan Edward yang menyetir mobil.
Melihat kondisi Tuan Edward masih harus istirahat. Maka dari itu aku putuskan untuk menginap di panti.
“Lagi pula Tuan masih harus beristirahat,” sambungku lagi.
“Akan aku siapkan kamar untukmu,” ucap Madam Lusi lalu ia keluar meninggalkan kami.
Tuan Edward duduk bersandar ke belakang sofa dengan tangan menutupi matanya.
“Kamu melihatku tak sadarkan diri karena takut darah?”
Pertanyaan apa itu? Sudah pasti aku melihatnya, Tuan.
“Iya, Tuan,” jawabku hati-hati.
“Kamu sudah tau kelemahanku sekarang,” ucapnya lagi.
“Lalu apa? Aku tak berdaya jika sudah melihat darah,”
“Kalau Tuan mau, kelemahan itu bisa hilang. Tuan tidak akan takut lagi melihat darah,”
“Dengan cara apa? Terapi? Aku sudah pernah melakukannya,”
“Lalu?”
“Tidak berhasil,”
“Mungkin bukan tidak tetapi belum berhasil. Tidak ada salahnya jika mencoba lagi,”
Tuan Edward menyingkirkan tangan dari matanya lalu memandangku. Pelan-pelan ia berdiri dan berjalan kearahku kemudian duduk dipinggiran tempatku bersandar.
Netranya beradu dengan netraku. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Ada getaran aneh dalam dada. Tanganku keringat dingin pertanda aku sedang grogi.
“Kamu yakin aku bisa?” aku dapat merasakan hembusan nafasnya karena jarak kita sangat dekat.
Aku tidak dapat berkata atau menggerakkan anggota tubuhku dengan jarak yang sangat dekat dengannya. Rasanya tubuhku terasa kaku dan membatu.
__ADS_1
Wajahnya bergerak semakin mendekat, bibir kami hanya berjarak setengah senti saja. Aku semakin tak dapat mengontrol diriku. Pipiku terasa panas dan tanganku terasa sangat dingin. Ada rasa aneh di perutku tapi bukan nyeri menstruasi seperti sebelumnya.
“Ekheemmm…” suara Madam Lusi berdehem otomatis membuat kami saling menjauh dan salah tingkah.
“Aku akan ke kamar mandi,” ucapnya lalu berdiri dan berjalan menuju kamar mandi dengan langkah biasa tidak seperti tadi yang terlihat lemas dan tertatih.
“Sepertinya kamu sudah pulih Ed,” seru Madam Lusi.
“Ya,” jawabnya lalu menutup pintu kamar mandi.
Esoknya kami berpamitan untuk pulang. Tuan Edward berpamitan dengan anak-anak panti. Madam Lusi memelukku dan Tuan Edward begantian.
“Jaga dirimu!” pesan Madam Lusi. “Dan juga jaga Julia,” tambahnya lagi.
Aku terkejut mendengarnya hingga terbatuk seperti kesedak makanan. Madam Lusi hanya tersenyum melihat tingkahku, sedangkan Tuan Edward tidak menampakkan ekspresi yang berarti.
Sejak kejadian semalam kami menjadi canggung satu sama lain. Diperjalanan hening tidak ada yang memulai percakapan. Aku juga bingung mau mengatakan apa atau memulai obrolan dengan topik apa.
“Apa kamu masih sakit?” tanyanya menghentikan kesunyian dalam mobil.
“Sudah lebih baik. Tuan bagaimana?”
“Aku sudah jauh lebih baik.”
Perasaan canggung ini masih terasa hingga keheningan meyelimuti lagi. Sesekali aku meliriknya yang sedang fokus menyetir.
Wajahya tidak menampakkan ekspresi apapun masih datar tak dapat aku artikan.
Mobil memasuki basement gedung dan suasana dalam mobil masih dalam mode hening. Hingga akhirnya…
“Julia,” panggilnya saat aku baru saja akan membuka pintu mobil.
“Iya, Tuan,”
“Bisakah kamu tidak memanggilku Tuan Ketika kita hanya berdua saja?”
“Hah?”
Epilog :
Edward masuk ke dalam kamar mandi. Nafasnya memburu naik turun. Ia tak pernah menyangka jika semakin ia dekat dengan Julia jantungnya memompa lebih cepat.
Bibir ranum Julia hampir saja membuatnya tak berdaya. Bukan cuma darah yang membuatnya tak berdaya tapi tatapan dan bibir tipis Julia juga mampu mengalahkan akal sehatnya.
Beruntung Madam Lusi segera datang hingga tak terjadi hal yang tak diinginkan.
Edward mengusap kasar wajahnya.
__ADS_1
"Shitt... Aku ingin sekali menciumnya,"
Kejadian tadi terus berputar dan membayanginya setelah itu.