Jodohku, Suami Idaman (Julia & Edward)

Jodohku, Suami Idaman (Julia & Edward)
Pernyataan Tuan Edward


__ADS_3

Apa Tuan Edward sedang menyatakan perasaannya?


Mata kami masih saling berpandangan. Akhir-akhir ini sering sekali beradu pandang dengannya.


Kuatkan jantung ini Tuhan. Karena aku selalu tak tahan dengan tatapannya padaku.


Drrttt drrrttttt…


Getaran ponsel menyadarkanku dari tatapan Tuan Edward yang selalu saja membuatku tak bisa berkutik. Kulihat layar ponsel ternyata Raya menelepon lalu kugeser tombol hijau untuk mengangkatnya.


“Hahalo, gimana Ra?” jawabku.


Belum juga aku mendengar jawaban Raya, Tuan Edward menarik ponselku dengan gerak cepat.


“Kami sedang berlibur dan tidak bisa diganggu,” ucapnya lalu menutup panggilan Raya.


Huh.. seenaknya saja merebut barang orang. Aku bisa dicecar habis-habisan nih kalau bertemu Raya nanti.


“Simple,” tukasnya lalu memberikan ponselku kembali.


“Kenapa Anda berani sekali merebut ponselku? Padahal temanku sedang menghubungiku,” aku marah jelas. Dia sangat menyebalkan.


“Aku hanya tak ingin diganggu saat berdua denganmu,” jelasnya.


Sejenak aku terdiam mendengar penjelasannya. Mencerna setiap kata yang ia ucapkan. Bukankah kalimat itu seharusnya dikatakan pada seseorang seperti pacar, kekasih, istri atau sejenisnya. Untuk apa Tuan Edward mengatakannya padaku. Aku hanya asistennya bukan kekasihnya.


“Maaf. Tapi saya bukan siapa-siapa Anda, Tuan. Saya hanya asisten Anda dan tidak seharusnya mengatakan itu kepada saya,” Huh bikin kesal saja.


“Apa kamu tidak merasakannya?”


“Apa?”


“Sudahlah. Kamu memang tidak peka,” Tuan Edward berlalu menghilang dibalik pintu.


Dia marah? Kenapa dia marah? Bukannya aku yang harus marah. Aku memang sudah suka sama kamu, Tuan. Mungkin Tuan Edward juga suka padaku. Tapi masa iya aku yang menyatakannya duluan.


Kalau dulu aku tidak mengetahui perasaan Devan padaku. Aku menunggu Devan mengetahui perasaanku dengan perhatian yang aku berikan. Sampai akhirnya menjadi cinta terpendam dan bertepuk sebelah tangan. Menyedihkan sekali.


Aku akui sekarang aku menyukai Tuan Edward. Haruskah aku menyatakan perasaanku?


Kujatuhkan tubuh ini ke atas kasur. Lelah dengan segala


macam pikiranku sendiri.


“Aku harus bagaimana, Tuhan?” lirihku lalu memejamkan mata.


Beberapa kali aku membuka tutup mata karena perasaanku dibuat kacau karena perkataan Tuan Edward tadi. Bangun lalu menjatuhkan diri lagi ke kasur. Sekacau itu aku saat ini, perasaanku tak menentu. Haruskah mengulang yang terjadi?


Atau aku harus memberanikan diri mengungkapkan perasaanku lebih dulu pada Tuan Edward.


Aaarrrgghh …… Tak sadar aku meremas dan menggigit selimut yang kugenggam.

__ADS_1


Tiga kali ketukan pintu terdengar. Selanjutnya suara Mami Tuan Edward yang kudengar.


“Julia, Sayang!” panggilnya dari balik pintu. “Mami, boleh masuk, Nak?” sambungnya lagi.


Aku beranjak membukakan pintu. Mami tersenyum ramah saat pintu sudah terbuka untuknya. Mami membawa dua buah paper bag besar dengan merk ternama.


“Untuk makan malam nanti kamu pakai ini ya!” ucapnya sembari menyerahkan dua paper bag itu padaku.


“Terimakasih,” ucapku lalu menyimpan paper bag itu di atas sofa.


“Edward kemana?” tanyanya sambil memindai seisi ruangan.


“Tadi keluar, Bu…”


“Ma-mi, panggil Mami jangan ibu. Aku terdengar seperti ibu tiri kejam kalau dipanggil ibu. Panggil Mami saja ya sayang,” pintanya.


Situasi macam apa ini. Aku sudah seperti akan menjadi menantu sungguhan saja. Padahal aku hanya pura-pura jadi pacarnya Tuan Edward.


“I-iya Mami,” jawabku sedikit tidak nyaman mengucapkannya karena memang belum terbiasa.


Ia mengeluarkan ponselnya lalu menekan tombol untuk menelpon seseorang.


“Ed, kamu dimana? Jangan tinggalkan Julia sendiri. Kasian nanti Julia kesepian. Kembali kesini sekarang!”


What the …… Mami sengaja menyuruh Tuan Edward menemaniku. Tidak! Aku belum mempersiapkan diri untuk bicara dengannya.


“Maafkan Edward ya sayang. Dia memang seperti itu. Terlihat cuek tapi sebenarnya sangat perhatian. Nanti kamu pasti terbiasa sama Dia. Mami temani dulu kamu disini sampai Edward datang ya,” ujarnya membela Tuan Edward yang sekarang entah ada dimana.


“Iya, Mami. Tidak apa apa kok. Aku sudah terbiasa,”


Kenapa Madam Lusi mengatakan kalau Tuan Edward sangat kesepian. Padahal Tuan Edward mempunyai keluarga yang begitu baik padanya. Mungkin saja Tuan Edward masih sangat kehilangan mamanya.


Sikap Mami Amara yang baik dan bersahabat membuatku nyaman berbincang lama dengannya. Membahas segala hal tentang perempuan, bersenda gurau dengannya sangat mengasyikan. Tanpa terasa waktu bergulir dengan cepat.


Namun Tuan Edward belum juga datang. Tak dapat dipungkiri kalau aku menunggunya. Sesekali aku melirik pintu yang tak kunjung terbuka. Kalaupun Tuan Edward datang apa yang harus aku katakana padanya. Aku masih menjaga harga diriku untuk tidak mengungkapkan perasaanku lebih dulu.


“Julia,”


“Iya,'


“Mami harap kamu nyaman disini. Anggap saja rumah sendiri. Karena rumah ini akan menjadi rumahmu kelak,”


“Rumahku?”


Mami, aku dan Tuan Edward hanya bersandiwara. Ya, begitulah kenyataannya. Hufff..


“Iya, sayang. Kamu akan tinggal disini setelah menikah dengan Edward nanti. Jadi mulai dari sekarang kamu harus sudah menyesuaikan diri dengan rumah ini,” pungkasnya lagi.


“Apa tidak berlebihan, Mi? Rumah ini sangat besar jika ditinggali sama aku dan….” Sebelum aku menyelesaikan kalimatku Tuan Edward datang.


“Ed, kamu kemana saja? Kasihan kan Sasa ditinggal sendiri,”

__ADS_1


Mami bangkit dari duduknya lalu menghampiri Tuan Edward yang baru saja datang.


"Ya sudah. Mami mau menyiapkan makan malam nanti. Julia kalau Edward pergi lagi bilang Mami biar nanti Mami yang ikat dia di tiang jendela,” sambungnya lagi sambil tertawa renyah dan berlalu meninggalkan aku dan Tuan Edward.


Tidak ada kata yang keluar dari mulutnya. Aku memalingkan muka menyembunyikan kebingunganku harus bebuat apa saat ini. Tuan Edward mendudukan tubuhnya di sebelahku.


“Mami bilang apa?” akhirnya Dia bersuara.


“Katanya aku harus menyesuaikan diri dengan rumah ini karena nanti aku akan tinggal disini setelah menikah dengan Anda TUAN,” sengaja aku katakan semuanya dengan sedikit penekanan.


“Hmmm…” Sungguh keterlaluan hanya menjawab dengan deheman.


“Kita harus mengakhiri sandiwara ini. Maaf aku tidak bisa bersandiwara untuk menikah dengan Anda,” tegasku. Aku tidak bisa bermain-main dengan pernikahan, itu menyangkut masa depanku.


“Iya kita harus mengakhiri sandiwara ini,” Ada rasa sedih dalam hati mendengarnya akan mengakhiri sandiwara pacaran ini.


“Kita akhiri sampai disini,” tubuhku bergetar hatiku menolak tapi mulutku berucap kata-kata menyedihkan.


"Kita akhiri dengan pernikahan sungguhan,” Sontak aku terkejut mendengar kata ‘sungguhan’ yang ia lontarkan. Aku memindai mimik mukanya, mencari tanda-tanda dusta dan aku tak menemukannya.


Seriously? Pernikahan sungguhan?


“Jangan pernah main-main dengan pernikahan,” ungkapku menyadarkannya untuk tidak bermain-main lagi dengan sandiwara bodoh ini.


“Aku tidak main-main. Aku serius,”


Lagi lagi tak ada tanda kebohongan di setiap garis wajahnya.


“Kenapa Anda mau menikahi saya?” pertanyaan itu terlontar begitu saja.


“Karena aku menyukaimu,”


Akhirnya kalimat itu terdengar juga ditelingaku. Getaran dihati semakin nyata. Tubuh ini tak menolak saat tangan Tuan Edward menelusup masuk ke dalam ruang disela jari-jariku. Ia menggenggam tanganku dan menatapku dalam.


“Aku menyukaimu, Julia Marsha.”


Epilog :


Seseorang berbicara dengan Edward di dekat mobil yang terparkir di halaman depan vila. Ia mengangkat kerah kemeja Edward dan menekannya ke mobil.


"Jika kau menyakitinya, aku tak segan-segan membuka kedokmu dan keluargamu," ucapnya penuh penekanan dan amarah pada Edward.


Edward melepaskan diri dari cengkraman kuat dilehernya.


Sedangkan Raya di rumahnya sangat mencemaskan Julia karena teleponnya yang terputus begitu saja. Bahkan GPS keberadaan Julia berada diluar kota.


"Kak, aku khawatir Julia dalam masalah bersama temanmu itu," ungkap Raya pada kakaknya, Wiliam.


"Kakak gak nyangka, kalau Edward berpacaran dengan Julia. Serau Kakak Edward sudah punya tunangan di Belanda," ucap Wiliam sambil mengingat-ingat tentang Edward.


"Bagaimana kalau kita susul saja, Kak? Perasaanku gak enak," Raya membujuk Wiliam.

__ADS_1


"Sudahlah kita berpikir positif saja dulu sama Edward. Kalau kita susul nanti disangkanya kita mengganggu waktu berpacaran mereka," ucap Wiliam santai.


"Huuhh.." kesal Raya.


__ADS_2