
Aku kesal karena tidak mendapatkan jawaban yang aku mau dari Tuan Edward. Akhirnya aku memilih diam dan mendiamkannya selama perjalanan. Sampai Tuan Edward membelokkan mobilnya ke area komplek rumahku.
Tunggu. Kenapa Dia tau jalan kerumahku? Oh mungkin saja dia melihatnya di data pegawai.
Mobil memasuki gerbang depan rumah dan berakhir tepat di pintu utama. Aku langsung membuka pintu dan mengucapkan terimakasih karena Dia sudah mengantarku pulang.
“Terimakasih tumpangannya, Tuan,” ucapku sembari membuka pintu mobil.
“Aku sudah bilang, kalau diluar panggil aku nama saja,”
“Terimakasih tumpangannya, EDWARD,” aku mengulangi ucapan terimakasih dengan menekankan namanya.
“Kau manis sekali,” pasti pipiku merah kayak tumpukan blush on pink nih dipuji manis.
“Mau mampir?” tanyaku basa-basi tapi aku harap dia langsung pergi saja.
“Boleh kalau kamu mengijinkan,” ish, kok malah mau sih.
Aku mengajaknya masuk dan membawanya ke ruangan belakang yang menuju ke kolam renang. Selain lebih nyaman, Ayah tidak akan tau kalau aku membawa tamu. Karena ruangan kerja maupun kamar Ayah berada di sisi barat rumah.
“Silakan duduk, Tuan. Mau minum apa?”
“EDWARD. Aku sudah bilang jangan panggil Tuan kalau kita sedang berdua saja,” tekannya.
“Okey. Maaf aku lupa. Mau minum apa?”
“Air putih saja,” pintanya.
“Baiklah. Tunggu sebentar, aku ambilkan dulu,”
Tak lama aku membawa segelas air untuknya. Saat kembali ia sedang menatap lurus ke kolam renang. Karena sofanya menghadap jendela kaca jadi bisa terlihat jelas taman belakang rumah dan kolam renang disana.
Ruangan ini adalah tempat favoritku karena dengan melihat air bisa membuatku tenang. Ditambah suasana diruangan ini yang sejuk jendela kaca yang setiap hari dibuka lebar, bunga bunga tumbuh mengelilingi area pinggiran kolam.
Aku menghampirinya untuk memberikan air yang tadi ia minta.
“Silakan diminum!” kuletakan gelas di atas meja. Ia hanya mengangguk.
“Rumahmu sepi sekali, kemana orang tuamu?” tanyanya.
“Ayah sedang di ruang kerjanya. Kalau Ibu sudah lama meninggal,” jawabku.
“Maaf aku menanyakan itu,” ucapnya merasa bersalah.
“Tidak apa-apa,”
Untuk pertama kalinya aku mengajak seorang pria ke rumah. Ini sungguh diluar dugaan.
Dan pria itu bosku bukan pacarku. Hah sangat miris sekali.
“Rumahmu besar juga. Sepertinya gaji yang kau dapatkan tidak sebanding dengan kekayaan orang tuamu,” ujarnya.
“Kalau membahas tentang uang memang akan terlihat perbandingannya. Aku bekerja untuk mencari pengalaman, belajar menjadi pegawai biasa, supaya aku bisa melihat dan menyelesaikan masalah dari berbagai sudut pandang. Aku ingin memulainya dari bawah. Ayahku beberapa kali menyuruhku untuk langsung bekerja diperusahaan. Tapi aku selalu menolaknya. Karena aku merasa aku belum siap untuk menggantikan Ayah,” jelasku.
__ADS_1
“Pilihan yang bijak. Aku senang mendengarnya. Kamu berusaha untuk mandiri tidak bergantung dengan orang tuamu,”
“Tidak juga. Aku masih bergantung sama Ayah sampai sekarang,”
“Apa kamu punya pacar?”
“Pacar? Haha…”
“Kok malah tertawa,”
“Bukankah tadi kau mengaku jadi pacarku? Pacar pura-pura,” semoga saja pertanyaan ini tidak menjebakku ke dalam masalah.
“Jadi kau mau jadi pacarku?” Aku terdiam mendengar pertanyaannya. Kedua netraku beradu dengan netranya. Ada keseriusan disana. Tapi…
“Pacar pura-pura,” sambungnya lagi membuatku tertawa yang dibuat-buat.
"Hahaha..." ya pura-pura saja tertawanya karena dia bilang pacar pura-pura.
Tapi, walaupun hanya pura-pura aku merasa senang. Anggap saja belajar pacaran dengan Tuan Edward.
Dari kejauhan aku lihat Ayah dan Devan sedang bersembunyi dibalik dinding dan menguping pembicaraan kami.
“Maaf, aku ingin ke kamar mandi,” Tuan Edward mengangguk dan aku langsung memergoki dua pria yang sedang menguping sedari tadi.
Aku kira Ayah tidak akan tau kalau aku bawa tamu kerumah. Arrgghh bagaimana ini? Ayah pasti marah padaku.
Belum lagi aku sudah berjanji akan bertemu pria yang akan dijodohkan denganku. Sambil berjalan aku mencari alasan yang tepat saat ditanya Ayah nanti.
“Devan, mau kemana kamu?” Kulihat Devan berjalan tapi balik lagi karena melihatku. Ayah langsung duduk di kursi sambil pura-pura melihat ponsel.
“Rupanya kamu lupa tata letak rumah ini. Dapur itu berlawanan arah denganmu,” ketusku.
Ayah masih pura-pura mengotak-atik ponselnya sambil sesekali melirikku.
“Tumben sekali Ayah keruangan ini?” tanyaku.
“Ayah bosan di ruang kerja terus. Sekalian jalan-jalan saja dirumah,” jawabnya dengan alasan tak biasa. “Siapa yang sedang bersamamu?” Tuh kan pasti pertanyaan itu yang ia tanyakan.
“Dia temanku,” jawabku asal.
“Kirain pacar. Ya sudah nanti kenalkan sama Ayah kalau sudah jadi pacar,” ucapnya sambil berlalu meninggalkan aku bersama Devan di belakangnya.
Untunglah Ayah tidak marah. Tapi Ayah ada benarnya juga, kalau aku mengenalkannya sebagai pacarku pasti Ayah tidak akan menjodohkan aku lagi.
Tuan Edward harus balas budi karena tadi dia sudah ngaku-ngaku jadi pacarku di depan Kak Wiliam dan sahabatku.
Aku kembali ke ruangan Tuan Edward berada.
“Karena sudah malam. Aku pamit pulang. Terimakasih sudah mengajakku mampir,” pamitnya saat aku baru saja kembali.
“Iya udah malam, Anda harus beristirahat,” sahutku.
Aku mengantarnya sampai ke depan rumah.
__ADS_1
Aku tau Ayah dan Devan sedang mengintip di kaca jendela lantai dua. Ku dongakkan kepala untuk melihat mereka. Namun mereka dengan cepat menutup gorden persembunyiannya.
“Ada apa?” rupanya Tuan Edward memperhatikanku.
“Tidak apa-apa, Tuan. Aku sedang melihat bintang.”
Tuan Edward menengadah melihat bintang.
“Langit sangat indah malam ini,” serunya lalu menatapku. “Aku pamit.” Lalu ia masuk ke dalam mobilnya.
“Iya, hati-hati dijalan. Selamat berakhir pekan,” seruku.
Namun ia keluar lagi dari mobilnya dan menghampiriku.
“Apa besok kau bisa menemaniku ke suatu tempat?” ungkapnya.
Besokkan hari sabtu. Apa ini ajakan kencan? Ini kesempatanku untuk memintanya pura-pura jadi pacarku didepan Ayah. Supaya Ayah tidak jadi menjodohkanku.
“Besok? Nanti saya hubungi jika saya tidak jadi pergi bersama teman-teman,” tolakku so jual mahal.
Ada raut kecewa diwajahnya saat mendengar jawabanku.
“Baiklah. Kutunggu kabarnya besok pagi,” ucapnya lalu mengacak rambutku dan masuk ke dalam mobilnya dan melaju pergi.
Aku mengusap rambut yang baru saja diacak-acak Tuan Edward. Andai saja Tuan Edward jadi pacar sungguhan bukan pura-pura saja.
Aku langsung masuk kamar dan mengirimkan pesan pada Tuan Edward.
[Besok, aku gak ada acara.]
Pesan terkirim dan tak lama ada balasan.
[ok]
Epilog :
Devan melihat Sasa keluar dari mobil Edward. Dengan segera ia melaporkannya kepada tuannya, Beni.
“Tuan, Nona Julia baru saja diantarkan Tuan Edward,” lapornya.
“Benarkah? Kau tidak salah lihat?” tanya Beni tak percaya. Selama ini anaknya selalu menolak untuk dijodohkan.
“Benar, Tuan. Saya sudah memastikannya. Sekarang mereka sedang berada di ruangan sebelah taman belakang,” jelas Devan pada tuannya.
“Bagus. Ternyata usaha kita tidak sia-sia. Jangan biarkan Julia tau kalau sebenarnya kitalah yang mengarang skenario ia bekerja menjadi asisten Edward,” ucapnya senang mendengar kabar baik dari asistennya.
“Iya, Tuan. Mereka baru saja pulang dari kafe Nona Raya. Tuan Edward mengaku menjadi pacar Non Julia di depan teman-temannya tadi sewaktu di kafe,” lapor Devan lagi.
“Pastikan hubungan mereka semakin dekat. Aku tidak sabar menikahkan Sasa dengan Edward,” titahnya.
“Baik, Tuan,”
“Ayok kita temui mereka. Tapi pelan-pelan saja, jangan sampai ketahuan,”
__ADS_1
Beni dan Devan berjalan mengendap-endap mengintip Julia dan Edward di ruangan sebelah. Namun, ternyata mereka ketahuan oleh Julia yang tiba-tiba datang memergoki mereka.