
POV EDWARD
Sesampainya di kantor aku meminta Julia untuk tetap di kantor mengerjakan pekerjaanku yang tak bisa aku kerjakan. Sebetulnya itu hanya alasan saja supaya Julia tak ikut ke lapangan. Aku tak ingin ia tau kejadian yang sebenarnya.
"Tuan, mereka di bayar untuk melakukan demo. Mereka mantan karyawan yang sudah habis kontrak dan tidak diperpanjang lagi," lapor orang suruhanku.
"Bereskan semuanya. Bayar mereka lebih dari yang mereka dapatkan dari Papa," titahku.
Setelah semua masalah di lapangan selesai aku kembalu ke kantor. Aku melihat Julia sedang duduk bekerja memeriksa berkas-berkas yang ada di atas mejanya.
Sungguh cantik sekali calon istriku itu. Aku semakin mencintainya.
"Sayang," panggilku lembut.
Ia melotot padaku entah kenapa.
"Jangan panggil sayang disini nanti mereka tau," cercanya sambil memegang erat lenganku.
"Haha,," aku tergelitik mendengarnya karena maksudku memang menggodanya.
"Malah tertawa. Sudah cepat kembali ke mejamu! Banyak berkas yang harus kamu tanda tangani," ia mendorongku ke arah meja kebesaranku sebagai wakil direktur.
"Iya, iya..."
Ia balik badan kembali ke mejanya.
"Julia!"
"Iya,"
"Aku mee...."
Tak kuteruskan menggoda Julia karena Papa tiba-tiba muncul di depan pintu.
"Edward kutunggu diruanganku," serunya karena sadar ada Julia lalu ia kembali berjalan keluar melewati pintu yang baru saja ia lewati.
Aku sudah tau apa yang akan Papa lakukan padaku. Papa pasti akan marah karena rencananya sudah gagal. Aku akan bersiap untuk menerima pukulannya kali ini. Yang kemarin saja belum sembuh.
Julia mencegahku saat aku melewatinya. Mungkin ia khawatir aku akan seperti kemarin.
"Aku ikut!" pintanya khawatir.
"Tidak. Kau disini saja," larangku.
"Tapi..."
"Tak perlu khawatir. Papa hanya akan membicarakan masalah yang terjadi di lapangan. Aku akan baik-baik saja. Percayalah!" ucapku menenangkannya.
Aku mengecup keningnya. Ia langsung mencubit perutku sakit sekali.
"Bagaimana kalau ada yang lihat?" kesalnya.
"Hehe. Habis, kamu kelihatan sayang banget sama aku jadi aku cium karena aku juga begitu," cubitannya bertambah lagi aku meringis.
__ADS_1
"Ya sudah sana!" usirnya dengan kesal tapi tangannya masih memegang erat lenganku.
"Sayang, tanganmu," mataku mengisyaratkan bahwa tangannya masih bertengger mesra di lenganku.
Julia langsung melepaskannya.
Kuusap pucuk kepalanya. "Tunggu ya, Sayang!"
"Baik, Tuan," ia kembali duduk di kursinya.
Haha. Semakin membuatku gemas melihat tingkahnya.
Di ruangan Papa.
Prok.. Prok.. Prokk...
Suara tepukan tangan terdengar ketika aku baru saja masuk ke ruangan Papa. Aku tak bereaksi. Lebih baik diam dan menunggu apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa Papa bertepuk tangan.
"Kau memang pintar. Untung saja keadaan di lapangan sudah kau atasi. Julia sepertinya sudah mulai curiga dengan rencana kita. Dia memeriksa laporan keuangan dan segala bukti tentang kejadian di lapangan," terangnya.
Apa? Julia mencari bukti? Mungkin dia seperti itu karena ingin membantuku.
"Pasti kau juga sudah mengetahui sebelumnya. Makanya kau bertindak cepat," lanjut Papa.
Aku hanya diam mendengarkan celotehan Papa.
"Kita percepat saja pernikahanmu. Biar tujuan kita cepat tercapai. Lalu kau tinggalkan gadis itu!" Papa tetap saja berambisi untuk menguras harta Om Beny.
Aku sudah malas mendengar semua ambisinya. Lebih baik aku pergi. Papa tak mengerti perasaanku. Papa hanya mengejar harta. Padahal sudah jelas Julia tak bersalah.
Kupercepat langkah ingin cepat pergi dari hadapan Papa. Rasanya aku sudah tak ingin lagi mendengar ambisinya.
Lebih baik aku pergi makan siang diluar bersama Julia dan langsung ke tempat fiting baju untuk acara resepsi nanti.
Kubuka pintu ruangan tak nampak Julia di mejanya.
'Mungkin sedang ke kamar mandi' pikirku.
Namun, saatku maju beberapa langkah ada seorang wanita berdiri menghadap jendela kaca memandang pemandangan lurus ke depan.
Tessa. Wanita itu adalah Tessa manatan kekasihku. Untuk apa dia ke sini?
Perasaanku tak enak. Apalagi melihat Julia tak ada di ruangan ini. Mungkinkah Tessa sudah mengatakan sesuatu pada Julia dan menyuruhnya pergi?
"Mau apa kau kesini?" Tessa berbalik mendengar pertanyaanku.
Ia tersenyum saat melihatku ada dihadapannya. Aku tak membalasnya.
"Edward. Aku menunggumu, sayang," dengan manis Tessa berjalan ke arahku lalu serta merta memelukku erat otomatis aku mendorongnya menolak.
"Kita sudah selesai, Tessa," tegasku segera menjaga jarak dengannya.
"Tidak. Aku tak mau berpisah denganmu begitu saja, Edward. Aku mencintaimu," kata-kata yang sangat aku harapkan keluar dari mulut Julia yang hingga hari ini belum terucap juga dengan mudahnya terdengar dari Tessa wanita yang sudah tak aku harapkan lagi karena pengkhianatannya.
__ADS_1
"Pergi dan jangan kembali lagi! Aku akan segera menikah dengan gadis pilihanku," Tessa berusaha mendekatiku dan aku berusaha menghindarinya.
"Aku hamil. Aku mengandung anakmu, Edward,"
Praaannggg....
Suara benda pecah belah terjatuh membuatku terkejut. Ya, Julia tengah berada di ambang pintu dan sepertinya Julia mendengar yang dikatakan Tessa.
"Julia,"
"Maaf. Silakan diteruskan," ucapnya bergetar seperti menahan sesuatu lalu pergi meninggalkan gelas yang ia jatuhkan.
"Tidak. Julia," panggilku.
Tessa menarik dan menahanku untuk tidak pergi.
"Jangan pergi, Edward. Kau harus bertanggung jawab!" sentaknya.
"Itu bukan anakku," sentakku juga.
"Ini anakmu. Terakhir aku berhubungan denganmu, Edward. Aku mengandung anakmu," dengan mengiba dia menangis dihadapanku entah itu tangisan sungguhan atau hanya pura-pura aku tak dapat mempercayainya.
"Lepaskan aku!" Aku melepaskannya kasar.
"Aarrghh... Edwaaaarrdd..."
Tessa terjatuh karena aku mendorongnya kasar. Tak kuhiraukan ringisan Tessa yang memanggilku.
Aku berlari mengejar Julia tapi tak kutemukan. Ke parkiran, lobi, kantin, ke semua penjuru kantor aku tak menemukannya. Ponselnya berdering tapi tak diangkat.
Aku berlari ke depan gedung kantor mungkin saja Julia pergi sana untuk mencari taksi tapi tetap tak ada.
Julia kau kemana?
Aku terus menelepon ponselnya tapi tak ada jawaban. Akhirnya aku ke parkiran lagi bermaksud akan mencarinya memakai mobil tapi aku cari kunci mobil tak ada di saku jasku. Aku ingat kunci ada di meja kerja. Berarti aku harus kembali ke ruangan. Semoga saja Tessa sudah pergi dari sana.
Dengan gerak cepat aku langsung setengah berlari kembali keruangan untuk mengambil kunci mobil.
"Edwaaarrddd... Edwaaaarddd,,,," suara Tessa merintih.
Ternyata Tessa masih ada diruanganku dan sedang meringis kesakitan sambil memegang perutnya. Tessa setengah meringkuk di sofa dengan wajah pucat menahan sakit.
Saat ini aku seakan dilema. Harus pergi mencari Julia atau menolong Tessa.
"Kau kenapa?" tanyaku menghampirinya.
"Perutku sakit, Edward. Sakit sekali," rintihnya lagi. Tangannya memegang erat lenganku. "Edward, tolong aku. Sakit sekali...." ia terus merintih lalu tak sadarkan diri.
Situasi semakin memojokkanku. Akhirnya aku membawanya ke rumah sakit terdekat.
Dokter IGD segera memeriksa keadaanya. Aku menunggu Tessa sambil terus menelpon Julia. Ponselnya masih aktif tapi tak ada jawaban. Pesanku tak juga dibalas.
"Julia, angkat teleponnya, sayang!" gumamku sembari terus memandangi ponselku yang sedang menghubungi Julia.
__ADS_1
Tessa masih tidak sadarkan diri. Aku ragu dengan kehamilannya. Apakah benar dia tengah mengandung anakku? Aku akui pernah melakukannya dengan Tessa. Tapi karena kelakuannya yang telah menghianatiku dan tak bisa setia hanya denganku, aku jadi ragu dengan anak yang ada dikandungannya.