
Mungkin ini keputusan yang salah, tetapi bagaimana lagi Aina sama sekali tidak tahu harus mengambil langkah seperti apa. Ibarat kata ia sudah putus asa dengan pernikahannya ini. Mungkin sebagian pasutri berjuang untuk mendapatkan garis dua, atau istri yang harus menahan tekanan batin dari ipar atau mertua, ada juga suami yang banting tulang nyari uang dari pagi ketemu pagi, demi kebutuhan anak istri di rumah.
Semua memiliki ujiannya masing-masing, entah buruk atau baik pasti ada hikmah dari semua itu. Namun Aina, ia sama sekali tidak bisa mengerti ini ujian atau hukuman atas dosa-dosanya yang dulu? Suaminya kaum lagibete, bingung harus berbuat apa. Lantas sekarang? Ia terpaksa membuat perjanjian dengan Ridho untuk pernikahan ini.
Ya Allah, bagaimana ia harus mengambil sikap?
Dengan seulas senyum yang dipaksakan, Aina melangkah masuk ke rumah. Kini ia kembali, menginjakan kaki pada tempat yang dipenuhi manusia-manusia pembohong demi keuntungan sendiri.
Istighfar—itu yang Aina lakukan, ketika melihat senyum bahagia dari Tino dan Umairah. Ada perasaan lara bila harus berterus terang mengatakan kebenarannya. "Assalamualaikum, Umi, Abah, Bunda, Ayah," sapanya lembut, tak nampak sekali guratan kepedihan di wajah ayunya.
"Waalaikumsallam," jawab mereka serempak.
Aina mengempaskan tubuhnya di antara Tino dan Umaira, ia mencium punggung tangan orang tuanya bergantian. Sejurus kemudian ia berhambur memeluk uminya, menangsi tanpa suara.
Umaira sadar putrinya tidak baik-baik saja, bahunya bergetar pelan menandakan Aina sedang terisak dalam diam. Sebagai seorang ibu, firasatnya sangat kuat tentang Aina apalagi gadis ini putri semata wayangnya. Ingin bertanya, tetapi ia urungkan begitu Aina melepas pelukannya.
"Aina kangen, Umi." Meski semua nampak baik-baik saja, kaca tipis di pelupuk mata tak bisa dibohongi.
"Umi juga kangen kamu, Nak. Kamu sama Ridho ... baik-baik aja, kan?"
"Iya, Umi." Meski terpaksa, Aina berbicara dengan enteng. Umaira mengangguk pelan.
Cukup lama mereka terlibat obrolan, hingga mentari naik ke tengah-tengah. Panasnya memancar ke sebagian Bumi, tetapi Aina masih tak ingin berpisah dengan orang tuanya.
Ridho pun memainkan peranya begitu elok, tak nampak sekali kalau ia pecinta sesama. Setiap kalimat yang keluar dari mulutnya, seakan-akan begitu mencintai Aina. Sorot matanya memancarkan kehangatan, sikap lembutnya begitu membuai Aina.
Namun, semua itu berakhir saat orang tua Aina kembali pulang kediaman mereka. Ridho langsung bersikap dingin, tak peduli dengan istrinya itu. Ia sibuk berselancar dengan ponselnya seraya tersenyum seorang diri.
"Ini!" Aina melempar selembar kertas pada Ridho. Sopan santun? Jangan ditanya, ia sudah muak dengan sandiwara tadi siang. "Baca dan tanda tangani itu, Mas!"
Ridho meletakan ponselnya, ia membaca semua poin-poin yang tertera di lembaran kertas. Dari tidak melakukan hubungan badan, jangan tidur seranjang, jangan merugikan nama baiknya sebagai istri. Semua itu Aina lakukan demi kebaikannya sendiri.
__ADS_1
"Jadi ini yang kamu mau? Oke, nggak masalah. Tapi satu permintaanku, jangan urusin aku sama Tio, tutup mulut dan matamu seolah-olah kamu nggak tau apa-apa, bagaimana?" Ridho menaik turunkan alisnya.
"Deal!"
***
Sebulan sudah semenjak ia melakukan perjanjian dengan Ridho, kehidupannya sedikit membaik. Ia juga perlahan memaafkan Zulaika dan Bambang, sedikit paham tentang kerisauan hati sebagai orang tua.
Andai Aina memiliki anak seperti Ridho, mungkin dia akan berbuat lebih dari ini. Daripada mengawinkannya, mungkin mengirimnya langsung ke neraka akan sangat bagus. "Astagfirullah." Sadar akan pikiran buruknya, ia mengelus dada.
Sebuah notif WA dari grup SMA nya masuk, Susi menandai pada sebuah pesan.
Susi : @Aina Kita kumpul minggu ini ya, Ai. Jangan lupa bawa pasangan masing-masing.
Aina mendesah, menyesal dulu pernah berkata jika semua Geng Uleg Sambel sudah menikah akan diadakan bulan madu bersama.
Ini waktunya, Susi, Anggi, Rena, dan Yanti lalu Aina harus berkumpul. Tempatnya sudah ditentukan oleh Susi, wanita itu sangat paham tempat terbaik untuk menikmati healing. Namun sekarang, apa yang akan Aina katakan. Menolak jelas tidak bisa, dia paham betul karakter semua teman-temannya. Apalagi ini rencana yang sudah jauh jauh hari dipikirkan.
Isi pesan Aina ke grup WhatsApp ditambahi emoticon tangan yang mengatup berharap teman-temannya itu percaya dengan kebohongannya.
Tidak lama Rena sedang mengetik, sedetik kemudian pesannya masuk.
Rena : Ai, aku barusan ketemu Ridho dia bilang minggu depan luang kok.
Susi : Kamu bohong ni, jangan sok sibuk, Ai. Masa udah lama nggak kumpul gitu si. Aku mau ngasih kejutan buat kalian.
Yanti : Pokoknya kamu harus ikut, Ai. Nanti kita ketemu di depan sekolah malam minggu jam delapan.
Tidak ada niat lagi untuk membalas pesan dari sahabatnya tersebut, ia lebih memilih memasukan ponsel ke dalam tas. Tak lupa mengubahnya menjadi mode senyap.
Waktu berjalan cepat, pekerjaannya sebagai adminitrasi kantor pajak pun telah usai. Malam ini Aina memilih tidur di rumah orang tuanya. Alasan apa pun nanti gampang dia cari sambil berpikir di jalan.
__ADS_1
Baru saja Aina mau naik ke taksi online, pandangannya menangkap sosok yang sangat familiar. Dua orang tersebut benar-benar gila, tidak memikirkan apa dampak dari perbuatan mereka pada orang di sekitarnya.
Dengan amarah yang memuncak, Aina langsung menghampiri dua manusia laknat tersebut di kedai kopi seberang jalan.
Motor mobil yang berlalu lalang dengan kecepatan penuh, tidak Aina pedulikan. Dia hanya berpikir agar cepat sampai ke kedai kopi tersebut. "Mas!" hardiknya lantang.
Sendok di tangan Ridho terjatuh ke lantai saking kagetnya dengan suara lantang Aina. Begitu juga dengan Tio, pria ini langsung berdiri berkacak pinggang.
Astaga, gayanya berbanding terbalik saat Tio datang ke rumah Ridho terakhir kali. Dalam hatinya, Aina selalu menyebut Asma Allah, menakutkan— tingkah gemulai Tio yang berbanding terbalik dengan otot kekarnya. "Kamu lagi, kamu lagi. Apa dunia sesempit itu ya?" ujar Tio memutar bola matanya malas.
"Kamu lagi apa di sini?" tanya Ridho.
Tas Selempang yang Aina pegang, ia letakan dengan kasar di atas meja. Air di gelas langsung membuat riakan bahkan nyari tumpah. "Harusnya aku yang tanya, kalian lagi apa?!"
"Bukan urusanmu, Ai."
"Kata siapa bukan urusanku? Kalau Umi sama Abah mergoki kalian gimana?"
"Yaelah, manusia dengan segala kesuciannya. Dimohon untuk tidak ikut campur urusan kita ya," timpal Tio dengan nada suara dibuat semanja mungkin. Persis suara banci kaleng yang suka ngamen di tepi jalan.
Ingin rasanya Aina menarik bulu ketek Tio yang lebat, lalu memangkasnya juga. Sungguh pemandangan yang merusak mata, iman, dan kewarasan. Pria macho hanya mengenakan kaos lekbong warna magenta dipadukan celana kolor hitam. Astagfirullah, mimpi apa semalam Aina sore-sore menjelang magrib ketemu demit macam ini.
Eh, tidak! Rasanya demit pun enggan disamakan dengan Tio.
"Oi, Cowok Mendoan! Anda itu seharusnya sadar diri, siapa yang ikut campur. Saya dan Ridho itu suami istri ... suami istri!" Aina sengaja menekan kalimat tersebut, menunjukan kalau dia punya hak atas Ridho. "Dan lo itu cuma jamur, ibaratnya lo itu panu di ketek harus dibasmi sampai bersih."
"A-apa?!" Tio tergagap, terkejut karena Aina berani melawannya. Padahal dulu, gadis itu hanya diam. "Mulut lo itu ya, ihhhhkk! Pengen gue sumpel!" Kedua tangan Tio bergerak seperti meremas di depan mulut Aina.
"Tio apaan sih kamu! Dan kamu Aina, lebih baik pulang!" Ridho menarik Tio agar menjauh dari Aina, ia tak ingin menjadi pusat perhatian apalagi sebagian dari mereka banyak yang memegang ponsel. Bisa amsyong kalau ada yang merekam dan mengunggah ke internet.
"Aku akan pulang, Mas. Tapi nggak sendiri!" Aina bergerak ke depan, tak peduli dua manusia aneh menatapnya heran. Ia langsung menarik lengan Ridho, menyeretnya untuk mengikuti langkah Aina.
__ADS_1
Bak adegan di film India, Rahul dan Anjali di kereta. Kedua lelaki tersebut berusaha menggapai tangan satu sama lain, Aina yang berperan sebagai kereta semakin kencang menyeret Ridho. Menjauh dari lelaki setengah matang macam Tio.