
Suara notif pesan masuk berhasil membuat Ridho menarik sudut bibirnya. Bola matanya yang tadi sendu mendadak berbinar seakan memenangkan undian. Akan tetapi sedetik kemudian raut wajahnya berubah.
Aina yang sedari tadi diam sambil memainkan gawainya mengeryit, melihat Raut wajah Ridho. "Ada apa, Mas?" tanyanya lembut.
"Bukan apa-apa," jawab Ridho singkat. Aina mengangguk kecil, tak ingin kepo lebih jauh urusan suaminya itu.
Jam sudah menunjukan hampir pukul sebelas malam, tetapi Ridho sama sekali belum menyentuh Aina. Padahal pengantin bari pasti cepat sekali untuk melakukan unboxing, tetapi mereka seperti pasangan remaja yang lagi marahan. Hanya saling diam sibuk dengan ponsel masing-masing.
Ya Allah, beginikah pernikahan yang dijodohkan?
Aina tak tahu harus mengambil sikap seperti apa, dinginnya Ridho sudah menjadi tanda untuknya agar tetap dalam batasan. Menyakitkan sekali.
"Ai, kita perlu bicara," ujar Ridho datar.
"Ya, Mas," sahut Aina, ia menegakkan punggungnya. Mendadak rasa tak enak merasuk, semoga saja ini bukan hal buruk seperti yang pernah dia baca di novel online tentang pernikahan.
Ridho mengembuskan napas panjang, apa yang akan diungkapkannya mungkin saja mengakhiri ikatan suci ini. Namun, dia juga tak bisa berbohong, semua demi kebaikan masing-masing. "Aku nggak suka sama kamu, Ai. Ada orang lain yang aku suka."
Oh God. Mendadak semuanya terasa sesak, peryataan Ridho tak pernah Aina duga—ralat, dia sudah mengira. Tetapi secepat ini, kok menyakitkan. "Si-siapa, Mas?"
Aina berusaha menerima untuk saat ini, mungkin nanti saat mereka sudah bersama Ridho akan berubah.
Meski harapan Aina hanya sekedar angan saat Ridho dengan tegas berkata, "aku seorang gay, Ai. Aku mencintai lelaki bernama Tio. Kami sudah menjalani hubungan ini selama tujuh tahun!"
"Hah? Gay!" Aina menutup mulut tak percaya. "Kamu bercanda, Mas," sambungnya sambil tertawa kecil sambil mengepalkan tangan. Aina berusaha sabar dan mungkin ini mimpi buruk—sebuah mimpi yang belum usai. Atau mungkin acara pernikahannya jiga bonus tidur. Aina percaya semua ini adalah bunga tidur dan dia masih asik terlelap di ranjang empuknya, memeluk guling mencetak pulau kapuk.
__ADS_1
"Maafkan aku, Ai. Tapi ini kebenaran yang harus kamu tahu. Ayah menikahkan aku sama kamu agar aku bisa berubah. Tapi nyatanya salah, cintaku hanya untuk Tio, Ai," tutur Ridho sambil menunjukan deretan foto laknat mereka.
"Astagfirullah …." Hanya kata itu yang mampu Aina katakan, semua kalimat yang akan dia lontarkan seakan tersangkut di tenggorokan.
"Kamu nggak usah khawatir atau takut aku menyakiti kamu, kita akan bercerai setelah tiga bulan. Kami harus bantuin aku, Ai." Ridho beringsut dan jongkok di depan Aina, berniat untuk meraih tangan istrinya tetapi segera ditepis oleh gadis berhijab hitam ini.
"Kamu mau aku bertahan sama lelaki yang nggak bermoral kaya kamu? Dan nanti kamu ceraikan aku?" Aina berbicara penuh penekanan, semua pertanyaan membutuhkan jawaban pasti yang tak mengecewakan.
Akan tetapi fakta tetaplah fakta, tak bisa dibantahkan. "Iya, Ai. Aku mohon sama kamu."
Astaga, Aina merasakan nyeri luar biasa di hatinya seakan ribuan anak panah menghujam tepat di tempatnya. "Nggak, Mas! Aku masih waras," tolak Aina tegas, ia mendorong tubuh Ridho dari jalannya. Tak peduli saat lelaki itu terjungkal dan membentur nakas. Rasa sakitnya tak sebanding dengan luka hati Aina yang merasa tertipu.
"Ai, dengarkan aku dulu!" Ridho beranjak bangun, dia kembali meraih lengan Aina lalu memutar tubuh sang istri agar menghadapnya. "Dengarkan aku, Ai! Aku senang kalau kamu mau pisah detik ini juga sama aku, tapi apa kata abah, umi dan saudara kamu yang lain? Mereka pasti nanya hal yang aneh-aneh ke kamu."
"Ya aku tinggal jawab aja, aku nggak mau nikah sama lelaki terong makan terong," balas Aina yakin. Ridho mengembuskan napas kasar, mengacak-acak rambutnya asal.
"Terlambat, Mas!" pungkasnya. Tak peduli dengan ridho yang terus memohon-mohon padanya. Aina berlalu meninggalkan Ridho begitu saja.
Ridho pasrah, tak tahu lagi bagaimana nasibnya saat ini. Menyesal? Benar kata Aina semua terlambat.
Sementara itu Aina tak tahu harus bagaimana mengambil sikap, semua ucapan Ridho seperti musik MP3 yang selalu berputar terus dan terus tanpa henti. Berjalan-jalan kecil mengitari ruangan demi ruangan di rumah Ridho tidak membuatnya merasa tenang meski sedikit pun.
Bayangan akan kekecewaan Tino serta kesedihan Umaira, saat ini mengganggunya. Perkataan Ridho tak sepenuhnya salah, menikah belum ada 24 jam tapi sudah bercerai. Apalagi mulut tetangga yang lemes, pedesnya ngalahin bon cabe level 50 sudah pasti makin menjadi.
Aina mendaratkan bokongnya di kursi putar dekat meja mini bar. "Ya Allah, aku harus gimana?"
__ADS_1
Tanpa sadar, buliran bening kristal jatuh di pelupuk matanya. Rasa sesak memenuhi dadanya, menyesali nasib yang tak berpihak baik pada Aina. Dosa apa dia dalam masa lalu sampai tertipu lelaki menyimpang seperti Ridho.
"Ai …," panggil Ridho.
Aina sama sekali tak menggubris panggilan Ridho, bahkan saat suaminya itu menarik kursi di sampingnya. "Maafkan aku, Ai. Aku juga nggak mau kaya gini, tapi Allah sudah mentakdirkan aku jadi manusia cacat."
"Kapan Allah menciptakan manusia itu gagal, Mas? Semua ciptaan-Nya sempurna. Dan takdir yang kamu bilang, itu bukan takdir, Mas," jawab Aina sambil berlalu meninggalkan Ridho
Ridho diam melihat punggung Aina yang mulai menjauh sama sekali tak ada niatan untuk mengejar. Dia malah harus segera menemui Tio di luar sana, kalau tidak makin runyam saja urusannya nanti.
***
Di sisi lain Aisya sama sekali tak bisa tidur, padahal biasanya sudah terlelap. Namun, sekarang dia terus memikirkan tentang malam pertama Aina dan Ridho. Apakah lancar atau abangnya yang bodoh itu malah menghancurkan segalanya. "Aku harus ngecek ke kamar mereka."
Aisya menyambar hijab instannya yang tergantung di tembok, gegas ia keluar dari kamar tamu. lalu dengan hati yang was-was ia perlahan ke arah kamar sang kakak. Namun, siapa sangka penglihatannya menangkap sosok Tio sedang berbincang di depan pintu bersama Ridho. "Loh, kok!" Aisya memilih bersembunyi di balik almari pajangan.
Dari perbincangan yang didengar Aisya, Tio meminta Ridho untuk menceraikan Aina dan begonya sang kakak malah menyetujuinya. "Ck, punya abang otaknya di dengkul mah gini. Dikasih berlian mungutnya perak!"
Tidak tahan lagi dengan obrolan dua orang sesama jenis itu, Aisya langsung keluar. Tak lupa ia juga membawa sapu sebagai senjata untuk menghajar Tio. "Tio, lu nggak ada kapoknya ngerusak Bang Ridho!" pungkasnya sewot.
"Ck, cabe rawit." Tio hanya melempar senyum sinis ke arah Aisya, sedangkan Ridho malah berusaha menutup mulut adiknya agar tidak membuat kebisingan.
"Dek, udah diem. Nanti ayah sama bunda bangun. Kasihan Tio kalau harus kena omel lagi dari ayah," bella Ridho.
Aisya tak terima dengan sikap Ridho, langsung menginjak kaki abangnya keras-keras. "Belain aja terus cucu dajjal itu, Bang! Heran deh sama lu, dinikahin sama cewek cantik kok malah tetep aja milih kerupuk seblak ini," ujar Aisya, matanya melotot menatap Ridho. Persis ibu-ibu komplek yang tak terima anaknya dinakalin oleh kawannya.
__ADS_1
"Ya jelas Ridho belain gue, wong dia naksirnya sama aku. Harusnya lu jadi adek yang baik itu dukung abangnya biar bahagia sama gue." Tio memamerkan deretan giginya yang putih bersih. Berkata sok bijak.
"Eh, kerupuk seblak …." Perkataan Aisya mengambang di udara saat Aina melewati mereka bertiga begitu saja sambil menarik kopernya. "Loh, Mbak, mau kemana?"