Jodohku Pria Belok

Jodohku Pria Belok
Bab 27


__ADS_3

Zulaika yang hilir mudik di ruang tamu, tapi Aisya dan Aina yang pusing melihatnya. Sedetik saja, Bundanya itu duduk manis menunggu kedatangan Bambang dan Ridho.


Berkali-kali juga Zulaika menghubugi nomer suaminya, tapi jawabannya sama 'nomer yang Anda tuju berada di luar jangkauan.'


"Bunda," panggil Aina lembut. "Jangan dipikirin Ayah sama Mas Ridho, nanti juga mereka pulang."


"Betul, Bun. Lagian Ayah nggak akan sampai mgebunuh Bang Ridho, paling juga dibuat cacat sedikit," timpal Aisya tanpa dosa.


Zulaika seketika melempar ponselnya ke Aisya yang langsung ditangkap gadis berkerudung biru itu. Bukannya juga takut karena Zulaika sudah melotot, ia hanya mengedikan bahu.


"Kamu tuh nggak tahu sifat Ayahmu kalau udah marah, dia bisa gelap mata, Aisya! Gimana kalau sampai Ayah ngebunuh Bang Ridho?"


Masa lalu Bambang yang buruk, sudah paten ada di otak Zulaika. Bagaimana suaminya itu sangat tempramental dan arogant. Bukan sekali dua kali Bambang melenyapkan nyawa manusia, dan itu juga menjadi ketakutannya saat ini.


Meski dosa itu hanya ada di masa lalu, tidak menutup kemungkinan semua akan terjadi lagi dan Zulaika tidak ingin terjadi pada Ridho.


Ya Allah, lindungi anakku dari kemarahan suamiku.


Di sisi lain, suara cambukan menggema di seluruh ruangan. Siapa saja yang berada di sana akan memilih pergi sejauh mungkin menyelamatkan gendang telinganya. Namun, hal itu tidak berarti bagi ketiga orang tersebut.


Layaknya iblis yang tengah memberikan hukuman pada budaknya, begitulah yang dilakukan Bambang pada Ridho. Pecutan demi pecutan ia layangkan pada punggung sang anak, tak peduli meski darah sudah merembas di kemeja putih Ridho.


Marah? Bambang sangat marah dengan tingkah Ridho untuk kesekian kalinya. Bukannya bertobat, malah membuat ulah lebih besar lagi dan sudah tanggung jawabnya untuk membuat putranya itu kembali ke jalan yang benar. Meski dengan cara kekerasan.


"Ampun, Yah. Maafin aku," kata Ridho memelas.


Ridho tidak sanggup kalau benda berduri kembali mendarat di punggungnya. Sangat sulit menjelaskan bagaimana sakitnya ia saat ini. Jika ada pilihan untuk mati, maka Ridho memilih untuk mati saja daripada disiksa.


CTARR


Bambang sudah gelap mata, tidak ada belas kasihan lagi pada Ridho. "Jangan minta maaf, Ridho! Kamu udah bikin malu keluarga kita untuk kedua kalinya!"

__ADS_1


CTARR


"Aarrghhhkkk!"


"Jangan berteriak! Inilah resikonya dari sikap kamu yang menyimpang itu!"


"Nggak, Yah. Aku janji bakal berubah menjadi lelaki normal," mohon Ridho dengan suara bergetar.


Bambang menarik sudut bibirnya, membentuk seringaian kecil. "Apa Ayah harus percaya dengan kata-katamu, Ridho? Kamu terus berbohong pada Ayah, bahkan saat Aina hilang di puncak kamu nggak peduli dan pergi sama Tio. Terus kamu juga bilangnya izin ke Semarang, lagi-lagi kamu pergi sama Tio sampai seminggu! Apa kamu pikir Ayahmu ini bodoh, hah?!"


Deg


Ridho seketika bungkam, napasnya tercekat saat itu juga. Tidak mungkin Bambang mengetahui ini semua, jelas dia melakukannya sangat rapih.


"Nggak, Yah. Semuanya ...."


CTARR


Bambang tidak memberikan kesempatan untuk Ridho bicara, karena dia yakin kalau putranya akan berbohong lagi dan lagi.


"Hentikan semua ini, Mas! Kamu bukan menghukum Ridho tapi membuat anakmu itu mati!" Om Burhan yang sedari tadi diam, akhirnya buka suara karena tak tahan dengan semua kegilaan Bambang. dilepasnya rantai di tangan dan kaki Ridho, lalu memapah ponakannya tersebut ke sofa.


Bambang acuh, membuang cambuknya asal dan pergi meninggalkan gudang tersebut tanpa sepatah katapun.


Hati Ridho mencelos melihat kepergian Bambang, tanpa sadar ia meneteskan air mata. Siapa juga yang tidak sakit hati, setelah diperlakukan buruk lalu ditinggal begitu saja.


"Buka bajumu!" titah Om Burhan sambil membuka kotak P3K , mengeluarkan kapas dan alkohol.


Ridho lantas membuka kancing kemejanya perlahan hingga nampak jelas jejak merah di punggungnya.


"Ahk, sakit, Om. Pelan-pelan," pinta Ridho karena tak tahan lagi.

__ADS_1


"Ini juga udah pelan, lagian dikit lagi juga udah. Tahan kenapa sih, cuma sebentar kok!"


"Aww, tapi ini sakit, Om! Apa nggak bisa make perasaan!"


"Alah, segala pake perasaan! Kelamaan, tau!"


Ridho mengigit bibir bawahnya, baru kali ini diperlakukan sedemikian buruknya. Padahal saat bersama Tio tidak seperti ini rasanya.


Aihss, lagi-lagi Tio!


"Sudah selesai!" Burhan merapikan kembali kotak P3K tersebut, dan mengambil air untuk Ridho. "Minum!"


"Makasih, Om!" Ridho langsung menandas habis air mineral tersebut tanpa sisa.


Burhan menghela napas panjang, iba melihat ponakannya tersebut. "Kenapa nggak nurut aja yang Ayahmu bilang, kan nggak akan kaya gini jug."


"Aku punya kehidupan, Om! Mau sampai kapan harus ngikutin kemauan kalian! Capek!"


"Tapi kehidupan yang kamu pilih tuh salah, Dho! Masih ada hal lain yang bisa kamu lakukan selain mencari kenyamanan dengan hubungan kaya gini. Om pikir dengan kamu menikah, semuanya berubah, tapi tetap saja pengaruh Tio lebih besar."


Ridho memgamati wajah Burhan, ingin tahu apa yang dipikirkan omnya tersebut, tetapi nihil ia tidak bisa membaca apa pun.


"Tio jelas berpengaruh dalam hidupku, dia yang selama ini ada sama aku, sedangkan kalian sibuk dengan urusan masing-masing! Jangankan nanya apa aku yang aku mau, sekedar tahu aku udah makan atau nggak kalian nggak peduli!"


"Kamu benar, Om dan Ayahmu sudah salah mengabaikan kamu yang selama ini kami anggap kamu adalah anak lelaki kuat tapi Om salah, kamu ya kamu Ridho Saputra yang lemah!"


Ridho tidak menjawab,dia hanya menunduk diam sambil berpikir.


"Pulang, Dho! Kasihan Kak Zulaika pasti khawatir mikirin kamu dan juga Aina, kalau kamu nggak cinta lepasin dia dan biarkan dia bahagia! Nggak sepantasnya wanita sebaik Aina harus bersanding sama cowok cacat kaya kamu!"


Melepaskan Aina, apa mungkin?

__ADS_1


__ADS_2