
Aina sengaja membanting pintu dengan keras, semua orang yang berada di ruangan terkesiap menatap ke arahnya.
"Aina ...," lirih Niken, matanya melotot nyaris lepas dari tempat.
"Kamu sejak kapan di dalam, Ai?" tanya Ayu.
"Sejak kalian bergosip santai tentang aku," jawab Aina santai. Ia hanya bersandar pada daun pintu seraya berkacak pinggang. Lihat orang-orang ini, hidup sehari tanpa bergosip seperti ikan di daratan. Padahal membicarakan keburukan orang sama halnya memakan bangkai saudaranya.
Ups, Aina lupa kalau Niken sudah terlalu banyak makan bangkai saudaranya. Buktinya, tubuh perempuan itu bulat seperti kasur kapuk yang diikat. Tak tahu mana pinggang dan dada semua sama rata bagaikan balok kayu. Hanya menurut pandangan Aina.
"Bukan aku, Ai. Itu Niken yang mulai," timpal Astri yang disetujui dengan anggukan oleh Ayu.
Lihatlah, saat terperangkap basah bukannya saling mendukung malah menjatuhkan sama lain. Begitulah kira-kira tiga wanita ini, sudah salah tapi melimpahkannya semua ke bahu Niken. "Kok kalian gitu, aku cuma ngomong apa adanya!" pungkas Niken, tak terima.
"Tapi itu sama aja fitnah, Ken. Masa kamu bilang-bilang suami Aina gay," ujar Ayu.
"Ya emang betul suami Aina gay, kalau nggak Gay kenapa pengantin baru nggak pernah dijemput, malah dia pulang sendiri dan suaminya sibuk pacaran sama cowok?"
Astri dan Ayu saling melempar pandang, kemudian mengangguk membenarkan perkataan Niken. "Iya juga, ya."
"Nah, kan, aku mah ngomong selalu sesuai fakta. Nggak pernah asal." Niken merasa di atas angin karena ucapannya dibenarkan oleh Astri dan Ayu.
"Terserah! Aku nggak peduli siapa yang mulai, tapi aku ingetin buat kalian ya, awas aja bergosip tentang aku!" ancam Aina.
Niken berkacak pinggang, membusungkan dada menantang Aina. "Nggak usah ngancam-ngancam, mending urus deh suamimu itu yang gay!"
"Niken!" hardik Aina tangan kanannya sudah terangkat di udara, bersiap menampar Niken.
__ADS_1
"Ai, Ai, kamu itu mbok ya sadar diri. Daripada kamu di sini tampar aku, mending kamu tampar pipi kamu sendiri. Kan, setidaknya menyadarkanmu kalau punya suami gay!" pungkas Niken, disusul gelak tawa oleh Astri dan Ayu.
PLAK
Tamparan keras mendarat di pipi gembul Niken, seketika Astri dan Ayu diam. Begitu juga Niken yang syok sambil memegang pipinya—panas dan perih, itu yang ia rasakan.
"Hari ini aku cuma tampar kamu, tapi kalau kamu bikin gosip lagi di kantor. Jangan salahin aku, rekaman CCTV kamu sama Pak Broto lagi anu sampai ke telinga Pak Kamil," ujar Aina seraya berlalu pergi dari toilet.
Niken masih mematung melihat kepergian Aina, sekilas menerka bagaimana bisa wanita itu punya rekam jejak ia dan Pak Broto? Toh selama ini permainannya cukup mulus untuk tidak diketahui siapa pun.
"Kamu ada main sama Pak Broto, Nik?" tanya Ayu, Astri mengangguk.
"Ah, i-itu a-aku ... ada kerjaan," ucap Niken gelagapan dan pergi juga dari Toilet.
***
Seperti yang sudah dijanjikan dan direncanakan oleh kawan-kawan Aina, mereka—empat pasangan berkumpul di puncak. Tepatnya di sebuah vila keluarga milik Yanti.
Vila milik Yanti memiliki tujuh kamar, tiga di bawah dan empat di atas. Salah satunya kamar milik Mang Dasmin dan Bu Nur pasangan suami istri yang membantu Yanti untuk merawat vila nya ini di samping dapur.
"Aku sama Mas Haris tidur di bawah ya, capek kalau naik turun tangga. Maklumin aja bumil," ucap Susi sambil mengelus perutnya yang membesar. Menurut cerita Susi, kalau ia akan melahirkan sekitar dua bulan lagi.
"Berarti aku sama Susi di bawah, Aina sama Anggi tidur di lantai dua," ujar Yanti, sayangnya untuk kali ini dia hadir seorang diri. Sang suami mendadak dapat panggilan tugas untuk terbang ke Negeri Jiran. Begitu pun Rena, kondisi orang tuanya yang tidak memungkinkan untuk ditinggal jauh.
Padahal mereka sudah memutuskan untuk pergi lain kali, tetapi Rena bilang untuk tidak membatalkan acara demi dirinya. Ya sudah, mau tidak mau, mereka berempat berangkat tanpa Rena.
Aina dan Anggi mengangguk, dibantu sang suami anggi membawa kopernya naik ke atas. Sementara Aina, ia ragu untuk meminta tolong pada Ridho, suaminya itu sama sekali tidak menawarkan bantuan sama sekali malah pergi ke belakang rumah.
__ADS_1
Dengan susah payah, Aina menyeret kopernya naik ke atas. Sedikit demi sedikit ia terus berusaha. "Ai, tinggalin aja, biarin Ridho nanti yang bawa," ujar Anggi. Ia merasa iba dengan sahabatnya, begitu juga Agus. Pasangan suami istri tersebut saling melempar pandang, kemudian Agus bergerak turun.
"Sini, Ai. Biar aku bawa sekalian," tawar Agus.
Aina menggeleng lantas mengulas senyum simpul. Dia tak sampai hati untuk menyuruh Agus, apalagi pundaknya sudah memikul koper Anggi dan dirinya sendiri. "Gapapa, Mas Agus. Saya aja, lagian Mas Ridho dapat telepon dari rumah, nanti juga balik lagi ke sini," ujar Aina.
Anggi dan Agus mendesah. "Yaudah, aku taruh ini dulu di atas, sekalian mau pilih kamar." Anggi langsung menarik lengan suaminya, membawanya berkeliling untuk melihat ruangan demi ruangan di lantai dua.
Selepas kepergian Anggi, napas panjang keluar dari bibil mungil Aina. Bohong dan bohong seperti itu ia saat ini dan hal tersebut akan berlangsung selama tiga bulan.
Mang Ujang yang baru membawa koper Yanti ke kamarnya, melihat Aina nyaris jatuh karena menyeret koper, gegas memegangi pundak wanita tersebut. "Ya Allah, Neng. Kalau nggak bisa bilang Mamang atuh, jangan sungkan begitu. Kalau sampai ngeglinding ke bawah kumaha?" ucap Mang Ujang dengan logat sundannya.
"Ya nggak, Mang. Aku masih kuat, ini cuma koper kecil," ujar Aina.
"Koper kecil juga berat kalau ada isinya, Neng. Dah biarin aja Mamang aja. Neng langsung milih aja kamar mana yang mau ditempatin." Mang Ujang. Langsung mengangkat koper Aina dan meminggulnya di pundak.
Sampainya di lantai dua, Aina melihat barisan kamar. Kamar pertama sudah dipilih Anggi karena view-nya langsung menghadap ke bagian depan vila.
Aina melangkah ke kamar nomer empat, berada di paling ujung dan view nya mengarah ke belakang vila. Di mana langsung menghadap ke arah hutan, sawah, dan kolam renang. "Aku di sini aja, Mang."
"Oke, Neng. Kalau gitu kopernya Mamang taroh sini ya." Mang Ujang meletakkan koper Aina dekat lemari, lalu pergi dari kamar.
Aina membuka gordeng transparan yang menutupi jendela, matanya memicing begitu melihat Ridho berbicara di telepon di tepi kolam. "Mas Ridho ngobrol sama siapa?" gumam Aina.
Rasa penasaran yang membuatnya kepo, membuat Aina memilih membuka pintu kaca yang membatasi balkon dan kamarnya. Ia terus mengamati gerakan Ridho dari kejauhan. Lelaki tersebut kadang tersenyum, lalu mengerutkan kening kemudian tersenyum disusul dengan gelak tawa pelan.
Aina kembali masuk ke dalam kamar, pintunya kembali ia tutup berserta hordeng abu-abunya. Bahunya bergetar, tubuhnya merosot ke bawah. Bersamaan dengan hal tersebut, tangisnya pecah begitu saja.
__ADS_1
Ya Allah, apa aku sanggup bertahan di dalam pernikahan ini? Andai Mas Ridho menyukai wanita, mungkin tidak sesakit ini, tapi lelaki ....
Batin Aina menjerit, dilema antara orang tua dan kewarasan otaknya.