Jodohku Pria Belok

Jodohku Pria Belok
Banjir Badang


__ADS_3

Impian terbesar seorang gadis ialah bertemu dengan pangeran berkuda putih. Menggenggam tangannya untuk menuntun masuk ke dalam istana kristal. Beranjak dewasa, mimpi tersebut tergantikan dengan harapan mendapatkan pendamping hidup yang menerima diri ini apa adanya, baik atau buruknya.


Namun setiap keinginan tidak bisa dimiliki, sama halnya saat kecil dulu—merengek meminta es krim di kala hujan. Mustahil! Yang ada malah mendapatkan omelan Mama sepanjang hari.


Dan Aina sadar itu, mimpi tetaplah berada di alamnya tanpa sedikit pun untuk berubah menjadi nyata. Hingga detik ini, ada satu hal yang membuatnya sadar—ketika hati mulai rapuh, ketika jiwa mulai goyah tidak ada sandaran untuk menopang lukanya. Hanya kepada Sang Pencipta ia berserah diri.


Di atas sajadah beludru hijau bergambar Ka'bah—Aina mengangkat kedua tangannya, meminta petunjuk dan keikhlasan hati untuk tetap berusaha bertahan di lingkaran pelik yang ia buat sendiri.


Selepas berdoa, Aina beranjak meninggalkan mushola kecil di area parkir mobil. Senyum—itu yang ia tampilkan di hadapan semua sahabatnya yang tengah menunggu.


"Udah selesai?" tanya Ridho dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Ya," jawab Aina singkat. Tanpa melihat sang suami, ia melalui Ridho begitu saja. Langkahnya pelan tapi pasti beriringan dengan Yanti.


Langkah demi langkah yang mereka lalui terkesan hambar, meski berkali-kali Ridho mencuri pandang melempar kode untuk berbicara. Aina tak peduli, ibaratnya Ridho hanya sebuah pajangan di rak tanpa bernyawa.


Kaleng soft drink yang sudah kosong, Ridho remas hingga tidak berbentuk. Diamnya Aina sedikit mengusik relung hatinya. Meninggalkan rasa tak nyaman yang begitu kentara.


"Mas Haris, plastik yang ada bajunya kayanya ketinggalan di air terjun." Susi tiba-tiba bersuara, tangannya sibuk memilah deretan tas yang ada di atas meja. Kini mereka memilih untuk makan siang di salah satu restoran, sebelum beranjak meninggalkan area air terjun dan kembali ke Vila.


Kening Haris bertaut, menatap istrinya dengan bingung. "Baju apa, Dek?"


"Baju yang baru tadi aku beli, loh, ada di plastik biru. Kayanya ketinggalan di sana, lupa aku masukin," terang Susi panik.

__ADS_1


Haris manggut-manggut, beranjak meninggalkan Agus dan Ridho yang asik menikmati minuman masing-masing, lalu menghampiri Susi. Dicengkram pelan pundak sang istri, berusaha memberikan ketenangan dengan berkata, "sudah, Dek. Nanti kita beli lagi. Penjualnya juga masih ada kok."


Dengan cepat Susi menggeleng, lalu menepis tangan sang suami dari pundaknya. "Aku mau yang itu, Mas! Pokoknya kamu harus ambil balik!" seru Susi.


"Tapi, Dek, udah mendung—"


"Aku nggak mau tau, Mas! Kamu ambil sekarang atau aku marah dan pulang ke rumah Mama," ancam Susi seraya melipat tangan di atas perutnya yang besar.


Embusan napas berat keluar dari bibir Haris, setengah hati ia mengangguk dan mengambil tas selempang yang tergeletak di meja. "Yaudah, kamu tunggu sini. Biar Mas yang ambilkan."


Aina menatap ke luar restoran, awan gelap sudah bertengger di atas mereka siap menumpahkan airnya. Dengan cekatan ia langsung menghadang Haris. "Mas, nggak usah ke air terjun lagi, takut hujan," cegah Aina. Disetujui anggukan oleh Ridho dan Agus.


Haris melihat Aina berganti menengok ke arah Susi yang tengah dirayu oleh Yanti dan Anggi, untuk membeli baju lagi daripada mengambil yang ada. Namun Susi tetap ngotot dan tidak mau tahu. "Ini bawaan bayi, lagian Mas Haris nggak mau punya anak ileran, kan, Mas?" tanya Susi.


"Tapi ini udah gelap, loh. Di daerah sana aja udah hujan, kalau sampai ada apa-apa gimana?" celetuk Yanti.


Yanti terus menjelaskan pada Susi, alih-alih terima Susi malah merajuk dan berlalu meninggalkan ke restoran. "Ribet, deh, kalian! Kalau nggak boleh Mas Haris yang pergi aku aja ... suaminya siapa, tapi yang rewel siapa," celetuk Susi dengan ekspresi kesal.


"Gimana, ni?" Anggi terus memilin kerudungnya, terlihat sangat khawatir dengan keadaan Susi.


Haris yang melihat istrinya pergi, langsung menyusul tanpa pamit.


Mereka semua nampak khawatir, terlebih dengan keadaan Susi yang berbadan dua. Aina langsung mengambil tasnya, berniat menyusul sahabatnya tersebut. Tapi langkahnya terhenti saat tangan kekar menahan tangannya.

__ADS_1


"Biar aku aja, kamu tunggu di sini aja sama Anggi dan Yanti," ujar Ridho, "Mas Agus, aku titip Aina,ya," sambungnya dan menyusul Haris.


Di jalanan berbatu yang menanjak belum jauh dari restoran, Haris dan Susi terlihat berdebat. Haris terus berusaha menenangkan istrinya yang sedikit emosian akibat hormon kehamilan. "Kan aku udah bilang, aku yang ambil. Kamu tunggu di resto sama yang lain, ya." Haris mengelus puncak kepala Susi, lalu beralih mencium perut istrinya. "Jangan ngambek ya anak Ayah, nanti bajunya Ayah ambilin. Dedek tunggu aja sama Mama sampai Ayah balik."


Senyum tipis terpatri di wajah Ridho, dengan kedua tangan yang ia masukan di saku. Ridho sudah berdiri di samping Haris. "Aku temenin, Mas."


"Makasih, ya, Dho." Haris menarik kedua sudut bibirnya. Susi juga sudah kembali lagi ke restoran bersama Aina dan yang lainnya.


Sepanjang jalan menuju air terjun, keduanya tidak saling mengobrol. Ridho sendiri bingung harus memulai percakapan dari mana. Ia hanya fokus ke jalanan berbatu yang berlumut dan licin untuk dipijak.


"Jadi suami itu enak, Dho." Tiba-tiba Haris buka suara, saat mereka sudah memasuki area air terjun.


"Kok, gitu?" Ridho mengeryit, heran sudah pasti.


"Bangun tidur udah ada yang nyiapin keperluan kita, terus kalau kita mau anak istri suka rela hamil. Padahal kita nggak ngerasain gimana susahnya hamil, ngidam, morning sick nek. Belum lagi pas lahiran, taruhannya nyawa. Tapi istri nggak pernah sekali pun ngeluh. Kadang kita sebagai suami sering lupa diri, merasa di atas angin dan menjadi kepala keluarga. Sampai-sampai abai sama keinginan istri atau perasaan dia," tutur Haris panjang lebar.


Ridho hanya diam meresapi semua perkataan Haris, bahkan saat lelaki itu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru untuk mencari plastik yang dimaksud Susi. Mulutnya tidak berhenti berbicara.


"Aku kadang mikir, apa aku udah sempurna jadi suaminya Susi? Meski kadang sikapnya gitu, suka maksa. Aku masih suka ngerasa nggak pantas." Haris sedikit membungkuk mengambil kantong plastik di atas bebatuan pinggiran sungai.


Sementara Ridho berdiri di atas tebing seraya memandangi Haris dan air terjun yang mengalir dengan derasnya. Suasana di air terjun sepi hanya beberapa orang yang sedang bersiap untuk naik ke atas atau sekedar berselfie. Mungkin efek mendung dan gerimis mulai turun, pengunjung mulai enggan datang ke sini.


"Kamu yang lebih paham, Mas!" teriak Ridho sedikit lantang, karena suaranya bersaing dengan suara air yang mengalir.

__ADS_1


Haris mengangguk, ia mulai berjalan kembali ke Ridho. Akan tetapi, ekspresi Ridho membuatnya terhenti. "Kenapa, Dho?"


"MAS, BANJIRRR!"


__ADS_2