
Agus, dan Tim Sar terus menyisir tepian sungai untuk mencari korban banjir. Namun, keadaaan gelap, serta medan yang tidak memungkinkan membuat mereka harus mengundur sampai besok pagi.
Susi tidak henti-henti menangis, menyesali keegoisan sesaatnya. Yang kini mengantarkan ia pada sebuah kemalangan. Bayangan kilas balik ketika dia terus memaksa Haris seakaan tidak bisa berhenti dan terus berputar. Membuat dadanya sesak tidak tertahankan.
Aina juga turut menghilang tanpa jejak meninggalkan tas dan ponselnya di restoran.
"Aina juga belum ketemu? Udah coba cari di sekitar sana atau villa. Mungkin dia pulang ke sana." Suara Rena di seberang telepon terdengar khawatir. Dia tidak sedikit pun mengira jika rencana liburan malah berakhir bencana.
"Nggak, orang tadi Yanti liat dia lari ke arah air terjun," tutur Anggi. Semua memiliki pikran masing-masing, baik Yanti, Susi, dan Anggi sama-sama kalut.
Rena memandang ke luar jendela kamarnya, ia melirik sekilas ke arah Gabriel yang tengah terlelap. Bisa dibayangkan bagaimana sulitnya jika ia tadi akan ikut, tapi semua sudah ada yang menulis. Bukankah kita hanya Hamba yang mampu berandai-andai. "Aku akan hubungin suamiku, minta tolong temannya untuk cari Aina dan Haris. Semoga mereka cepat ketemu," ujar Rena.
Suami Rena bukan orang penting, hanya karyawan di salah satu pabrik baja yang kebetulan memiliki koneksi dengan orang-orang penting.
"Makasih, Ren. Ini ngebantu banget," kata Anggi. Rena mengangguk, ia memutuskan panggilan telepon dan mengirim pesan pada suaminya.
"Semoga aja dengan tambahan suami Rena kita bisa cepat nemuin Aina dan Haris," pungkas Yanti.
Di kala semua sedang berunding, Susi yang sedari tadi hanya melamun menatap nanar ke arah jalanan. Langsing terhuyung ke belakang dan jatuh tak sadarkan diri.
"Astagfirullah, Susi!" pekik Anggi dan Yanti bersamaaan. Keduanya langsung menghampiri Susi, mengangkat kepala wanita hamil ini dan meletakkannya di paha Yanti.
Anggi terus menepuk-nepuk pelan pipi Susi, tetapi sahabatnya ini tidak lekas sadarkan diri. "Susi, bangun, Sus!"
"Teh, coba pakai ini!" Seorang perempuan paruh baya menyerahkan botol minyak kayu putih pada Anggi.
__ADS_1
"Makasih, Bu," jawab Anggi. Ia menempelkan ujung botol pada lubang hidung Susi, sesekali menuangkan cairan hijau bening dengan bau khas tersebut pada tangannya. Lalu digosokkan tepat di bawah hidung Susi, tetapi wanita ini tak kunjung sadarkan diri.
"Gimana, nih?" Anggi melirik Yanti cemas.
Yanti mengedipkan mata, memberi isyarat kalau semuanya baik-baik aja. "Kita bawa klinik atau tempat kesehatan."
Susi yang dibopong oleh dua bapak-bapak dimasukan ke dalam mobil Yanti, sedangkan Anggi duduk memangku kepala Susi di kursi penumpang.
"Bismillah." Yanti sudah siap di balik kemudi, ia langsung melesat meninggalkan area pariwisata, menuruni bukit untuk mencari klinik terdekat.
Jalanan yang berkelok-kelok, licin, curam, dan gelap membuat Yanti harus ekstra hati-hati saat mengemudi. Salah sedikit saja nyawa mereka jadi taruhannya.
***
Sementara di taman Villa tempat Tio menginap, Ridho duduk termenung seraya menyandarkan punggung di sandaran kursi. Pikirannya dipenuhi dengan satu pertanyaan 'di mana Aina?'
"Ahk!" teriak Ridho kesal.
"Nggak usah cemas, Aina itu orang gede nggak pikun apalagi kurang waras. Dia pasti balik lagi nanti kalau udah puas." Tio duduk di samping Ridho setelah tadi menyeduh kopi untuk menghangatkan perasaan Ayang tercinta.
Ridho memicingkan mata melihat Tio. "Gimaan coba? Bisa dijelasin?"
"Apa?" Tio mengedikan bahu pura-pura tak paham dengan omongan Ridho.
"Puas dalam katamu itu artinya apa?"
__ADS_1
Tio berdecak kesal, semenjak Ridho menikah hubungan mereka perlahan menjauh. Meski pria itu selalu mengatakan akan tetap bersama, tapi dia selalu merasa was-was. "Aku nggak mau bahas soal Aina, Ridho!" bentaknya, "mungkin dia pilihan terbaik ayahmu, tapi di sini ada aku yang sayang sama kamu. Bisa enggak hargain sedikit perasaanku," isak Tio.
"Maaf ...."
Ridho tidak menjawab panjang, di satu sisi ia memikirkan Aina tapi di sisi lain ada Tio. Untuk saat ini semua membutuhkan dirinya, istri yang tak pernah ia cinta harus segera ditemukan, sedangkan kekasih hati menuntut untuk dimengerti.
"Aku besok mau pergi ke luar kota. Aku mau ditemenin kamu!"
"Tapi, Sayang—"
"Aku nggak mau bantahan, Dho! Cukup aku sabar dengan keadaan kita!" Tio beranjak berdiri melenggang masuk ke Villa.
^^^*Sekarang aku harus gimana? batin Ridho.^^^
......................
Mau kasih visual, komen yađź¤
Aina*
Ridho
__ADS_1
Tio