
Aina terjungkal dari kursi setelah Tio mendorong tubuhnya ke belakang. Ah pinggangnya berasa mau patah karena terantuk lantai. "Kamu ini apa …."
Plak
Tamparan keras mendarat di pipi mulus Aina. Seketika dia langsung memegangi pipinya yang terasa panas dan memerah.
"Gara-gara lu, hubungan gue sama Ridho hancur! Dan karena lu juga Ridho mutusin gue. Emang brengsek lu!" Tio menarik hijab lebar Aina, hingga terlihat gulungan rambut panjangnya.
"Hijabku!" pekik Aina seraya menutupi kepalanya dengan tas. Ya Allah, auratnya sudah terlihat oleh pria lain yang bukan mahramnya. "Mas, saya nggak punya urusan sama Anda ,ya!" ujar Aina. Suaranya serak menahan tangis. Tangan kanannya berusaha mengambil kembali hijab dari tangan Tio.
Hijab Aina diangkatnya ke udara tinggi-tinggi lalu melemparnya begitu saja. "Kata siapa lu nggak ada urusan! Karena lu Ridho ninggalin gue. Dan gue nggak terima gitu aja," maki Tio. Urat-urat di lehernya terlihat tegang.
Aina tak menggubris, dia fokus mencari hijabnya yang dilempar entah ke mana sama Tio. Berharap agar tidak diterbangkan angin. "Ya Allah, ampuni aku. Di mana hijabku?"
"Kamu cari ini, Ai?" Ridho sudah berdiri di belakang Aina sambil menyerahkan hijabnya pada istrinya.
Aina terpaku, menatap sosok suaminya bak pahlawan kemaleman. Terlihat tampan dan gagah. Apalagi ketika Ridho kembali memakaikan penutup kepalanya dengan lembut. Berhasil membuat sesuatu di dalam hatinya bergetar.
Mata coklat yang terlihat sembab, sehabis menangis tetapi memancarkan kehangatan di sana. Membuat Aina tak bisa berpaling menatapnya. Namun, kekaguman itu seketika buyar saat dia sadar jika suaminya pria menyimpang. "Aku bisa sendiri!" ketus Aina, menepis kasar lengan Ridho.
Ridho langsung melepaskan tangannya di atas kepala Aina. "Maaf, aku nggak ada maksud," ujarnya penuh sesal.
Buku-buku jari tangan Tio memutih saat dia mengepal tangannya dengan keras. "Ridho!" panggil Tio lantang. Suaranya memecahkan kesunyian malam. Namun, Ridho tak menjawab dan mengaibaikan Tio.
"Ai, Bunda minta kamu pulang," tutur Ridho lembut. Aina menggeleng.
"Maaf, Mas. Aku nggak mau pulang ke rumahmu! Aku kecewa sama kalian … kalian semua udah nipu aku!" pungkas Aina. Air mata yang sedari tadi ditahan, kini lolos begitu saja. Menyisahkan rasa yang menyesakkan dada.
__ADS_1
"Kalau kamu nggak pulang, aku bakal diusir dari rumah, Ai," ujar Ridho.
"Itu urusanmu, Mas! Aku nggak peduli." Aina memilih pergi karena taksi yang dipesannya sudah datang. Akan tetapi sebelum masuk ke mobil ia berkata, "aku bukan wanita sempurna, Mas! Tapi untuk bertahan sama kamu, mungkin aku harus berpikir ribuan kali."
Ridho mendesah, mobil yang ditumpangi Aina semakin jauh. Entalah, dia sama sekali tidak berniat untuk mengejar. Apa yang dikatakan Aina juga tidak salah, tidak akan ada wanita yang terima pasangannya seorang menyimpang.
"Ck, kamu mutusin aku cuma karena wanita kaya dia, dan sekarang lihat dia pergi gitu aja." Tio berdecak, sudut bibirnya terangkat meremehkan Ridho.
"Aku sayang bunda dan ayah, Ti. Terpaksa aku ngelakuin ini. Masa kamu tega ngeliat aku jauh dari keluargaku," ucap Ridho lirih.
"Tapi kamu ninggalin aku, Dho! Padahal dulu kamu sendiri yang nggak akan …." Perkataan Tio terhenti saat Ridho berhambur memeluknya, menumpahkan segala sesak yang memenuhi lubuk hatinya.
Hening, sama sekali tak ada suara dari keduanya. Baik Tio dan Ridho sama-sama terhanyut dalam suasana sendu.
Ridho melepaskan pelukannya, menatap Tio lekat-lekat. "Maafin aku, Ti. Kita harus ngelakuin ini, demi kebaikan aku dan kamu. Tunggu sampai semuanya tenang, aku janji akan kembali sama kamu."
Tio mengangguk pelan, lalu kembali berpelukan seakan tak ingat dosa yang sudah dicatat malaikat.
Seminggu sudah berlalu, baik Ridho dan Aina masih belum bertukar kabar. Aina menyibukan dirinya dengan pekerjaannya sebagai penulis novel online. Meski dia juga harus sering-sering mencari alasan ke orang tuanya, sebab tak berkunjung ke rumah setelah menikah. Untuk saat ini sendiri, Aina memilih mengekos sampai satu bulan ke depan.
Jam menunjukan pukul dua dini hari, Aina mematikan laptop lalu beranjak mengambil wudhu untuk menunaikan sholat istiharah. Setidaknya memantapkan hati akan keputusan sulit yang akan ia ambil nantinya.
"Ya Allah, aku tau bercerai adalah tindakan yang tidak Engkau ridhoi, tapi aku juga tidak bisa bertahan sama Mas Ridho. Dia bukan imam yang tepat untukku, aku mohon berikan petunjuk-Mu atas semua ini … amin." Aina mengusap wajahnya dengan kedua tangan, melepaskan mukenanya dan memutuskan untuk tidur.
Keesokan paginya, Aina ingin bertemu Anggi di salah satu kedai kopi, tetapi mimpi semalam sedikit mengusik pikirannya saat ini. Mimpi yang selalu akhir-akhit ini sering hadir, tentang Ridho yang tersenyum menggengam erat tangannya.
Namun, belum sampai di tempat tujuan ponsel Aina berdering. Tertera di layar HP nya Abah Sayang. "Assalamualaikum, Aina." Suara Tino di seberang sana.
__ADS_1
"Waalaikumsalam, Abah," jawab Aina sumringah. Senyumnya begitu menghangatkan bagaikan sinar mentari pagi hari.
"Ai, ini Umi. Umi sama Abah pengen main ke rumah kamu," ucap Umaira. Ah, Umaira pasti merebut ponsel secara sepihak dari Tino, dapatkan dipastkan wajah abahnya saat ini dilipat cemberut. Menahan kesal, tapi sayang.
Aina langsung tersedak udara, tidak! Jangan sampai Umaira dan Tino ke rumah mertuanya. Bisa gawat kalau begini, dia pasti akan dicecar pertanyaan macam-macam. Dan lagi, dia sama sekali tidak memiliki jawabannya.
"Ai, kamu sakit, Sayang? Kok Umi denger kamu batuk." Suara Umaira di seberang sana terdengar khawatir.
Andai, Uminya tahu tentang Ridho dan dia yang pisah ranjang. Pasti kekhawatirannya lebih dari ini, mungkin kesehatannya pun akan terganggu. Tidak Aina! Dia harus memikirkan cara. "Nggak, Umi. Aina baik-baik aja, Umi jangan ke rumah. Biar aku aja yang ke sana, kasian ntar Umi sama Abah capek," pukas Aina.
"Gimana ya, Ai. Umi sama Abah udah kangen sama kamu, tapi kamu nggak dateng-dateng ke rumah. Padahal Abah sama Umi ngarep-ngarep kalian."
"Maafin aku ya, Umi. Kemarin itu di rumah lagi ramai tamu, terus Mas Ridho juga sibuk, belum sempet libur," bohong Aina.
"Ya, makanya Umi sama Abah aja yang datang ke rumah kamu. Biar kamu juga nggak capek, sekalian silaturahmi sama besan … lagian Umi juga udah di jalan, lima belas menit sampai," ujar Umaira keukeuh.
"A–apa? Umi lagi di jalan, lima belas menit lagi?" Aina mengulang ucapan Umairah. Ah, bagaimana ini, habis sudah riwayatnya. Jika orang tuanya tahu ….
"Umi, putar balik aja! Di rumah nggak ada orang." Kembali Aina harus berbohong untuk menutupi drama rumah tangganya.
"Masa sih, Umi baru WA sama besan kamu. Katanya dia nungguin kita," ujar Umairah.
Aduh, mendadak dia sakit kepala. Bagaimana nanti kalau Zulaika mengatakan tentang ia yang kabur dari rumah. Tidak, Aina belum siap sama sekali.
"Ai, kamu denger nggak Umi ngomong? Kalau memang kamu sama Ridho lagi keluar. Yaudah Umi sama Abah tungguin ya, Sayang," kata Umaira di seberang sana. "Assalamualaikum," sambungnya lagi.
"Wa-waalaikumsalam."
__ADS_1
Aina tertunduk lemas, bahunya melorot ke bawah seperti ditarik sesuatu. Tidak ada pilihan lain, dia harus mengabari Ridho.
[Aina : Mas, aku setuju dengan tawaran kamu untuk mempertahankan pernikahan ini. Temui aku di rumahmu sekarang.]