
Bambang benar-benar marah dengan Ridho, terutama Tio. Kedua manusia sesama jenis ini berhasil membuat dia nyaris melepaskan nyawanya. Impiannya mempunyai menantu kini hancur dalam sekejap mata.
"Ya Allah, Dho! Mau sampai kapan kamu nyiksa Ayah, capek Ayah ngelihat pola kamu!" Bambang mengurut dadanya. Sesak semakin terasa saat Tio tanpa malu menggenggam tangan Ridho.
Zulaika pun turut menitikan air mata, dia mengusap lembut punggung Bambang. Berharap sang suami dapat mengontrol emosinya. "Sabar, Yah."
Ridho menunduk, melepaskan genggaman tangan Tio dan berhambur ke arah Zulaika dan Bambang. "Maafin Ridho, Bun, Yah." Ridho bersimpuh di kaki ayahnya.
Helaan napas panjang terdengar dari Bambang, begitu juga Zulaika— dadanya kian terasa sesak melihat pemandangan seperti ini. "Sekarang kamu pilih Tio atau Bunda, Bang?" tanya Zulaika seraya meringis menahan nyeri di jantungnya.
"Kalau kamu pilih Tio, Ayah akan lepasin kamu. Mulai hari ini, kamu bukan bagian dari keluarga kami. Silakan hidup dengan pilihan kamu, tapi jika suatu saat nanti Ayah meninggal. Jangan pernah injak kuburan Ayah atau doakan Ayah" timpal Bambang, lalu menggandeng sang istri dan Aisya masuk ke rumah.
Pilihan yang sulit, padahal dari awal Ridho sudah memilih Tio, meski hubungan mereka harus terjalin diam-diam. Akan tetapi orang tuannya terlalu memaksakan kehendak, hingga terjadi pernikahan yang tak diinginkannya. Lantas sekarang Bambang dengan entengnya mengatakan Ridho bukan lagi keluarga mereka. Ya Allah, dia lebih baik kehilangan harta daripada kasih sayang orang tuanya. Sesakit inikah rasanya, hingga dia juga harus menitikan air mata?
Tio menghampiri Ridho, dia jongkok di depan kekasihnya. Mengusap lembut cairan bening di pelupuk mata Ridho. "Masih ada aku, Dho. Kamu nggak sendirian kok," hibur Tio.
Ridho mengangkat mukanya, dipandangi wajah Tio. Dari bibir, mata, hidung semua tanpa terlewat. Inikah indahnya dosa yang selama ini Ridho kagumi dan ditentang banyak orang?
"Ti, maafkan aku. Mungkin sebaiknya kamu jangan ganggu aku lagi. Orang tuaku lebih berarti," ucap Ridho.
Tio terpaku di tempat, sangat syok dengan penuturan Ridho. "Kita putus, Dho?" tanya Tio memastikan jika pendengarannya tidak konslet dan masih normal.
"Iya." Ridho mengangguk pelan. Antara hati dan ucapan berbanding terbalik.
Jemari Tio yang menyentuh pipi Ridho perlahan turun, dia berinsut mundur lalu beranjak bangun. Meski terhuyung Tio masih mampu menguatkan kakinya untuk tetap berpijak. "Putus? Nggak bisa, Dho!" teriak Tio lantang.
Ridho pun turut berdiri, menghapus sisa air mata yang tersisa. "Sorry, mungkin ini baiknya," ucap Ridho penuh sesal.
Rasa kesal akan pernikahan Ridho dan Aina masih belum padam, kini ditambah dengan kandasnya hubungan laknat mereka. Membuat Tio tak bisa mengontrol emosinya. "Ridho!" panggilnya, tatapan mata sayu yang selalu ia tampilkan saat bersama Ridho, kini tergantikan dengan sorot setajam elang dilayangkan terhadap pria di depannya.
__ADS_1
Tanpa aba-aba atau pengumuman terlebih dulu, Tio langsung melayangkan bogeman tepat di pipi Ridho. "Jahat kamu, Dho. Jahat!" ucapnya pilu.
Ridho terjungkal ke belakang, terempas ke tanah. Rasa sakit di bagian bibirnya beruntung tidak membuat giginya ompong. "Terserah kamu mau bilang apa, Ti! Orang tuaku segala-galanya, nggak ada yang bisa gantiin mereka. Meski aku yang harus terluka!"
Dengan susah payah Ridho berusaha berdiri. Meninggalkan Tio yang masih berdiri berderai air mata.
Di dalam kamar, Aisya tak henti-hentinya mengucap hamdalah ketika melihat abangnya berani memgambil tindakan tegas untuk Tio. Bukan perkara mudah, tapi Ridho membuktikannya jika dia masih memiliki setitik iman yang tersisa.
Gegas Aisya menghampiri Ridho di kamarnya, sekedar mengutarakan kesenangan hati. Bambang dan Zulaika sendiri sudah memilih masuk kamar, kondisi bunda yang kurang baik. Membuat ayahnya takut, jika sang bunda akan masuk ke rumah sakit lagi.
"Bang, buka pintunya. Ais mau masuk." Aisya terus mengetuk pintu kamar Ridho, tidak begitu lama abangnya membuka pintu.
"Ya," jawab Ridho singkat.
Aisya memindai Ridho dari atas sampai bawah, penampilan Abangnya begitu berantakan. Rambut acak-acakan, pakaian lusuh dan kotor, pasti belum ganti baju setelah dipuku Tio tadi. "Bang, makasih ya. Ais bangga punya kakak kaya Bang Ridho." Aisya langsung berhambur memeluk Ridho.
Ridho mengangguk, dia mengusap lembut punggung Aisya. "Iya, Dek. Maafkan Abang yang sempet khilaf dan bikin kamu malu. Insyallah, Abang akan berusaha berubah," ujar Ridho lirih.
"Cari kemana, Dek? Abang nggak tau Aina pergi kemana."
"Abang teleponlah! Masa gitu aja harus diajarin."
Ridho langsung membuka lebar pintu kamarnya, lalu melangkah ke kasur mengambil ponselnya di kasur. Ah, sial layar HP nya masih menyala, dan terpampang wajah Tio dan Ridho.
"Abang masih ngeliatin foto laknat itu? Nggak mau hapus?" tanya Aisya, menatap nyalang pada Ridho.
"Ini juga mau hapus," sanggah Ridho cepat. Lalu jemarinya sibuk menghapus semua foto mesra dia dan Tio. "Udah." Ridho menunjukan galerinya sudah bersih dari gambar-gambar tanpa sensor tersebut.
Aisya mengangguk, menarik sudut bibirnya hingga lebar. "Yaudah cepetan telepon mbak Aina!"
__ADS_1
"Iya, sabar kenapa, sih!" Ridho langsung mencari kontak Aina dan ternyata hasilnya zonk. Dia lupa kalau selama ini tidak meminta atau mengesave nomer istrinya tersebut. "Dek, Abang nggak punya nomer Aina."
"Apa?!" Mata Aisya membola bersamaan dengan mulutnya yang terbuka lebar.
***
Langkah Aina terasa berat, banyaknya beban yang dipikul membuat dia merasa lelah. Tidak tahu akan ke mana malam ini, tetapi yang jelas tidak untuk pulang ke rumah orang tuanya.
Perkara Ridho yang sejatinya seorang gay, biarlah menjadi simpanan Aina seorang. Mungkim lain kali akan ada waktu yang tepat untuk dia berbicara pada Tino.
Aina jelas bukan tipikal wanita yang bar-bar, apalagi berpikiran sempit menjudge kesalahan seorang. Baik buruknya manusia semua tergantung dirinya masing-masing. Namun, untuk menerima kesalahan jelas itu akan sulit, mungkin perlu berpikir ribuan kali.
Ponsel di dalam tas Aina berdering, Tino menghubunginya. "Hallo, Abah." Sebisa mungkin Aina menahan suaranya agar tidak terdengar sedih.
"Aina, maaf Abah telepon kamu. Iniloh Umi kangen padahal baru beberapa jam ditinggal." Suara Abah di seberang sana terdengar kesal.
"Iya, Abah. Bilang Umi, Aina baik-baik aja," ucap Aina.
"Ridho gimana, baik, kan sama kamu?" tanya Umaira.
Aina menutup layar ponsel dengan tangannya. Terus menggigit bibir bawahnya, berusaha untuk tidak bersuara parau saat ini. Padahal air mata sudah mengalir begitu derasnya. "Alhamdulillah, baik."
Umaira dan Tino tersenyum, sangat senang mendengar sang putri baik-baik saja. Padahal semenjak Aina melangkah keluar dari rumah mereka, perasaan Umaira sudah tidak enak. Alhamdulillah, semua itu hanya ketakutannya saja.
Kaki yang mulai terasa pegal dan sakit, akhirnya Aina memilih duduk di bangku jalan. Nelangsa sekali nasibnya saat ini, penganti baru yang harusnya lagi hangat-hangatnya memadu kasih di tengah malam. Membuat suara erotis yang indah didengar telinga, kini tidak ayal seperti pemulung yang tinggal di jalan. Hanya saja, penampilan Aina jauh lebih bersih, rapi dan wangi.
"Apa aku tidur di rumah Anggi aja? Tapi ntar kalau dia tanya-tanya, bingung mau jawab apa," gumam Aina.
Aina melihat ponselnya, menekan aplikasi hijau untuk memesan taksi. Malam ini dia akan menginap di hotel, selain untuk menghindari pertanyaan dari pihak mana pun, ini juga untuk menenangkan hatinya yang tercabik-cabik. Mengadu pada Ilahi sembari memikirkan keputusan terbaik nantinya.
__ADS_1
Sambil menunggu taksi pesanannya datang, Aina memainkan game di ponselnya. Namun, seseorang yang entah datang dari mana langsung menyambar handphone-nya. "Hei!"
"Dasar pelakor!"