Jodohku Pria Belok

Jodohku Pria Belok
TOD


__ADS_3

Embusan angin menerpa tubuh Aina, ia kini berada di balkon lantai dua bersama kawan-kawannya. Tampak Anggi dan Agus saling berpelukan menghangatkan, Susi dan suaminya juga. Sementara Yanti memilih menghangatkan diri dengan segelas coklat panas.


Lalu ia dan Ridho hanya saling diam. Ridho dan Aina memilih duduk di belakang suaminya Susi berselancar dengan gawai.


Dinginnya suasana membentuk kabut tipis tiap kali ia mengembuskan napas. Aina melirik Ridho sekilas lalu beranjak dan duduk di samping Yanti. "Kok pindah?" tanya Yanti heran.


"Gapapa, kasian kamu nggak ada yang menghangatkan," jawab Aina asal, padahal ia hanya tak nyaman dengan situasi ini.


Yanti mengulas senyum, kembali menyesap coklat panasnya.


"Kita main game yuk!" usul Anggi. Semuanya mengangguk terkecuali Aina dan Ridho.


Anggi beranjak dari pangkuan suami, bergerak ke dalam vila dan kembali lagi membawa botol air mineral. "Itu buat apa, Beb?" tanya Agus.


Hati Aina mencelos mendengar penuturan Agus, panggilan sayang tersebut ia juga ingin seperti itu. Namun, apa daya semua tak akan bisa.


"Main TOD, yuk!" pungkas Anggi.


"Aku ngikut," ucap Yanti.


"Boleh juga," timpal Susi.


"Iya," sahutku.


Anggi membersihkan meja dari bekas piring kotor dan bungkus snack yang tadi dipakai untuk makan malam, lalu ia memutar botolnya searah jarum jam.


Botol berputar cepat, semua mata awas menatap botol sampai berhenti ke arah Anggi. "Nggak adil, masa aku yang mutar aku yang pertama kena."


"Nikmatin aja, jadi tantangan atau jujur?" tanya Susi.


Yanti tersenyum jahil, di benaknya sudah banyak pertanyaan yang akan membuat Anggi sulit bernapas.


"Tantangan!"


"Yahhhh." Susi dan Yanti memasang wajah kecewa, Anggi hanya meringis memamerkan deretan giginya yang putih. Ia sudah tahu jika Yanti ingin membalas dendam atas perbuatannya tempo dulu.


"Aku aja yang kasih tantangan," celetuk Susi, "aku ingin kamu makan buah lemon!" sambungnya.


Anggi membola, lalu menggeleng. Namun, sesuai peraturan tidak boleh menghindar. Padahal Susi tau sahabatnya itu sangat Anti dengan makanan asam.


Semuanya tertawa melihat Anggi yang bergidik dan menangis sesenggukan di dada bidang suaminya.

__ADS_1


Botol kembali berputar lalu berhenti di Susi, tetapi Susi memilih jujur dan menceritakan kalau waktu kecil ia suka nyolong mangga tetangganya.


Sontak Anggi dan Yanti melempar Susi dengan kulit kacang dan tertawa.


Ya inilah hidup, semua hanya perlu dinikmati tanpa ada beban. Tawa bahagia dan bersyukur atas karunia Tuhan, maka akan terasa damai. Akan tetapi tidak semua orang merasa seperti itu.


Yanti kembali memutar botol lalu berhenti tepat ke arah Aina. "Tantangan atau jujur, Ai?"


Aina menimbang dengan matang, jangan sampai ia terjebak permainan dan merugikan diri sendiri. "Tantangan!" jawab Aina.


Anggi, Susi dan Yanti terlihat berbisik. Sementara pria hanya menatap pasangannya masing-masing.


"Sudah diputuskan, kalau Aina dan Ridho harus kissing di depan kami semua!" pungkas Anggi.


Ponsel dalam genggaman seketika lolos begitu saja dari tangan Ridho. Jangankan untuk ciuman di depan umum, membayangkan saja ia tidak bisa. Dasar teman nggak ada akhlak, rutuk Ridho dalam hati.


"Yang lain, aku malu kalau disuruh itu," tutur Aina, padahal ia tidak siap untuk bersentuhan dengan Ridho. Tak terpikir apa rasanya bibir seorang gay dan itu berhasil membuat ia bergidik ngeri. Terlebih mata Ridho sudah melotot tajam ke arahnya.


"Nggak, Sayang!" Yanti menggeleng, disusul Anggi dan Susi. "Kamu harus tetap ngejalani pilihan yang kamu buat sendiri," sambungnya, dibarengi senyuman penuh arti.


Aina mendesah lalu menatap Ridho, tetapi lelaki itu malah membuang muka. Ya, suaminya enggan untuk melakukan tantangan ini persis seperti dirinya.


"CIUM!"


"CIUM!"


Sadar akan situasinya Ridho beranjak berdiri, niat hati ingin meninggalkan tempat ini. Namun, baru saja ia melangkah, tubuhnya sudah dihadang oleh Aina.


"Ai, nggak usah dengerin omongan temenmu, kita nggak akan ngelakuin hal itu," bisik Ridho.


"Aku tau ...."


Belum selesai Aina bicara, tubuhnya langsung didorong oleh Yanti hingga terhuyung ke depan. Ridho sigap menangkap istrinya dan keduanya jatuh bersamaan dengan posisi Aina di atas suaminya.


Bola mata mereka bertemu untuk sesaat saling pandang tanpa berkedip. Aina sejenak terpaku dengan ketampanan Ridho—alis hitam tebal, hidung mancung, sorot mata tajam berkilat dengan bentuk rahang yang tegas.


Begitu juga dengan Ridho, kecantikan Aina yang dipandang begitu dekat membangkitkan sedikit getar di lubuk hatinya. Perasaan yang belum pernah ia rasakan ketika bersama Tio, ada yang beda tapi tidak tahu apa itu.


"Kayanya mereka pengen lebih, jadi kita tidur aja yuk!" ajak Susi.


"Iya, apalagi dingin. Enaknya yang anget-anget," seloroh Yanti.

__ADS_1


Aina langsung terkesiap, gegas ia bangkit dari atas tubuh Ridho. Menarik napas dalam-dalam untuk menghilangkan gejolak di dalam dada. "Aku nggak sengaja," ucap Aina lirih.


Ridho hanya berdehem kecil dan pergi begitu saja setelah merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan.


"Kamu apaan sih pake dorong-dorong aku segala, nggak lucu!" omel Aina, ia juga pergi begitu saja.


"Ya ampun pengantin baru sensi amat, besok bangun pagi kita ke curug!" teriak Yanti lantang.


***


Di sisi lain, Tio meremas kaleng fanta hingga penyok. Amarahnya membuncah saat ia tahu Ridho dan Aina jatuh bareng dengan posisi saingannya di atas pujaan hati.


"Seneng dong bisa nempel kaya gitu," ujar Tio kecut.


"Nggak," jawab Ridho datar, padahal di dalam hatinya sedang mengalami gejolak batin yang sama sekali tidak ia pahami.


Ridho kini berada di vila yang sengaja ia sewa untuk Tio. Tadi sebelum ke sini dia berbohong ke Aina untuk mengunjungi teman sekantornya.


"Terus malam ini kamu mau pulang? Nggak nemenin aku?" cecar Tio seraya menarik turunkan alisnya.


"Nggak tau, Sayang. Aku besok pagi harus ke curug."


"Buat apa?"


"Teman-teman Aina ngajakin ke sana." Ridho sempat mendengar Yanti berteriak saat itu, bahkan marahnya Aina pada wanita tersebut.


Seharusnya Ridho bisa lebih memilih Tio dibandingkan istri palsunya tersebut, tapi sekarang pikiran lelaki itu seperti plin plan. Jika terus dibiarkan seperti ini, besar kemungkinan ia akan kehilangan Ridho.


Bukan lagi untuk nanti, mungkin ada baiknya Tio bertindak sekarang. "Jam berapa kamu berangkat?"


Ridho menggeleng lalu berkata, "nggak tahu, yang pasti pagi."


Tio manggut-manggut lalu bergegas mengambil sebotol wine dari dalam kopernya. "Temani aku minum, baru kamu boleh pergi."


"Oke," jawab Ridho.


Namun, baru dua gelas dia minum kepalanya mendadak kantuk dan pusing menyerang bersamaan. Tio yang melihat gelagat Ridho hanya menyeringai kecil.


"Sayang, kepalaku kok pusing ya." Ridho terus memegangi kepalanya, pandangannya pun mulai berputar-putar kemudian buram lalu jatuh tak sadarkan diri.


"Maafkan aku, Sayang. Ada baiknya kamu istirahat sampai besok siang ya." Tio merogoh sakunya dan mengirim pesan pada seseorang yang sudah ia percayai.

__ADS_1


Tio : Lakukan pekerjaan kalian dengan baik, jangan tinggalkan jejak apa pun.


Pesan terkirim, sedetik kemudian mendapat balasan iya dari penerima.


__ADS_2