Jodohku Pria Belok

Jodohku Pria Belok
Jatuh ke jurang


__ADS_3

Setelah setengah hari mendung menutup langit puncak Kota Bogor, kini hujan jatuh membasahi bumi. Setiap tetesnya mengantar pada kenangan, rasa suka, duka, dan banyak lainnya. Begitu juga Susi—sahabat Aina kini tengah dilanda kerisauan yang mendalam. Suami yang ia tunggu tak kunjung juga datang.


Berkali-kali Susi duduk, berdiri, duduk, dan kembali berdiri. Menatap cemas ke jalanan berbatu yang mengarah ke air terjun. Berharap Haris datang dengan senyum sumringah menenteng plastik yang diinginkan.


"Ai, kok lama ya." Susi menggigit buku jarinya, khawatir terpatri jelas di wajah ayunya.


Aina menggeleng, sama sekali tidak tahu harus menjawab apa. Pasalnya ia juga sama takutnya seperti Susi. Memikirkan Ridho yang entah baik-baik saja atau tidak.


Oh God, tenangkan lah hatinya. Jauhkan segala pikiran buruk yang menghinggapi.


Segerombolan orang lari tunggang langgang menuruni jalan berbatu, napas mereka tersengal-sengal, wajahnya pucat pasi seperti baru mengalami kejadian mengerikan atau melihat sesuatu. Namun, di lima orang tersebut tidak terlihat wajah Haris atau Ridho. Ke mana mereka?


Gegas Aina menghampiri orang-orang tersebut, tak peduli bajunya basah. Ia hanya ingin memastikan apa yang terjadi dan di mana suami gay-nya serta Haris. Hanya itu!


"Permisi, Mas. Kalian dari atas, kan? Kenapa kok kaya panik gitu?" tanyanya ke pria yang hanya memakai celana kolor bola.


Tidak ada jawaban, mereka hanya saling pandang. Mungkin bingung atau ada hal lain—entahlah.


"Banjir, Mbak!" Suara bariton dari barisan belakang bersua, seorang pemuda dengan pakaian lengkap menenteng tas ransel. "Bandang, kami semua langsung lari aja, ini mau lapor ke petugas dulu," sambungnya lagi.


Astagfirullah, Aina menutup mulut dengan tangan kanannya. Ia terhuyung ke belakang nyaris terjungkal andai Yanti tidak langsung menangkap tubuhnya.


"Ai, kenapa? Baik-baik aja, kan?"


Bukannya menjawab, Aina malah berhambur memeluk Yanti. Dadanya terasa sesak, semua ucapannya tertahan di tenggorokan.


"Ai, ada apa?"


Bingung, itu yang dirasakan Yanti sedangkan orang-orang yang baru turun tadi hanya diam dan berlalu begitu saja. Ayolah, siapa yang bisa memberikan jawaban jika begini.


"Y-yan ... Mas Haris, Mas Ridho ...." Aina tidak bisa lagi berbicara, dadanya terlanjur sesak membayangkan sesuatu yang buruk terjadi. Ya Allah, bagaimana cara ia berbicara pada Ayah dan Bunda.


Seburuk-buruknya suami, biar bagaimana pun sudah kewajibannnya Aina untuk memikirkan Ridho. Meski lelaki tersebut setitik saja tak pernah memikirkannya. 

__ADS_1


"Iya, kenapa, Ai!" Yanti turut kesal juga khawatir karena sikap Aina. Terlebih ekspresi takut, khawatir Susi yang berdiri di pelataran sana. Oh Tuhan.


"Aku harus susul Mas Ridho!" ujar Aina dan berlari ke arah air terjun.


"Hah?" Yanti bergeming menatap punggung Aina yang perlahan mengecil. Tidak lama setelah itu, beberapa orang berseragam khusus dan dua orang yang tadi mengobrol dengan Aina ikut berlari menaiki jalan berbatu ke arah air terjun, mereka dilengkapi dengan berbagai peralatan.


Tidak bisa tinggal diam apalagi hanya menunggu Yanti turut menyusul semua orang ke air terjun, begitu juga Agus yang khawatir dengan keadaan sahabat istrinya.


Aina terus menapaki jalan berbatu yang naik turun, ia sampai tergelincir karena jalanan yang licin dan basah. Beruntung ia sempat berpegangan pada sisi tebing yang terdapat akar pohon, jika tidak mungkin tubuhnya akan berguling ke bawah.


"Semoga Mas Haris dan Mas Ridho baik-baik saja," harapnya sambil terus berjalan.


Tanpa Aina sadari, seseorang mengikutinya dari belakang secara diam-diam. Sosok misterius itu berjalan tenang sambil menunggu kesempatan emas untuk menjalankan aksinya. Dalam sekejap, Aina terjatuh ke jurang setelah mendapat dorongan dari pria asing yang tak dikenal.


"Akh!" Aina menjerit secara refleks dibarengi tubuh berguling-guling tanpa arah menuju dasar jurang.


Semak-semak belukar, rumput liar, tetes air hujan dan tanah yang lembab menyelimuti tubuh gadis berkerudung abu-abu itu tanpa bisa dicegah.


***


Tubuh Ridho luruh, dalam sekejap mata semua keindahan di air terjun berubah menjadi bencana. Bukan hanya Haris tetapi dua orang lainnya juga ikut terseret. Di sini, Ridho merasa tidak berguna, ia terus menyalahkan dirinya sendiri.


Andai Ridho menemani Haris turun ke bawah, ia juga akan terseret arus air atau setidaknya mereka bisa berusaha menyelamatkan diri. Tapi nasi sudah jadi bubur.


"Ridho!" panggil Yanti, Ridho menoleh ke sumber suara. Tampak Yanti dan beberapa orang berpakaian terengah-engah. Mereka semua memandang nanar ke arah sungai.


Terlambat dan tidak punya perasaan! Bagaimana bisa orang-orang yang tadi hengkang kini kembali. Lihat saja hasil perbuatan itu, tiga orang hanyut dan entah di mana rimbanya.


"Dasar orang bego! Kenapa kalian lari, hah? Harusnya kalian bantuin aku nyelamatin Haris dan yang lainya, bukan malah mikirin diri sendiri!" maki Ridho, dadanya naik turun karena emosi.


"Sabar, Mas! Kita lari manggil bantuan. Bukan nyelamatin diri sendiri," bela pria bercelana kolor bola.


Perasaan yang sudah bercampuk aduk hingga tanpa pikir panjang membuat Ridho melayangkan bogeman ke wajah pria tersebut. "Persetan semua itu! Karena kalian Haris dan yang lainya hanyut, bego!"

__ADS_1


Ridho kembali mengangkat kepalan tangan di udara, tapi segera ditarik oleh petugas. "Ribut-ribut nggak ada gunanya, Mas. Mending kita cari orang-orang yang hanyut tadi," tutur petugas.


Yanti mengedarkan pandangan ke segala arah, ia mencari sosok Aina yang tak nampak batang hidungnya. Kemana gadis itu?


Ridho mengangguk lemah, entah apa yang akan ia katakan pada Aina terutama Susi. Malang sekali nasib wanita hamil tersebut.


Agus yang baru datang sudah berdiri di belakang Yanti, ia mencari sosok Haris yang tak ada hingga bisa ditebak kemungkinan terburuk. "Haris hanyut, Yan?"


"Iya," jawab Yanti diiringi anggukan kepala.


"Terus Aina kemana?"


"Pas aku tiba di sini cuma ada Ridho."


"Kamu udah tanya Ridho?"


Yanti menggeleng, enggan untuk bertanya ke Ridho terlebih keadaannya saat ini sedang tidak baik-baik saja.


Agus meraup muka kasar, ia menghampiri Ridho yang masih melamun. Ck lelaki payah, istrinya hilang dia malah bengong. "Aina kemana?" tanya Agus langsung.


"Aina?" Ridho mengeryit, "bukannya sama kalian?"


"Dia tadi nyusul kamu ke sini."


"Tapi nggak ada Aina di sini!"


......................


Selamat malam semua ...


maaf beberapa hari ini gak up, krisis kuota dan dompet menipis😌


Yuk dukung terus cerita ini dengan like dan komen kalian. Tapi jangan bom like ya sahabat.

__ADS_1


Insyaallah, akan rutin up setiap hari. doakan saja otaknya lancar untuk nentuin ide yang menarik


__ADS_2