
"Apa yang Anda lakukan di kamar hotel tersebut?"
Jantung Ridho berdetak tak karuan, keringat mengalir deras dari tadi sampai pakaiannya basah. Jangan ditanya bagaimana ia saat ini, yang pasti hanya ada satu kata, menyebalkan!
"Anda akan mendapatkan sangsi atas kelakuan Anda! Melakukan hubungan sesama jenis itu sangat dilarang di sini!"
Nyali Ridho benar-benar ciut menghadapi empat orang polisi yang terus menginterogasinya. Apalagi sosok Bambang yang sudah menunggu di depan sana! Aihss, sial sekali!
"Pak, saya tidak melakukan apa-apa di sana! Kami hanya bertemu untuk membicarakan bisnis, tidak ada hal lain lagi," jawab Ridho sebisa mungkin dibuat tenang.
"Anda pikir saya akan percaya? Tidak ada namanya pertemuan di hotel, bahkan Tuan Rey bertelanjang dada dan ini buktinya!"
Saat komandan polisi mengeluarkan alat kontrasepsi dan obat kuat, seketika mata Ridho membelalak saking kagetnya. Ia benar-benar tidak tahu apa pun mengenai alat tersebut, toh apa yang ia bilang juga tidak sepenuhnya salah. Ridho memang gay, tapi tidak berhubungan dengan Tuan Rey.
Ia masih ingat betul, setelah keluar dari rumah mertuanya Ridho langsung tancap gas menuju ke Kebayoran Lama untuk menemui Tio, tapi sayang Tio tidak ada di tempat. Setelahnya, ia mendapat kabar kalau Tuan Rey— Direktur perusahaan Baja memintanya bertemu atas saran Omnya itu.
Sedikit saja tidak terbesit untuk menjalin hubungan lebih dari itu, bahkan saat polisi datang ia baru saja duduk dan belum sempat membicarakan apa pun.
"Jadi, Anda sudah ingat semuanya?" Komandan polisi itu tersenyum penuh kemenangan.
"Pak, berapa kali saya harus bilang kalau saya tidak ada hubungan dengan Tuan Rey, apalagi untuk aneh-aneh begitu. Saya ini sudah menikah, dan baru saja buka puasa! Jadi nggak mungkin saya tertarik sama Tuan Rey yang gendut itu, toh saya punya bidadari di rumah!" Ucapan Ridho benar-benar lancar seperti jalan tol. Ia sendiri bahkan sampai heran kenapa bayangan panasnya dengan Aina terbesit begitu saja. Aihss!
Namun, melihat reaksi anggota polisi di sini yang tanpa ekspresi Ridho tidak yakin kalau ucapannya dipercaya. Sial, di saat seperti ini ia malah mengharapkan Aina datang untuk menyelamatkannya.
"Tapi di sini ada buktinya, Rey juga udah bilang kalau kalian ada hubungan! Cuma kamu yang nyangkal!" bentak anggota lainya.
Andai Ridho bisa teleportasi, ia pasti sudah pindah ke tempat Rey dan menghajar habis-habisan pria tua bangka tersebut. "Saya ini bicara apa adanya, Pak! Bukan bohong ...."
Belum selesai Ridho bicara, suara ketukan pintu mengalihkan pandangan mereka semua ke arah pintu. Tampak kepala pria paruh baya menyembul, memberi isyarat untuk komandannya agar keluar.
__ADS_1
Komandan polisi dan dua lainya ikut keluar, sedangkan Ridho ditinggal bersama Bripda Agus.
Di sisi lain, Aisya terus mengamati pintu masuk polsek sambil sesekali mengecek layar HP. Menunggu balasan pesan dari Aina sama saja berharap pad sesuatu yang mustahil. Apalagi hubungan abang dan kakak iparnya itu tidak akur.
"Gimana kalau Mbak Aina nggak datang?" Aisya menghempaskan tubuhnya di kursi tunggu, capek dari tadi mondar-mandir tak jelas. Zulaika juga cuma menangis di sudut ruangan.
"Bunda nggak usah nangis,biar aja Bang Ridho masuk penjara. Hidupnya cuma jadi beban keluarga aja, kemarin sama tempe mendoan, sekarang sama aki-aki," pungkas Aisya, sambil memainkan ponselnya.
Bukan Aisya tidak iba melihat Ridho, dia hanya sudah terlalu kesal apalagi Zulaika yang paling merasa bersalah di sini, padahal abangnya saja yang gila.
"Bunda takut Abangmu di dalam disakitin sama polisi, Nak. Gimana kalau mereka benar masukin Abang ke penjara, Bunda nggak sanggup ngebayanginya." Sebagai seorang Ibu pasti Zulaika tidak akan tega melihat anaknya menderita, bahkan jika bisa ia rela yang dimasukan ke penjara dan menggantikan Ridho.
"Ya nggak usah dibayangin, Bun! Lagian bagus juga kalau Banh Ridho masuk penjara, biar kapok. Hidup kok cuma jadi beban keluarga aja."
Zulaika melayangkan tatapan tajam ke arah Aisya. "Jaga bicaramu, Ais! Bunda nggak pernah ajarin kamu untuk bersikap kurang ajar!"
"Aku ngomong apa adanya, Bunda."Sambil mengamati polwan dan polisi yang berlalu lalang, Aisya juga menunggu Bambang. Setelah Komandan Polisi keluar dari ruang instrogasi, mereka pergi entah kemana. Ia jadi heran, mungkinkah Bambang akan menebus Bang Ridho?
Aisya beranjak dari kursi, ia melangkah ke luar. Tenggorokannya terasa kering, karena berdebat dengan Zulaika. Bukan bermaksud kasar, ia hanya tidak tahan dengan sikap bundanya.
"Aisya!"
Badan Aisya berputar ke belakang, senyumnya mengembang dengan sempurna. Segera ia berlari dan memeluk Aina erat yang baru turun dari taksi online. "Akhirnya Mbak datang juga. Ais takut kalau Mbak nggak datang."
"Mbak tadi nggak mau datang, tapi penasaran aja kok bisa Mas Ridho sampai di bawa ke polsek."
Aisya menghela napas panjang melepaskan pelukannya. "Nggak tahu, deh, Mbak. Ais udah pusing mikirin Bang Ridho."
"Terus gimana Abang kamu? Masih di introgasi sama polisi?"
__ADS_1
"Ya, sekarang liat Bunda aja." Aisya langsung menarik tangan Aina, membawanya pada Zulaika. "Bunda tuh terlalu sayang sama Bang Ridho, padahal Bang Ridho itu jelas salah tapi masih aja ditangisin, heran deh."
"Namanya juga orang tua, pasti sayang sama anaknya dan selalu memaafkan anaknya meski berbuat salah," jawab Aina sambil tersenyum tipis.
Aisya mengangguk membenarkan perkataan Aina. "Iya, Mbakku Cantik."
Setibanya di dalam polsek, Aina menghentikan langkah begitu juga Aisya yang mengeryit heran. Pasalnya Ridho sudah keluar dari ruang introgasi dan kini bersimpuh di kaki Zulaika sambil menangis.
Wanita paruh baya itu terus mengelus puncak kepala Ridho, air mata yang tak sederas tadi masih menetes di pipinya. Namun, lain hal dengan Bambang. Ada guratan amarah yang sedang dia tahan, terlihat dari rahangnya mengeras dan kepalan tangannya hingga memutih.
"Bunda percaya apa yang kamu bilang, Bang. Nggak mungkin kamu bakal nyakitin hati Bunda untuk kedua kali," ujar Zulaika diiringi gelengan kepala oleh Ridho.
Wajah Ridho sangat kucel, ada lingkar hitam di bawah mata. Padahal baru semalam dia menginap di penjara. "Terima kasih karena Bunda sudah percaya sama Ridho." Meski suaranya serak, tidak mengurungkan Ridho memohon ampunan dari Zulaika.
Masih dengan suasana haru, mereka semua beranjak pulang. Tidak mungkin berlama-lama di sini, takut ada paparazi yang memergoki Bambang.
"Aina, biar Ridho naik mobil sama Ayah. Kamu bisa 'kan pulang bareng sama Bunda dan Aisya?" tanya Bambang, saat Aina hendak membuka pintu belakang.
Aina mengangguk. "Bisa, Yah."
"Ini kunci mobil Ayah, hati-hati di jalan. Kalau ada apa-apa kabarin Ayah." Bambang menyerahkan kunci mobilnya pada Aina.
"Iya, Yah. Aina pamit."
Aina mencium punggung tangan Bambang dan melewati Ridho, begitu juga dengan Zulaika serta Aisya.
Mereka berpisah setelah melewati pertigaan di dekat kantor polisi, Ridho yang tahu ini bukan jalan pulang lantas bertanya, "Kita mau ke mana, Yah?"
"Antar kamu ke Malaikat Izrail!"
__ADS_1