Jodohku Pria Belok

Jodohku Pria Belok
Bertemu Haris


__ADS_3

Aina membuka mata perlahan, hal pertama ia lihat hanyalah kegelapan dan tidak ada lagi. Entah di mana dia sekarang, yang pasti tempat ini begitu lembab dan basah. Kepalanya juga masih berdenyut, memberikan rasa sakit dan pusing secara bersamaan. "Aduhh," desisnya seraya memijat pelan pelipisnnya. Basah dan sedikit beraroma, Aina mendegus untuk memastikan dan bisa dipastikan jika ini darah.


Dengan perlahan ia mencoba bangkit, rasa takut menghinggapinya tak kala suara ranting pohon yang bergesekkan. Matanya perlahan mulai menyesuaikan keadaan sekitar, meski hanya samar-samar.


"Ini di mana?" senandikanya, ia mencoba mengingat semua kejadian yang menimpanya. "Siapa dia?"


Beberapa jam yang lalu, Aina merasa ada yang mendorong hingga terperosok ke dalam jurang. Samar-samar ia melihat pria yang berdiri memandanginya berguling di tanah, tapi karena kejadian yang begitu cepat bercampur panik dia sama sekali tidak tahu bagaimana rupanya.


"Ya Allah, tolong aku." Dengan langkah terseok-seok, ia berusaha keluar dari rimbunnya pohon. Meski jurang ini tidak terlalu dalam tetap saja butuh tenaga ekstra untuk naik ke atas. Terlebih ia sama sekali tidak paham olahraga clam clibing, menyentuhnya saja tidak pernah.


Suara ranting yang ia pijak membangunkan bulu romanya. Aina mengedarkan pandangan ke segala arah, takut dan waspada itu sifat dasar manusia dan Aina tengah mengalaminya.


Waspada jika ada binatang buas yang mengintainya dan takut akan diterkam. Lalu tubuhnya dicabik-cabik untuk jadi santapan malam. Membayangkan saja sudah bergidik ngeri.


"Tolong! Siapa pun tolong!" Langkah Aina semakin tak menentu, ia terus menyisiri hutan. Meski ini tempat wisata, tetapi tidak semua dijamah manusia. Ada beberapa yang masih dibiarkan apa adanya atau memang ia saja yang tak paham.


Lama Aina berjalan tanpa arah, hingga samar-samar ia melihat cahaya berkilau di ujung sana. Aina bisa melihat ada pantulan sinar bulan di permukaan air. Secepatnya ia berjalan hingga berhenti di tepi.


"Alhamdulillah." Setidaknya dengan begini Aina punya harapan untuk bertemu orang di sekitaran sungai. Entah penduduk atau mungkin Tim SAR yang tengah mencari korban.


Aina mengedarkan pandangan ke segala penjuru, hingga berhenti pada patahan dahan di dekat pohon. Ia langsung duduk di sana, melepas lelah untuk sesaat serta melemaskan otot-ototnya yang tegang.


"Ya Allah, Engkau adalah pemilik tempat ini. Jika di sini ada pemilik lainya, lindungi aku dari gangguannya." Doa Aina dalam hati.


Aina tahu jika hidup di dunia bukan hanya sekedar manusia, tapi juga hal-hal gaib yang memang tidak bisa dilihat. Kadang kita selalu ceroboh dan menganggap mereka enteng, padahal tanpa kita sadari sudah banyak dari kita yang terjebak masalah dengan mereka.


Baru saja memejamkan mata, Aina merasa ada mata lain yang mengawasi setiap gerakannya dan benar saja ketika ia membuka mata. Sosok itu menatapnya tanpa ekspresi.


"Ahhhkkkk!" Teriakan Aina yang lantang membuat sosok itu terkesiap dan terhuyung kebelakang. Begitu dengan ia yang reflek berdiri sambil mengambil ranting lalu diarahkan pada sosok tersebut. "Siapa kamu?!"


Sosok itu berjalan mendekat, sedikit demi sedikit bisa ditebak jika perawakannya seperti laki-laki. Aina semakin was-was, takut jika pria tersebut akan bertindak buruk, sedangkan ia hanya seorang diri dan perempuan lagi. Jelas jika beradu fisik tidak akan seimbang.


"Ai, ini aku Haris."

__ADS_1


"Mas Haris ...." Aina mengeryit, ditatapnya sosok itu perlahan tanpa kedip hingga lelaki itu tersenyum. "Mas Haris kamu ngapain di sini?"


"Aku tadi keseret banjir, Ai," jawabnya cepat.


Mata Aina terus memandangi Haris, pakain basah serta wajah pucat dan bibir biru menandakan jika pria itu begitu kedinginan. "Mas, kamu gak apa-apa? Nggak ada yang luka?"


Haris mengangguk, ia duduk tidak jauh dari Aina beralasan batu kali yang lumayan besar. bukannya menjawab Haris malah mengatakan hal lain. "Maaf udah bikin kaget, aku pikir tadi siapa duduk di bawah pohon."


"Aku tadi kepleset waktu nyusul kalian ke air terjun, terus jatuh ke jurang."


"Tapi kamu baik-baik aja, kan?"


Aina mengangguk. "Iya, cuma badanku pada sakit semua, kaya mau patah. Kepalaku juga pusing, kayanya kaki juga kesleo."


"Kamu nggak hati-hati. Aku sendiri nggak tahu gimana Ridho tapi kayanya dia selamat," ujar Haris, "oh iya, kamu mau di sini sampai pagi atau mau kembali ke villa?"


Entah kenapa Aina merasa pertanyaan Haris begitu aneh, seharusnya dengan kondisi seperti ini ada baiknya cepat-cepat cari jalan keluar dan kembali ke Villa. "Aku kalau udah tau jalannya udah pasti mau langsung ke villa, aku yakin anak-anak khawatir."


"Aina, " panggil Haris setelah cukup lama saling diam.


"Ya, Mas, kenapa?"


"Boleh minta tolong?"


"Apa, Mas?"


Haris tidak menjawab, dia langsung berdiri dan meminta Aina untuk mengikuti langkahnya.


Aina terus mengekor di belakang Haris tanpa bertanya sampai berhenti di pinggiran sungai yang jaraknya cukup jauh dengan mereka duduk tadi. "Mas kita mau apa?"


"Tolong ambilin plastik biru itu, bisa?" Haris menunjuk sebuah plastik yang tersangkut di antara ranting-ranting dan bebatuan.


"Iya, Mas," jawab Aina, padahal Haris bisa mengambilnya sendiri, tetapi malah meminta bantuannya. Aneh sekali sikap pria itu.

__ADS_1


"Bukannya nggak mau ambil, Ai. Tapi aku masih takut kalau masuk ke air lagi," ujar Haris seakan menjawab kebingungan Aina.


Setelah mengambil bungkusan yang dimaksud, Aina menyerahkan pada Haris, tetapi lelaki itu menolak dan mengatakan untuk disimpan dia saja.


Keduanya berjalan menyusuri sungai tanpa bicara, kadang berhenti sejenak untuk melepas lelah dan sakit. Haris bilang kalau dia sempat menyusuri jalanan ini untuk meminta bantuan. Namun tidak ada seorang pun dan akhirnya ia memutuskan untuk kembali.


"Mas, kamu yakin kita bisa keluar?" tanya Aina memecah keheningan malam.


"Ini tempat wisata, Ai. Pasti warga sering wara-wiri sekitar sini dan aku yakin ada jalan untuk ke jalan utama."


Aina mengangguk, ia setuju dengan perkataan Haris. Setidaknya tempat ini sudah di jamah oleh warga atau pendaki hanya saja ia belum menemukan jalannya.


"Nanti kalau ketemu Susi, tolong sampaikan pesanku. Aku ingin anak kami dinamain Azam Aflahul Athar."


"Kamu kan bisa ngomong sendiri, Mas. Nanti kalau kalian ketemu, aku yakin Susi seneng liat kamu selamat."


"Hemm."


Cukup lama Aina dan Haris berjalan, mereka tiba di sebuah perkampung. Terlihat dari lampu-lampu rumah yang terang.


"Alhamdulillah, akhirnya ada kampung juga," ujar Aina mengusap muka dengan kedua tangannya. "Mas, ayo kita ke sana!"


Haris mengangguk.


Kembali Aina berjalan menuju ke salah satu rumah terdekat kali ini dia yang berjalan di depan Haris. Meski bangunannya sedikit ketinggalan jaman, tapi terlihat cukup nyaman untuk ditempati karena terawat.


"Assalamualaikum," salam Aina seraya mengetuk pintu. Ia berharap orang di dalam sudi dimintai tolong.


Sekali, dua kali, hingga tiga kali ketukan baru terdengar suara langkah berjalan mendekati pintu. Setelahnya gagang pintu diputar menampilkan wanita paruh baya dengan mukena yang warnanya mulai kusam. "Waalaikumsallam, ada yang bisa dibantu, Nak?" tanya sang wanita.


"Saya sama temen saya boleh numpang istirahat, Bu? Kami korban banjir badang yang selamat."


Namun sang ibu malah mengeryit, menengok ke belakang tubuh Aina sedetik kemudian malah bertanya, "teman yang mana, Neng?"

__ADS_1


__ADS_2