Jodohku Pria Belok

Jodohku Pria Belok
Beradu Pedang?


__ADS_3

Aina terus memandangi layar gawainya, sudah sepuluh panggilan tapi tidak ada jawaban atau sekedar balasan dari Ridho. Entah ke mana pria itu, semalam hanya pamit untuk mengunjungi teman.


Khawatir? Jelas!


Biar bagaimanapun harga dirinya di depan kawan-kawannya tidak ingin dipertaruhkan. Meski mereka sahabatnya, tetapi untuk masalah ini biarlah hanya dia yang tahu.


Aina : Mas, kamu di mana? Cepetan balik lagi ke villa.


Hanya centang satu dan itu dari semalam, sedangkan jam di pergelangan tangan sudah menunjukan pukul sembilan pagi. Alasan apa lagi yang harus dia berikan jika Ridho tidak bisa ikut. Ya Allah, tolong hambamu ini, doa Aina dalam hati.


Suara Anggi yang memanggilnya dari luar kamar kian membuatnya panik, terus mondar mandir di ruangan memikirkan cara agar dia tidak ikut ke curug.


"Aina, kamu udah siap belum? Yang lain udah tunggu di bawah!" seru Anggi lantang.


"Kalian duluan aja! Nanti aku nyusul sama Mas Ridho," Aina kembali menghubungi nomer Ridho, kali ini ke nomer selulernya bukan WA. Berharap ada sambungan dari pria itu, tetapi nyatanya hanya suara operator yang terdengar.


"Kamu sakit, Ai? Kamu belum keluar dari pagi loh?" Anggi terus bertanya. Dari nada suaranya terdengar khawatir.


"Nggak, Nggi! Kalian duluan aja."


Anggi pasrah, dia tidak ingin memaksa untuk ikut. Toh dari awal Aina memang tidak berniat ikut kalau bukan karena paksaan dari mereka. "Yaudah, nanti kabarin kalau mau turun."

__ADS_1


Selepas kepergian Anggi, deriing di ponselnya bunyi menampilkan pesan bergambar dari nomer tidak dikenal. Cepat ia membuka  berharap itu nomer Ridho yang lainnya. Namun sayang seribu sayang, ia seperti ditampar oleh sebuah kenyataan jika suaminya kini berada di dekapan pria lain.


085765xxxxx : Semoga suka hadiahnya, semalam Ridho mainnya cukup panas sampai-sampai dia kecapean dan belum bangun.


Mata Aina memerah, panas hingga membentuk genangan anak sungai yang siap mengalir dengan derasnya. Sungguh pilu bagaikan ada ribuan anak panah yang meghujam dadanya--sakit, perih tak tertahankan.


"Mas ... jadi ini alasan kamu nggak pulang semalam," lirihnya disertai isakkan yang menyayat hati.


Bayangan akan Ridho yang bergelut panas dengan Tio, serta keduannya yang saling beradu pedang selalu menari-nari di hadapan. Astagfirullah, Aina tidak sanggup untuk menopang bobot tubuhnya, ia luruh begitu saja di lantai dengan ponseel dalam genggaman yang masih menampilkan gambar Ridho.


Belum selesai dia menenangkan pikirannya, Tino menghubungi Aina melaui ponsel Dian. Aneh, padahal abahnya tidak pernah sekali pun meninggalkan ponsel kecuali saat sholat, tidur, dan di cas. "I-iya, Abah."


Tino menautkan alis, ada apa dengan putrinya. mengapa suara Aina terdengar serak dan parau. "Nak, kamu gapapa, kan? Kok suaranya aneh."


"Oh, gitu. Abah cuma ngabarin kalau Umi sakit, Nak. Sekarang lagi di rumah sakit," terang Tino.


"Astagfirullah, terus gimana Umi, Abah?"


"Umi udah membaik, palingan juga kangen kamu. Nanti kalau kamu ada waktu main ke rumah ya, ajak Ridho sekalian."


"Iya ...."

__ADS_1


Aina menghapus buliran kristal dari mata, tidak ada waktu untuk menangisi Ridho atau memikirkan pria menyimpang tersebut. Biarlah lelaki itu dengan dunianya yang haram untuk ia ketahui. Dengan langkah gontai, ia langsung menyusul Anggi ke curug dengan berjalan di kaki.


Setibanya di sana, teman-temannya terlihat sangat bahagia bermain di bawah derasnya air terjun. meski di sini sangat dingin dan suasananya agak gelap.


Anggi menarik Aina untuk ikut terjun ke dalam air, tetapi Aina menggeleng dan beralasan kalau ia tidak membawa  baju ganti. Anggi tidak bisa memaksa lagi, dia kembali ke tempat Agus sebelumnya meminta Aina untuk memotretnya.


"Maaf, Ai. Aku ketiduran di tempat teman aku."


Entah kapan Ridho datang, Aina sendiri bahkan tidak menyadari kehadiran pria itu. Wajar karena memang di sini banyak orang dan ia hanya fokus pada segerombolan anak manusia yang tegah bersendau gurau di bawah air terjun.


"Aku tau, pacarmu udah kirim gambarnya," celetuk Aina dan berlalu meninggalkan Ridho.


Ridho menyibak rambutnya kasar, ia terus memandangi punggung kecil Aina dari jauh. Sedikit ada rasa bersalah karena sudah membohongi gadis berkerudung abu-abu tersebut. "Aku akan jelasin kalau udah sampai villa," tutur Ridho setelah menyamai langkah kaki istrinya.


"Perjanjian kita berisi kalau tidak akan menngurusi hidup satu sama lain, jadi aku tidak peduli diluar sana kamu mau apa!"


"Aku cuma nggak mau kamu salah paham."


"Salah paham?" Aina menatap Ridho tidak percaya, Tuhan mungkinkah setan di sini sudah mengubah jati dirinya. Atau saat bersama Tio suaminya mengalami kecelakaan hingga terjadi gegar otak ringan, ya mungkin saja. "Aku sudah tau siapa kamu dari awal, jadi nggak perlu dijelasin apa pun!'


"Tapi aku sama Tio--"

__ADS_1


Gerakan tangan Aina yang terangkat di udara memotong ucapan Ridho. "Sudah ya, aku nggak peduli. Itu urusan kalian."


__ADS_2