Jodohku Pria Belok

Jodohku Pria Belok
Bulan Madu Terselubung


__ADS_3

"Apa-apaan sih kamu, Aina! Narik-narik aku kaya gitu?" Ridho terus mengomel sepanjang jalan, padahal dia baru saja melepas  rindu dengan Tio. Sebulan ini Bambang mengawasinya dengan ketat, jangankan bertemu ia hanya bisa bertukar kabar melalui telepon. Kapan penderitaannya berakhir? Hanya Tuhan yang tahu.


Aina melihat ke luar jendela seraya menopang dagu, enggan menjawab pertanyaan Ridho. Cukuplah otaknya mumet memikirkan reunian minggu depan. Tidak ingin menambah beban dengan hal yanng tidak penting.


Karena menjelang magrib, Aina meminta  Ridho untuk menepikan mobilnya di sebuah masjid. Sebagai seorang muslim yang taat ia tidak ingin meninggalkan perintah  Allah selama ia bernapas. "Kamu mau sholat enggak?"


"Mmm, nanti aja di rumah."


"Yaudah."


Ridho memandangi masjid dua lantai dari dalam mobil, ada getar rindu yang membuncah di dada. Dulu-- dia sering di bawah Bambang ke tempat ini untuk melaksanakan sholat magrib berjamaah. Dia juga kenal baik dengan ketua DKM dan pengurus lainnya. Hanya saja, semenjak ia mengenal Tio semua perlahan berubah.


Sebagai manusia yang diberi akal untuk berpikir dia sangat sadar jika ia terlalu jauh terjerumus ke lembah dosa, kendati demikian ia juga tidak bisa melepaskan jerat rasanya untuk Tio. Semua tidak semudah membalikkan tangan, butuh proses atau   tidak akan pernah.


Ketukan pelan di kaca mobil membuat Ridho menurunkan kaca jendelanya. "Ya?"


"Nak Ridho nggak turun buat sholat?" tanya Bapak yang biasa Ridho panggil Pak Kasim--beliau salah satu pengurus DKM Masjid Nur Hikmah.


Ridho mengulas senyum tipis, sangat kontras dengan raut wajahnya yang lesu dan berantakan. "Sudah, Pak."


"Kalau gitu turun aja, tadi saya liat istrinya masuk ke dalam."


Ridho manut, ia menunggu Aina di pelataran masjid sambil memainkan ponselnya. Tidak lupa ia juga mengirim pesan pada Tio, menanyakan pria itu apa sudah sampai rumah atau belum.


Di dalam masjid, Aina baru saja selesai sholat. Tanpa sengaja pendengarannya menangkap seorang wanita yang tengah berkeluh kesah pada wanita lainnya.


"Kamu coba bayangin jadi aku, punya suami nggak ada tanggung jawabnya sama sekali. Dia kabur gitu aja ninggalin aku sama anak-anak." Wanita yang masih menggunakan mukena berkali-kali menghapus air mata dari pipinya.


Temannya yang satu hanya bisa merangkul pundaknya, sesekali mengusap lembut dan bilang sabar.

__ADS_1


Ingin rasanya bertanya langsung, tapi niat itu Aina urungkan toh lebih baik tidak perlu ikut campur masalah orang lain. Gegas ia keluar dari shaft wanita lalu menghampiri Ridho yang tengah duduk seorang diri. "Maaf lama."


"Ai, ini kartu debit aku. Selama tiga bulan ini aku akan ngasih kamu nafkah, terserah kamu mau dipakai atau enggak. Yang penting aku tidak melalaikan kewajibanku sebagai suami." Selepas menyerahkan lembaran plastik persegi panjang pada Aina, Ridho kembali ke mobil. 


Aina masih terpaku dengan memegang kartu hitam berlogo salah satu bank ternama di Indonesia, ia terus saja memandangi wajah Ridho dari kejauhan. Entah kesambet setan mana lelaki setengah itu, mendadak dapat pencerahan. Sebelum-sebelumnya, Ridho tidak pernah membahas nafkah lahir untuknya atau sekedar membelikan es cendol pake uang pria itu. Lihat sekarang? Mendadak memberikan debit secara cuma-cuma.


Mungkinkah ini salah satu triknya untuk tidak memberitahu orang tuanya dengan kejadian tadi sore?


Ya Allah, maafkanlah ia yang suka berprasangka buruk.


***


Kartu debit yang Ridho berikan tempo hari, masih aman di dalam dompet Aina. Ia sama sekali tak pernah menyentuh atau memakainya untuk membeli keperluan pribadinya.


Gaji Aina sebagai pegawai kantor pajak masih cukup untuk membeli apa pun yang ia mau.


"Kak," panggil Aisya dari luar kamar.


"Masuk aja, Ais!"


Aisya melenggang masuk ke kamar Ridho, di tempat ini dia mengetahui keanehan abangnya dan petaka keluarga. Namun sekarang, Allah begitu baik hingga mau memberikan jalan keluar untuk masalah mereka. "Kakak mau berangkat, kan? Aku nebeng ya?"


"Loh, kamu nggak dijemput Dion sama Dita?"


Bukan sekali dua kali Aina melihat Dion datang untuk menjemput Aisya, sepupunya hampir setiap hari ke sini. Kadang dengan Dita atau hanya Dion sendiri, memang penyakit bucin sulit dihilangkan kalau sudah jatuh cinta.


"Aku lama-lama nggak nyaman sama Dito, kayanya dia naksir aku, deh." Tingkat kepedean Aisya patut diacungi jempol.


"Kenapa mikir gitu?" Aina mengeluarkan isi tasnya, ia ingin menggantinya dengan yang lain.

__ADS_1


"Ya gimana ya ... pokoknya gitu, deh." Rona di pipi Aisya tidak bisa dibohongi, meski bibirnya seolah-olah menolak tapi dari ekspresinya ada semburat malu-malu kucing. Oh, cinta dalam diam.


"Nggak nyaman atau emang kamu belum siap kalau Dion nembak kamu?" tebak Aina tepat mengenai sasaran.


"Ih, apaan, sih! Udah ah, aku tunggu di bawah!" seloroh Aisya seraya meninggalkan kamar.


Aina tersenyum tipis dan menggeleng pelan melihat kelakuan adik iparnya tersebut. "Ais ... Ais," senandikanya, kembali meletakkan semua barang bawaannya di tas. 


Selesai bebenahnya, Aina langsung turun menemui mertua dan suaminya di ruang makan. Ia menarik bangku di samping Ridho, menjulurlkan tangan mengambil sepiring nasi dan temannya. "Ini, Mas." Aina menyerahkan piring ke Ridho, suaminya hanya mengangguk pelan.


Bambang mengulum senyum tipis seraya melihat Zulaika, keduanya sama-sama bahagia. Ternyata Aina bisa menerima dengan ikhlas kondisi Ridho dan kembali ke rumah ini. Kini semua harapan jika putranya sembuh bukan angan-angan saja.


"Ai, kalian baik-baik aja, kan?" Bambang bertanya pelan, ia ingin memancing reaksi Aina dan Ridho.


"Baik, Yah. Kenapa emang?" Aina yang menjawab, Ridho asik mengunyah makanannya.


"Kamu nggak masalah kalai Ridho pernah salah jalan?"


Sendok di tangan Aina sontak jatuh ke lantai, menimbulkan suara klontang, membuat semua orang menoleh termasuk  Ridho dengan alis yang bertaut. "Kenapa?"


Pertanyaan singkat dari bibir Ridho hanya dibalas gelengan kepala oleh Aina.


Pertanyaan Bambang ini bertujuan apa, memastikan hubungan mereka atau tetang Ridho. Ingin Aina menjawab 'saya ingin cerai, Yah!' tetapi semuai itu hanya bertahan di dalam hati saja. Tak sampai hati untuk menoreh luka di harapan Bambang. "Nggak, Yah. Aku malah pengen ngajak Mas Ridho buat reunian sama temen-teman aku di puncak, malam minggu ini," bohong Aina.


Demi apa, niat yang sama tidak pernah Aina inginkan kini terpaksa harus dilontarkan di depan semua orang. Bodohnya lagi intonasinya sangat meyakinkan sampai Ridho tersedak. "Minum, Mas!" Aina mengulurkan segelas air ke Ridho.


"Makasih," jawab Ridho, secepat kilat ia menandas air hingga tak tersisa. 


"Oalah, jadi ini bulan madu terselubung gitu ya," timpal Aisya, "cie,cie, Mas Ridho mau garap sawah beneran!" ledek Aisya.

__ADS_1


Zulaika langsung mencubit pangkal paha Aisya, melotot tajam ke arah sang putri. Memberi isyarat untuk menjaga ucapannya yang sekiranya bisa menyinggung. Biar bagaimana pun ia juga masih memikirkan Ridho, tak baik jika keburukan selalu diungkit-ungkit, bisa-bisa memercikan kebencian.


"Hehehe, maaf ...." Aisya meringis menahan sakit, tangan kanannya mengusap-usap bekas cubitan Zulaika.


__ADS_2