Jodohku Pria Belok

Jodohku Pria Belok
Bab 24


__ADS_3

Demi apa pun, teruntuk hari ini ia sangat bahagia. Bahagia karena masalahnya dengan Ridho perlahan mulai bisa diatasi meski didasari kebohongan.


Tak apa, ini demi kebaikan bersama. Terutama untuk Tino dan Umaira, setidaknya dengan begini mereka tidak perlu mendengar hal-hal buruk tentang menantu mereka yang menyimpang.


Aina mematikan lampu kamar, ia ingin tidur lebih cepat dari biasanya. Menikmati waktu yang lalu terbuang sia-sia. Namun, suara gedoran pintu berhasil mengurungkan niatnya.


Perlahan Aina turun dari ranjang, berjalan ke pintu. Seketika ia tertegun, tak berkedip melihat Ridho di belakang Umaira. Ya Allah, apa ini?


"Ai, kenapa kamu biarin Ridho pulang gitu aja. Malam ini kalian harus selesaikan masalah kalian. Umi nggak mau kalian pisah ranjang lama-lama," ujar Umaira tegas.


Di balik punggung Umaira, Ridho tersenyum puas. Merasa menang karena mendapat pembelaan dari ibu mertua.


Akan tetapi tidak dengan Aina, ia tak ingin Ridho di sini terlebih sekamar dengannya. "Nggak mau, Umi."


Penolakan Aina sepertinya tidak berlaku bagi Umaira, beliau melenggang masuk begitu saja ke kamar sang putri. Sementara dia hanya bisa diam memandang jengkel pada Ridho yang mengekor uminya.


"Hitung-hitung kalian menginap di rumah Umi, toh kalau diingat-ingat kalian tidak pernah tidur di sini." Umaira merapikan selimut yang berantakan, lalu menata bantal.


Bola mata Aina nyaris keluar melihat tingkah uminya, beliau seperti melayani seorang raja. "Umi, stop! Aina bisa beresin sendiri." Cepat-cepat ia menarik bantal dari tangan Umaira, sungguh tak rela jika bidadari surga seperti beliau harus melayani lelaki menyimpang macam Ridho.


"Bagus deh, kalian selesai masalahnya cepat-cepat. Habis itu cetak gol biar bisa kasih Umi cucu," ujar Umaira dengan senyum penuh arti. Seketika wajah Aina memerah, sedangkan Ridho hanya bergeming tanpa ekspresi.


"Gol apaan, emang main bola ada gol-gollan!" Aina mendorong pelan tubuh Umaira agar keluar kamar, lalu menutup pintu rapat-rapat dan mengaktifkan kedap suara. Setidaknya jika dia kesal, suaranya tidak akan terdengar sampai luar.


"Kamar kamu bagus juga, aku tidur di mana?" Ridho mulai melepaskan jaket dan sepatu sambil memperhatikan dekorasi kamar.


"Mas, aku mohon pulang. Nggak ada yang perlu kita bicarain apalagi diselesain. Semua masalah ini nggak pernah ada titik terangnya," ujar Aina. Tidak dipungkiri, melihat penampilan Ridho dengan T-Shirt V-NECK hitam membuatnya menelan ludah, apalagi dua tonjolan kecil di balik kaos. Manusiawi ia tergoda untuk menyentuh.


Ridho terdiam memandangnya. Entah apa yang dipikirkan laki-laki itu, setidaknya Aina harus tetap waspada. "Mas—"

__ADS_1


"Kenapa aku nggak boleh tidur di sini? Pacarmu takut marah?"


"A-apa?!"


"Ya, pacarmu yang dipuncak ... seharusnya dari awal kamu kenalin ke aku, bukan malah main kucing-kucingan. Toh, aku juga jujur dari awal masalah aku gay," tutur Ridho enteng tanpa rasa bersalah.


Pertengkaran terakhir dengan Ridho mengenai lelaki yang ia sendiri tidak tahu batang hidungnya. "Aku nggak paham pacar siapa yang kamu maksud, tapi di sini jelas aku tidak suka kehadiran kamu. Jadi mohon pulanglah dan bilang sama Bunda kita akan cerai."


Ridho berjalan pelan mengitari ranjang, setiap lirikkannya menyapu sisi ruangan hingga berhenti tepat di depan Aina. Suaminya itu terlihat tenang dan tanpa ekspresi, tetapi ia merasa ini adalah awal yang buruk.


"Cerai, cerai, cerai dan cerai ... kamu selalu bilang sama aku, apa nggak sabar nunggu jadi janda dan nikah sama lelaki itu," ujar Ridho dingin.


Suhu di ruangan seharusnya tidak terlalu dingin, karena Aina menyetelnya di suhu 25°C . Aneh saja kalau saat ini dia seperti berada di kutub, lalu diintai oleh beruang kutub. "Jaga bicaramu, Mas! Aku tidak akan minta cerai kalau kamu bukan gay!"


Tamparan keras mendarat di pipi porselen Aina, meninggalkan cap lima jari serta rasa panas, perih. Aina terpaku memandangi Ridho yang terhenyak sambil memegangi pipinya. "Bukan hanya menyimpang tapi kamu juga pria brengsek!"


"Hormat? Penghormatan apa yang harus aku beri ke kamu, Mas! Setidaknya aku lebih baik bermain dengan lawan jenis, bukan sepertimu yang main gila dengan Tio!"


Aina tidak ingin kalah, jika memang Ridho menganggapnya sudah punya lelaki biarkanlah. Ini akan menjadi senjata terbaik di pengadilan nanti.


Perlahan rahang Ridho mulai mengeras bersamaan dengan suara gigi yang beradu. "Kamu ...." Suara Ridho penuh tekanan, bersamaan dengan ia mengepalkan tangan hingga buku jarinya memutih.


Dirasa keadaan semakin memburuk, Aina memutuskan untuk keluar dari kamar. Akan tetapi gerakan tangan Ridho lebih cepat dari langkahnya.


Lelaki itu mencengkal lengannya dengan keras. "Mas, sakit! Lepasin!" pungkas Aina.


Ridho tak mengidahkan permintaan istrinya, ia malah menarik lengan Aina kasar dan mengempaskannya di kasur. "Ahhkk!" pekik Aina.


Entah setan mana yang merasuki Ridho, ia begitu senang melihat wajah Aina yang ketakutan. Ada rasa yang membuatnya ingin cepat-cepat melihat isi di balik piyama tidur tersebut.

__ADS_1


"Mas, jangan gila kamu!" hardik Aina berusaha bangun, tetapi kakinya malah ditarik kembali oleh Ridho.


"Gila? Ahh, iya ... kamu tadi aku main gila dengan Tio, lalu kenapa nggak aku coba aja sama kamu!" Dengan gerakan cepat ia menarik hijab Aina, semerbak bau sampo menguak di pencium Ridho. Seketika ada yang berdiri tegak di bawa sana tapi bukan keadilan.


"Astagfirullah!" Sadar mahkotanya tak tertutup hijab lagi, Aina menarik selimut untuk menutup kepalanya, tetapi segera ditarik kembali oleh Ridho dan dibuang ke lantai.


"Ternyata kamu cantik juga tanpa hijab itu." Ridho menyunggingkan senyum nakal.


"Stop disitu! Jangan dekat-dekat lagi!" Sungguh ini lebih menakutkan saat ia semalaman di hutan dulu, jauh lebih buruk daripada bertemu jin yang menyerupai Haris dulu.


"Maksudmu seperti ini?" Ridho mendaratkan kecupan di bibir Aina dengan cepat, sampai-sampai gadis itu tidak sadar akan gerakannya.


Aina membelalak, bola matanya nyaris lepas dari tempat mendapat serangan dadakan dari Ridho. Bukan hanya itu, sesuatu di dadanya berdebar kencang seperti mau meledak. Ciuman pertama dan dilakukan dengan pria belok? Ah, tidak! Ini buruk sangat buruk!


Tidak ingin lebih lama merasakan bibir Ridho, Aina mendorong dada sang suami menjauh darinya lalu bergerak cepat menuruni ranjang. Tidak lupa juga hijabnya yang dibuang Ridho ia pungut dan kembali memakai. "Ridho Saputra, mungkin kamu pikir kamu bisa bertindak sesukamu karena aku masih istrimu! Tapi mulai hari ini, aku membencimu!" 


Namun bagi Ridho apa yang dikatakan Aina hanya dianggap angin lalu. Terlebih ucapan Tio terus berdengung di telingannya. Harga diri Ridho selalu ia junjung tinggi-tinggi, kini luluh lantak. 


"Ck, membenciku? Yang benar saja!" Ridho menarik sudut bibir hingga membentuk senyuman mengerikan, sedangkan Aina melihat itu bersikap waspada. 


"Iya, aku sangat benci kamu, Ridho!" 


Ridho melangkah ke ranjang, ia langsung mengunci gerakan Aina hingga sang istri tak bisa berkutik. Posisinya saat ini sangat mudah untuk melakukan semua yang dia mau, terutama meniduri Aina. 


"Mas, lepasin aku!" 


"Tidak, malam ini kamu jadi miliku, Ai!" Ridho kembali ******* rakus bibir Aina, tak peduli rengekan memohon dari sang istri, terutama jeritan kesakitan saat ia memasukan juniornya ke bagian inti Aina. 


Dan semua mimpi buruk itu dimulai saat ini! 

__ADS_1


__ADS_2